Murid Ratu Iblis

Murid Ratu Iblis
Chapter 22 - Perburuan


__ADS_3

'Sruuugg! Srruuugg!!'


Lucius berjalan secara perlahan di tengah hutan yang gelap ini. Hanya bola api kecil di tangan kirinya yang menjadi penerang di tengah hutan ini.


'Kau tak kedinginan?' tanya Carmilla singkat mengingat Lucius hanya mengenakan kaos biasa ditambah satu lapis jubah kecoklatan yang tipis.


"Hmm? Tidak?" balasnya singkat.


'Kalau begitu tak masalah.' balas Carmilla.


Di tengah kesunyian ini, Lucius terus mencari monster yang bisa dijadikan sebagai sarana latihannya.


Tapi setelah hampir satu jam berjalan semakin dalam di hutan ini, Lucius sama sekali tak menemukan monster apapun.


Hanya beberapa ekor rusa dan kelinci yang berlarian kesana kemari setelah mendengar langkah kaki Lucius.


Saat Lucius menatap ke langit, Ia dapat melihat bulan sabit yang memberikan cahaya remang-remang. Pada saat itu juga, Ia teringat atas sesuatu yang selalu ingin diketahuinya.


"Hei, Carmilla. Kenapa.... Aku?"


'Apa maksudmu?' tanya Carmilla kembali dengan sedikit kebingungan.


"Kenapa memilih diriku sebagai wadah jiwa mu? Bukankah kau selalu bilang aku tak berbakat atau apa? Tidak adakah yang lainnya?" tanya Lucius, kini lebih rinci.


Tatapan mata Lucius masih terpaku pada bulan di langit, yang kini mulai tertutupi oleh awan tipis.


Sementara itu Carmilla nampak terdiam. Memikirkan jawaban yang tepat untuk diberikan pada pemuda itu.


Dan akhirnya....


'Tak ada alasan.'


"Eh?"


Lucius terkejut mendengar jawaban itu. Ia tak percaya bahwa Carmilla benar-benar tak memiliki alasan untuk memilihnya sebagai wadah jiwanya.


"Maaf, tak ada alasan? Apa maksudnya?" tanya Lucius sambil mengerutkan wajahnya.


'Singkatnya, kau adalah orang pertama yang menemukan diriku. Jika aku melewatkan kesempatan itu, aku tak tahu kapan lagi aku bisa dikeluarkan dari sana. Jadi maaf jika aku menyingkirkan anjing peliharaan mu.' balas Carmilla panjang lebar.


Apa yang dimaksud oleh Carmilla adalah serigala yang seharusnya terpanggil oleh Lucius, yaitu Fae Fawn.


Pada saat pemanggilan, Carmilla menggagalkan kontrak antara Lucius dan Fae Fawn. Sebelum akhirnya memaksa Lucius untuk terikat kontrak dengannya.


"Begitu kah? Tak bisa kah kau pindah tubuh jika memang menyesal masuk di tubuhku?" tanya Lucius sekali lagi.


'Tak bisa. Kita terikat kontrak, kau tahu?' balas Carmilla dengan nada yang sedikit ceria.


Saat keduanya masih sibuk berbicara satu sama lain, beberapa ekor monster mulai mendekat. Suara langkah kaki mereka yang menginjak dedaunan dan semak-semak itu dapat terdengar dengan jelas.


'Srriiingg!!!'


Dengan cepat, Lucius menarik pedangnya dan bersiap untuk bertarung.


Bola api yang ada di tangan kirinya terlihat semakin membesar, memberikan penerangan yang jauh lebih jelas di area sekitarnya.


Dan saat Lucius menoleh ke arah belakang....


"Grrrrraaaarrr!!!"

__ADS_1


"Graaaaaaarrghh!!!"


Kawanan Goblin terlihat berjalan ke arahnya. Jumlah mereka sekitar 10 ekor, dan masing-masing membawa senjata yang berbeda-beda.


Melihat dari perlengkapan mereka saja, Lucius tahu bahwa semua senjata itu adalah senjata curian dari manusia.


Sekalipun telah menjadi jauh lebih kuat, rasa takut yang tertanam dalam diri Lucius terhadap Goblin masih begitu banyak.


Jantungnya berdebar kencang saat mengingat dirinya dimakan hidup-hidup. Dipotong satu demi satu bagian tubuhnya untuk dimasak.


Belum lagi....


Mengingat apa yang monster itu lakukan pada gadis yang bersamanya....


"Hah.... Hah.... Hah...."


Nafas Lucius mulai menjadi tak beraturan. Bahkan tubuhnya mulai gemetar tanpa henti.


Terlebih lagi, tanpa Lucius sadari bola api di tangan kirinya mulai melemah. Membuat suasana di hutan ini menjadi semakin gelap. Dan pada akhirnya, mengingatkan kembali Lucius atas kegelapan di goa Goblin itu.


'Apakah aku sudah cukup kuat? Aku takkan tertangkap lagi kan?' tanya Lucius dalam hatinya sendiri dengan keringat yang terus mengucur tiada henti.


Tanpa menunggu lawannya siap, salah seekor Goblin itu mulai menyerang.


'Syuuuuuuttt!!!'


Sebuah anak panah dari busur kayu tua itu melesat dengan cepat ke arah Lucius. Menancap tepat di bahu kirinya.


"Kuugghh!!" teriak Lucius kesakitan.


Trauma Lucius terhadap Goblin nampaknya belum sepenuhnya menghilang. Sekalipun Ia telah memperoleh kekuatan yang diinginkannya.


'Syuuuuuuttt!!!'


Darah mulai mengalir secara perlahan di kedua lukanya itu. Menetes membasahi jubah coklat yang dikenakannya dengan warna merah gelap.


"Ca-Carmilla, bisa kah ka...."


'Tidak mau.' balas Carmilla cepat, memotong perkataan Lucius yang belum selesai itu.


Carmilla tahu bahwa Lucius meminta bantuannya untuk menghadapi situasi ini. Dan karena situasi seperti ini lah, Carmilla akan membiarkan Lucius untuk berjuang sekuat tenaganya.


Karena langkah awal bagi Lucius untuk menjadi lebih kuat lagi, tentunya adalah dengan membuang semua rasa takutnya.


Termasuk trauma nya.


"Graaaaarrrr!!!"


Tiga ekor Goblin terlihat mulai berlari menuju ke arah Lucius, mengarahkan pedang berkarat mereka dan menyerang Lucius secara bersamaan.


'Sraaasshh! Kraaasshh! Zraaattt!'


Jubah coklatnya yang tipis itu mulai robek di berbagai sisi. Memperlihatkan kulitnya yang tergores dan berdarah-darah itu.


Saat itu lah, Lucius telah memutuskan.


'Swuuuusshh!!!'


Sebuah lingkaran sihir merah di atas punggung tangan kanannya mulai muncul. Ukurannya tak begitu besar, namun memiliki intensitas Mana yang begitu pekat.

__ADS_1


Lingkaran sihir itu tak lain merupakan salah satu sihir iblis yang telah diajarkan oleh Carmilla.


'Dengan ini, pasti akan mudah untuk....'


Tanpa Lucius duga, Carmilla mengambil alih tubuhnya secara paksa untuk sesaat saja. Tujuan Carmilla hanya satu.


Yaitu untuk membatalkan sihir iblis itu.


"Carmilla?" tanya Lucius panik, yang kini mulai berlari menjauhi kejaran sekitar 10 ekor Goblin itu.


'Lucius. Kau sudah jauh lebih cukup untuk membunuh mereka semua. Jika kau selalu bergantung pada sihir iblis, maka kau takkan bisa berkembang.' balas Carmilla.


Saat masih berlari, beberapa anak panah kembali menancap di tubuh Lucius dari belakang. Melukai punggung dan kakinya.


'Braaakkk!!!'


Dengan tubuh yang lemas, gemetar, dan penuh rasa takut itu, Lucius tersungkur ke tanah.


Api di tangan kirinya yang padam membuat kegelapan yang sebenarnya di hutan ini mulai menampakkan taringnya.


Kesunyian dan kegelapan, hanya suara langkah kaki dan teriakan para Goblin yang terdengar di kepalanya.


Dan di tengah keheningan itu....


'Sudah?' tanya Carmilla singkat.


Lucius hanya bisa terdiam, tak bisa menjawab sepatah kata pun. Bukan hanya karena tak paham atas apa yang dimaksudkan oleh Carmilla. Tapi juga karena pikiran Lucius masih dipenuhi oleh berbagai hal.


'Kau tak terluka separah itu kan?' tanya Carmilla sekali lagi.


"Apa maksudmu?" balas Lucius dengan wajah yang menghadap ke tanah.


Gerombolan Goblin yang sebelumnya berlari, kini terlihat berjalan secara perlahan sambil tertawa. Mengelilingi tubuh Lucius yang telah tergeletak di tanah, tak berdaya.


'Ayolah, kau tahu apa yang ku maksud kan?'


"Sialan, kenapa kau mengocehkan hal membingungkan di saat-saat seperti ini?" tanya Lucius kesal.


Tanpa Lucius sadari, rasa takut dan traumanya atas Goblin, kini berubah menjadi sebuah kekesalan terhadap sikap Carmilla.


'Lihat, kau masih sehat kan?'


Hanya dengan pertanyaan bernafas gembira dari Carmilla itu, Lucius tersadar.


Bahwa semua ini jika dibandingkan dengan pelatihan neraka Carmilla yang seakan-akan bisa membunuhnya kapan saja....


Senyuman mulai terlihat di wajah Lucius. Tak lama setelah itu, tawa yang ringan dapat terdengar.


"Hah.... Hahaha.... Hahaha..... Apa yang ku lakukan?" ucap Lucius pada dirinya sendiri.


Tangan kanannya mulai meraih sebuah batu seukuran genggaman tangannya. Sebelum dengan cepat melemparkannya tepat ke salah satu Goblin di sekitarnya.


'Swuuuuusshhh! Braaaaaakkkk!!!'


Hanya dengan satu lemparan batu itu, wajah Goblin yang terkena lemparannya hancur tak karuan. Dengan banyak darah yang mengalir deras dari wajahnya.


"Graaaaarrrr!!!" teriak Goblin yang lainnya. Kini, tawa mereka mulai memudar. Hanya kemarahan dan kebencian yang ada dalam pikiran monster-monster itu.


Sedangkan Lucius sendiri mulai bangkit dari tanah dengan bantuan tumpuan pedangnya.

__ADS_1


"Hahaha.... Kau benar. Kenapa aku takut pada mereka ya? Bukankah aku sudah tak lagi seperti yang dulu?" tanya Lucius pada Carmilla, kini berdiri siap untuk menghadapi sekitar 10 ekor Goblin itu.


Secara samar-samar, terlihat cahaya kehijauan yang tipis membalut luka di sekujur tubuh Lucius. Menyembuhkannya secara perlahan sembari Ia bertarung dengan pedangnya.


__ADS_2