Murid Ratu Iblis

Murid Ratu Iblis
Chapter 81 - Awakening


__ADS_3

Pada malam harinya....


"Jadi, Carmilla. Apakah kau mau membantu ku melakukan 'awakening' itu?" tanya Lucius dengan wajah yang nampak cemas.


Ia duduk di ranjang besar itu dengan gelisah, memperhatikan sosok Carmilla yang berjalan kesana kemari di dalam kamar baru Lucius ini.


"Kau yakin sudah siap? Kau akan kembali menjadi sangat lemah, kau tahu itu kan? Dan di akademi...."


Lucius paham bahwa di akademi dirinya telah membuat cukup banyak musuh. Tapi membawa Carmilla dalam akademi sementara asal usulnya saja tak jelas?


Ia tak yakin bisa melakukannya.


Tapi ada seseorang yang bisa dipercayai olehnya soal itu.


"Alex juga ada di sana. Aku akan menjelaskan hal ini padanya." balas Lucius memotong perkataan Carmilla.


"Aah, benar juga. Tangan kanan mu itu cukup berbakat kau tahu? Sedikit polesan saja dia akan menjadi sangat kuat. Yah, meskipun bakatnya hanya dalam kekuatan sihir."


"Apa maksudmu dengan itu?" tanya Lucius bingung.


"Meskipun kau tak berbakat, tapi kau memiliki kecerdasan yang melampaui hal itu. Kecerdasan dalam bidang sihir tentunya."


Tanpa memahami perkataan Carmilla sepenuhnya, Lucius segera mengganti topik pembicaraan dan menarik sesuatu dari balik sihir ruang miliknya.


Apa yang diambil olehnya adalah sebuah benda aneh dengan bentuk bola oktagonal. Benda yang tak lain merupakan Relic buatan Zephyrith itu sendiri.


"Ngomong-ngomong, aku telah melakukan sedikit pengaturan pada benda ini saat kau melatih adikku sejak siang tadi. Dengan ini, takkan ada yang bisa memasuki benda ini selain diriku, atau orang lain yang ku ajak bersamaku." ucap Lucius sambil meletakkan benda itu di atas mejanya.


Bola oktagonal itu sudah sedikit berubah dengan warna alur sihir yang kini dominan warna biru dan kehijauan.


Ditambah lagi, beberapa formasi sihir yang merupakan kunci kuat itu membuatnya semakin sulit untuk keluar atau masuk Relic itu.


"Hmm, menarik. Mungkin suatu saat aku akan meminta mu mengajarkan sihir ruang padaku, Lucius." balas Carmilla. Ia terlihat terus memandangi bola oktagonal itu dari berbagai sisi.


Seakan-akan berusaha untuk memastikan apakah bola oktagonal itu memang sudah berubah atau belum.


'Swuuusshh!!!'


Dengan cepat, Lucius membuat sebuah portal di sampingnya. Lalu mengajak Carmilla untuk masuk ke dalamnya.


Setelah melewati portal itu....


Carmilla dapat melihat pemandangan yang cukup nostalgia baginya. Tapi dengan perbedaan utama yaitu tak ada matahari kemerahan yang sangat panas itu. Tergantikan oleh cahaya bulan terang dengan hawa yang sejuk di padang pasir tak berujung ini.


"Kau merubahnya?" tanya Carmilla singkat.


"Yah, meskipun hanya beberapa hal kecil saja. Masih banyak yang harus ku pelajari untuk merubah semua yang ada di dunia semu ini."


Senyuman yang tipis terlihat di wajah Carmilla. Ia nampak bangga atas pencapaian Lucius, membuatnya sulit percaya bahwa orang yang sama dulunya hanyalah bocah cengeng yang tak bisa melakukan apapun.


"Kini kau memiliki raut wajah layaknya seorang pria, Lucius." ujar Carmilla tiba-tiba.


"Hah? Sejak kapan aku seorang wanita?"


"Bukan itu maksudku.... Yah, sudah lah. Kemari lah, aku akan mengajarkan formasi sihirnya padamu."


Setelah itu, Carmilla mulai menggambar formasi sihir itu sambil menjelaskan tiap fungsinya pada Lucius. Formasi sihir untuk melakukan Awakening atau Body Enhancement yang kompleks dan rumit.


Formasi sihir ini terdiri dari sejumlah besar simbol-simbol dan lingkaran sihir yang saling terhubung dan saling mempengaruhi satu sama lain.


Dalam lingkaran pusat yang berdiameter sekitar 5 meter, terdapat simbol-simbol yang melambangkan elemen-elemen dasar yaitu api, air, udara, dan tanah, mewakili kekuatan alam yang akan disatukan dalam tubuh Lucius.


Kemudian di sekitar lingkaran pusat, terdapat serangkaian lingkaran sihir dengan diameter yang bervariasi. Rangkaian lingkaran sihir itu mewakili tahapan-tahapan proses Awakening.

__ADS_1


Setiap lingkaran sihir memiliki simbol-simbol khusus yang melambangkan tahap-tahap transformasi tubuh, seperti penguatan otot, regenerasi jaringan, dan peningkatan kekuatan fisik secara keseluruhan.


Selain itu, terdapat jalur-jalur energi yang menghubungkan antara lingkaran sihir satu dengan yang lainnya, membentuk pola yang kompleks dan rumit.


Jalur-jalur energi ini akan mengalirkan energi sihir ke dalam tubuh Lucius, membangun potensi baru dan merangsang rekonstruksi ulang seluruh sistem tubuhnya.


Setelah menjelaskan semua fungsi dari formasi lingkaran sihir yang rumit itu, Carmilla bertanya.


"Kau paham?"


"Hmm, mungkin aku sudah paham secara garis besarnya." balas Lucius yang masih terus memandangi tiap lingkaran sihir yang ada di dalam formasi itu.


Semuanya adalah lingkaran sihir yang sama sekali belum pernah dilihatnya, jadi membutuhkan sedikit waktu bagi Lucius untuk memahami tiap fungsinya.


"Aku akan menjelaskannya lagi jika masih ada yang belum kau pahami. Karena jika kau gagal memahami satu pun dari keseluruhan formasi sihir ini, mungkin tubuh baru mu akan cacat."


"Eh?!" teriak Lucius terkejut.


"Aku tak pernah mendengar soal kecacatan! Apa-apaan ini?!" lanjutnya.


"Yah singkatnya, tubuhmu akan dihancurkan lalu dibangun ulang oleh keseluruhan formasi sihir ini. Jika kau salah memahaminya, mungkin pembentukan tubuhmu akan kurang sempurna. Membuatmu memiliki satu tangan saja, atau satu kaki mu sangat kecil, atau mata mu cacat dan kau menjadi buta, lalu...."


"Tunggu dulu! Aku tak pernah dengar bahaya seperti itu!"


Melihat reaksi panik Lucius, Carmilla nampak tertawa ringan. Melihat bocah yang telah mencapai puncak potensi tubuhnya itu kembali ketakutan seperti dulu kala.


"Yah, selama kau memahami konsep dari formasinya, kau pasti akan baik-baik saja."


Setelah itu, Lucius kembali mendengarkan penjelasan dari Carmilla untuk tiap lingkaran sihir dan seluruh rangkaian yang ada di dalam formasi itu.


Mulai dari lingkaran sihir mana yang aktif terlebih dahulu, seberapa besar alokasi Mana di setiap lingkaran sihirnya, kapan aliran Mana itu disalurkan pada tiap rangkaiannya dan lain sebagainya.


Beberapa jam berlalu....


Lucius menganggukkan kepalanya. Mau tak mau, Ia harus siap dengan segala konsekuensinya. Yang harus dilakukannya hanyalah melakukan semuanya dengan sempurna.


Hanya saja, ada satu pertanyaan dalam diri Lucius.


"Carmilla, kau pernah melakukannya?"


"Tentu saja. Meskipun hanya satu kali selama ratusan tahun aku hidup. Yah... sejak awal tubuhku sudah cukup kuat. Jadi tak perlu bagiku untuk melakukannya lebih dari itu." balas Carmilla sambil mengangkat dagunya sendiri dengan jari telunjuknya.


"Kau bisa melakukannya lebih dari satu kali?" tanya Lucius penasaran.


"Secara teori kau bisa melakukannya. Tapi satu kali saja ku rasa sudah lebih dari cukup untuk mu, Lucius. Yah, kau bisa melakukannya lagi jika masih tak puas meskipun aku tak bisa mengatakan apa yang akan terjadi pada dirimu."


Akhirnya Lucius telah membulatkan tekadnya. Ia berjalan ke pusat formasi sihir itu, sedangkan Carmilla memperhatikan semuanya dari kejauhan. Berjaga-jaga jika ada sesuatu yang salah selama proses itu.


Bibir Lucius nampak bergerak secara perlahan, melantunkan mantra sihir yang diperlukan untuk proses Awakening ini.


Secara perlahan....


Beberapa lingkaran sihir di sekitarnya mulai berkilauan dengan energi yang mempesona, memancarkan cahaya dari simbol-simbol yang melingkari tubuhnya.


Dengan mata yang memancarkan tekad yang kuat, ia memusatkan energi dalam dirinya, siap untuk menjalani proses Awakening yang mengubahnya menjadi sesuatu yang lebih kuat.


Sesuatu yang lebih dari apa yang disebut sebagai manusia itu sendiri.


Tapi Lucius sama sekali tak menyadarinya, karena Carmilla merahasiakan esensi utama dari Awakening ini.


Secara garis besar, seluruh perkataan Carmilla memang sudah cukup tepat. Yaitu mengorbankan seluruh kekuatannya untuk memperoleh potensi tubuh yang jauh lebih besar.


Hanya saja....

__ADS_1


Kenyataan dari Awakening, adalah untuk berevolusi lebih lanjut dari ras nya saat ini. Menjadi satu tingkat lebih tinggi dari apa yang disebut sebagai manusia.


Tanpa menyadari hal itu, Lucius terus melanjutkan rapalan sihirnya. Serentetan gerakan tangan yang anggun dan terampil mengiringi kata-kata yang disuarakannya, membentuk sebuah tarian sihir yang megah.


Energi sihir bergelombang dalam formasi yang luas, mengikuti pola yang rumit dengan harmonis. Mengelilingi sekujur tubuh Lucius secara perlahan dengan cahaya yang lembut.


Pada saat itu lah....


Tubuh Lucius mulai bergetar seiring dengan gelombang energi yang memasukinya.


Dalam tubuhnya, otot-ototnya berkontraksi, tulang-tulangnya meregang, dan kulitnya berkilauan dengan sinar magis yang memancar dari dalam. Energi itu merasuki setiap serat jiwanya, membangkitkan potensi baru dalam tubuh Lucius.


Tak lama setelah itu, perubahan tubuhnya dimulai. Tubuh Lucius mulai dihancurkan satu persatu dengan kecepatan yang luarbiasa.


Mulai dari kakinya yang remuk dan hancur, mencipratkan darah ke segala arah sebelum akhirnya membentuk ulang otot, daging dan darahnya kembali.


Setelah itu proses penghancuran dan regenerasi terus berlanjut hingga mencapai perut, tangan dan akhirnya kepala Lucius itu sendiri.


Setiap kali tubuhnya dihancurkan, Ia memperoleh tubuh baru yang jauh lebih kuat dan jauh lebih sempurna. Juga dalam kondisi terbaik dimana bekas luka di sekujur tubuh Lucius itu kini tak lagi terlihat di tubuh barunya.


Rasa sakit yang dideritanya selama proses itu begitu luarbiasa. Seakan-akan Ia sedang dikuliti oleh seseorang, ototnya dicabik-cabik, lalu tulangnya diremukkan.


Tapi Lucius terus menahannya. Semua demi memperoleh kekuatan yang jauh lebih tinggi lagi.


Tak lama kemudian. Proses Awakening itu hampir selesai. Meskipun belum sepenuhnya selesai tapi Lucius sudah bisa mulai merasakannya.


Otaknya menjadi lebih tajam, intuisinya tumbuh lebih dalam, dan kekuatan sihirnya meluap dari dalam dirinya.


Luka-luka dan kelemahan yang pernah ada seolah menghilang, digantikan oleh kekuatan yang tangguh dan ketangkasan yang tak tertandingi.


Meskipun Ia hanya merasakan kekuatan itu dalam sekejap, karena semuanya telah habis dikuras hingga tak tersisa untuk memperoleh tubuh baru ini.


Saat proses Awakening mencapai puncaknya, cahaya terang yang membutakan mata melingkupi Lucius, menyirami kegelapan malam di tengah padang pasir ini dengan kehadiran sesuatu yang sangat kuat.


Setelah cahaya yang menyilaukan itu memudar, sosok Lucius terlihat muncul dari formasi sihir dengan raut wajah yang berbeda, mengungkapkan potensi dan keberanian baru yang diraihnya


Carmilla yang memperhatikan semuanya dari kejauhan hanya bisa menganga dengan mata yang terbuka lebar.


Dalam ratusan tahun dirinya hidup, melihat puluhan jenius yang sangat kuat serta membahayakan dirinya, baru kali ini....


Ia melihat sesuatu yang benar-benar pantas untuk disebut sebagai 'jenius' itu sendiri.


Bahkan dirinya yang saat ini belum memiliki mata sihir, Carmilla dapat mengatakannya dengan sangat jelas.


"Lucius.... Bagaimana kau melakukannya? Awakening sesempurna itu.... Tubuhmu...." ucap Carmilla melihat tubuh Lucius yang baru itu, yang saat ini tak tertutupi oleh selembar kain pun dengan perasaan terkejut.


Tak salah lagi, tubuh Lucius adalah tubuh manusia. Tapi evolusi Lucius ke tingkat yang lebih tinggi benar-benar jauh melampaui ekspektasi Carmilla saat itu.


Ia berpikir bahwa Lucius akan memperoleh hasil yang biasa, dimana setelah itu Ia bisa setara dengan tingkat S atau sedikit lebih kuat dari mereka.


Tapi kenyataannya....


Otot Lucius terlihat cukup kuat dan membentuk sekujur tubuhnya, namun tak cukup besar untuk membuatnya terlalu menonjol. Sedangkan cincin Stellastra yang terpasang pada jantungnya mulai pecah dan menghilang bersama dengan proses Awakening itu sendiri.


Bahkan hanya dengan kemampuan fisiknya yang saat, Lucius sudah setara dengan ksatria tingkat C. Tanpa menggunakan pengetahuannya sedikit pun.


Sementara itu potensi Mana yang ada di jantung Lucius benar-benar meningkat dengan sangat drastis. Potensinya sendiri meningkat setidaknya hingga 100 kali lipat dari puncak kekuatannya yang sebelumnya.


Menyamai potensi seseorang yang telah diberkahi oleh Dewi Cahaya Lunaria itu sendiri.


Lucius masih terlihat berdiri, menengadah dengan tangan yang mengarah ke langit. Tatapannya terpaku pada angkasa yang tak berujung, dengan mata yang secara perlahan mulai menutup.


"Lucius.... Kau.... Apakah kau benar-benar bocah yang tak berbakat kala itu?" tanya Carmilla pada dirinya sendiri dengan penuh tanda tanya.

__ADS_1


Ia sedikit merinding ketakutan setelah melihat pencapaian murid pertamanya itu.


__ADS_2