
Pada sore harinya, setelah seluruh pelajar kelas F itu menyelesaikan makan bersama mereka....
"Lucius, apakah kau sibuk?" tanya Alex dengan suara yang lirih.
Mendengar pertanyaan itu, Lucius sebenarnya sangat ingin menjawab bahwa dirinya sedang sibuk. Dia tahu bahwa jika bilang tak sibuk, maka Alex akan menyeretnya dalam hal yang merepotkan lainnya.
Dengan kata lain, akan mengganggu latihannya.
Meski begitu....
"Tidak. Kenapa?" balas Lucius singkat.
"Setelah menyerahkan bayaranmu atas permintaanku sebelumnya, aku ingin sedikit berbicara denganmu. Bukan antar teman kelas, melainkan antar bangsawan." jelas Alex.
Untuk mengalihkan rasa terkejutnya, Lucius menolehkan kepalanya. Di kejauhan, sosok teman kelasnya yang lain telah berjalan cukup jauh menuju rumah mereka masing-masing.
"Soal apa?"
"Nanti akan ku jelaskan."
Dengan kalimat balasan itu, Alex segera berjalan di depan tanpa sepatah kata lagi yang keluar dari mulutnya.
Kedua telapak tangannya nampak mengepal kuat seakan-akan apa yang akan dibicarakannya dengan Lucius adalah hal yang sangat penting. Begitu pula dengan langkah kakinya yang terkesan sangat terburu-buru.
Melihat hal itu, Lucius hanya bisa terus berspekulasi dalam pikirannya.
'Orang itu, sulit dipercaya.' ucap Carmilla tiba-tiba dalam pikiran Lucius.
"Apa maksudmu?" tanya Lucius kembali dengan suara yang sangat lirih.
'Saat aku masih hidup, orang yang paling tidak bisa dipercaya adalah mereka yang bergerak untuk uang. Itu benar.... Sama seperti salah seorang bangsawan iblis yang menjual semua informasi iblis lain demi uang.' jelas Carmilla.
"A-apa?!" tanya Lucius terkejut.
Tentu saja. Ia sama sekali tak menyangka akan ada jawaban seperti itu dalam perjalanan santai seperti ini.
"Hmm? Lucius? Ada apa?" tanya Alex yang mendengar Lucius sedikit berteriak. Ia nampak sedikit menolehkan kepalanya untuk melihat sosok Lucius di belakangnya.
"Aaah, tidak. Aku hanya terkejut soal itu." balas Lucius sambil menunjuk ke suatu arah di pinggir kota.
Apa yang ditunjuk oleh Lucius, tak lain adalah pemandangan dimana dua orang budak tengah dicambuk oleh majikannya untuk mempercepat langkah kaki mereka.
Tangan kedua budak itu nampak membawa kotak kayu yang cukup besar dan terlihat berat. Meski begitu, pemilik budak itu terus memaksa keduanya untuk berjalan dengan cepat.
"Benar juga, sebelumnya kau hidup di desa ya Lucius?" tanya Alex setelah memperhatikan apa yang ditunjuk oleh Lucius barusan.
"Menghina ku?"
"Tidak. Hanya saja, pemandangan seperti ini cukup jarang terlihat di pedesaan. Membuatku semakin ingin memindahkan kantor dagang dari kota yang padat." balas Alex sebelum kembali mempercepat langkah kakinya.
Bagi Lucius yang selalu sibuk dengan dirinya sendiri, ini adalah pemandangan buruk pertama baginya di jalanan kota ini.
Sebuah pemandangan yang lazim ditemui, tapi entah karena keberuntungan atau kesialan, Lucius tak pernah melihatnya.
Rasa iba mulai memenuhi hati dan pikiran Lucius. Melihat bagaimana manusia lain diperlakukan layaknya hewan seperti itu.
Tapi mau bagaimana lagi?
Sejak awal....
Dunia tak pernah adil.
Bahkan dengan pikirannya yang belum dewasa sekalipun, Lucius juga tahu dengan betul hal seperti itu.
Sama halnya dengan manusia yang dilahirkan dengan bakat dari langit. Di sisi lain tentunya terdapat manusia yang dilahirkan tanpa bakat sama sekali. Seperti dirinya.
Dalam diam, Lucius terus mengikuti langkah kaki Alex di depannya.
Terus berjalan menuju toko pandai besi milik Alex, Brown Smithworks.
............
"Silakan duduk." ucap Alex sebelum duduk di sebuah sofa yang cukup besar, berseberangan dengan sofa tempat duduk Lucius.
Diantara keduanya, terdapat sebuah meja kaca yang indah dengan taplak kain yang begitu mewah. Hidangan ringan dan minuman yang dibawakan oleh beberapa pelayan segera meramaikan meja tersebut.
Tapi tepat di belakang Alex itu sendiri....
Terlihat berdiri seorang pria dengan kaos hitam polos yang cukup tipis. Memperlihatkan badannya yang begitu besar dan kekar. Rambutnya sendiri tertutupi oleh bandana berwarna putih.
Selain pria besar itu, terdapat pula 12 orang lain yang berdiri di belakangnya. Sebagian besar dari mereka nampak seperti seorang penyihir. Sedangkan dua diantaranya nampak seperti pandai besi.
"Alex, apa maksudnya semua ini?" tanya Lucius dengan sedikit perasaan curiga di dalam hatinya.
__ADS_1
Sebelum membalas, Alex terlihat mengambil sepotong kue kering di hadapannya. Memakannya secara perlahan lalu menyeruput teh hitam yang masih hangat di cangkir perak itu.
"Singkat saja, Lucius. Mereka semua adalah saksi tak langsung dari kemampuanmu." balas Alex.
"Saksi tak langsung dari kemampuanku? Apa maksudnya dengan...."
"Jangan berpura-pura lagi. Api biru yang masih menyala di hutan itu, adalah perbuatanmu kan? Kami semua memiliki bukti yang cukup untuk itu." ucap Alex memotong perkataan Lucius.
"Hah?"
Ke tiga belas orang di belakang Alex itu nampak terus menundukkan kepala mereka. Tak berani untuk menatap sosok Lucius maupun Tuan mereka.
"Misi memburu bandit itu.... Adalah sebuah cara untuk menakar kemampuanmu, Lucius. Selain itu.... Kemari lah, Albert." ucap Alex memanggil pelayannya yang paling bisa dipercayainya itu.
Sosok seorang pria yang agak tua muncul dari balik pintu ruangan ini. Kedua tangannya nampak membawa sebuah kotak hitam yang sama seperti saat dulu pria tua itu mengukur kekuatan Lucius.
"Tuan Lucius, jika berkenan, tolong letakkan tangan Anda di atas bola kristal ini." ucap Albert dengan ramah dan penuh hormat.
Melihat alat itu sekali lagi, Lucius menjadi ragu. Harus kah dirinya membiarkan kekuatannya terukur sekali lagi?
Apa jadinya jika kekuatan yang terukur terlalu kuat untuk manusia seumurannya?
Apakah kehidupannya di akademi akan berubah? Apakah sikap orang lain akan berubah? Lalu, apakah ke arah yang lebih baik? Atau justru ke arah yang lebih buruk?
'Lakukan saja. Sekalipun seluruh kota ini memusuhi mu, hanya ada sekitar 4.... tidak, 5 orang saja yang bisa menyaingi mu saat ini.' ujar Carmilla dalam pikiran Lucius.
Dalam hatinya, Lucius berpikir. Apakah dirinya benar-benar telah berkembang sejauh itu? Ia terus menerus berusaha untuk menolaknya.
Kehidupannya sebagai sosok yang lemah dan selalu diremehkan masih menempel kuat di dalam dirinya. Membuat Lucius juga selalu memandang rendah dirinya sendiri.
Tapi....
'Tap!'
Pada akhirnya, Lucius meletakkan telapak tangan kanannya di atas bola kristal itu. Membiarkan alat rumit itu mengukur kekuatannya.
'Sreeeettt!!!'
Pada bagian samping kotak itu, jarum penunjuk nampak bergerak ke arah kanan. Menunjuk pada angka 271.
Sedangkan pada bagian yang lain, jarum penunjuk yang serupa juga bergerak ke kanan dan berhenti pada angka 56.
Semua orang yang ada di ruangan ini terkejut bukan main setelah melihat hasil pengukuran tersebut.
"Ya-yang benar saja?! 271?!" teriak pria bertubuh besar yang berdiri di belakang Alex itu.
'Aaah, nampaknya memang sebaiknya aku tak membiarkan kekuatanku di ukur....' pikir Lucius dalam hatinya setelah melihat ekspresi ketakutan di wajah sebagian orang di hadapannya.
Ia telah hafal dengan tatapan itu. Tatapan yang sama seperti yang diterimanya, ketika dirinya bukanlah siapa-siapa.
Sebuah tatapan jijik setelah melihat sosok yang tidak normal. Entah karena terlalu lemah, atau terlalu kuat.
Tapi, terdapat dua orang yang sama sekali tak terpengaruh oleh hasil pengukuran Mana milik Lucius barusan.
Dua orang itu tak lain adalah Alex dan juga Albert. Bahkan, keduanya nampak tersenyum puas setelah melihat kekuatan Lucius barusan.
"Selamat, Tuan Lucius. Nampaknya Mana Anda telah berkembang setidaknya 3 kali lipat lebih besar dibandingkan dengan pengukuran yang dulu." ucap Albert sambil membungkukkan badannya.
"Eh?" tanya Lucius terkejut sekaligus kebingungan.
"Lucius, aku tak tahu apa yang kau pikirkan tapi.... Tujuanku mengajakmu kemari adalah untuk memastikan kemampuanmu, sekaligus memberikan penawaran pertukaran yang menarik." timpal Alex setelah itu sambil tersenyum puas.
"Hah?" tanya Lucius yang semakin kebingungan.
'Ctak!'
Alex nampak menjentikkan jarinya. Memberikan kode pada beberapa pelayan di luar ruangan ini untuk masuk.
Tak berselang lama, dua orang pelayan wanita terlihat berjalan masuk sambil membawa sebuah pedang dengan bilah kemerahan.
Hanya saja, bilah pedang itu hanya tersisa sekitar seperlima saja. Sisanya telah meleleh hingga tak lagi berbentuk.
"Lucius. Bahkan dengan 10 penyihir, melelehkan pedang ini sama seperti yang kau lakukan sangat lah sulit. Kami bisa melelehkannya hingga titik dimana bisa ditempa. Tapi hingga hancur lebur seperti ini? Mustahil dengan 10 penyihir di belakangku ini." jelas Alex sambil mengangkat pedang rusak itu dengan tangan kanannya.
Dengan perkataan itu, Lucius segera memahami arah dari pembicaraan ini.
Berdasarkan pengetahuan dan pola pikir Lucius, Ia menebak akan ada tiga peluang dari arah pembicaraan Alex.
Yang pertama, adalah arah dimana Alex berniat untuk mengancamnya dengan informasi ini. Lalu memaksanya untuk bekerja dibawahnya.
Kemudian peluang kedua adalah dimana Alex berniat untuk menipu Lucius sekali lagi dengan alasan kerusakan pedangnya terlalu parah. Lalu memintanya membayar mahal dan melilit Lucius dalam hutang sekali lagi.
Dan yang terakhir, adalah dimana Alex ketakutan atas kekuatan Lucius lalu memintanya untuk menjauhinya.
__ADS_1
Akan tetapi....
Lucius tak pernah memikirkan peluang ke empat.
"Lucius. Dengan bakat mu itu, kau bisa merubah dunia ini. Aku akan dengan senang hati mendukungmu menggunakan harta yang ku miliki.
Jadi lupakan pedang infernal steel payah ini. Aku berniat untuk membuatkan dirimu perlengkapan Mithril tingkat tinggi. Aah, tentu saja. Semuanya gratis. Bahkan semua hutangmu juga akan ku anggap lunas. Menarik?" tanya Alex dengan senyuman yang lebar.
Mithril. Sebuah logam yang bisa dikatakan mendekati kesempurnaan itu sendiri.
Beratnya hanya seperempat dari besi, namun memiliki kekuatan dan ketahanan puluhan kali lipat lebih kuat dari besi. Sedangkan ketajamannya sendiri bahkan menyaingi atau bahkan melebihi berlian, tergantung dari pandai besi yang membuatnya.
Tapi keunggulan utama Mithril bukanlah pada kekuatan fisiknya. Melainkan pada afinitasnya yang sangat tinggi terhadap semua elemen sihir. Menjadikannya sebagai logam impian semua ksatria dan penyihir.
Hanya saja, keberadaannya sangat lah langka. Di dunia ini hanya terdapat tiga tambang Mithril. Dua diantaranya berada di wilayah Kerajaan Dwarf.
Sedangkan manusia baru saja memperoleh satu tambang setelah merebut salah satu tambang itu dari wilayah Dwarf melalui peperangan.
Tentu saja. Berkat kelangkaan dan harganya yang setinggi langit, siapapun yang ditawari Mithril akan segera menerimanya. Tak peduli apa yang akan mereka lakukan terhadap Mithril itu.
Lucius pun juga berpikiran sama.
"Oi?! Memberikan ku perlengkapan Mithril? Kau bercanda? Pebisnis sepertimu memberikannya gratis? Aku tak percaya hal itu!" balas Lucius sambil berdiri dari kursinya.
Alex yang memahami kekhawatiran Lucius pun segera membalas.
"Tentu saja. Sebagai gantinya, Lucius." balas Alex sambil menyodorkan selembar kertas putih yang dihiasi alur keemasan pada keempat sisinya.
Tulisan yang cukup panjang terdapat pada selembar kertas itu, lengkap dengan segel resmi keluarga Brown.
"Lucius, keluarga Brown hanya ingin selalu berada di pihak keluarga Nightshade. Baik di saat buruk, maupun di kala kejayaan." lanjut Alex.
"A-aku sama sekali tak mengerti apa yang sebenarnya kau inginkan, Alex...."
"Singkatnya. Jangan lupakan keluarga Brown saat kau berjaya nanti. Bagi kami, tidak.... Bagi ku, kau dan keluargamu adalah sebuah jembatan bagi keluarga Brown untuk naik ke tingkat yang lebih tinggi lagi. Bukan hanya menjadi keluarga kecil di kota kecil ini."
Berbeda dengan Lucius yang selalu memandang rendah dirinya sendiri, Alex sebagai orang luar dapat melihat potensi Lucius dengan baik.
Bakat Lucius yang sama sekali tak bisa dijelaskan itu adalah sesuatu yang terlalu berharga untuk dilewatkan.
Jika keluarganya membantu Lucius saat ini, Lucius akan secara tak langsung mengangkat derajat keluarga Brown di masa depan.
Bagaimana pun, bocah berumur 16 tahun yang telah memiliki kekuatan setara dengan ksatria tingkat S?
Siapapun juga dapat menyadari bahwa Lucius akan menjadi jauh lebih kuat setelah lulus dari akademi ini.
Sedangkan Alex? Ia meletakkan semua taruhannya pada Lucius. Berharap Lucius akan menjadi salah satu orang terkuat di kerajaan manusia ini setelah lulus dari akademi.
Dan keluarganya, akan terpandang menjadi keluarga pendukung Lucius. Mengharumkan nama sekaligus meramaikan bisnisnya.
Rencana yang sempurna dan menguntungkan kedua belah pihak. Itu lah yang dipikirkan oleh Alex.
Hanya saja....
"Uughh...." ucap Lucius kesakitan sambil memegangi kepalanya.
"Oi, Lucius?! Ada apa?!" tanya Alex panik.
"Tidak.... Ini sudah biasa. Hanya sakit kepala sesaat karena kurang tidur. Sebentar lagi juga akan menghilang." balas Lucius sambil memaksakan senyuman di wajahnya.
"Sudah biasa?! Apa maksudmu dengan sudah biasa?!" tanya Alex khawatir sambil mendekat ke arah Lucius.
Dari dekat, Alex baru bisa melihatnya. Kantung mata Lucius yang menghitam dan tatapan mata yang dipenuhi kelelahan.
Tanda bahwa seseorang telah terlalu memaksakan dirinya.
"Yah, aku tak begitu mengerti tentang tingkat bangsawan atau sebagainya. Asalkan kau merahasiakan kekuatanku saat ini, aku akan menerima permintaanmu." balas Lucius yang kini harus menggunakan tangan kirinya untuk menopang tubuhnya agar tetap berdiri.
"Kau benar-benar tak apa-apa?" tanya Alex panik.
"Bisakah aku pulang? Aku harus berlatih...." balas Lucius. Ia terlihat berjalan dengan terpatah-patah menuju ke pintu keluar ruangan ini.
"Berlatih?! Apa yang kau katakan?! Kau harus beristirahat! Albert! Bantu Lucius untuk berjalan hingga ke rumahnya!" perintah Alex panik.
Albert hanya menundukkan kepalanya sesaat sebelum segera berlari ke arah Lucius. Memberikannya topangan agar bisa berjalan dengan baik.
"Aku.... Harus menjadi lebih kuat lagi...."
Kalimat terakhir dari Lucius itu benar-benar membuat Alex dan 13 orang di belakangnya kebingungan bukan main.
"Berlatih? Bahkan setelah memiliki kekuatan seperti itu?" tanya Pria bertubuh besar di belakang sofa Alex itu.
Sedangkan Alex sendiri hanya bisa berdiri dalam diam, melihat sosok Lucius itu berjalan bersama dengan Albert meninggalkan ruangan ini.
__ADS_1
"Sekalipun telah memiliki jumlah Mana yang setara dengan penyihir tingkat S, kau masih terus memaksakan dirimu? Berlatih? Lebih kuat? Untuk apa? Lucius.... Apakah kau tak sadar, kekuatanmu itu sudah termasuk dalam jajaran orang terkuat di kota ini?" tanya Alex keheranan.