
Ironclad memandangi wajah Lucius dengan begitu serius. Terutama memperhatikan sorot mata dari bocah itu.
"Bocah, katakan. Kenapa?" tanya Ironclad penasaran.
Mendengar pertanyaan itu, perasaan yang telah lama hampir dilupakannya, kini kembali muncul.
Sambil mempererat kepalan tangannya, Lucius pun membalas.
"Sebenarnya, aku bukanlah bangsawan yang asli. Keluargaku.... Mereka membeli gelar Baron." ujar Lucius.
Semuanya terdiam.
Tak banyak bangsawan yang berani mengatakan bahwa gelar milik mereka sebenarnya hanyalah gelar yang dibeli.
Terlebih lagi pada rakyat jelata, yang mungkin akan segera menghapus rasa hormat mereka.
Tapi....
"Lalu? Kenapa sampai harus menjadi petualang? Ku dengar gelar Baron sangat lah mahal untuk dibeli. Bahkan kami bekerja seratus tahun pun takkan mampu membelinya." jelas Ironclad.
Sama sekali tak ada tawa diantara mereka semua. Semuanya menganggap ini sebagai pembicaraan yang serius.
Karena itu lah....
"Riverdalle...."
'Deg! Deg!'
Mata semuanya segera terbuka lebar setelah mendengar nama wilayah itu. Sebuah wilayah yang benar-benar dibumihanguskan oleh suku barbar.
Meskipun saat ini ksatria dan penyihir kerajaan telah tiba di garis depan, wilayah Riverdalle sendiri telah jatuh di tangan suku barbar.
"Jangan katakan keluargamu...."
"Ya, mereka di sana. Meskipun sekarang sudah berhasil mengungsi tapi...."
Sera nampak menggenggam erat tangan Lucius dengan menggunakan tangan kirinya. Sementara itu, tatapannya pada Lucius terlihat dipenuhi oleh rasa iba.
Semuanya mulai paham atas permasalahan yang dialami oleh Lucius.
Di saat keluarganya yang telah kehilangan tanah kekuasaan mereka, dan kini masih berada di tempat pengungsian.... Sangat tak tahu diri jika masih meminta uang untuk biayanya di akademi.
"Jadi karena tak ingin membebani mereka, sekaligus mendukung kehidupan mereka dari jauh, kau ingin menjadi petualang?" tanya Lyra dengan mata yang telah berkaca-kaca.
"Kuuughh! Sialan! Aku akan minum satu gelas ini untukmu, bocah!" teriak Drakon sambil menangis, tapi juga sambil meneguk habis satu gelas bir.
"Maafkan aku karena kemarin tak hanya hampir membunuhmu. Tapi juga mencuri buruanmu...." ujar Ironclad dengan mata yang menyipit. Ia nampak begitu kesal atas perbuatannya beberapa waktu lalu.
"Tenang saja! Mulai sekarang biar kakak Sera ini yang menjaga hidupmu!" ucap Sera sambil merangkul tubuh Lucius dengan erat.
Hanya saja....
'Eh? Kenapa semuanya bersimpati sampai seperti ini? Aku bahkan belum mengatakan alasan utamaku yaitu soal hutang untuk membeli pedang....' pikir Lucius dalam hatinya.
__ADS_1
Tapi melihat bagaimana reaksi dari semua orang. Terlebih lagi dari Ironclad....
"Kami menyambutmu, Lucius. Soal pendapatan, akan kita bagi rata. Setuju?"
'Eeeeh?! Ha-haruskah aku bilang bahwa alasanku ingin bekerja sebagai petualang, adalah untuk membayar hutang pedang? Dan bukan alasan mulia seperti yang mereka pikirkan?!' pikir Lucius sekali lagi, kini dalam keadaan yang semakin panik.
Meski begitu, tangan kanan Lucius secara tak sadar segera menjabat tangan kanan Ironclad. Menandakan bahwa hubungan kerjasama mereka dimulai.
Dengan begitu, sekalipun Lucius tak diterima sebagai petualang di Guild ini, dia masih bisa menghasilkan uang.
Hanya saja....
'Aku harus merahasiakan fakta soal pedang itu dari mereka. Selamanya. Ya. Anggap saja aku memang sudah memilikinya sejak dulu.'
Lucius menetapkan untuk mengikuti setting cerita mengenai dirinya yang telah dibuat oleh kelompok Ironclad itu sendiri.
Yaitu sosok anak berbakti yang ingin mendukung kehidupan keluarganya di kamp pengungsian, dengan bekerja sebagai petualang.
...........
"Lucius! Minggir!" teriak Ironclad dari kejauhan.
'Tap! Swuusshh!!'
Dengan cepat, Lucius segera melompat dan menjauh dari tempat itu.
Tak lama setelah itu, semburan dari Pyroclaw mengenai tepat di tempat Lucius berdiri sebelumnya.
"Lyra!" teriak Ironclad setelah itu.
"Aquilon Surge!" teriak Lyra dengan keras setelah menyelesaikan rapalan mantra sihirnya.
Dari bawah tempat Pyroclaw itu berdiri, muncul lingkaran sihir berukuran besar dengan warna biru tua.
Tak lama setelah itu....
...'SWUUUOOOOOOOSSSSHHHH!!!'...
Semburan air yang sangat besar dan kuat muncul dari bawah tanah. Mengenai tubuh Pyroclaw itu sepenuhnya.
"Kerja bagus, Lyra!" teriak Sera yang menembakkan puluhan anak panah dari atas pepohonan. Mengenai keempat kaki dari Pyroclaw itu sebelum mengakhirinya dengan menembak tepat di kedua matanya.
Dengan tubuh yang basah kuyup oleh air barusan, serangan api dari Pyroclaw menurun drastis. Tapi bukan itu tujuan dari Lyra.
Lyra kembali mengayunkan tongkat sihirnya dengan cepat sembari merapalkan mantra sihirnya.
"Frost Veil!" teriaknya setelah selesai.
Seketika, lingkaran sihir berukuran kembali muncul. Kali ini di atas tubuh Pyroclaw itu.
Tak berselang lama, kabut putih tebal yang dingin mulai muncul. Membentuk tirai di bawah lingkaran sihir itu.
Udara yang sangat dingin secara perlahan membekukan tubuh Pyroclaw yang basah kuyup oleh air sebelumnya.
__ADS_1
Sebelum sempat untuk mengeringkan tubuhnya dengan api, Pyroclaw itu telah mulai membeku.
Lapisan es yang tipis mulai menyelimuti tubuhnya secara perlahan. Sebelum akhirnya semakin menebal dan menghentikan gerakan Pyroclaw itu sepenuhnya.
"Lyra! Sudah cukup!" teriak Drakon yang berlari kedepan dengan cepat. Posisi kedua tangannya telah siap untuk melakukan penyerangan menggunakan sarung tangan besinya itu.
'Taapp!!! BRAAAAAAKKK!!!'
Drakon menghentikan langkahnya tepat di depan kepala Pyroclaw, sebelum menghentakkan tinju dengan tangan kanannya.
'BLAAAAARRR!!! PYAAAAAARRRR!!!'
Pukulan Drakon benar-benar kuat sampai mampu untuk meremukkan seperempat dari kepala Pyroclaw yang telah membeku itu.
Sekalipun tubuhnya tak tertutupi oleh es yang tebal, keempat kaki Pyroclaw itu telah terluka parah akibat tembakan panah dari Sera.
Bahkan kedua matanya tak mampu untuk digunakan melihat lagi.
Dan es itu?
Bukanlah untuk menghentikan pergerakan Pyroclaw. Melainkan untuk memberikan kerusakan tambahan saat Ironclad dan Drakon memberikan serangan fisik jarak dekat.
"Minggir Drakon!!!" teriak Ironclad dengan keras sambil menyeret pedang besarnya itu di tanah.
'Swuuuusshh!!!'
Ironclad melompat cukup tinggi ke udara sambil menggenggam erat pedang besar itu dengan kedua tangannya.
Dengan menggunakan seluruh kekuatannya, Ironclad mengayunkan pedangnya itu tepat di leher Pyroclaw.
'ZRAAAAAAAAASSSSHHH!!!'
Tubuh Pyroclaw yang telah membeku membuat tebasan Ironclad memberikan kerusakan yang jauh lebih besar.
Retakan tubuh Pyroclaw yang telah membeku itu seakan-akan memberikan jalan bagi pedang Ironclad.
Dan hanya dalam satu tebasan itu, leher Pyroclaw berhasil dipenggal dengan mudahnya. Menyisakan leher dengan darah yang mengalir secara perlahan karena telah mulai membeku.
'Braaaakk!!!'
Lucius yang melihat kerjasama mereka berempat benar-benar terkagum.
'Ini kah, kekuatan dari orang-orang yang terlatih oleh pengalaman?! Luarbiasa!' pikir Lucius dalam hati.
"Misi sukses. Lucius, bantu Lyra lelehkan tubuh Pyroclaw ini. Kita bisa menjual sisik, kulit, darah, dan organ dalamnya untuk harga mahal di kota." ujar Ironclad sambil menyarungkan kembali pedang besar itu di punggungnya.
Dengan senyuman yang lebar, Lucius pun membalas.
"Siap! Ketua!"
Dan dengan begitu lah, kehidupan Lucius mulai berubah sedikit demi sedikit. Memulai kehidupannya dengan berburu bersama salah satu kelompok petualang terkuat di kota ini.
Menyerap sebanyak mungkin teknik dan pengetahuan sembari mengasah kemampuannya.
__ADS_1
Semua itu demi menjadi sedikit lebih kuat....
Setidaknya saat ini, untuk melindungi dirinya sendiri.