Murid Ratu Iblis

Murid Ratu Iblis
Chapter 94 - Ujian Tulis


__ADS_3

Beberapa bulan telah berlalu tanpa banyak hal yang terjadi dalam hidup Lucius.


Keluarganya yang memperoleh Central Plaza berkat bantuan Alex, kini menjadi sosok keluarga yang cukup terpandang. Bahkan oleh bangsawan yang lainnya di kota ini.


Kebaikan dari Seraphina, Ibu Lucius, dalam membangun badan amal untuk orang-orang yang membutuhkan membuat keluarga Lucius cukup dihormati oleh para penduduk kota.


Sementara itu Ayah Lucius terus bekerja keras sebagai pebisnis, dan seringkali Ia dilihat bersama dengan Alex.


Melebarkan sayap bisnis dan usaha mereka di kota ini, sekaligus beberapa desa di sekitarnya.


"Tidak, tidak seperti itu!" teriak Carmilla marah saat sedang melatih Michelle.


"Ma-maaf...."


Adiknya sendiri yaitu Michelle, saat ini sibuk berlatih di bawah bimbingan Carmilla. Meskipun menu latihannya tak seekstrim seperti yang dijalani oleh Lucius, Ia tetap berkembang cukup pesat. Terutama Michelle sejak awal memang sudah diberkahi dengan bakat yang luarbiasa.


Bahkan Michelle telah berhasil menciptakan cincin sihirnya sendiri yang terletak di pergelangan tangan kirinya. Memperkuat segala sihir yang digunakan, serta meningkatkan kapasitas Mana miliknya secara drastis.


Tak hany Michelle, Alex juga sesekali memperoleh bimbingan latihan dari Carmilla.


Tapi mengingat kesibukan Alex, Carmilla seringkali hanya mampu memberikan menu latihan saja serta metode yang harus dijalaninya.


Alex akan berlatih sendiri di rumahnya dengan menu yang telah diberikan oleh Carmilla.


Kemampuan Alex sendiri meningkat drastis hingga setidaknya 2 kali lipat kekuatannya yang dulu setelah hampir 4 bulan menjalani latihan ini.


Sementara Michelle mampu meningkatkan kemampuannya hingga 6 kali lipat dari yang sebelumnya. Wajar saja karena Ia tak bekerja mengurus ratusan pegawai seperti Alex dan hanya fokus berlatih.


Setelah sekitar 4 bulan berlalu, Lucius di sisi lain....


'Swuuuuuuusssshhh!!!'


Ia terlihat sedang duduk di atas sebuah formasi sihir yang begitu kompleks. Carmilla nampak berdiri di pojokan ruang latihan ini, memperhatikan Lucius dari kejauhan.


Secara perlahan, cahaya putih kemerahan yang indah muncul dari sekitar formasi lingkaran sihir itu.


Menciptakan sebuah cincin raksasa yang berputar di sekitar tubuh Lucius.


Cincin itu secara perlahan mulai merapat dan mengecil. Mendekati tubuh Lucius tiap detiknya. Hingga akhirnya, menembus kulit dan otot Lucius seutuhnya.


'Zraaasshhh!!!'


Tubuhnya mengalami luka yang parah saat kontak secara langsung dengan cincin sihir itu. Tapi wajah Lucius sama sekali tak menunjukkan perubahan.


Ia masih terus fokus pada semua proses ini sembari menyembuhkan dirinya dengan kecepatan yang terkesan tak masuk akal. Semua berkat sebagian dari formasi sihir di sekitarnya itu, membantunya menyembuhkan tubuhnya secara langsung.


"Kau benar-benar.... Kau yakin dulunya kau tak memiliki bakat? Dasar...." keluh Carmilla setelah melihat semuanya.


Jika Lucius menggunakan formasi sihir yang dirancang oleh Carmilla, maka dirinya akan mati setidaknya beberapa kali selama prosesnya. Mengandalkan sihir dan katalis untuk mengejutkan jantungnya dan membangkitkannya kembali.

__ADS_1


Tapi dengan formasi sihir buatan Lucius ini?


Sebagai ganti rasa sakit yang lebih mengerikan, serta proses pemasangan yang lebih lama, Ia tak perlu sekalipun mati. Karena di dalam formasi sihirnya sudah terdapat lingkaran sihir penyembuh tingkat tinggi.


Setiap kali kulit dan ototnya terluka, lingkaran sihir itu akan segera aktif dan memulihkan semuanya seketika.


Setelah beberapa menit, cincin sihir itu semakin mengecil dan merapat. Mendekati jantung Lucius secara perlahan.


Dan akhirnya....


'Swuuuusshh!!!'


Seluruh formasi sihir yang ada di sekitar Lucius mulai memudar. Sedangkan cincin sihir itu berhasil terpasang di dekat jantungnya dengan sempurna.


'Plok! Plok!'


"Luarbiasa sekali, Lucius. Aku bahkan tak percaya kau bisa melakukannya." ucap Carmilla sambil menepukkan tangannya. Tapi semua itu dilakukannya dengan wajah yang cukup datar.


"Itu pujian?" tanya Lucius yang menyadarinya.


"Tidak. Lagipula, kau yakin adalah orang cengeng yang sama satu tahun yang lalu?"


"Entahlah...." balas Lucius sambil tertawa ringan.


Carmilla segera berjalan mendekati tubuh Lucius. Melihat tepat ke arah dadanya dengan mata sihir yang telah dipasangkan oleh Lucius beberapa bulan yang lalu.


"Hmm.... Pemasangan cincin sihir yang kedua juga sempurna. Kau, siapa kau sebenarnya? Dimana Lucius yang cengeng dan tak berguna itu?" tanya Carmilla sambil bercanda.


Untuk cincin sihir yang pertama, Lucius memfokuskan untuk meningkatkan kapasitas Mana miliknya secara drastis. Membuat dirinya seakan-akan memiliki Mana untuk dua tubuh, padahal hanya memiliki satu tubuh saja.


Sedangkan cincin sihir yang kedua cukup berbeda. Bukannya untuk meningkatkan kapasitas Mana, cincin sihir yang baru saja selesai dipasang oleh Lucius digunakan untuk fungsi regenerasi dan penyimpanan darurat.


Ia sudah cukup trauma ketika terjebak di dimensi Prism of Eternity itu.


"Dengan cincin ini, setidaknya jika dalam keadaan darurat...."


Carmilla menyela perkataan itu sebelum Lucius menyelesaikannya.


"Yah, aku tak tahu apakah kau akan merasakan bahaya lagi di Kota ini."


"Tidak. Aku masih belum mampu untuk menandingi mu, apalagi Alora." balas Lucius.


"Bukan begitu konsepnya.... Yah, sudah lah. Besok kau akan ujian bukan? Saat ujian, kau akan paham apa yang ku maksudkan."


..............


Keesokan harinya....


"Kakak, semangat untuk ujiannya!" ucap Michelle dengan senyuman yang lebar.

__ADS_1


"Kau juga. Ku harap kau bisa masuk ke kelas yang bagus." balas Lucius sambil membelai rambut kecoklatan adiknya itu.


Keduanya berangkat secara bersamaan, memanfaatkan sihir ruang Lucius untuk tiba di Akademi Damacia itu dalam sekejap.


Tapi dari aula utama Akademi itu, keduanya berjalan ke arah yang berbeda.


Michelle berjalan ke arah dimana ujian untuk memasuki akademi sihir ini akan diadakan. Sedangkan Lucius akan menuju ke gedung yang berbeda, dimana ujian untuk penentuan kelas di tahun ketiga itu dilaksanakan.


Pada ujian pertama, adalah ujian teori.


Ujian dilangsungkan selama 3 jam untuk 3 buah materi yang berbeda sekaligus. Yaitu sihir elemental, sejarah, dan terakhir adalah penerapan sihir.


Lucius memasuki gedung dengan ruangan yang sangat besar. Di dalamnya terdapat ratusan meja dan kursi yang disusun bertingkat, selalu sedikit lebih tinggi dari kursi yang ada di depannya dengan susunan setengah lingkaran.


Setelah memastikan nomor bangku ujiannya, Lucius akhirnya duduk di kursi bagian tengah. Bersebelahan dengan beberapa pelajar dari kelas C dan D.


"Kalau begitu, ujian dimulai!" ucap sang pengawas di ujian kali ini yaitu Profesor Magnus.


Ketiga mata pelajaran itu diujikan secara bersamaan. Memberikan kesempatan bagi pelajar yang lemah di salah satu mata ujian untuk bisa memanfaatkan waktu yang dipangkasnya dari ujian yang dikuasainya.


Tapi....


"Eh? Apa-apaan ini?" bisik Lucius pada dirinya sendiri setelah melihat ketiga pertanyaan dalam ujian itu.


Di hadapannya, terdapat tiga lembar kertas dengan banyak pertanyaan yang berbeda untuk tiap pelajaran. Tapi masalahnya....


"Bukankah ini terlalu mudah?" keluh Lucius dengan suara yang lirih.


Lucius yang sejak awal memang cukup cerdas, ditambah dengan ketekunan dan sumberdaya yang dimiliki, serta ajaran dari Carmilla....


Membuat ujian teori ini terlampau mudah baginya.


'Sihir elemen.... Seperti namanya menguji pengetahuan dan pemahaman penyihir atas keempat elemen utama. Tapi soal seperti ini....' pikir Lucius dalam hatinya.


Soal seperti bagaimana bentuk dasar lingkaran sihir elemen api 'fireball' atau hubungan antar elemen seperti elemen apa yang melemahkan elemen apa, juga pertanyaan mendasar lainnya.


Bagi Lucius yang bahkan telah memasuki ranah formasi rumit dimana Ia menggabungkan beberapa elemen dan sihir secara langsung menjadi satu formasi?


Tak hanya itu, soal ujian dari sejarah juga tak menjadi masalah baginya.


Dirinya yang selalu penasaran atas sosok yang sebenarnya dari Carmilla, membuat Lucius secara tak sadar menggali berbagai sejarah di dunia ini.


Dan pada akhirnya, membuatnya mengetahui hampir seluruh sejarah dan peristiwa besar di Kerajaan Arathor dan Benua ini hingga ribuan tahun yang lalu.


Terakhir mengenai penerapan sihir....


"Bagaimana caranya membuat sebuah metode penelitian guna menciptakan sihir baru? Yang benar saja.... Aku bahkan telah membuat Arcana milikku sendiri...." keluh Lucius dengan suara lirih sambil memegang saku di dada kirinya.


Dimana di dalamnya terdapat Arcana buatannya sendiri yang bernama Aetherlock. Arcana itu sudah disempurnakan dan diukir dalam logam Mithril yang kokoh.

__ADS_1


Pertanyaan seperti metode untuk melakukan penelitian, langkah mempersiapkan diri untuk membuat sihir baru dan sebagainya....


Terlalu mudah bagi Lucius yang saat ini.


__ADS_2