Murid Ratu Iblis

Murid Ratu Iblis
Chapter 51 - Clairvoyance


__ADS_3

"Hah.... Hah.... Hah.... Ku pikir aku akan benar-benar mati...." ujar Lucius dengan tubuh yang terbaring di atas banyak darah yang berceceran.


Kamarnya saat ini, dipenuhi dengan darahnya sendiri. Semua itu tentu saja akibat operasi sihir Carmilla.


Perban putih yang sedikit ternodai oleh darah itu terlihat melilit mata kiri Lucius hingga kepala bagian belakangnya.


'Kerja bagus, Lucius. Kau berhasil menahannya.' ujar Carmilla.


"Hah?! Aku benar-benar berpikir akan mati! Tak bisakah dengan cara yang lebih lembut?" tanya Lucius kesal.


'Karena itu lah aku menunggu tubuhmu sedikit lebih kuat untuk operasi ini. Tak seperti pemasangan cincin sihir, jika otakmu terluka akibat operasi ini, aku tak bisa membangkitkan mu lagi.' balas Carmilla juga kesal.


Seketika, sekujur tubuh Lucius dipenuhi oleh keringat dingin. Bulu kuduknya pun berdiri setelah mendengar pernyataan itu.


"Hah? Barusan.... Kau bilang apa?"


'Kematianmu saat pemasangan cincin sihir bukan karena kau benar-benar mati. Tapi karena jantungmu berhenti berdetak. Jadi aku bisa memaksanya kembali berdetak dengan sihir. Sedangkan ini?'


"Ka-kau.... Kau baru saja hampir membunuhku barusan? Tidak.... Hampir membuatku mati?"


'Sudah-sudah, yang penting kau masih hidup kan? Sekarang cepatlah pulihkan mata itu. Aku sudah lelah. Ah, setelah itu coba lihat ke cermin.'


Setelah memberikan balasan itu, Carmilla diam tanpa sepatah kata pun.


Nampaknya Carmilla benar-benar kelelahan setelah melakukan operasi sihir itu. Sendirian.


Biasanya, operasi sihir ini dilakukan oleh beberapa penyihir terlatih. Juga beberapa penyembuh untuk meminimalisir luka yang diderita.


"Hah.... Baiklah." balas Lucius sambil duduk bersandar pada dindingnya.


Setelah itu, Lucius segera meletakkan tangan kanannya pada mata kirinya. Terus menerus menggunakan sihir penyembuhan, dengan target utama yaitu matanya.


Sedikit demi sedikit....


Mata kiri Lucius mulai pulih. Darah pun berhenti mengalir.


Dan setelah tepat 10 menit penyembuhan, akhirnya rasa sakit tak lagi dirasakan oleh Lucius.


Setelah membersihkan semua darah yang berceceran, Lucius segera mengenakan pakaiannya.


Seperti permintaan Carmilla sebelumnya, Lucius terlihat berdiri di depan cermin itu. Secara perlahan, Ia membuka perban di mata kirinya. Menatap tepat ke arah cermin di depannya.


"Eh?" tanya Lucius kebingungan sekaligus terkejut.


Saat mengalirkan Mana pada mata kirinya, Clairvoyance Eye itu pun aktif. Memberikan Lucius segala keuntungan yang dimilikinya. Tapi apa yang dilihatnya di depannya....


Bukanlah dirinya sendiri.


Melainkan sosok seseorang yang telah lama tak dilihatnya. Sosok yang begitu anggun nan cantik hingga dirinya tak bisa melupakannya, sekalipun hanya melihatnya untuk beberapa saat saja.

__ADS_1


Kedua matanya pun terbelalak atas apa yang ada di hadapannya.



"A-apa apaan ini?! Kenapa?!" tanya Lucius panik dengan tangan kirinya yang secara refleks menutupi wajahnya.


Mata kirinya nampak sedikit bercahaya akibat efek Clairvoyance yang aktif. Saat Lucius masih kebingungan dengan apa yang ada di hadapannya....


'Hmm, indah sekali. Aku benar-benar rindu tubuhku.' ujar Carmilla. Suaranya terdengar begitu bahagia setelah melihat apa yang terpantul dari cermin itu.


Tak salah lagi. Apa yang dilihat oleh Lucius pada cermin itu, adalah tubuh asli Carmilla yang seakan-akan menggantikan tubuhnya.


Pakaiannya yang dikenakan pun sama persis dengan apa yang dikenakan oleh Lucius saat ini. Beberapa kali, Lucius mencoba menggerakkan tubuhnya dan bayangan Carmilla itu mengikutinya dengan sempurna.


"Carmilla ini...."


'Kekuatan Clairvoyance yang sebenarnya. Hmph! Tiruan manusia biasa takkan bisa hingga sedetail ini!' balas Carmilla dengan bangga.


"Bukan itu! Tapi kenapa aku bisa melihatmu?!"


'Hah? Kenapa? Kalau itu tentu saja. Mata sihirku ini sangatlah sempurna hingga bisa melihat jiwa yang sesungguhnya dari diri manusia, atau makhluk lain.'


Jiwa yang sesungguhnya.


Pernyataan Carmilla benar-benar ambigu bagi Lucius. Tapi masalah terbesarnya....


"Eeeh?! Ta-tak peduli? Bu-bukan itu! Maksudku...."


'Lucius.'


Tiba-tiba, suara Carmilla terdengar begitu berat dan serius. Membuat Lucius kehilangan seluruh kegugupannya seketika.


"A-ada apa?" tanya Lucius singkat.


'Dengan mata ini, aku bisa melihatnya. Jadi ini adalah perintah dari ku. Beristirahat lah. Lalu kurangi latihanmu.'


"Eh? Apa-apaan itu? Aku masih perlu bersiap untuk melawan William dan...."


'Jika kau terus berlatih dengan memaksakan diri seperti itu, kau akan hancur sendiri. Yah, kalau tak percaya bersikaplah seperti biasa esok hari. Kau akan melihatnya sendiri. Sedangkan untuk William, kau serius masih khawatir dengannya?' tanya Carmilla.


Lucius mulai berjalan menjauhi cermin itu lalu duduk di ranjangnya sebelum membalas.


"Tentu saja. Dia adalah pelajar tahun kelima dan memiliki tingkat B. Dari keluarga besar tentu saja dia...."


'Kau sekarang sudah setara dengan tingkat S, Lucius.' balas Carmilla memotong perkataan Lucius.


"Eh?"


'Kau mungkin tak menyadarinya tapi Guild Master bernama Selena itu adalah sosok yang paling dekat dengan tingkat S di kota ini. Dan tubuhmu telah melampaui kemampuan Selena pada pertarungan melawan iblis itu.'

__ADS_1


Lucius yang terlalu terpaku untuk terus menerus menjadi lebih kuat, kini baru saja tersadar. Atas seberapa kuat dirinya saat ini.


Ditambah lagi dengan mata sihir ini, kekuatan Lucius telah naik ke tingkat yang lebih tinggi lagi. Meski begitu....


'Dengan mata ini, saat ini aku bisa melihat tubuhmu dalam keadaan sangat buruk. Jika kau terus melanjutkan latihan segila ini, kau akan jatuh sebelum pertarungan yang sesungguhnya.'


Meski telah mendengar penjelasan yang logis seperti itu....


Lucius tetap saja....


"Kalau begitu, aku akan lihat besok. Sama seperti peringatan darimu. Jika besok aku jatuh sakit, aku akan mulai menurunkan porsi latihanku. Jika tidak, aku tetap akan melanjutkannya.


Bagaimana pun, masih banyak musuh kuat di luar sana. Aku tak bisa bersantai." balas Lucius. Ia nampak mengepalkan kedua tangannya karena kesal.


Dalam hatinya, Lucius berpikir. Tubuhnya yang sama sekali tak berbakat itu hanya bisa menyaingi mereka yang berbakat dengan kerja keras.


Apa jadinya jika Lucius berhenti untuk bekerja keras?


Bagaimana jika iblis setingkat Hobgoblin itu muncul sekali lagi? Atau yang lebih kuat lagi? Apakah dirinya saat itu bisa melawannya jika berhenti bekerja keras?


Sambil terus memikirkan hal itu, Lucius mulai berbaring di ranjangnya. Dan tanpa sadar.... Dirinya telah tertidur lelap. Menghilangkan segala kelelahan yang ada di tubuhnya selama ini.


...........


Sementara itu di Brown Smithworks....


"Tu-Tuan Muda! Apakah ini benar-benar dilelehkan hanya oleh satu orang saja?" tanya seorang pria dengan badan yang kekar itu.


Ia nampak hanya mengenakan kaos kecoklatan dan kain yang diikat menutupi kepalanya.


Di tangan kanannya, terdapat sebuah pedang dengan bilah yang telah leleh hingga tak lagi berbentuk.


"Ya. Itu lah yang dikatakan temanku." balas Alex dengan wajah yang begitu serius.


"Anda tahu kan? Dibutuhkan puluhan penyihir untuk memanaskan logam ini? Bagaimana mungkin seorang pelajar saja...."


"Aku mengerti. Tak salah lagi, Lucius Nightshade bisa menjadi aset yang sangat penting bagi keluarga Brown. Karena itu, tolong buatkan senjata yang bahkan tak bisa dilelehkan olehnya." balas Alex sebelum membalik badannya dan bersiap pergi dari ruang penempaan yang sangat panas ini.


"Tapi Tuan! Benda seperti itu.... Tak ada di dunia ini! Mithril sekalipun...."


Alex terlihat melirik ke arah pandai besi itu sejenak sebelum membalas.


"Aku tak peduli berapa biaya yang dibutuhkan. Riset, penambangan, penulisan Rune, apapun itu akan ku kerahkan. Selama bisa membuat orang itu berpihak pada kita...."


Alex nampak memperhatikan ke arah luar ruangan. Diluar sana terlihat sebuah peta besar yang terpampang di dinding. Peta yang menunjukkan keseluruhan wilayah kerajaan manusia ini.


Atau lebih tepatnya....


Peta yang menunjukkan kekuasaan perusahaan dagang di tiap wilayah manusia ini.

__ADS_1


__ADS_2