
Setelah tiba di dalam Katredal Suci ini, Lucius disambut dengan barisan ratusan Ksatria Suci yang berjejer rapi.
Semuanya melihat ke arah Lucius dengan tatapan penuh keheranan.
"Siapa bocah itu?"
"Kenapa dia datang bersama dengan Nona Alora?"
"Apa yang dilakukan anak-anak itu disini?"
Pertanyaan para Ksatria Suci itu dapat terdengar dengan jelas di telinga Lucius. Tapi Lucius yang sama sekali tak memiliki niatan untuk menjelaskan semuanya hanya terdiam.
"Dia adalah Lucius Nightshade, pelajar dari Akademi Damacia." jelas Alora singkat.
"Apa? Pelajar? Kenapa Anda membawa pelajar dalam ekspedisi ini, Nona Alora?" tanya salah seorang Paladin kebingungan.
"Itu benar. Bukankah dia hanya akan menghambat ekspedisi kita?" tanya Ksatria Suci yang lainnya.
Tapi Alora terdiam tak membalas. Ia hanya menatap ke arah Lucius sambil menolehkan kepalanya beberapa kali ke arah barisan Ksatria Suci itu.
"Hah.... Baiklah." balas Lucius setelah memahami apa maksud Alora.
Segera setelah itu, Lucius mengeluarkan sesuatu dari dalam kantungnya. Yaitu sebuah tanda pengenal dengan lapisan emas yang indah.
"Tidak mungkin.... Warna itu, tingkat S?" tanya salah seorang Paladin dengan mata yang terbelalak saat melihat tanda pengenal Lucius.
"Apa? Masih pelajar tapi sudah mencapai tingkat S?"
"Meski begitu, Nona Alora. Bukankah agak berbahaya membawanya yang kurang berpengalaman itu?" tanya Ksatria Suci yang lainnya.
Hingga akhirnya, salah seorang Inquisitor yang ada teringat atas sosok Lucius itu.
"Kau.... Yang waktu itu bersama dengan Nona Alora memburu Iblis? Sudah berapa bulan sejak itu? 6 bulan?" tanya Inquisitor yang tak lain adalah Roland. Ia memiliki rambut pendek dengan warna kemerahan serta senjata yang berupa sebuah pedang besar.
"Aaah, Tuan Roland. Sungguh sebuah kehormatan Anda masih mengingat saya." balas Lucius dengan sopan, mengikuti suasana di sekitarnya.
"Tunggu dulu, 6 bulan yang lalu bocah itu sudah memburu Iblis?"
"Nampaknya dia cukup kuat."
"Dia kuat!" teriak Alora dengan keras. Menghentikan keributan yang ada di dalam Katredal Suci ini.
Semuanya pun terdiam.
Setelah beberapa saat, Alora kemudian menjelaskan rencana dari ekspedisi ini. Mereka akan membawa pasokan makanan dan minuman yang cukup untuk 3 hari saja.
Itu karena dengan sihir Alora, mereka bisa kembali kapan saja. Jadi tak ada artinya membawa suplai makanan dan minuman yang terlalu banyak.
Kemudian pergerakan pasukan akan terkumpul menjadi satu. Mengingat kekuatan musuh yang masih misterius, akan terlampau bodoh untuk berpencar.
Dan terakhir....
__ADS_1
"Lucius adalah penyihir yang mampu menggunakan sihir ruang sama seperti ku. Jika keadaan menjadi terlalu berbahaya, pergi lah ke arahnya. Dia akan membawa kalian mundur sementara aku dan Roland beserta Iris akan menahan lawan." jelas Alora sambil menunjuk ke arah dua Inquisitor di belakangnya.
Salah satu diantaranya yaitu Roland dengan rambut kemerahan dan pedang besar sebagai senjatanya itu.
Sedangkan yang satu lagi, adalah seorang wanita dengan rambut merah muda yang diikat ekor kuda. Ia mengenakan jubah Gereja Cahaya dengan rok pendek serta sedikit zirah yang menjaga tubuhnya.
Senjata utamanya....
'Apa-apaan senjata itu?' tanya Lucius dalam hatinya sambil mengerutkan keningnya. Sepanjang hidupnya, tak pernah dilihatnya senjata seperti itu.
Sesuatu yang menyerupai sebuah pipa logam besar dengan rangkaian besi yang rumit, kemudian terdapat sebuah kristal sihir berwarna biru muda di tengahnya itu terlihat terikat pada punggungnya.
Pada bagian yang menyerupai pegangannya itu, terdapat sebuah tuas kecil yang nampak cocok untuk ditarik menggunakan jari.
"Kalau begitu, aku akan menggunakan sihir teleportasi massal. Bersiap lah, karena kita akan berada tepat di tengah wilayah Barbarian itu beberapa saat lagi." jelas Alora.
"Siap!" teriak seluruh Ksatria Suci yang ada di tempat ini.
Sementara Lucius sendiri masih kebingungan terhadap senjata aneh yang baru saja dilihatnya.
.............
'Swuuuussshhh!!!'
Pemandangan yang ada di depan Lucius seketika berubah drastis setelah sihir teleportasi massal Alora berhasil diaktifkan.
Apa yang sebelumnya merupakan dinding Katredal yang begitu indah, kini berubah menjadi tebing bebatuan yang tinggi dengan tanah tandus sebagai pijakan mereka.
Sedangkan Lucius sendiri berjalan di bagian belakang barisan. Ditugaskan untuk mengamankan jalur kabur jika situasi memburuk.
Hanya saja....
"Aku tak mengerti kenapa Nona Alora membawamu." ucap seorang wanita berambut merah muda yang tak lain adalah Iris sang Inquisitor.
Saat ini, Ia nampak membawa senjata anehnya itu dengan tangan kanannya. Mengangkatnya layaknya sebuah tas koper.
"Eh? Kenapa Anda disini?!" teriak Lucius terkejut.
"Kenapa? Tentu saja mengamankan bagian belakang. Lagipula seranganku itu bertipe jarak jauh." balasnya dengan sinis.
"Daripada itu, jelaskan kenap kau bisa disini." lanjutnya.
"Aaah, soal itu...."
Lucius kemudian menjelaskan sebagian besar kepada Iris. Semua dengan tujuan untuk menghentikan pertikaian yang tak berguna itu.
"Hmm.... Begitu ya? Baiklah. Aku akan sedikit mengakui kemampuanmu karena bisa menggunakan sihir ruang. Tapi jika kau menjadi beban, aku takkan ragu untuk meninggalkanmu. Jadi bersiaplah." balasnya sebelum pergi menjauhi Lucius.
"Ya, aku mengerti. Akan ku usahakan untuk tidak menjadi beban...." balas Lucius singkat.
__ADS_1
Setelah berjam-jam penjelajahan, tak ada satu pun yang kelompok ekspedisi ini temukan. Hanya sisa reruntuhan kamp Barbarian yang telah dibakar hingga hangus.
Lengkap dengan jasad Barbarian yang hampir sepenuhnya menjadi abu di sekitarnya.
"Jika lawannya hanya lah Barbarian, tak mungkin kelompok dengan dua Inquisitor bisa kalah begitu saja." ujar Alora setelah memeriksa sisa kamp Barbarian itu.
Tak banyak sisa Mana yang tertinggal di tempat itu. Dengan kata lain, pertarungan yang terjadi di tempat ini sebagian besar hanya menggunakan kemampuan fisik saja.
"Nona Alora. Ini...." ucap Roland sambil membawa sebuah pecahan zirah berwarna putih itu.
Menyadari logam apa itu, Alora menggertakkan giginya karena kesal.
"Mithril.... Bagaimana bisa orang-orang tak beradab ini memilikinya?" tanya Alora.
"Itu juga menjadi pertanyaan Saya. Kemungkinan besar terdapat campur tangan dari ras lain di wilayah ini. Saya mencurigai Dwarf." balas Roland.
"Dwarf ya? Kau benar. Jika itu mereka...."
Dwarf terkenal sebagai pengrajin terbaik di dunia ini. Baik senjata maupun zirah, bahkan hingga berbagai peralatan untuk kehidupan sehari-hari. Dwarf jauh lebih unggul dalam hal tersebut dibandingkan dengan ras yang lainnya.
Penempaan Mithril dan juga penanaman Rune. Itu semua sebenarnya merupakan teknologi Dwarf yang dicuri oleh umat manusia sejak jaman dahulu.
Hanya saja....
Dwarf adalah ras yang meletakkan emas serta kekayaan di atas para Dewa dan Dewi. Mereka sama sekali tak menyembah mereka.
Selama ada emas, mereka akan bergerak kemanapun emas yang paling banyak berada.
Sekalipun itu memihak pada kejahatan di dunia ini.
Tapi bukan berarti mereka adalah ras yang membela kejahatan. Mereka hanya mengikuti emas. Jika ras yang mendukung kebaikan seperti Manusia dan Elf mampu membayar lebih, dengan senang hati Dwarf akan memihak pada mereka.
Saat Alora sedang sibuk untuk memikirkan berbagai peluang di situasi ini....
"Nona Alora! Ini buruk! Seseorang.... Ada di arah Utara! Tidak.... Dia memimpin ratusan Barbarian di belakangnya!" teriak Iris yang sedang melihat ke arah kejauhan dengan 6 buah lingkaran sihir kecil berwarna biru tepat di depan mata kanannya, sembari mengarahkan senjata anehnya itu ke arah yang sama.
Ia mengangkat senjata aneh itu menggunakan kedua tangannya dan menggunakan pundak kanannya sebagai tumpuan.
"Apa?!" teriak Alora terkejut.
Alora segera melihat ke arah yang disebutkan. Di kejauhan, terdapat seorang pria dengan sepasang tanduk kemerahan yang cukup kecil di kepalanya yang memimpin ratusan Barbarian itu di belakangnya.
Ia mengenakan zirah merah yang cukup tebal, namun tak terlalu berat untuk memperlambat gerakan sayap merah gelapnya itu. Sedangkan ekor panjangnya nampak bergerak kesana-kemari.
Wajahnya terlihat begitu serius tanpa ada sedikit pun senyuman. Tak salah lagi, sosok itu memang telah menanti kedatangan pasukan dari Gereja Cahaya.
Ia nampak membawa sebuah tombak yang tak begitu panjang, dengan logam kemerahan dan alur menyerupai ular di punggungnya.
"Dragonnewt. Sudah ku duga, ras manusia setengah naga itu memang selalu memihak ke arah kejahatan." ujar Alora, mempersiapkan dirinya untuk pertarungan yang mungkin akan terjadi.
__ADS_1