
Melihat kekuatan yang begitu besar di hadapannya, William hanya memiliki satu pilihan untuk bertahan hidup.
Itu benar.
Satu-satunya pilihan William, hanyalah dengan menyerah.
Jika Ia menyerah, mungkin nyawanya akan terselamatkan dari serangan Lucius. Tapi....
'Sreeettt!!! Klaaaanggg!!!'
William melempar tongkat sihirnya jauh-jauh, lalu menggenggam pedang miliknya dengan kedua tangannya. Berlari secepat mungkin ke arah Lucius.
'Sihir sebesar itu akan membutuhkan waktu untuk dipersiapkan! Jika aku cukup cepat, maka aku bisa menyerangnya terlebih dahulu! Bahkan memenggal kepalanya!' pikir William dalam hatinya.
Kecepatan gerakannya memang bukan main-main. Tak salah jika dirinya dianggap sebagai unggulan kelas B di tahun kelima.
Tapi bagi Lucius yang telah menguasai pengendalian Mana dan juga Overflow untuk memperkuat fisiknya, ditambah lagi dengan penglihatannya yang hampir sempurna itu....
'Terlalu lambat.' pikir Lucius dalam hatinya saat melihat gerakan William.
'Klaaangg! Cttaaangg!! Klaaangg!!!'
Dengan mudahnya, Lucius mampu menangkis seluruh serangan William dengan pedangnya. Sementara masih memiliki ruang gerak untuk memperkuat sihir api di tangan kirinya.
Sambil bertukar tebasan, Lucius berusaha untuk membuat William tersadar.
"Mengingat kemampuanmu, kau pasti tahu aku bukanlah lawan yang bisa kau kalahkan bukan?" tanya Lucius setelah memukul mundur William sejauh sepuluh meter lebih.
"Meski begitu...." balas William singkat sebelum kembali melesat ke arah Lucius.
'Klaaaangg!!! Blaaaarrr!!!'
Di balik tebasan pedangnya, William menembakkan bola api tepat ke wajah Lucius. Membuat pemuda itu terlempar sejauh beberapa meter dengan kobaran api yang cukup kuat di wajahnya.
Sebagian besar penonton nampak bersorak-sorai penuh kegembiraan saat William berhasil memberikan serangan telak.
Tapi bagi mereka yang memiliki cukup pengetahuan dan pengalaman?
"Sialan, barusan lumayan sakit juga." ujar Lucius yang segera bangkit dari tanah dengan bantuan tumpuan pedang Mithrilnya. Sedangkan tangan kirinya masih terus memperkuat sihir apinya.
'Bagus! Aku bisa melukainya! Kalau begitu....' pikir William. Kini Ia dapat melihat secercah harapan dalam pertarungan ini.
Tapi di luar dugaannya, Lucius secara tiba-tiba telah berada tepat di hadapannya. Mengarahkan pedangnya tepat di depan leher William.
Darah terlihat mulai menetes dari goresan tipis pedang Mithril itu.
"Dengar, aku hanya ingin kau sadar bahwa aku bisa membunuhmu kapan saja. Jadi mengerti lah, aku hanya ingin memberimu pelajaran." bisik Lucius dengan nada yang sedingin es.
__ADS_1
Entah kenapa, William merasakan hawa dingin yang begitu luarbiasa. Sangat dingin hingga Ia tak bisa menggerakkan kedua kakinya.
Namun saat William menyadarinya, Ia dapat melihat kedua kakinya telah membeku. Dilapisi oleh es yang cukup tebal hingga tak bisa digerakkan.
'Se-sejak kapan?! Jangan katakan?! Dengan kakinya?! Dia mengaktifkan sihir es ini dengan menggunakan kakinya?!' pikir William ketakutan.
Ia sangat ingin melompat mundur sejauh mungkin dari Lucius saat itu juga. Tapi dengan kondisi kaki yang seperti ini....
'Bsssstttt!!!'
Dengan menggunakan sihir api di tangan kanannya, William berusaha keras untuk melelehkan es di kedua kakinya.
Sebuah hal yang seharusnya mustahil dilakukan saat musuh berada tepat di hadapannya itu, justru bisa dilakukan oleh William.
Alasannya?
"Perlu bantuan ku?" tanya Lucius sambil memamerkan telapak tangan kirinya, yang kini telah menyimpan api keemasan yang begitu pada dan panas.
'Bantuan?! Ini buruk.... Sangat buruk.... Aku akan mati!' pikir William dalam hatinya.
Pada kobaran api kecil di telapak tangan Lucius itu, William dapat menyadarinya. Bahwa jumlah Mana yang terdapat pada kobaran api itu jauh melampaui keseluruhan Mana yang dimilikinya.
Jika terkena, tak salah lagi akan hangus hingga ke tulangnya.
"Ada apa? Takut? Setelah semua itu?" tanya Lucius yang mulai berjongkok. Mendekatkan kobaran api di tangan kirinya itu pada kaki William.
Tak hanya mencair. Es itu langsung menguap menjadi gas yang tak kasat mata akibat terlalu panas.
William yang telah terbebas dari es yang membelenggunya itu segera melompat mundur sejauh mungkin.
Saat Ia menoleh ke bawah, William menyadari betapa berbahayanya api kuning keemasan itu.
'Yang benar saja?! Sepatu ku bahkan dilengkapi dengan Rune ketahanan dan penguatan terhadap elemen api! Dan kau bilang api mu bisa menghanguskannya begitu saja?!' tanya William pada dirinya sendiri, sambil melihat kedua kakinya yang kini tanpa alas kaki dengan sedikit luka bakar.
William memperhatikan sosok Lucius yang masih berdiri dengan santai di kejauhan. Masih terus memperkuat sihir api di tangan kirinya sambil memberikan tatapan yang dipenuhi rasa iba.
"Menyedihkan sekali, William. Bagaimana kau akan mempertahankan wajahmu jika dikalahkan pelajar kelas F rendahan seperti diriku?" tanya Lucius.
"Kuuggh.... Kau...."
"Menyerah lah. Jika kau menyerah, setidaknya aku akan membiarkanmu hidup." lanjut Lucius.
Mendengar perkataan itu, William akhirnya tersadar. Atas terror yang sesungguhnya. Terror yang selalu Ia lontarkan pada siapapun yang lebih rendah darinya.
Kata-kata seperti lakukan apa yang ku mau, jika tidak aku akan membunuhmu.
Itu adalah kata-kata yang tercermin sangat jelas pada dirinya sendiri. Mengetahui kata-kata seperti itu kini berbalik arah padanya....
__ADS_1
"Tiga...." ucap Lucius yang memulai hitung mundur. Kekuatan sihir di bola apinya terus meningkat secara drastis sejak Ia mulai menghitung mundur.
'Ha-harus kah aku menyerah? Untuk menyelamatkan nyawa ku?!' tanya William dalam hatinya.
"Dua...."
"Aku.... Aku...." ucap William ketakutan. Tak ada pilihan lain lagi baginya. Menghindari api itu, terlebih lagi dari Lucius yang jauh lebih cepat darinya? Adalah hal yang mustahil.
Karena itu lah....
"Satu...."
Kali ini, api di tangan kiri Lucius yang murni terbuat dari Mana, mulai mendekati titik puncaknya. Secara sekilas, warna kebiruan yang hanya sebesar sebuah jarum dapat terlihat di tengahnya.
Menunjukkan bahwa api itu telah mencapai tingkat suhu yang jauh lebih tinggi lagi. Tanpa menyadari hal itu, William segera berteriak sekuat tenaganya.
"Aku menyerah!!!"
Mendengar teriakan William, seluruh penonton terdiam sembari menganga. Tak percaya atas apa yang baru saja mereka lihat dan dengarkan barusan.
Pelajar kelas B. Terlebih lagi dari tahun ke lima. Menyerah pada pelajar kelas F tahun kedua.
Membayangkannya saja mustahil, tapi itu lah kenyataannya.
Dan dengan cepat, pengurus Arena ini segera menyatakan bahwa Lucius Nightshade adalah pemenang dari duel ini.
Tak ada sorakan sedikit pun yang terdengar. Hanya keheningan....
Yang segera terpecahkan oleh kehadiran seseorang.
'Tap!'
"Eh?" ujar Lucius terkejut. Ia membuka matanya lebar-lebar karena tak percaya atas apa yang baru saja terjadi.
Seseorang, dengan rambut kecoklatan yang mengenakan jubah hitam dengan alur kemerahan, nampak berdiri tepat di hadapannya.
Mendorong tubuhnya secara perlahan. Tak cukup kuat untuk melemparnya jauh-jauh, tapi cukup kuat untuk menjatuhkan tubuh Lucius ke belakang.
Saat Lucius menolehkan wajahnya ke belakang, Ia dapat melihatnya.
Sebuah portal yang cukup besar, dengan ukuran yang cukup untuk menampung beberapa orang dewasa.
Dengan tubuh yang terjatuh melewati portal ruang di belakangnya itu, Lucius dapat mendengarnya secara samar-samar.
Sebuah kalimat, yang akan merubah hidupnya selamanya.
"Aku telah menemukan mu, api biru."
__ADS_1