
Setelah menempuh perjalanan selama lebih dari 4 hari, Akhirnya Lucius telah tiba.
Di hadapannya, terlihat sebuah menara batu yang menjulang tinggi. Bersamaan dengan itu juga terlihat bangunan yang terbuat dari es yang telah mulai mencari.
Dengan senyuman yang lebar di wajahnya, Lucius tertawa terbahak-bahak pada dirinya sendiri.
"Buahahaha! Aku kembali! Kembali ke titik awal!" teriaknya puas.
'Kenapa kau terlihat begitu senang?! Jika kita kembali di sini itu artinya dunia ini tak memiliki ujung bukan?! Bukankah itu sangat buruk?! Bagaimana caranya kita kembali?!' tanya Carmilla panik.
Tapi Lucius tetap bersikap tenang. Dengan senyuman lebar di wajahnya, Ia menggunakan sihir untuk menciptakan air segar yang segera diteguk olehnya.
"Fuwaaah, segar sekali."
'Cepat jelaskan padaku!' teriak Carmilla sekali lagi, kini dengan suara yang lebih keras.
"Akhirnya aku memahami prinsip dasar dari dunia ini." balas Lucius yang segera berjongkok di atas tanah kering berpasir itu.
Ia segera membuat coret-coretan atas dunia tempatnya berada ini.
Meski dengan tubuh yang telah menjadi sangat kurus, Lucius masih memiliki sisa tenaga untuk bekerja keras menyelesaikan misteri ini.
"Sebenarnya, Aku bertanya-tanya selama perjalanan ini. Kenapa subjek percobaan mereka yang berharga seperti ku ini hanya didiamkan di tempat panas dan kering ini? Bukankah jika aku mati itu akan merugikan bagi mereka?" tanya Lucius sambil terus membuat coretan di tanah.
'Hah? Mana aku tahu?'
Dengan senyuman, Lucius pun membalas.
"Jawabannya sederhana. Mereka terus mengamati ku setiap saat. Jika ada sesuatu yang membahayakan nyawa ku, kemungkinan mereka bisa menghentikannya dengan mudah."
Perkataan Lucius itu mengagetkan tak hanya Aurelia, tapi juga Zephyrith yang sedang mengawasi sosok Lucius secara bersamaan saat ini.
"Gu-Guru?! Kau mendengarnya kan?!" teriak Aurelia panik.
Zephyrith hanya bisa terdiam. Ia tak percaya bahwa Lucius bisa menyadarinya secepat ini. Menyadari bahwa dia sebenarnya tak ditinggalkan di sana. Melainkan dibiarkan bertahan hidup hingga terjadi sesuatu yang membahayakan nyawanya.
"Ini tidak mungkin.... Bagaimana bisa...."
Sementara itu Lucius telah menyelesaikan coretannya.
Ia menggambar sebuah dunia yang berbentuk lingkaran dengan menara batu itu berada tepat di atas dunia itu.
Lalu dengan garis melingkar sederhana, Ia memperhitungkan berapa jarak yang telah ditempuhnya selama ini.
"Manusia memiliki kecepatan langkah kaki rata-rata sebesar 4 km per jam, mungkin lebih atau kurang. Sedangkan aku berjalan selama 16 jam sehari selama 4 hari ini, ditambah sekitar 3 jam lebih di hari ini. Dengan kata lain...." jelas Lucius sambil terus membuat coretan di tanah itu.
"Aku telah berjalan setidaknya sejauh 76 kilometer. Itu adalah keliling dari dunia padang pasir ini. Dengan keliling itu aku bisa memperkirakan luas, kemudian volume lalu...."
__ADS_1
Tanpa berhenti, Lucius terus memformulasikan hukum dari dunia ini.
Sesekali Ia terlihat melempar sebuah batu ke udara dan menunggunya untuk turun kembali ke tanah. Setelah itu Ia mencatat waktu yang diperlukan beserta perkiraan beratnya.
Meskipun tidak 100% akurat, perhitungan ini membuat Lucius satu langkah lebih dekat dengan kebenaran. Sedikit demi sedikit, Ia semakin mendekatinya.
Aurelia dan Zephyrith yang melihatnya hanya bisa merinding ketakutan atas kegigihan dan kecerdasan yang ditunjukkan oleh Lucius.
"Guru, kau yakin pria ini tak berbahaya? Bukankah sebaiknya kita membereskannya sekarang?" tanya Aurelia khawatir.
"Tapi itu menunjukkan bahwa dia adalah subjek yang berharga. Jika manusia dengan bakat sebesar dirinya menjadi iblis, itu akan sangat menguntungkan bagi kita!"
"Lalu kenapa tidak menggunakan ku saja?! Aku siap untuk mati kapan pun bagimu, Guru!" teriak Aurelia.
"Kau adalah Half-Elf! Tak banyak sampel Half-Elf yang bisa ku temukan di dunia ini! Apalagi ras Elf yang asli! Jadi jika situasi sudah terlalu buruk, aku akan menggunakannya pada diriku sendiri setelah obat itu selesai." balas Zephyrith ketakutan.
Mengetahui Lucius bisa menggunakan sihir ruang, Zephyrith berpikir bahwa akan sangat berbahaya melepaskannya dari Prism of Eternity ini.
Ia mungkin bisa langsung kabur saat itu juga dan melaporkan lokasi persembunyian mereka pada Gereja Cahaya.
Dan jika itu terjadi, seluruh penelitian mereka bisa hangus begitu saja.
Kabur? Pindah tempat? Itu mungkin adalah opsi terbaik. Meninggalkan Lucius di dalam Prism of Eternity itu sendirian?
Tak masalah. Lagipula tak lama lagi tubuhnya takkan bisa menahan kelaparan dan mati setelahnya.
Tapi....
Sebuah Relic yang bahkan tak bisa dibeli oleh uang sebanyak apapun yang mereka miliki?
Termasuk juga subjek penelitian lain yang telah susah payah dikumpulkannya?
Sedangkan jika Ia masuk secara langsung untuk membunuhnya dengan bantuan monster yang telah memperoleh kekuatan iblis? Tentu membunuhnya mungkin akan cukup mudah.
Tapi memasuki dimensi Prism of Eternity itu sama halnya dengan menunjukkan pintu keluar. Bagi seseorang dengan kecerdasan setingkat Lucius? Akan mudah baginya untuk menyadari cara keluar hanya dengan melihat bagaimana Zephyrith masuk.
Zephyrith terus memikirkan berbagai hal tersebut dalam kepalanya setelah melihat sosok Lucius yang semakin mendekati kebenaran dunia itu.
Setelah Lucius mengetahui seluruh hukum alam di dunia itu, tak lama baginya untuk membuat portal keluar dari dunia itu.
Ibarat seorang tahanan, yang berhasil memperoleh kunci dari sipir penjaganya. Ia bisa kabur kapan saja setelah itu.
Akhirnya, setelah beberapa menit terdiam memikirkan langkah yang paling tepat....
"Aurelia. Aku akan terus melanjutkan dan menyelesaikan penelitian ini secepat mungkin. Jika sudah selesai, atau Lucius hampir berhasil kabur dari sana, kau harus pergi.
Gunakan beberapa lompatan portal sihir agar tak bisa diketahui arah tujuanmu. Lalu tolong simpan semua hasil penelitianku ini, dan manfaatkan dengan baik untuk impianmu itu." jelas Zephyrith panjang lebar.
__ADS_1
Perkataan Zephyrith terkesan seperti seseorang yang akan mati. Tapi memang itu lah kenyataannya.
Zephyrith menganggap berhadapan dengan Lucius yang memahami sihir ruang sebaik itu, adalah ancaman yang sangat berbahaya.
Lucius mungkin tak memiliki sihir cahaya yang bisa membatalkan portal yang dibuatnya.
Tapi lebih buruk dari itu, Zephyrith merasa penglihatan Lucius jauh lebih sempurna bahkan dari Clairvoyance Eye. Sebuah penglihatan, yang seakan-akan mampu untuk melihat segalanya.
Termasuk melihat bahkan melampaui dimensi Prism of Eternity itu sendiri.
"Tapi Guru?!" teriak Aurelia panik.
"Tak masalah. Lagipula, aku tak lagi memiliki banyak waktu lagi." balas Zephyrith dengan senyuman yang ramah sambil memperlihatkan luka di balik kaos bajunya itu.
Umurnya yang telah mencapai 32 tahun serta memiliki banyak luka internal akibat perjuangannya dulu, membuat Zephyrith tak ragu untuk membuang nyawanya kapanpun.
Selama Ia bisa mewujudkan keinginan kecil dari gadis di hadapannya itu.
'Srruuugg!!!'
Aurelia segera memeluk tubuh Gurunya itu sambil menangis.
Melihat Aurelia menangis membuat Zephyrith teringat pada masa lalunya....
Saat Ia masih bekerja sebagai asisten peneliti di Menara Sihir....
Suatu hari, Ia menjumpai Aurelia yang masih kanak-kanak itu dalam kandang besi saat melakukan eksplorasi.
Diperlakukan layaknya hewan yang tak memiliki sedikit pun hak atas hidupnya. Entah keberuntungan atau kesialan, rombongan regu eksplorasi itu diserang oleh hewan buas.
Membuat seluruh prajurit yang bertugas mengangkut para tahanan itu dalam kereta kuda terbunuh.
Menyisakan hanya Zephyrith itu sendiri bersama dengan beberapa kandang besi berisi penuh dengan tahanan. Semuanya merupakan halfling atau manusia setengah ras lain yang tak lama kemudian akan digunakan sebagai subjek percobaan.
Tanpa ragu, Zephyrith segera menyelamatkan mereka semua.
Sedangkan Aurelia yang masih kanak-kanak saat itu, tak tahu lagi harus lari kemana. Pada akhirnya, Zephyrith mengadopsinya dan melindunginya di kediamannya kala itu.
Saat itu lah, dirinya mulai mengajukan berbagai macam ide dan gagasan yang dianggap orang lain gila atau sesat.
"Sebuah dunia dimana manusia setengah monster itu bisa hidup bersama manusia?! Bah! Kau pikir para Dewi akan membiarkan hal itu terjadi di kerajaan suci manusia ini?!"
Itu adalah balasan yang membuat kesabarannya habis.
Dengan cepat, Zephyrith segera mengundurkan diri dan berniat untuk mewujudkan harapan kecilnya itu.
Yaitu sebuah kehidupan, dimana ras setengah manusia tidak memperoleh tindasan dari Gereja di kerajaan ini.
__ADS_1
Untuk itu, dibutuhkan sebuah kekuatan.
Kekuatan dari Iblis.