
"Alexander Brown. Hanya seorang pedagang biasa, dari keluarga biasa." balas Alex sambil tersenyum ramah sebelum kembali ke tempat duduknya.
Tak hanya Luna, Ethan juga terlihat terkejut bukan main melihat kapasitas Mana sebesar itu dari Alex.
Jika disetarakan, kekuatan Mana Alex saja sudah selevel dengan pelajar kelas B tahun kedua. Dimana saat ini, hanya ada satu orang saja yang telah mencapai kelas B di tahun kedua akademi ini.
"Kenapa kau.... Dengan kemampuan seperti ini seharusnya...." ucap Luna yang masih dalam keadaan terkejut.
"Aah, soal itu? Aku hanya sibuk menopang bisnis orangtuaku. Jadi maaf jika aku tak sempat begitu memperdulikan akademi ini."
Baik Ethan maupun Luna hanya bisa menganga dalam diam. Sebelum akhirnya, Ethan memutuskan untuk membereskan seluruh peralatan evaluasi singkat ini.
"Bisnis keluarga kau bilang? Tunggu.... Brown...." ucap Luna sambil melihat ke arah kerah belakang seragam milik Ethan.
Dari balik kerah itu, terlihat lambang huruf B latin. Saat Luna menarik kerah Ethan untuk melihat merek dari seragam akademi ini, Ia baru menyadarinya.
"Brown Fabrics, jadi ini perusahaanmu?" tanya Luna.
"Ayahku. Aku hanya membantu mengelolanya."
Luna pun akhirnya teringat atas suatu kejadian sekitar 8 tahun yang lalu. Yaitu munculnya sebuah perusahaan yang dengan cepat menelan banyak perusahaan lainnya.
Entah itu usaha tekstil, makanan, industri, persenjataan, bahkan hingga peralatan sihir. Perusahaan itu tak lain adalah dari keluarga Brown, yang menggunakan nama berbeda pada tiap jenis usaha yang ditekuninya.
"Begitu ya? Jadi ini adalah sosok Tuan Muda misterius dari keluarga Brown? Hanya seorang pelajar di kelas F? Jika memang sibuk, kenapa kau tak berhenti belajar di sini?" tanya Luna, kini berjalan mendekat ke arahnya.
Luna nampak memukul meja Alex dengan telapak tangannya sembari memberikan tatapan yang dingin.
Sedangkan Alex sendiri?
"Ada sesuatu yang perlu ku peroleh di akademi ini." balas Alex tetap dengan senyuman ramahnya.
"Apa itu?"
Alex mengarahkan jari telunjuknya ke keningnya sambil menjawab.
"Koneksi."
Luna terdiam sesaat sebelum memalingkan wajahnya. Pergi meninggalkan meja Alex dengan langkah yang cukup cepat.
Sesaat sebelum Luna dan Ethan pergi meninggalkan ruang kelas ini, Ia kembali berbicara.
"Alexander Brown. Apakah koneksi dengan keluarga Frostbourne, cukup untuk membuatmu melayaniku?" ucapnya sambil melirik ke arah Alex.
Kali ini, Alex terlihat menghapus senyumannya dan membalas dengan tatapan yang serius.
"Sebagai pebisnis, aku memiliki prinsip untuk melayani semua pelanggan. Menutup pintu pada seluruh pelanggan lain, dan hanya melayani keluarga Frostbourne merupakan tawaran yang terlampau buruk." balas Alex.
"Begitu ya? Sekalipun itu tawaran dari salah satu keluarga terkuat di kerajaan manusia?" tanya Luna sekali lagi.
"Sekalipun itu keluarga kerajaan secara langsung, aku tetap akan menolaknya."
Balasan Alex barusan membuat Luna akhirnya undur diri. Meninggalkan ruang kelas F ini tanpa balasan.
Dan kejadian barusan, sontak membuat semua pelajar di kelas F ini terkejut lantaran mengetahui kebenaran dari keluarga Alex.
"Tu-tunggu dulu, Alex?! Kau anak orang kaya?" tanya Max panik.
"Kaya itu relatif. Dan juga, bukankah kita semua di sini cukup kaya? Bahkan Lucius sekalipun." balas Alex dengan tawa ringan.
"Kughhh! Kau tak perlu mengatakannya."
Kalimat Alex barusan tentu sedikit menusuk. Bagaimana pun, diantara mereka semua, Lucius berasal dari kasta bangsawan paling rendah. Yaitu Baron.
Dan kekayaan keluarganya juga hanya seujung kuku saja jika dibandingkan dengan semua yang ada di kelas ini.
Meskipun tentu saja, keluarga Lucius juga dianggap sangat kaya oleh rakyat jelata karena mampu memiliki sebuah desa di bawah kekuasaannya.
Tapi....
__ADS_1
'Kau paham?' tanya Carmilla.
Lucius pun mengangguk sekalipun tak mengetahui pertanyaan yang sebenarnya.
Tentu saja. Karena apa yang dimaksud Carmilla, adalah perbedaan pengalaman dan latar belakang keluarga.
Jika saja Alex lebih fokus pada sihir dibandingkan dengan bisnis, kemungkinan besar Ia bisa masuk ke tingkat B di tahun kedua ini.
Itu lah yang ada di dalam pikiran Lucius.
'Untuk mengejar 16 tahun ketertinggalan mu, kau tahu apa yang harus dilakukan bukan?' tanya Carmilla sekali lagi.
"Aku mengerti." balas Lucius lirih.
Dari semua orang yang ada di kelas ini, hanya Lucius seorang yang benar-benar merasa terpukul atas betapa lemahnya dirinya. Dan berniat untuk melampaui kelemahan itu.
............
"Ketua, jangan katakan alasan dari evaluasi dadakan ini...." ucap Ethan penasaran.
Luna terlihat berjalan dengan sikap yang tenang sambil membaca bukunya. Sementara Ethan membawa semua barang itu sendiri.
"Aku kemari untuk mencari emas, tapi nampaknya aku menemukan berlian. Selidiki mengenai Alexander Brown, tapi juga tempatkan sedikit orang untuk tetap mengawasi Lucius Nightshade." balas Luna sambil terus membaca bukunya.
"Dimengerti. Tapi, bagaimana menurut ketua? Soal Lucius itu sendiri? Bukankah kapasitas Mana nya terlalu rendah untuk bisa menggunakan sihir kuno seperti ketua?" tanya Ethan kembali.
Luna nampak menghela nafasnya setelah mendengar pertanyaan bodoh itu dari Ethan.
"Memang benar dia menguras habis Mana yang dimilikinya. Saat itu."
Balasan Luna membuat Ethan segera tersadar.
"Saat itu? Eh? Jangan katakan...."
"Entah apa alasannya, Lucius sejak awal telah kehabisan Mana miliknya. Aku dapat memastikannya, dengan mata ku ini." ucap Luna sambil menyentuh mata kirinya yang kini terlihat sedikit berkilau dengan cahaya kebiruan.
Clairvoyance Eye adalah salah satu teknik sihir kuno yang dikabarkan telah musnah. Suatu teknik dimana pengguna bisa merubah mata miliknya sendiri, menjadi sebuah alat untuk melihat Mana secara langsung.
Mulai dari bentuk, warna, ukuran, jumlah, pergerakan dan juga perubahannya.
Jika digambarkan, seseorang dengan mata ini mampu melihat 'udara' yang sebenarnya dalam bentuk aliran berwarna yang berbeda-beda.
Dan dengan kekuatan mata itu lah, seseorang bisa memperkirakan sihir apa yang akan digunakan, seberapa kuat lawan, hingga jenis sihir apa yang mereka kuasai.
Tak berselang lama, Luna kembali berbicara.
"Lucius. Jika dalam kondisi penuhnya, seharusnya bisa melampaui pencapaian Alex dengan mudah. Itu lah kenapa, aku heran kenapa Mana sebanyak itu bisa habis di siang hari. Padahal selama seharian hanya belajar di kelas."
Sambil meneruskan pembicaraannya, mereka berdua kembali ke ruang Dewan Pelajar dengan hasil investigasi yang memuaskan.
...........
'Bakat sejak lahir, katanya. Bukankah itu mengesalkan?' ujar Carmilla sambil tertawa ringan di tengah gelapnya hutan pada malam hari ini.
Apa yang dimaksudkan oleh Carmilla, adalah perkataan Alex sebelum pulang dari akademi. Dimana Lucius bertanya mengenai bagaimana Ia bisa memiliki Mana sekuat itu.
Tapi jawabannya?
Alex sendiri tak tahu, dan memang diberkati sejak lahir dengan kapasitas Mana yang lebih besar dari bangsawan pada umumnya.
Meski begitu, Alex jauh lebih mencintai dunia bisnis dibandingkan dengan sihir.
Dan tentu saja, itu yang membuat Lucius sangat kesal.
"Kenapa dengan bakat seperti itu.... Dia malah menyia-nyiakannya? Seharusnya dia bisa...." balas Lucius kesal.
Dirinya yang bahkan telah berlatih mati-matian beberapa bulan ini, bahkan kalah telak jika dibandingkan dengan Alex yang tak begitu peduli atas sihir.
Sekalipun Lucius memiliki cincin sihir di jantungnya, kapasitas Mana Lucius masih berada jauh di bawah Alex.
__ADS_1
"Cih! Sialan!!!" teriak Lucius kesal. Ia melampiaskan amarahnya pada salah satu pohon dengan pukulannya.
'Braaakk! Kresseekkk!!'
Suara hantaman yang keras, sekaligus dedaunan yang runtuh memecahkan kesunyian di tengah hutan ini.
"Sialan! Sialan!! Sialan!!! Apa-apaan ini?! Dengan bakat sebesar itu, kenapa dia?! Menyia-nyiakannya?!"
Carmilla melihat sikap Lucius yang dipenuhi rasa iri sekaligus amarah itu sambil tertawa puas.
Karena apapun itu, sikap ini lah yang akan menuntun Lucius pada jalan orang-orang yang kuat.
Atau setidaknya.... Itu adalah apa yang dipikirkan oleh Carmilla.
Setelah sekitar 15 menit melampiaskan kekesalannya, Lucius akhirnya berhenti. Membaringkan badannya di tumpukan rerumputan dan dedaunan yang telah mengering itu.
Tatapannya tertuju pada bulan sabit yang ada di langit.
Lucius mengarahkan tangan kanannya ke langit seakan berusaha untuk meraihnya. Yang tentu saja, Ia takkan pernah mampu.
"Carmilla, katakan satu hal padaku. Apakah aku.... Benar-benar bisa menyaingi orang-orang berbakat seperti itu?" tanya Lucius dengan nada yang seakan mulai putus asa.
Semakin banyak Lucius melihat dunia ini, semakin tersadar pula Ia bahwa dirinya bukanlah siapa-siapa. Hanyalah seekor semut kecil diantara kawanan harimau.
Lucius juga tersadar atas perkataan Edward bahwa akademi ini bukanlah tempat untuk orang kampung seperti dirinya.
Tapi....
Meski begitu....
'Lucius, kenapa kau begitu menginginkan kekuatan?' tanya Carmilla.
"Aku.... Aku hanya ingin melindungi semuanya. Sama seperti pahlawan yang dibacakan oleh ibuku semasa kecil.... Aku...."
Carmilla terdiam sesaat setelah mendengar jawaban dari Lucius.
Membiarkan terpaan angin yang kuat ini membawa pergi sebagian dari kekesalan Lucius yang masih tersisa.
Hingga akhirnya, Carmilla pun membalas.
'Bisa.'
Hanya satu kata.
Tapi kata itu memiliki makna yang sangat dalam bagi Lucius saat ini.
Jika menurut Iblis sekuat dan sepandai Carmilla dirinya bisa menyaingi mereka suatu hari nanti, maka....
"Hahaha.... Kalau begitu, aku hanya perlu terus berlatih bukan?" balas Lucius sambil segera bangkit dari tidurnya.
Ia berniat untuk melanjutkan latihan secara langsung di hutan ini, dengan melawan monster apapun yang ditemukannya.
Akan tetapi, suatu hal yang tak terduga didengar oleh Lucius pada saat itu.
'Saat aku menilai mu sudah siap, aku akan memasang cincin Stellastra kedua di jantungmu.'
"Eh?" ucap Lucius terkejut.
'Apa?'
"Bi-bisa memasang lebih dari satu?"
'Tentu saja. Kita membicarakan tubuh tak berguna mu itu. Jadi setidaknya aku akan memasang 3 atau 4 cincin agar kau bisa setara dengan mereka yang berbakat.'
Di satu sisi, Lucius benar-benar melihat cahaya harapan baru. Mengetahui bahwa cincin sihir itu masih bisa memperkuat dirinya.
Tapi di sisi lain....
Ia juga melihat jurang kematian telah menantikannya kembali.
__ADS_1