Murid Ratu Iblis

Murid Ratu Iblis
Chapter 85 - Tekanan


__ADS_3

"Carmilla.... Maaf." ucap Lucius dengan tatapan yang penuh penyesalan.


Sebelum Lucius memutuskan untuk kembali ke akademi, Carmilla telah memperingatkan atas bahaya yang menantinya. Tapi Lucius percaya diri bahwa Alex akan membantunya.


Tapi tak peduli seberapa berbakatnya Alex, di hadapan pahlawan yang dipilih secara langsung oleh Dewi Cahaya itu? Memangnya bisa apa?


"Tak masalah. Setidaknya sekarang kau tahu kalau kau sudah diawasi Gereja." balas Carmilla dengan suara yang lemas itu.


Lucius memikirkan atas bagaimana cara meyakinkan Gereja bahwa dirinya sama sekali tak memiliki niatan untuk merusak, apalagi membawa bencana bagi dunia ini.


Dan saat ini sekalipun, Lucius telah menyadarinya. Bahwa setidaknya ada sekitar 100 Ksatria Suci dari Gereja yang mengawasinya dari sekitar rumahnya.


"Lucius. Nampaknya kau tak lagi bisa mengandalkan sihir kali ini." bisik Carmilla dengan senyuman di wajahnya.


"Apa maksudmu?" tanya Lucius kebingungan.


"Pahlawan sihir sialan itu bisa melihat bahkan hingga kapasitas Mana milikmu. Jika kau mengembangkan kembali kapasitasmu, dia akan langsung menyadarinya. Karena itu...."


"Aku tak boleh melatih Mana milikku?" tanya Lucius yang segera menyadari jawaban dari masalahnya itu.


Carmilla mengangguk secara perlahan dari ranjangnya.


Meskipun pahit, memang ini lah kenyataannya. Carmilla bahkan rela menghancurkan banyak organ dalamnya untuk menurunkan kapasitas Mana miliknya secara signifikan.


Semua itu hanya untuk menyelamatkan Lucius.


Jika Lucius sampai menyia-nyiakan kesempatan yang telah dibuat oleh Carmilla....


Itu artinya Ia tak tahu terimakasih sama sekali.


"Aku mengerti." balas Lucius singkat dengan mata yang terus terpaku ke lantai kamar ini.


Siapa yang tak kesal atas semua ini? Selama ini, Lucius mendedikasikan dirinya untuk sihir hingga masuk ke akademi sihir seperti ini.


Melarangnya untuk melatih sihir setelah melalui proses Awakening itu terlalu menyakitkan. Apalagi mengingat kecintaan Lucius terhadap sihir sangat lah tinggi.


"Bertahan lah untuk sementara ini, setidaknya.... Hingga mereka memalingkan matanya padamu." balas Carmilla.


Gereja Suci. Penyembah dari para Dewa dan Dewi yang memberkahi dunia ini.


Tindakan mereka untuk mengawasi Lucius tentu saja merupakan tindakan yang mulia. Bagaimana pun, mereka hanya berusaha untuk mencegah bencana yang diramalkan oleh Gadis Suci itu benar-benar terjadi.


Tapi....


"Nampaknya seumur hidup aku takkan bergabung pada Gereja. Orang-orang sialan itu...." ucap Lucius pada dirinya sendiri sambil tertawa puas.


Hanya saja, ada satu hal yang tak dipertimbangkan oleh Gereja.

__ADS_1


Yaitu seberapa besar kecintaan Lucius terhadap sihir.


Seseorang yang sangat mencintai sesuatu akan melakukan apapun agar bisa memperolehnya. Apapun.


Sama halnya seperti orang yang cinta berenang, tak peduli dimana pun, selama air yang ada cukup maka dia akan berenang.


Jika tidak ada?


Tentu saja. Menciptakan tempat berenang itu sendiri. Dan Lucius juga tak berbeda dari itu.


"Nampaknya, aku harus menemukan cara untuk menekan Mana itu sendiri." ujar Lucius kembali pada dirinya sendiri dengan senyuman yang semakin melebar.


"Hah? Kau gila? Bahkan ratusan tahun aku meneliti dan mempelajari berbagai sihir, aku sama sekali tak bisa menemukannya." balas Carmilla terkejut.


"Begitu kah? Tapi maaf, aku tak bisa menyerah."


............


Sementara itu di wilayah Barbarian di Utara....


'Bruuukk!! Sruuugg!!!'


Ratusan orang terlihat tergeletak tak berdaya di tanah bebatuan ini. Semuanya memiliki ciri yang hampir serupa. Yaitu tubuh yang terbelah dan darah yang mengalir layaknya sebuah sungai.


Menggenangi daratan berbatu ini dengan cairan merah gelap.


"Si-siapa kau?!" teriak salah seorang Barbarian yang tersisa. Ia memiliki badan yang paling besar jika dibandingkan dengan Barbarian yang lainnya.


Di hadapannya, terlihat seorang gadis Half-Elf dengan rambut hitam panjang. Berjalan secara perlahan melewati sungai darah itu.


"Aku tak mengerti, Guru.... Apa yang sebaiknya ku lakukan sekarang? Tolong beritahu padaku, apa yang harus ku lakukan...." ucap Gadis itu dengan air mata yang terus membasahi wajahnya. Ia tak lain adalah Aurelia itu sendiri.


Pada tangan kirinya, terlihat sebuah benda sihir aneh yang terus melayang di atas telapak tangannya.


Benda itu tak lain adalah sebuah Relic sihir yang legendaris, dikenal sebagai "Essence Bane". Relic legendaris itu diperolehnya setelah menjarah beberapa reruntuhan kuno selama bekerja bersama dengan gurunya, Zephyrith.


Essence Bane memiliki bentuk yang misterius, sebuah kristal kecil berwarna hitam pekat seukuran ibu jari, yang terjaga dalam lingkaran perak yang halus. Meski kecil, kekuatan yang terkandung di dalamnya begitu besar.


Essence Bane memiliki kemampuan luar biasa untuk menyerap dan menyimpan Mana serta energi kehidupan dari lawan yang telah dibunuh oleh pemiliknya.


Setiap kali nyawa terenggut, kehidupan dan kekuatan korban tersebut terserap lalu diubah menjadi sumber daya berharga di dalam Essence Bane. Secara perlahan, kristal hitam itu memancarkan cahaya samar, mencerminkan kekuatan gelap yang tertahan di dalamnya.


Dengan menggenggam Relic itu, pemilik Essence Bane dapat memanfaatkan energi yang terkandung di dalamnya. Sebagai bahan bakar yang kuat, Essence Bane dapat menyuplai Mana untuk berbagai kegunaan.


Entah itu untuk digunakan dirinya sendiri, atau sebagai persembahan untuk iblis yang diciptakannya.


Bagaimana pun, proses perubahan menjadi iblis dengan obat buatan gurunya itu membutuhkan Mana dalam jumlah yang sangat besar. Sering kali mengeringkan Mana di lingkungan sekitarnya.

__ADS_1


Namun, penggunaan Essence Bane tidaklah mudah. Kekuatan yang ada di dalamnya sangat mempengaruhi jiwa dan pikiran pemiliknya. Atau lebih tepatnya.... Merusak jiwa pemiliknya secara perlahan dengan kegelapan dan kejahatan.


Itulah kenapa Zephyrith tak pernah menggunakannya. Menyimpannya dalam sebuah peti keemasan. Peti yang sama yang dibawa oleh Aurelia saat Lucius berhasil bebas kala itu.


Di dalamnya terdapat banyak barang-barang berharga Zephyrith. Termasuk juga resep dan cara pembuatan obat untuk merubah makhluk lain menjadi iblis itu.


"Berhenti! Jangan mendekat lagi!" teriak Barbarian itu ketakutan sambil mengarahkan senjata besarnya kedepan.


"Kenapa kau meninggalkan ku sendiri.... Guru.... Aku.... Aku harus memenuhi harapan terakhir Guru...." ucap Aurelia pada dirinya sendiri. Ia mulai mengeluarkan sesuatu dari portal kecil yang muncul di dekat tangan kanannya.


Sebuah sihir ruang yang digunakannya sebagai tempat penyimpanan.


Dari balik portal itu, Aurelia nampak membawa sebuah jarum suntik dengan cairan bercampur bubuk hitam itu.


"Jangan mendekat!!!"


'Jlebb!!! Syuuutt!!!'


Dengan langkah yang dibantu oleh sihir anginnya, Aurelia dapat dengan mudah berlari ke belakang tubuh pimpinan regu Barbarian itu.


Menyuntikkan cairan misterius itu pada lengan kiri Barbarian itu.


"Kumohon, berhasil...." ucap Aurelia sambil mengaktifkan Essence Bane di tangan kirinya itu.


'Swwuuusshhh!!!'


Mana dalam jumlah yang besar dengan segera meluap dari dalam kristal kecil itu. Meskipun bentuk dan kualitas dari Mana itu cukup kasar, tapi jumlahnya yang sangat banyak mampu menutupi kekurangannya.


Tanpa menunggu lebih lama lagi, Aurelia segera melompat mundur sejauh mungkin.


Menjauhi Barbarian yang telah memulai proses perubahannya menjadi iblis itu.


'Kreeaaaaakkk!!!'


Mana yang dilepaskan oleh Aurelia barusan diserap dengan sangat cepat oleh Barbarian itu. Membuat tubuhnya membesar secara perlahan.


Ototnya semakin mengeras, sedangkan kulitnya mulai menghitam dengan cepat.


Tapi yang paling penting lagi....


Kemampuan sihir Barbarian yang hampir mendekati nol itu meningkat dengan sangat drastis.


Hanya saja....


'Kreetaakk!!! Blaaaaarrr!!!'


Tubuh Barbarian itu meledak dan hancur setelah beberapa saat menyerap Mana dari Essence Bane itu.

__ADS_1


Aurelia yang melihatnya merasa kecewa karena proses perubahan menjadi iblis itu gagal.


"Aaah.... Guru.... Nampaknya masih cukup lama bagiku, untuk membuat obat ini sendirian." ucapnya sambil menatap ke arah gumpalan daging hitam yang berceceran di atas sungai darah itu.


__ADS_2