Murid Ratu Iblis

Murid Ratu Iblis
Chapter 62 - Hari H


__ADS_3

'Bukankah kau sebaiknya segera berangkat, Lucius?' tanya Carmilla.


"Sebentar lagi." balas Lucius yang masih sibuk mengerjakan sesuatu di mejanya itu.


Di hadapannya, sebuah kartu Arcana telah hampir selesai sepenuhnya. Rangkaian sihir yang begitu kompleks, yang bahkan tak pernah dilihat oleh siapapun di dunia ini.


Sebuah sihir original milik Lucius. Hanya dirinya sendiri yang bisa membuat dan menggunakannya.


'Lagipula, sihir semacam itu.... Apakah benar-benar mungkin tercipta?' tanya Carmilla yang dipenuhi dengan keraguan di tiap katanya.


"Entahlah. Aku sendiri juga tak tahu." balas Lucius sambil tertawa ringan.


Kedua tangannya tak berhenti bekerja untuk menyelesaikan Arcana itu. Tatapannya juga terlihat dipenuhi fokus yang luarbiasa.


'Hah? Jawaban macam apa itu?'


"Lagipula, bagaimana aku bisa tahu jika belum pernah mencobanya? Aku menyelesaikannya hanya untuk berjaga-jaga saja, sebagai sebuah jaminan jika situasi seperti yang dulu kembali terjadi."


Situasi yang dulu, tentu saja yang dimaksud oleh Lucius adalah situasi dimana terdapat monster abnormal dengan kekuatan yang melampaui dirinya.


Jika situasi seperti itu kembali terjadi, dan Lucius tak memiliki cukup kekuatan untuk menanganinya....


Maka di situ lah Arcana ini akan berguna. Setidaknya itu adalah rencananya.


"Ku harap aku tak pernah perlu menggunakan ini. Selain masih belum teruji, Arcana ini masih tak sempurna. Aku tak tahu kecacatan yang mungkin terjadi di dalamnya." lanjut Lucius.


'Ah, benar sekali. Kecacatan. Akan bagus jika Arcana itu tak membunuh kita berdua jika gagal!' balas Carmilla kesal.


Meskipun memahami betapa cerdasnya Lucius dalam bidang ilmu sihir teoritis, Ia masih belum bisa mempercayai anak 16 tahun ini sepenuhnya.


Apalagi dalam membuat sihir Original serumit ini.


"Tenang saja, hal seperti itu takkan terjadi. Mungkin." balas Lucius yang segera mengangkat kartu Arcana yang telah selesai itu.


'Hah?! Apakah barusan kau bilang mungkin?!'


Lucius terlihat mengarahkan tangan kanannya ke samping, dimana sebuah ruang yang menyerupai portal kecil tercipta. Membiarkan tangannya masuk dan menyimpan kartu Arcana itu di dalamnya.


"Ngomong-ngomong, Carmilla."


'Tunggu dulu! Barusan, apa yang kau lakukan?!' teriak Carmilla memotong perkataan Lucius.


"Eh? Barusan? Sihir ruang. Meskipun levelku masih sangat rendah, jadi hanya mampu membuat ruangan kecil untuk menyimpan beberapa barang."


'Si-sihir ruang?! Ja-jadi selama ini....'


Carmilla teringat atas sikap aneh Lucius beberapa Minggu terakhir. Dimana bocah laki-laki itu terus menerus menggerakkan tangan kanannya kesana kemari seakan-akan hendak meraih sesuatu yang tak ada.


Gerakan yang dianggapnya sangat aneh itu pada kenyataannya adalah Lucius yang sedang berusaha mempelajari sihir ruang.


"Bukankah aku selalu melatih hal itu selama ini? Kau tak menyadarinya? Yah, meskipun baru saja berhasil kemarin sih."


'A-apa kau bilang?!'


"Ya, aku baru berhasil menggunakan sihir ruang sederhana itu kemarin. Jujur merepotkan sekali kau tahu? Harus melakukan kalkulasi matematis yang rumit di kepala mu secara instan sembari memformulasikan formasi sihir...."


Keluhan Lucius barusan hanya memperoleh balasan berupa keheningan dari Carmilla untuk beberapa saat.


Sebelum akhirnya dengan nada yang begitu serius, Carmilla pun memberikan sedikit harapan kecilnya.


'Lucius, ku harap kau tak pernah perlu menggunakan Arcana itu.'


............

__ADS_1


Setibanya di akademi, Lucius disambut oleh keramaian pelajar dan juga profesor di akademi ini.


Sebagian nampak memberikan tatapan penuh rasa iba karena Lucius harus menghadapi bukan hanya pelajar kelas B. Tapi juga pelajar yang 3 tahun lebih tua darinya.


Sementara itu sebagian besar pelajar yang lain terlihat tersenyum dan tertawa puas. Bahkan sempat untuk mengumpat pada Lucius.


"Buahahaha! Kelas F? Berani menentang keluarga Goldencrest?! Kau akan mati!"


"Mati saja kau kelas F tak berguna!"


"Bahkan kelas tempat kalian belajar saja sudah tak layak dipakai! Bubarkan saja!"


"Semuanya! Ini adalah kesempatan mudah untuk menghasilkan uang! Tak mungkin pelajar kelas F tahun kedua bisa melawan William Goldencrest yang berasal dari kelas B tahun kelima!"


"Ku dengar William bahkan ikut serta dalam peperangan di garis depan untuk pengabdiannya!"


Selain berbagai hinaan dan hujatan, beberapa pelajar dari akademi nampak melempari Lucius dengan kerikil.


'Swuuushh! Swuushh!'


Dengan menggunakan sihir angin seminimal mungkin, Lucius mengubah arah semua lemparan batu di sekitarnya agar tak mengenainya.


'Kau yakin akan diam saja?' tanya Carmilla dalam pikiran Lucius.


"Untuk apa? Tak ada gunanya mengurusi masalah sepele seperti ini." balas Lucius yang mulai mempercepat langkah kakinya.


Setibanya di kelas, teman-temannya telah lebih dulu hadir. Wajah mereka terlihat dipenuhi dengan ketakutan dan keresahan akibat semua keramaian ini.


Bahkan beberapa petugas keamanan akademi harus dikerahkan untuk menjaga ruang kelas F ini dari serangan para pelajar yang lainnya.


"Lucius! Kau baik-baik saja?" tanya Sophia khawatir.


"Tenang saja. Bukan masalah bagi ku. Selain itu, Alex. Apakah sudah siap?" tanya Lucius menatap sosok pria berambut kecoklatan itu di kejauhan.


Lucius membalasnya dengan anggukan dan senyuman yang tipis. Sebelum akhirnya segera duduk di kelas untuk memulai pelajaran pada hari ini.


............


Pada sore harinya, setelah kelas usai....


Lucius, ditemani oleh seluruh anak dari kelas F, tengah menanti di ruang tunggu Arena ini. Mempersiapkan diri atas pertandingan yang akan segera dimulai.


"Lucius, kenapa kau menerimanya? Kau tahu William telah bertahan di garis depan peperangan bukan?" tanya Sophia yang terus menerus khawatir terhadap Lucius.


Tapi dengan senyuman yang ramah, Lucius membalas.


"Tenang saja. Seharusnya semuanya akan berjalan dengan baik-baik saja."


"Aku benar-benar heran atas kepercayaan dirimu, Lucius." ujar Oliver yang menatap sosok Lucius dari pojok ruang tunggu ini.


"Bukankah itu hal yang bagus? Kita bisa menunjukkan bahwa Kelas F juga memiliki kekuatan! Tak seperti yang mereka pikir!" sahut Max sambil mengangkat tangan kanannya. Memperlihatkan otot di lengannya itu.


"Emily, tidak suka pertarungan...." bisik Emily pada kedua boneka yang dipeluknya.


'Dok! Dok!'


"Lucius! Persiapkan dirimu! Duel akan segera dimulai!" teriak salah seorang petugas dari balik pintu ruang tunggu ini.


'Tap!'


Dengan santai, Alex terlihat merangkul bahu Lucius dan berjalan bersamanya keluar dari ruang tunggu ini. Sedangkan tangan kiri Alex terlihat membawa sebuah kotak kayu besar yang cukup panjang.


Di lorong menuju Arena pertarungan itu, Alex segera menyerahkannya.

__ADS_1


'Braakk!'


Ia meletakkan kotak kayu itu di lantai. Membuka kuncinya secara perlahan.


"Maaf karena baru selesai satu, Lucius." ujar Alex yang terlihat memberikan tatapan kecewa pada dirinya sendiri itu. Ia nampak mengerutkan keningnya sembari memasang senyuman yang pahit.


"Tak masalah, Alex. Justru aku sangat berterimakasih karena kau mau membantu ku sampai seperti ini." balas Lucius yang segera mengangkat pedang Mithril itu.


Sebuah pedang satu tangan dengan bilah berwarna keperakan yang begitu indah. Di tengah bilah itu terdapat 4 buah Rune yaitu Vor, Vel, Dur, dan juga Elys.


Meningkatkan kekuatan, kecepatan, ketahanan dan juga kelincahan Lucius beserta pedang Mithril itu saat bertarung.


'Huwah, 4 buah Rune? Dari tangan Manusia? Luarbiasa!' puji Carmilla setelah melihat bilah pedang itu.


"Mithril adalah logam yang sangat kuat. Seharusnya mampu untuk menahan 'kekuatan' mu itu, Lucius. Kemudia...."


Alex tiba-tiba menganga saat sedang memberikan penjelasannya. Semua itu karena Ia melihat Lucius dengan santainya menggunakan sihir ruang untuk menyimpan pedang Mithril itu.


"Lu-Lucius, barusan itu...."


"Ah, benar juga. Alex. Aku bermaksud untuk memberikan ini padamu." balas Lucius yang segera menarik selembar kertas dari sihir ruangnya.


"Apa ini?" tanya Alex penasaran setelah melihat formasi sihir pada kertas itu.


Beberapa saat kemudian, Alex baru menyadarinya. Bahwa apa yang sedang dilihatnya, jauh lebih berharga daripada pedang yang baru saja diberikannya pada Lucius.


"Lucius?! Ini?!" teriak Alex dengan kedua mata yang terbuka lebar.


"Salah satu rahasia aku bisa menjadi kuat. Mana Flow. Gunakan itu untuk berlatih, Alex. Dan juga, jangan sebarkan pada orang lain. Kau tahu seberapa berharganya itu kan? Lagipula, yang itu bisa meregenerasi hingga sepertiga Mana penggunanya."


'Glek!'


Alex tak lagi sanggup untuk berkata-kata. Sebuah teknik berlatih Mana Flow yang meregenerasi sepertiga Mana yang digunakan.


Formasi sihir yang baru saja diberikan oleh Lucius jauh lebih kuat dibandingkan milik keluarga Kerajaan Arathorn sekalipun.


Harganya? Tentunya sama sekali tak bisa dinilai. Bahkan menukarkan segunung kekayaan sekalipun belum tentu bisa mendapatkannya.


Dan Lucius memberikannya begitu saja?


'Bruuk!'


"Eh?" tanya Lucius terkejut setelah melihat sosok Alex berlutut di belakangnya.


"Lucius, tidak. Tuan Lucius. Dengan ini aku bersumpah akan selalu setia padamu. Menggunakan seluruh kemampuanku untuk mendukungmu menjadi yang terkuat di kota, tidak.... Di kerajaan ini. Jadi tolong, terima diriku sebagai tangan kananmu." ucap Alexander Brown itu yang terus menundukkan kepalanya menghadap ke tanah.


Ia menyadari, bahwa sosok pria bernama Lucius di hadapannya bukan lagi Lucius yang sama seperti yang dikenalnya dulu.


Sosok yang ada di hadapannya kali ini....


Tak lain adalah seorang jenius dalam dunia sihir. Mampu menciptakan formasi sihir Mana Flow yang bahkan jauh lebih baik dibandingkan milik keluarga Kerajaan sekalipun.


Meski begitu....


"Apa yang kau lakukan? Hentikan cara bicara yang formal itu. Bukankah sejak saat itu, kau sudah menjadi tangan kananku? Aku percayakan hal-hal yang rumit padamu, Alex." balas Lucius dengan senyuman yang begitu hangat.


Alex yang melihat betapa rendah hatinya sosok Lucius itu hanya bisa terus mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya.


Merasa bersyukur bahwa dirinya dilahirkan di masa yang tepat, dan juga di tempat yang sama dengan Lucius.


Ia menyadari, bahwa sosok Lucius itu tak salah lagi akan menjadi seorang pahlawan.... Tidak. Menjadi seorang legenda yang mengukir sejarah di dunia ini suatu hari nanti.


Tak lama setelah itu, sosoknya terlihat berjalan di sepanjang lorong Arena ini.

__ADS_1


Menuju pertarungan yang telah dijadwalkannya melawan William Goldencrest.


__ADS_2