
Hari ke 19
Lucius masih belum makan sama sekali, selain memenuhi perutnya dengan air dari sihirnya. Semua itu untuk sedikit meredakan rasa lapar.
Tapi tubuhnya yang telah kekurangan asupan nutrisi selama 19 hari ini mulai menunjukkan efeknya. Tubuhnya mulai menjadi semakin kurus dan lemah.
Sedangkan Mana yang ada di dalam tubuhnya semakin menipis.
Untuk berjaga-jaga, Lucius selalu menyisihkan cukup Mana untuk menggunakan sihir ruang beberapa kali. Seandainya jika pria misterius itu memaksa masuk ke dalam dimensi ini, Ia bisa melihat jejaknya secara langsung dan menggunakannya untuk kabur.
Tapi hingga detik ini, Zephyrith sama sekali belum berani melangkahkan kakinya di dimensi buatannya sendiri ini.
Rencana awal Zephyrith untuk menguras habis informasi sihir unik milik Lucius, sekaligus merubahnya menjadi iblis untuk dijadikan bidaknya benar-benar berbalik arah.
Kini justru Zephyrith itu sendiri yang terancam oleh keberadaan Lucius di dekatnya.
"Hah.... Lapar...." keluh Lucius sambil terus melemparkan batu kecil itu ke udara sembari berjalan.
Sedangkan Carmilla? Ia memutuskan untuk berdiam diri. Memberikan ruang bagi Lucius untuk terus berpikir dengan tenang.
............
Hari ke 24
Setelah lebih dari tiga Minggu berada di dalam dunia terkutuk ini, secara kebetulan Lucius akhirnya menemukannya.
'Swuusshh!'
Saat Lucius melempar batu kecil itu ke udara dengan kekuatan yang sama seperti yang selalu dilakukannya, tiba-tiba batu itu terlempar cukup tinggi.
Bahkan terlalu tinggi.
"Hah?" tanya Lucius kebingungan sambil memandangi batu kecil itu yang masih terus melambung ke atas. Semakin tinggi lagi setiap detiknya, sebelum mencapai ketinggian sekitar 15 kali dari seharusnya dan mulai jatuh ke bawah secara perlahan.
'Tap!'
Lucius menangkap batu itu dengan senyuman tipis di wajahnya.
"Hahaha.... Nampaknya kau terlambat, siapapun yang mengurungku di sini." ujar Lucius layaknya orang gila.
Zephyrith dan juga Aurelia yang telah mulai bosan dalam mengawasi tingkah Lucius selema 5 hari melempar batu sambil berjalan itu, melewatkan hal terpenting dalam rencana mereka.
Dan Lucius menyadarinya saat itu juga.
Ia telah memahami bahwa dunia ini tidak berada di dalam inti Mana seseorang, melainkan berupa sebuah alat sihir yang berbentuk fisik.
Buktinya, Ia bisa melihat keberadaan dua orang mengintip dari luar dimensi ini. Dengan menggunakan matahari kemerahan yang tak pernah bergerak itu sebagai kamuflasenya.
__ADS_1
Tak hanya itu, Lucius telah hafal diluar kepalanya mengenai ukuran dan segala hukum di dimensi buatan ini.
Saat melihat ke arah langit kemerahan itu, senyuman Lucius menjadi semakin lebar.
"Hahaha! Tentu saja aku melewatkannya. Bahkan jauh lebih tipis dari helai rambut manusia." ujar Lucius pada dirinya sendiri sambil tertawa keras.
Apa yang dilihatnya, tak lain adalah sebuah garis tipis yang terbuat dari aliran Mana.
Lebih tepatnya, sebuah kebocoran di dimensi buatan ini.
Kelemahan dari alat sihir tentu saja satu, bahwa alat itu bisa mengalami kerusakan fisik dan menyebabkan gangguan pada fungsi utamanya.
Sama seperti ini.
Tanpa ragu, Lucius segera menciptakan sebuah portal biasa untuk mencoba kabur dari celah tipis itu.
Tapi....
'Pyaaaarrr!!!'
Sekali lagi, portal biasa tanpa kunci yang tepat takkan bisa memberikan jalan keluar bagi Lucius.
"Tak masalah, aku juga sudah menebaknya. Karena tujuanku yang sebenarnya...." ucap Lucius sambil mengarahkan tangan kanannya ke depan.
Ia terlihat menggoreskan tangan kanannya pada pedangnya sebelum itu, membuat tetesan darah yang cukup banyak dari ujung jari jemarinya.
"Aku, Lucius Nightshade, memanggil para jiwa yang tersesat di tengah kegelapan...." ucap Lucius yang memulai rapalan sihirnya.
"Guru! Ini buruk! Si-sihir Lucius...." teriak gadis itu panik.
Saat Zephyrith tiba di sana untuk melihat keadaannya, semuanya sudah terlambat. Di tengah padang pasir yang seakan-akan tak berujung itu, sosok Lucius terlihat sedang berdiri di hadapan sebuah lingkaran sihir raksasa.
Sebuah lingkaran sihir dengan warna kemerahan itu nampak bersinar senada dengan cahaya di dunia itu.
"Dimana?! Dimana kebocorannya?!" teriak Zephyrith terkejut setelah menyadari sihir Lucius itu dapat berlangsung dengan baik.
Dengan panik, Zephyrith dan Aurelia memeriksa seluruh Relic sihir Prism of Eternity itu. Dan akhirnya setelah sekitar setengah menit mencari, mereka menemukannya.
Sebuah keretakan kecil di salah satu sisi bola oktagonal itu.
Dalam kepanikan itu, Zephyrith segera menggunakan sihir elemen tanah untuk memperbaikinya. Menciptakan partikel-partikel logam langka itu secara perlahan.
Menutup keretakan yang bahkan jauh lebih kecil dibandingkan seekor semut itu.
Tapi....
Semuanya sudah terlambat.
__ADS_1
Lucius yang telah menyadarinya terlebih dahulu, memperoleh keuntungan dari kecacatan Relic sihir itu.
Kini di hadapannya, lingkaran sihir kemerahan itu telah selesai terbentuk. Yang tersisa hanya satu.
"Jawab lah panggilan ku, wahai hewan-hewan yang tersesat! Dengan kekuatanku, aku akan menjanjikan air segar dalam jumlah yang besar bagi kalian!"
Dengan tawaran air sebagai kontraknya, puluhan hewan yang tersesat dari sekitar tempat ini segera menjawabnya.
Mulai dari gembala domba yang terlepas dari kawanannya, rusa yang tersesat di kedalaman hutan, kelinci yang kehausan hingga dehidrasi, hingga serigala yang telah ditinggalkan oleh kelompoknya.
Semua menjawab panggilan Lucius saat itu juga, dan muncul tepat di hadapannya.
Sihir pemanggilan yang biasanya digunakan untuk memanggil hewan suci atau monster yang kuat itu, justru digunakan untuk memanggil hewan biasa oleh Lucius setelah mengganti formasi sihirnya sedikit.
Dengan senyuman yang lebar, Lucius pun berteriak ke arah matahari kemerahan itu.
"Buahahaha! Tamat lah riwayatmu! Dengan ini, aku bisa bertahan selama berbulan-bulan kedepan! Tunggu saja balasan karena telah menjebak ku di tempat sialan seperti ini!" teriak Lucius dengan begitu lantang.
Teriakannya bukan hanya teriakan untuk mengintimidasi lawannya.
Tapi juga sebuah deklarasi kemenangan darinya.
Dengan puluhan hewan yang mulai mengelilingi dirinya itu, Lucius takkan lagi memiliki masalah mengenai makanan.
Bahkan Ia bisa mulai meregenerasi Mana miliknya setelah memakan hewan-hewan ini.
Dan sebelum itu....
Lucius segera memenuhi kontrak pemanggilannya. Yaitu menciptakan air yang cukup banyak untuk mereka semua.
'Taak! Blaaaaaarrrr!!!'
Dengan sihir tanah yang sederhana, Lucius membuat cekungan tanah yang cukup besar dan juga dalam.
Ukurannya menyerupai sebuah danau kecil. Dan setelah itu, Ia mengisinya penuh dengan air segar menggunakan sihir elemen airnya.
Setelah membiarkan hewan-hewan itu meneguk air itu selama beberapa saat, Lucius segera mulai bergerak.
Ia menarik salah seekor rusa dari kawanan hewan yang terpanggil itu. Membawanya ke dalam bangunan es buatannya, lalu menyembelihnya dengan menggunakan pedang Mithril miliknya.
Dan dengan itu lah....
"Sumber daging diperoleh. Carmilla, kau suka daging rusa bakar bukan?" tanya Lucius dengan suara yang lirih.
Tubuh kurusnya itu terlihat dipenuhi dengan darah hewan yang baru saja disembelihnya.
Sedangkan di sampingnya, nampak banyak potongan daging yang telah ditata dengan rapi lalu dibekukan dengan es untuk menjaga keawetannya.
__ADS_1
Dengan bahagia, Carmilla pun membalas.
'Tentu saja! Malam ini, kita pesta kan?!'