
'Swuuusshh!!!'
Di sudut ruangan ini, sebuah portal tercipta. Dari baliknya, sosok Alora terlihat berjalan secara perlahan dengan tatapan yang cukup mengerikan.
"Jadi, Lucius. Siapa sebenarnya kau? Bagaimana kau bisa memperoleh kekuatan sebesar itu dalam waktu sekejap?" tanya Alora yang terus berjalan secara perlahan ke arah Lucius.
Lucius sendiri hanya bisa terdiam. Jika Ia terlalu banyak membuat gerakan yang mencurigakan atau tidak diperlukan, kemungkinan tuduhan padanya akan semakin besar
"Sungguh tak wajar bagi seorang manusia bisa mencapai kekuatan sebesar itu dalam setengah tahun. Lalu sekarang kau mampu menyembunyikan kekuatan itu dengan sempurna?" tanya Alora sekali lagi.
Ia berdiri tepat di hadapan Lucius. Mengarahkan tongkat sihirnya tepat padanya.
'Pahlawan ini.... Dia sama sekali tak main-main. Harus kah aku mengatakan yang sebenarnya? Tidak mungkin. Kalau begitu....' pikir Lucius setelah melihat aliran Mana Alora berubah menjadi biru terang, dengan intensitas yang begitu tinggi.
Semuanya mengalir pada ujung tongkat sihirnya. Siap untuk menembakkan sihir es kapan saja Ia mau.
Tapi sebelum Lucius sempat berkata sepatah kata pun, suara yang tak lagi asing di telinganya dapat terdengar.
"Apa yang telah dilakukan muridku?"
Seketika, seluruh pandangan tertuju pada sumber suara itu. Termasuk juga Alora dan Levaria.
Di balik pintu itu, sosok seorang wanita yang begitu menawan dapat terlihat berdiri dengan lengan yang dilipat di depan dadanya.
Ia memiliki rambut putih panjang dengan mata merah yang begitu mengintimidasi. Sedangkan pakaiannya yang begitu rapi dan indah seakan-akan menyatakan bahwa dirinya berasal dari keluarga ternama.
Alora yang melihat Mana wanita itu cukup terkejut.
'Memiliki Mana sepersepuluh dari diriku? Bahkan tanpa berkah dari Dewi Lunaria? Siapa dia?' pikir Alora dalam hatinya.
Sudah merupakan pengetahuan umum bahwa Elf merupakan ras dengan daya sihir paling tinggi di benua ini.
Jika saja yang berdiri di hadapan Alora adalah seorang Elf, Ia takkan terkejut. Tapi wanita di depannya itu tak salah lagi adalah seorang manusia.
"Murid? Apa maksudmu?" tanya Levaria.
"Hmm. Apakah kalian lupa saat Lucius menghilang di goa itu? Aku yang menyelamatkan dan melatihnya." balas Carmilla tanpa sedikit pun keraguan pada kata-katanya.
"Eh?"
Alora yang mendengar balasan itu justru semakin terkejut. Sekalipun benar dia adalah guru yang hebat, tak mungkin untuk menjadi sekuat itu dalam sekejap.
Dan juga....
Siapa sebenarnya wanita itu?
"Aah, maaf. Aku terlambat memperkenalkan diri. Carmilla Bloodthorne. Dulunya aku adalah seorang bangsawan kecil, tapi wilayah ku dihancurkan oleh orang-orang barbar dan membuatku berkelana tanpa arah." balas Carmilla sambil sedikit mengangkat jubahnya dan menundukkan kepalanya.
"Bloodthorne? Aku belum pernah mendengarnya. Mungkin dari wilayah Utara?" tanya Levaria pada Alora.
"Mungkin saja. Hah.... Penguasa di tiap wilayah harus mulai berhenti memberi gelar pada sembarang orang. Tapi, maaf. Kemudian bisa jelaskan apa yang terjadi pada Lucius? Aku melihat Mana miliknya menurun drastis." tanya Alora kembali.
Ia masih menunjukkan tatapan yang dipenuhi oleh keraguan. Termasuk pada wanita misterius bernama Carmilla itu sendiri.
"Begitu kah? Kalau begitu latihan mu berjalan dengan bagus, Lucius. Terus pertahankan itu hingga sebulan. Jika kau bisa melakukannya, kau akan bisa mencapai levelku." balas Carmilla dengan senyuman yang lebar. Tangan kanannya nampak membelai rambut Lucius dengan lembut.
"Apa maksudmu? Menekan sebagian jumlah Mana itu mungkin mudah, tapi membuat kapasitas Mana terlihat hingga jauh lebih rendah... dan untuk waktu selama itu...."
Belum sempat Alora menyelesaikan perkataannya, keraguannya segera terjawab tepat di depan matanya.
"Begitu kah?" tanya Carmilla sekali lagi dengan senyuman yang sinis.
'A-apa apaan itu?! Kapasitas Mana miliknya.... Jumlahnya.... Semuanya.... Menghilang?! Menyisakan hanya Mana yang setara seperti anak kecil?!' pikir Alora terkejut bukan main sekaligus ketakutan.
Bahkan bagi penyihir tingkat tinggi sekalipun, mampu menekan seperlima dari Mana miliknya saja sudah sangat hebat. Untuk kasus khusus, sang pahlawan sihir Alora bisa menekan hingga tiga perempat Mana miliknya.
Tapi ini?!
Apa yang ditunjukkan oleh Carmilla, tak salah lagi berada di tingkat yang jauh lebih tinggi darinya.
Sebuah kemampuan untuk menekan hampir 100% Mana miliknya.
Dan yang membuat Alora ketakutan adalah....
'Jika begitu, sebenarnya seberapa besar kapasitas Mana orang ini?!'
Dengan penekanan Mana sesempurna itu, hampir mustahil untuk memperkirakan Mana lawannya dengan tepat. Bisa jadi, Mana Carmilla jauh lebih tinggi darinya.
__ADS_1
Yang pada kenyataannya masih jauh dari Mana Alora itu sendiri.
"Hahaha! Jika kalian berpikir seperti itu, maka kalian tak pantas untuk mengajari murid berbakat ku ini. Lucius, tinggalkan akademi bodoh ini dan...."
"Tunggu dulu! Ka-kami minta maaf!" teriak Levaria panik.
Jika Lucius benar-benar bisa mengendalikan kapasitas Mana miliknya, tak salah lagi dia adalah jenius yang terlahir ratusan sekali di benua ini.
Tapi tentu saja. Semuanya hanyalah omong kosong Carmilla saja. Lucius sama sekali tak memiliki kemampuan seperti itu, apalagi berlatih menekan Mana miliknya.
Semuanya hanyalah gertakan.
Teknik penekanan Mana yang dilakukan oleh Carmilla juga sama. Itu tak lain hanyalah sebuah trik tak berguna yang menguras hampir setengah Mana miliknya.
Hanya untuk menyelamatkan Lucius dari situasi ini.
"Lalu apakah kau bisa menjelaskan warna abu-abu pada Mana milik Lucius? Apakah itu juga bagian dari latihan mu?" tanya Alora sekali lagi.
Jawaban yang sebenarnya dari pertanyaan itu tentu saja, karena Lucius saat ini bukan lagi seorang manusia biasa. Ia telah berevolusi ke tingkat yang lebih tinggi setelah menjalani Awakening.
Tapi menjelaskan rahasia sebesar itu....
"Tentu saja. Aku melatihnya untuk merubah jenis Mana yang dimiliknya. Seperti ini." balas Carmilla yang merubah kembali sedikit bagian tubuhnya menjadi Elf.
Membuat mata Alora melihat warna Mana kehijauan di dalam tubuh Carmilla.
"Mana Elf? Sihir semacam ini.... Dimana kau mempelajarinya?" tanya Alora dengan tubuh yang merinding.
Semua sihir yang ditunjukkan oleh Carmilla dapat dikategorikan sebagai sihir tingkat istimewa yang telah lama menghilang ditelan waktu.
Sebuah sihir yang dianggap hanya berupa dongeng dan omong kosong untuk memperindah cerita perjuangan para pahlawan manusia di masa lalu.
Tapi semua itu....
Benar-benar nyata adanya?
"Maaf, tapi itu rahasia keluarga ku. Bukankah, bangsawan selalu memiliki suatu sihir rahasia pada keluarga mereka?"
Dengan balasan itu, Carmilla segera melangkah pergi dari ruang kelas kosong itu. Menarik Lucius di tangan kanannya sambil berusaha untuk terus menahan senyuman di wajahnya.
"Portal.... Ke rumah.... Cepat...."
Lucius hanya mengangguk dan segera menciptakan portal sederhana dengan Mana miliknya yang terbatas itu.
Sementara itu....
"Dia bahkan menguasai sihir ruang? Nona Alora! Apakah Anda tak berniat mengejarnya?!" tanya Levaria.
Alora memandangi portal sihir yang mulai menyusut secara perlahan itu, hingga menutup seutuhnya.
"Tujuannya hanya lah ke rumahnya. Entah kenapa, aku merasa Lucius bukanlah sosok yang diramalkan oleh Gadis Suci, Mary. Di mata ku, Lucius benar-benar masih seorang manusia seutuhnya."
"Jika begitu, lalu siapa? Hampir tak ada lagi orang dengan ciri sepertinya! Belum lagi menyaingi bakatnya!"
Alora terdiam di tempat. Memikirkan apa yang sebenarnya sedang dan akan terjadi di kerajaan manusia ini.
"Entah lah. Tapi aku akan terus mengawasinya bersama dengan seratus Ksatria Suci. Jika Lucius melakukan sesuatu yang mencurigakan, atau menunjukkan bahwa dia bukan manusia, aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri."
.......
Sementara itu di rumah Lucius....
Tepatnya di kamar mandi dalam kamar Lucius....
"Hoeeeekkk!!! Bleeerrgggghhh!!!"
Carmilla terlihat memuntahkan banyak sekali darah dengan beberapa gumpalan daging yang turut keluar dari mulutnya.
Kulitnya yang sudah sejak dulu berwarna putih pucat, kini terlihat semakin pucat lagi.
Keringat dingin terus mengalir dari tubuh Carmilla. Sedangkan Lucius sendiri berdiri di belakangnya, memberikan sihir penyembuhan dengan Mana seadanya.
Akhirnya setelah sekitar 5 menit....
"Hah.... Hah.... Hah.... Mengonsumsi Mana sendiri untuk menghancurkan organ dalam, semua demi membuat ilusi aku bisa menekan Mana milikku hingga tak bersisa, sakit juga ya?" ucap Carmilla sambil tertawa ringan setelah melewati semua rasa sakit itu.
"Lagipula, kenapa kau harus melakukan itu?!" tanya Lucius panik. Ia sama sekali tak berhenti menggunakan sihir penyembuhannya meskipun Carmilla telah membaik.
__ADS_1
"Kenapa? Tentu saja, karena tubuhku yang saat ini belum mampu menyaingi monster berupa utusan Dewi itu. Perbedaan Mana antara diriku dengannya hanya satu banding sepuluh. Tapi sebagai utusan Dewi, dia bisa selalu meminta Mana tambahan pada Dewi nya kapanpun dia mau. Dengan kata lain, pertarungan yang mustahil dimenangkan."
Lucius memahami perkataan Carmilla sepenuhnya. Karena pada saat Alora menggunakan sihir Divine Judgement, Lucius dapat melihatnya.
Sebuah aliran Mana sebesar ribuan kali lipat dari Mana miliknya yang berasal dari langit, menuju tepat ke tubuh Alora saat itu juga.
"Jika dengan ini aku bisa mengelabuhi mereka mengenai Awakening yang kau lakukan, aku sudah puas." lanjut Carmilla.
Dengan penuh perasaan bersalah, Lucius membalas.
"Terimakasih, dan.... Maaf."
"Hahaha, untuk apa? Siapa juga yang menyangka Gereja mulai mencurigai mu? Bahkan sampai mengetahui kau bukan lagi manusia. Tapi.... Kenapa? Bukankah kita juga tak memiliki niat untuk merusak dunia ini?" tanya Carmilla keheranan.
"Entah lah...."
.......
Di Benua bagian Utara, di sebuah tempat yang dipenuhi oleh barbarian. Wilayah ini dianggap sebagai wilayah tanpa hukum.
Tak peduli seberapa besar kejahatan yang seseorang lakukan, seberapa banyak yang seseorang bunuh, juga seberapa buruk pun sikap seseorang....
Selama Ia bisa bertahan hidup dan menunjukkan kekuatan mutlak miliknya di hadapan orang lain, takkan ada yang berani mengganggunya. Apalagi menanyainya.
'Sruuugg!'
Pada saat matahari mulai terbenam....
Di salah tengah-tengah sungai itu, seorang gadis terlihat sedang duduk dengan wajah yang dipenuhi kesedihan. Tubuhnya basah kuyup akibat aliran air sungai itu.
Ia terus memandangi pantulan dari sungai yang cukup bening itu. Mempertanyakan lagi dan lagi mengenai tindakannya.
Mulai dari rambut hitam panjangnya, hingga telinga menjijikkan miliknya. Yang mengawali semua ini.
Sebuah telinga seorang Half-Elf. Membuatnya tak diterima di kedua wilayah baik itu wilayah manusia atau pun wilayah Elf.
Sebelum sampai disini, Ia telah berusaha untuk berlindung di wilayah Elf. Tapi hal yang sama juga menantinya disana. Dimana Ia diburu oleh Elf lain dan diteriaki dengan bahasa yang sama sekali tak bisa dipahaminya.
"Apakah sudah benar seperti ini, guru?" tanya gadis itu dengan air mata yang tak berhenti mengalir.
Hanya saja....
Gadis itu berada di tempat yang salah untuk bersedih. Karena wilayah ini....
"Wohooo! Gadis Elf! Dan juga sangat cantik! Semuanya! Kita akan pesta malam ini!" teriak salah seorang barbarian.
Penampilannya menyerupai seorang manusia, tapi tubuhnya jauh lebih besar dengan tinggi rata-rata mencapai 2 meter. Ototnya juga terlihat begitu besar dengan kemampuan fisik yang sangat tinggi.
Dari balik bebatuan itu, 5 barbarian yang lain mulai berjalan dengan wajah yang dipenuhi kebahagiaan.
Beberapa dari mereka terlihat menjilati kapak yang telah mulai berkarat itu. Sedangkan beberapa yang lain nampak mulai menanggalkan jubah mereka.
Gadis itu segera menolehkan pandangannya. Melihat ke arah dimana barbarian itu mulai berjalan mendekatinya. Melewati sungai dengan arus yang cukup lembut itu.
"Ada yang bisa ku bantu?" tanya gadis itu masih dengan wajah yang dipenuhi dengan kesedihan.
"Hahahaha! Tentu saja! Ikut denganku dan...."
'Zraaaasshhhh!!!'
Tanpa peringatan sedikit pun, tubuh pria barusan terbelah menjadi dua. Darahnya mewarnai air sungai ini menjadi kemerahan.
"Eh?!"
Barbarian yang lain nampak terkejut atas apa yang barusan mereka lihat. Tak ada pedang yang diayunkan. Bahkan tangan gadis itu masih menempel di dasaran sungai, tak bergerak sedikit pun.
Lalu bagaimana bisa?
"Maaf, aku sedang sedih jadi bisakah tak mengganggu ku?"
Itu adalah kalimat terakhir yang didengar oleh para barbarian itu. Sebelum tubuh mereka terbelah menjadi dua oleh sihir angin yang digunakan oleh gadis itu.
Sihir angin sederhana, namun di tangan seseorang dengan bakat dan Mana sebesar dirinya....
Menjadikannya senjata yang sangat mematikan.
__ADS_1