Murid Ratu Iblis

Murid Ratu Iblis
Chapter 50 - Kembali ke Akademi


__ADS_3

Pada pagi hari yang cerah ini, Lucius berjalan dengan cukup cepat menuju ke arah ruang kelasnya.


Kelas F.


Kelas yang berisi orang-orang yang gagal dalam pendidikan di akademi ini. Meski begitu, bukan berarti mereka semua lemah.


"Yo, Lucius." sapa Alex ramah dari sudut ruangan ini.


"Jarang-jarang melihatmu datang pagi, Alex." balas Lucius yang segera mengambil barang-barangnya dari dalam loker di belakang kelas itu.


Menata buku dan alat tulisnya pada meja di sebelah Alex.


"Mengenai pedangmu itu, aku penasaran. Bagaimana bisa leleh?" tanya Alex.


Lucius menatap sosok Alex yang penasaran itu dengan tatapan datar. Memikirkan jawaban terbaik untuk diberikan padanya.


Bagaimana pun, Ia tak ingin teman-teman sekelasnya tahu alasan yang sebenarnya.


"Aku mencoba sihir api dengan seluruh Mana milikku. Lalu pedang itu leleh begitu saja." balas Lucius.


"Hahaha.... Sungguh? Kalau begitu bukankah kau sangat kuat? Di tempat penempaan, dibutuhkan 10 penyihir lebih untuk melelehkan dan menempanya." ujar Alex sambil tertawa ringan.


"Kau masih lebih kuat dari ku kan?"


"Dulunya, mungkin." balas Alex dengan tatapan yang cukup tajam.


Setelah menata bukunya dengan rapi, Lucius pun kembali bertanya. Kini hal paling penting bagi dirinya saat ini.


"Lalu, berapa banyak yang harus ku bayar kali ini? Aku akan jujur, biaya saat ini saja sudah sulit." keluh Lucius.


"Kalau begitu, kau berminat untuk melakukan sedikit kerja sampingan untukku?" tanya Alex, kini dengan tatapan yang begitu serius.


"Cih, dasar penggila uang."


"Bisnis adalah bisnis. Tak ada hubungannya dengan pertemanan." balasnya sambil tertawa ringan.


...........


...[Bandit terus mengganggu rombongan dagangku. Jika terus berlanjut, aku akan menerima kerugian ribuan koin emas lebih.]...


...[Tentu saja aku bisa meminta bantuan dari keluarga tentara bayaran milik keluarga Max. Tapi masalahnya, mereka mahal dan kami bahkan tak tahu dimana lokasi bandit nya. Temukan lokasi persembunyian mereka, lalu hancurkan semuanya. Bayaran yang bisa kusiapkan adalah 400 koin emas. Batas waktunya satu Minggu.]...


Setelah membaca surat dengan segel resmi dari keluarga Brown itu, Lucius hanya bisa tertawa ringan sambil menutupi wajahnya.


"Hahaha, bahkan tidak cukup untuk melunasi pedang yang sebelumnya. Apalagi biaya untuk perbaikan pedangnya.... Hah.... Baiklah. Tak masalah." ucap Lucius pada dirinya sendiri sambil membaringkan badannya pada ranjangnya.


'Lucius, sebelum itu, ku rasa sudah saatnya.' ujar Carmilla tiba-tiba.


"Saatnya? Untuk apa?"

__ADS_1


'Persiapanmu untuk memasang cincin sihir kedua.'


Cincin sihir Stellastra. Sihir Original buatan dari Carmilla itu sendiri. Memberikan peningkatan kapasitas dan regenerasi Mana secara signifikan pada pemiliknya.


Memungkinkan mereka untuk melampaui batasan yang disebut sebagai bakat itu sendiri, dengan kerja keras.


"Aah, soal itu. Jujur, aku sedikit kesal karena tak dipasang sebelum pertarungan melawan iblis itu. Jika saja saat itu kau sudah memasangnya...."


Lucius berpikir, jika saja kala itu Ia sudah memiliki cincin sihir kedua, mungkin saja korban dari pihak petualang takkan sebanyak ini.


Bahkan mungkin....


Dirinya bisa mencegah kematian regu Ironclad itu sendiri.


Tapi apa yang sudah terjadi tak bisa terulang kembali. Kini Lucius hanya bisa menghadapi apa yang ada di depannya.


'Saat itu, tubuhmu belum siap. Jika dipaksa, kau akan benar-benar mati.' balas Carmilla.


"Begitu kah?"


'Kau ini.... Tidak tertarik ya?' tanya Carmilla sekali lagi.


Lucius sangat ingin membalas perkataan Carmilla dengan kenyataan bahwa dirinya masih depresi. Melihat kelompok yang dihormatinya, terbunuh begitu saja di hadapan iblis tak bernama itu.


Tapi dirinya juga sadar, terus menerus memikirkan hal itu sama sekali takkan ada gunanya.


Mungkin Lucius akan kembali kehilangan sosok orang terdekatnya akibat kelemahannya.


"Tidak. Aku sangat tertarik. Jadi apa yang perlu ku siapkan?" balas Lucius singkat.


'Sebuah operasi sihir pada matamu. Benar juga, ini juga akan sangat bermanfaat untuk misi perburuan bandit itu.'


"Hah? Apa maksudmu?" tanya Lucius kebingungan.


'Clairvoyance Eye. Kau juga pernah menemui kemampuan ini di akademi.' balas Carmilla.


Mendengar jawaban itu, Lucius terdiam untuk beberapa saat. Memikirkan atas siapa yang dimaksudkan oleh Carmilla.


Tak perlu waktu lama bagi Lucius untuk mengetahui jawabannya.


"Jangan katakan.... Luna Frostbourne?"


'Benar sekali.' balas Carmilla dengan nada yang terkesan sedikit bahagia.


Clairvoyance Eye. Tentu saja Lucius yang telah belajar di akademi sihir mengetahui sekuat apa mata itu.


Seperti namanya, mata ini memungkinkan pemiliknya untuk melihat segala yang ada di dunia ini. Mulai dari aliran Mana, bekas penggunaan Mana, jejak formasi sihir, dan juga meningkatkan penglihatan normal pemilik secara drastis.


Jadi sekalipun tak ada cahaya, pemilik mata ini bisa mengikuti jejak Mana yang ada di hadapannya untuk bergerak.

__ADS_1


Clairvoyance Eye dikatakan hanya bisa diperoleh dari operasi sihir yang sangat sulit. Hanya beberapa keluarga bangsawan tingkat tinggi saja yang mengetahui bagaimana cara untuk melakukannya.


Belum lagi, terdapat peluang untuk gagal dan merusak mata penggunanya. Membuatnya buta selamanya.


Itulah kenapa sebagian besar yang melakukan operasi mata sihir ini, hanya melakukannya pada salah satu mata mereka saja. Sekalipun operasinya gagal, mereka masih memiliki satu mata untuk melihat.


Sama seperti Luna yang hanya memilikinya pada mata kirinya.


"Bagaimana bisa kau mengetahui cara membuat mata itu?" tanya Lucius kebingungan.


Tapi jawaban yang diperolehnya, sama sekali tak pernah di duganya.


'Bagaimana? Apa maksudmu? Aku lah yang menciptakan operasi sihir itu. Meskipun aku tak tahu bagaimana manusia bisa menirunya. Saat itu aku juga hanya menyebutnya sebagai mata sihir.'


"Eh?"


Bahkan setelah selama ini bersama dengannya....


Carmilla masih selalu saja bisa membuat Lucius terkejut dengan kemampuannya. Apakah mungkin sosok sehebat ini hanyalah iblis biasa? Itu lah yang selalu dipertanyakan oleh Lucius hingga detik ini.


'Yah bagaimana pun, milikku adalah versi yang asli. Jauh lebih sempurna daripada tiruan manusia.' balas Carmilla dengan bangga.


Lucius hanya terdiam. Merasa bahwa dirinya yang tak berbakat sekalipun, bisa meraih kemampuan yang hanya dibatasi pada para bangsawan tingkat tinggi.


Karena itulah....


"Kalau begitu, tolong berikan mata itu padaku." ucap Lucius sambil segera berdiri lalu membungkukkan badannya pada sebuah cermin yang ada di kamarnya.


Untuk sekejap, Lucius dapat merasakan bahwa Carmilla tersenyum puas dengan sikapnya.


'Kalau begitu, maaf tapi bersiaplah. Ini jauh lebih menyakitkan daripada pemasangan cincin sihir.' balas Carmilla.


Dengan perkataan itu, Carmilla segera mengambil alih tubuh Lucius.


Tak menunggu lama Ia segera menciptakan banyak bola-bola es dengan menggunakan tangan kanannya.


"Lucius, aku serius. Ini akan sangat sakit." ucap Carmilla dengan menggunakan tubuh Lucius itu.


Tangan kiri Carmilla terlihat memegang beberapa bola es barusan. Menempelkannya pada sekitar mata kiri Lucius sambil berdiri tepat di depan cermin itu.


Sedangkan tangan kanannya membuat puluhan formasi sihir yang sangat rumit pada telapak tangannya.


Rangkaian formasi sihir yang saling tumpuk itu memiliki ukuran yang berbeda-beda. Tapi semakin jauh dari telapak tangannya, semakin kecil pula ukurannya.


"Bersiaplah." ucap Carmilla saat meletakkan tangan kanannya tepat di depan matanya.


Puluhan formasi sihir yang menyerupai bor itu secara perlahan mulai dimasukkan pada mata kirinya.


Yang terjadi setelah itu....

__ADS_1


__ADS_2