
Pada pagi harinya....
Sesaat sebelum matahari terbit....
"Oi, kau serius?" tanya Lucius panik. Ia berusaha sekuat tenaga untuk tidak melihat ke arah belakang saat mengenakan pakaiannya.
"Tentu saja. Lagipula, aku adalah guru mu bukan?" tanya Carmilla yang masih mengancingkan bajunya.
"Tapi..."
"Tenang saja. Aku akan meminta ijin pada pak tua Anderson itu untuk mengikuti kelasnya."
"Bukan itu masalahnya!"
Setelah berhasil memperoleh tubuh baru, Carmilla bersikeras untuk selalu ikut serta dimanapun Lucius berada. Semua itu dengan alasan untuk mengawasi pelatihannya.
Terutama karena Lucius harus melakukan Awakening tak lama lagi. Yaitu mengorbankan seluruh kekuatan yang dimilikinya saat ini, untuk memperoleh tubuh baru yang jauh lebih kuat.
Saat itu terjadi, akan jauh lebih baik jika Carmilla berada di sisinya.
Tapi masalahnya....
"Telinga mu. Kau pikir berapa banyak yang mendiskriminasi ras di kota ini. Jika kau berkeliaran dengan telinga seperti itu...."
"Aah soal ini?" ucap Carmilla sambil menyentuh telinga panjangnya.
"Tenang saja. Elf seharusnya diperlakukan sedikit lebih baik dibandingkan halfling." lanjut Carmilla.
Lucius terlihat menggaruk-garuk kepalanya karena tak lagi mengetahui apa yang harus dikatakan padanya.
Tapi saat Lucius kembali membuka matanya, Ia dapat melihat sosok Carmilla yang kini telah memiliki telinga manusia seperti biasa.
"Eh?"
"Sihir perubahan wujud originalku. Dengan sihir ini, aku bisa merubah penampilan dengan mudah. Seperti ini." jelas Carmilla yang merubah kembali telinganya menjadi seperti semula, lalu mengembalikannya lagi menjadi telinga pendek manusia.
"Ka-kau.... Punya sihir semacam itu?" tanya Lucius kesal.
"Tentu saja."
"Kenapa kau tak pernah mengajarkannya padaku? Aku bisa saja menghilangkan segala hal yang merepotkan jika bisa menyamar...." balas Lucius dengan nada yang lemas.
"Kenapa? Tentu saja, karena kau hanya ingin sihir yang kuat atau berhubungan dengan kekuatan? Sihir semacam ini sama sekali tak penting bagimu bukan?"
Carmilla yang membalas perkataan Lucius sembari memasang wajah bodoh itu membuat kekesalan Lucius memuncak.
'Swuuusshh!!!'
"Wuooh! Pukulan yang bagus! Tapi sayang sekali, dengan tubuh ini aku jauh berada di atas mu!" balas Carmilla yang dengan mudah menghindari rentetan pukulan Lucius itu.
"Sialan!!!"
__ADS_1
............
Tujuan pertama Lucius di pagi hari ini adalah untuk menemui keluarganya di Central Plaza.
Entah bagaimana ceritanya keluarganya bisa tinggal di daerah Central Plaza, tapi setidaknya Lucius tahu keluarganya masih baik-baik saja.
"Jadi, siapa saja keluarga mu? Aku lupa." ucap Carmilla yang berjalan santai di samping Lucius itu. Ia terlihat meletakkan kedua tangannya di belakang kepalanya. Menggunakannya sebagai bantalan sembari berjalan itu.
"Hah kau ini...." keluh Lucius sebelum mulai menjelaskan keluarganya.
Michelle Nightshade. Adik dari Lucius itu sendiri. Ia sangat menghormati Lucius karena kecerdasannya sejak kecil. Meski begitu, kenyataan berkata lain dimana Michelle diberkati oleh bakat yang jauh melampaui kakaknya.
Bakat Michelle dalam sihir air sangat lah luarbiasa, hingga wilayah keluarga Nightshade sama sekali tak pernah mengalami kekeringan berkat gadis yang masih berumur 15 tahun itu.
Satu-satunya yang membuat nama Michelle tak begitu terkenal adalah karena Ia berasal dari keluarga Baron rendahan. Juga karena Ia masih belum cukup umur untuk mendaftar di Akademi Sihir ternama.
"Menyedihkan sekali, jadi selama ini kau hidup terbayang-bayang oleh bakat adikmu?" ejek Carmilla yang masih terus berjalan santai di samping Lucius.
"Diam lah...."
Seraphina Nightshade. Ibu dari Lucius. Dengan postur yang cukup tinggi yang wajah yang menawan dengan rambut coklatnya yang panjang, Ia berhasil memperkokoh posisi keluarga Nightshade sebagai bangsawan yang sejati. Meskipun merupakan gelar yang dibeli.
Tak hanya itu, Ia juga dulunya membuka banyak badan amal untuk membantu mereka yang kurang mampu. Meskipun semua itu telah menghilang setelah serbuan pasukan barbar dari Utara.
Dan terakhir....
Valerian Nightshade. Ayah dari Lucius. Tak hanya seorang pebisnis yang handal dan cukup jenius, Ia juga diberkati dengan jiwa kepemimpinan natural yang begitu kuat. Ia memiliki penampilan yang karismatik dan terkesan kuat dengan rambut hitam pendeknya itu.
"Singkatnya, keluarga mu sekarang hanya orang miskin biasa dengan gelar Baron?" ejek Carmilla sambil tertawa ringan.
"Be-begitu lah.... Itu lah kenapa aku heran, bagaimana bisa keluarga ku yang berbulan-bulan berada di tempat pengungsian kini bisa tinggal di Central Plaza. Aah, di sana." ucap Lucius mengikuti arahan dari beberapa pedagang di jalanan ini.
Di hadapan Lucius, terdapat sebuah villa yang besar dan megah. Luas dari bangunannya sendiri setara dengan puluhan rumah biasa. Sedangkan jumlah lantainya mencapai 6 lantai.
Tak mungkin keluarganya menginap di tempat seperti itu kan?
Tapi saat Lucius hendak membunyikan bel di samping gerbang yang begitu megah itu....
"Hmm? Lucius?"
Ia mendengar suara yang cukup familiar dari sampingnya. Suara seorang laki-laki yang telah lama tak terdengar olehnya, juga suara yang membuatnya merasa semua ini akan menjadi masuk akal.
"Alex?" tanya Lucius singkat.
'Bruuukkk!!!'
Alex dengan cepat meninggalkan Albert di sampingnya dan berlari ke arah Lucius. Merangkul sosok yang telah lama tak dijumpainya itu.
"Sialan! Kemana saja kau?! Aku.... Selalu berpikir kau pasti akan baik-baik saja.... Tapi...."
Lucius menepuk punggung Alex secara perlahan. Berusaha untuk menenangkannya.
__ADS_1
"Banyak hal yang terjadi. Aku akan menceritakannya nanti, tapi sebelum itu. Apakah keluarga ku benar-benar tinggal di sini? Bagaimana bisa?" tanya Lucius sambil sedikit mendorong mundur tubuh Alex.
Sambil mengusap air matanya, Alex pun membalas.
"Kau lupa? Aku kan sudah bilang akan menjadi tangan kanan mu. Saat kau berduel melawan William, aku mempertaruhkan seluruh aset keluarga ku. Sebagai gantinya, aku meminta seluruh wilayah Central Plaza. Termasuk Villa ini."
"Tunggu dulu, banyak hal yang aneh di perkataan mu barusan."
Tanpa memperdulikan perkataan Lucius, Alex terus melanjutkan penjelasannya.
"Lalu sekitar 2 bulan setelah kau menghilang, keluarga mu datang mencari mu. Kau harus tahu betapa paniknya mereka saat mengetahui kau menghilang. Dan karena tak punya tempat tinggal aku memberikan Villa ini untuk keluarga mu. Tidak, lagipula aku berniat memberikan seluruh Central Plaza ini untuk keluarga mu."
"Sudah ku bilang tunggu sebentar! Aku butuh waktu untuk memproses semua informasi barusan!"
Dari belakang, Lucius dapat merasakan seseorang menepuk pundaknya secara perlahan.
"Lucius. Itu keluarga mu?" tanya Carmilla sambil menunjuk ke arah di balik gerbang mewah itu.
Dari kejauhan, terlihat sosok seorang pria serta seorang wanita dewasa. Keduanya mengenakan pakaian yang rapi dan terkesan cukup mahal.
Sedangkan di belakang kedua orang itu, terlihat seorang gadis yang masih cukup pendek dengan rambut coklat pendek yang rapi. Wajahnya terlihat begitu imut ketika mengenakan gaun pendek itu.
"Ayah? Ibu? Michelle?!" teriak Lucius yang segera berlari melompati gerbang itu dengan mudahnya.
Tanpa ragu, Lucius segera memeluk mereka bertiga. Setelah sekian lama akhirnya dipertemukan kembali dalam kondisi yang jauh lebih baik ini.
Baik Lucius maupun keluarganya merasa lega, melihat yang lainnya masih sehat dan berhasil selamat dari cobaan yang menimpa mereka semua.
"Tuan Muda...." ucap Albert dengan suara yang lirih.
"Aah, aku sebenarnya ingin meminta bantuan Tuan Valerian untuk mengurus pemindahan nama pemilik Central Plaza ini. Tapi yasudah lah, besok saja." ucap Alex yang segera menyerahkan beberapa gulungan dokumen itu pada Albert.
Segera setelah itu, pandangannya teralihkan pada seorang wanita berambut putih cerah serta kulit putih pucat yang bersama dengan Lucius sedari tadi.
"Maaf, tapi siapa Anda?" tanya Alex berusaha untuk sesopan mungkin.
Carmilla memalingkan wajahnya. Menatap sosok Alex dengan mata merah darahnya itu.
"Aku? Gurunya Lucius."
"Gurunya? Apakah Anda yang membuat Lucius bisa tumbuh secepat itu?" tanya Alex dengan kedua mata yang terbuka lebar.
"Hmm, mungkin? Tapi sebagian besar karena kerja kerasnya sendiri jadi aku tak begitu yakin. Kenapa? Kau tertarik?" balas Carmilla dengan senyuman yang ramah.
"Eh?" tanya Alex terkejut. Ia sama sekali tak menyangka bahwa Guru yang membuat Lucius menjadi sekuat itu, akan menawarkan ajaran itu padanya.
"Selama kau bisa menjamin Lucius dan keluarganya selalu aman dan bahagia, aku sama sekali tak keberatan untuk melatihmu, Alexander Brown. Kau memiliki cukup banyak kekayaan untuk melakukan itu bukan?" ucap Carmilla dengan senyuman yang manis.
Bagi Alex, tentu saja ini adalah sebuah kesempatan yang tak boleh disia-siakan. Memperoleh pelatihan dari guru yang sama yang membuat Lucius menjadi kuat secepat itu?
Sedangkan bagi Carmilla.
__ADS_1
'Aku telah melihatnya setiap hari melalui mata Lucius tapi.... Entah apa yang terjadi pada dunia ini, membiarkan bakat seindah ini tenggelam dalam lumpur. Jika tak ada yang menginginkannya, aku bisa mengambilnya kan?' pikir Carmilla dalam hatinya sambil terus memperhatikan sosok Alex.