Murid Ratu Iblis

Murid Ratu Iblis
Chapter 43 - Jejak


__ADS_3

Total sebanyak 93 petualang ikut serta dalam Quest darurat yang diajukan oleh Guild Master itu.


Dari 93 petualang itu, hanya terdapat satu petualang dengan tingkat A yaitu Selena itu sendiri.


Kemudian 12 petualang tingkat B termasuk kelompok Ironclad, 25 petualang tingkat C, 34 petualang tingkat D dan 21 petualang tingkat E.


Sebagian besar petualang tingkat E undur diri karena merasa takut atas tingkat kesulitan misi ini. Sedangkan sisanya menyerahkan nasib mereka pada kemampuan petualang tingkat C ke atas yang turut serta dalam perburuan ini.


Mengharapkan imbalan yang besar dalam waktu yang singkat. Itulah sebagian besar motivasi para petualang yang ikut serta.


Tapi sebagian kecil yang lainnya, merasa bahwa menghentikan monster misterius itu jauh lebih penting dibandingkan dengan uangnya.


Mengingat betapa banyaknya nyawa yang mungkin akan terancam di masa depan oleh monster itu.


Rapat singkat diadakan untuk membahas strategi serta persiapan lainnya.


"Serahkan pengintaian pada kelompok kami, Guild Master!" ujar Rover, seorang petualang tingkat B yang memiliki 3 anggota petualang tingkat C. Masing-masing dengan spesialisasi berupa pengintaian.


"Terimakasih, Rover. Kemudian untuk garis depan... Ironclad. Drakon. Bisakah kau memimpin mereka?" tanya Selena.


"Tentu saja. Serahkan pada kami." balas Ironclad dengan penuh percaya diri.


"Lalu untuk regu penyihir, Lyra.... Nampaknya tak mungkin. Bagaimana denganmu, Lafael?" tanya Selena pada seorang pemuda berambut pirang itu.


"Hmm, akan ku usahakan." balasnya dengan senyuman.


Pembahasan dilanjutkan mengenai bagaimana koordinasi mereka dalam penyerangan ini. Serta bagaimana distribusi kekuatan sebaiknya dilakukan.


Tentu saja, Lucius secara tak sengaja terseret dalam hal ini.


"Oi, Carmilla. Kau yakin ini tak apa?" bisik Lucius lirih.


'Wanita bernama Selena itu sangat kuat. Kita bisa memanfaatkannya untuk mencari tahu kebenaran di balik iblis misterius itu.' balas Carmilla.


"Baiklah...."


'Tenang saja. Saat bertemu dengan iblis itu, aku akan langsung mengambil alih tubuhmu untuk membunuhnya. Lagipula aku tak ingin tubuh yang telah susah payah ku latih ini hancur.' lanjut Carmilla masih dengan nada yang begitu serius.


Tanpa dirasa, akhirnya persiapan yang sangat mendadak ini pun berakhir.


"Semuanya! Mari habisi monster itu!" teriak Selena sambil mengangkat tangan kanannya.


"Wuoooooohh!!!"


Semuanya bersorak dengan sangat keras. Semangat mereka begitu luarbiasa mengingat tawaran hadiah yang akan diberikan oleh Guild itu.


Sedangkan Lucius masih terus berjalan mengikuti mereka semua sebagai salah satu petualang tingkat E dadakan, dengan penuh kekhawatiran dalam hatinya.

__ADS_1


.............


'Sruuugg! Sruugg!'


Regu utama dibagi menjadi tiga. Mereka bergerak dalam formasi segitiga dimana pada barisan terdepan dipimpin oleh Selena itu sendiri bersama dengan petualang kuat lainnya. Termasuk kelompok Ironclad.


Sedangkan dua regu yang ada di sayap kanan dan kiri diisi sebagian besar oleh petualang tingkat C kebawah. Wajar saja karena mereka berada sedikit di belakang dan takkan kontak langsung dengan bahaya di kegelapan hutan ini.


Regu khusus yang dipimpin oleh Rover sendiri telah bergerak jauh di depan sembari bersembunyi dalam kegelapan.


Mereka mencari tahu keberadaan 'Hobgoblin' misterius yang kuat itu untuk kemudian melaporkannya pada regu utama.


Sementara itu, Lucius sendiri berada di posisi sayap kanan bersama dengan banyak petualang kelas C.


"Oi, kenapa bocah itu disini?"


"Bukankah dia masih anak-anak?"


"Sstt, diam. Nanti dia mendengarmu."


Lucius sama sekali tak memperdulikan apa kata mereka. Baginya, saat ini yang terpenting adalah untuk bertahan hidup.


Lagipula Ia juga sudah terbiasa diperlakukan seperti ini.


'Tap!'


Dari sampingnya, seorang petualang dengan rambut panjang dan busur di punggungnya nampak menepuk pundak Lucius.


"Lucius...."


Pemuda itu nampak tertawa ringan sebelum kembali berbicara.


"Hahaha.... Namaku Roy. Aku akan mengatakannya sekarang, Lucius. Kami tak membutuhkan beban." ujar pemuda itu, kali ini memberikan tatapan mata yang begitu tajam dan dingin.


"Hah? Apa maksudnya dengan itu?" tanya Lucius kesal.


"Aku tahu kau sering bersama dengan kelompok Ironclad akhir-akhir ini. Tapi jangan berpikir kau sudah cukup hebat untuk pertarungan yang sebenarnya. Ku harap kau tak menangis saat melihat darah nanti." balas Roy sebelum mempercepat langkah kakinya dan meninggalkan Lucius.


Dari sekelilingnya, Lucius dapat melihat semua orang berusaha keras untuk menahan tawa mereka. Meski begitu, bisikan mereka masih dapat terdengar jelas di telinga Lucius.


"Hahaha, lihat bocah itu gemetar ketakutan."


"Aku heran, apakah orangtuanya tak mengajarkannya cara kerja dunia nyata?"


"Dia pikir dia kuat setelah bertualang bersama Ironclad akhir-akhir ini?"


"Hahaha, dia mungkin hanya bertugas membawakan barang bawaan di belakang sambil menangis ketakutan."

__ADS_1


Lucius berusaha untuk tak terpengaruh oleh perkataan orang-orang itu. Bagaimana pun, bahaya yang ada di hadapannya jauh lebih besar dibandingkan cemoohan orang yang tak dikenalinya ini.


'Lucius....'


"Ada apa?" tanya Lucius lirih.


'....'


Carmilla nampak terdiam untuk beberapa saat. Seakan-akan kata yang telah ada di ujung lidahnya terhenti, tak mampu untuk terucapkan.


'Tak ada. Berhati-hatilah.'


Kelompok yang dipimpin oleh Selena itu pun terus melanjutkan pencarian mereka. Hingga akhirnya, setelah menyusuri kedalaman hutan selama 2 jam lebih....


'Sruuugg!'


Rover dan kelompoknya terlihat kembali ke regu utama. Melaporkan hasil pengamatannya pada Selena.


"Guild Master. Kami melihat monster yang sangat kuat di depan. Ia sedang memangsa puluhan monster lain yang telah diburunya." ucap Rover.


"Hobgoblin?" tanya Selena singkat.


"Tidak. Yang kami lihat adalah seekor Ursaloth. Tapi.... Monster itu sangatlah tidak normal." balas Rover.


"Tidak normal? Beruang hitam itu?"


"Ya. Pertama, dia memiliki tinggi tubuh hingga 3.5 meter lebih. Cakarnya yang tajam nampak membekas di beberapa pohon yang telah rubuh. Kemudian saat kami melihatnya, Ursaloth itu sedang memangsa beberapa ekor Thornback."


Selena nampak menopang dagunya dengan jari telunjuk kanannya. Memikirkan informasi yang baru saja didengarnya itu.


Jika menyamakannya dengan apa yang diceritakan oleh Donner sebelumnya....


"Sudah ku duga. Donner pasti salah. Kemungkinan yang melukai kakaknya adalah Ursaloth itu. Sedangkan Hobgoblin itu secara kebetulan berada di sekitarnya." jelas Selena.


"Hah! Apa kataku! Tak mungkin seekor Hobgoblin sekuat itu!" ujar Drakon.


"Mengingat ukuran Ursaloth itu, kemungkinan pedang biasa takkan mampu menembus kulitnya yang tebal. Ya, sekarang semuanya masuk akal." balas Ironclad.


"Meski begitu, bukan berarti Ursaloth adalah lawan yang mudah. Apalagi jika monster itu bisa memburu puluhan monster tingkat menengah sendirian. Persiapkan diri kalian!" teriak Selena.


"Wuooooh! Tentu saja!" balas semua orang.


Selena terlihat menatap ke arah Rover sambil mengucapkan sesuatu.


"Pimpin jalannya. Kami akan mengikutimu."


"Dengan senang hati."

__ADS_1


Regu kedua dan ketiga sama sekali tak mengetahui apa yang terjadi di regu utama. Mereka hanya menyadari bahwa langkah mereka terhenti selama beberapa menit sebelum kembali berjalan.


Tepat ke arah monster misterius yang berhasil melukai dua petualang berpengalaman itu.


__ADS_2