
'Srrruuuggg!!!'
Lucius mulai menghentikan langkah kakinya. Kini, Ia berdiri tepat di tengah-tengah kobaran api yang dibuat oleh Iblis itu.
Tangan kirinya nampak terus memegangi Arcana miliknya. Mengalirkan Mana ke dalamnya secara perlahan sebagai jaminan untuk melindunginya dari sihir mematikan Zephyrith.
Sementara itu Alora terlihat terbang di udara menggunakan tongkat sihirnya. Ia mengarahkan kedua tangannya ke bawah, dimana formasi lingkaran sihir kebiruan dapat terlihat.
'Sihir air? Aah, mungkin ingin melemahkan nya sedikit?' pikir Lucius dalam hatinya.
Ia dengan cepat memulai serangannya menggunakan pedang Mithril itu.
Dengan hentakan kaki yang kuat, Lucius melesat dengan cepat ke arah sosok iblis Zephyrith yang terdiam di tengah-tengah kobaran api itu.
'Tak ada perlawanan? Kalau begitu....' pikir Lucius yang tanpa ragu segera mengubah serangannya.
Ia memutar tubuhnya ke kanan dengan cepat sembari melompat ke udara. Mengarahkan putaran tebasan itu tepat pada leher lawannya.
'Zraaaaaaattt!! Klaaaaanggg!!'
Tapi di luar dugaannya, pedangnya sama sekali tak bisa memberikan luka yang dalam pada tubuh Iblis Zephyrith.
Hanya mampu menggores sedikit kulit bagian luarnya saja.
'Sial! Ini buruk!' teriak Lucius dalam hatinya sebelum segera melompat mundur sejauh mungkin.
Meski telah menerima serangan yang seharusnya cukup berbahaya itu, Zephyrith terlihat hanya terdiam di tanah. Mulutnya terus bergerak secara perlahan seakan-akan sedang mengatakan sesuatu.
"Kenapa.... Kenapa.... Kenapa...." ucap Zephyrith terus menerus dengan suara yang lirih.
'Dia memperoleh kembali kesadarannya?' pikir Lucius.
Tapi saat hujan tombak es Alora menghujani tubuhnya, Zephyrith baru kembali bereaksi.
'Tap! Tap! Jleeebbb!! Jleeebb!!!'
Dengan refleks yang luarbiasa, Zephyrith melompat beberapa kali untuk menghindari tombak es itu. Menyadari bahwa tombak itu bisa melukainya.
Untungnya, beberapa dari tombak es itu berhasil melukai sayap Iblisnya. Membuatnya tak lagi mampu untuk terbang seperti sebelumnya.
"Lucius!" teriak Alora.
Lucius memahami apa arti dari teriakan itu. Yaitu untuk segera melancarkan rencananya mengirim Zephyrith pada tempat yang berbeda.
'Sruuugg!! Sruuugg!!'
Hanya dengan mengandalkan kemampuan fisiknya, Lucius berlari secepat mungkin. Dan setelah mencapai jarak yang tepat, Ia melompat untuk memberikan sebuah tendangan yang kuat.
'Blaaaaaarrr!!!'
'Sialan! Keras sekali!' keluh Lucius setelah merasakan sensasi menendang tubuh iblis itu.
Meskipun tak memberikan luka apapun, Lucius berhasil untuk melemparkan tubuh Zephyrith ke belakang sejauh beberapa meter. Dimana Alora dengan cepat menciptakan portal tepat di arah pergerakan tubuh iblis itu.
'Tap!! Sruuuuggg!!!'
Tanpa di duga, Zephyrith mampu merasakan keberadaan portal itu dan dengan cepat melompat ke samping untuk menghindarinya.
"A-apa?! Dia menyadarinya?" ujar Alora sedikit panik. Monster yang sebelumnya terlihat tak memiliki akal itu, kini tiba-tiba bisa bergerak dengan berbagai pertimbangan di kepalanya?
"Alora!!! Dia masih terus menyerap Mana di sekitarnya!!! Kemungkinan dia akan terus berevolusi lebih lanjut lagi!!!" teriak Lucius setelah menyadari kenyataannya.
Serangan tombak es dari Alora sebelumnya adalah pemicunya. Membuat insting alami dari semua makhluk hidup berteriak keras.
Bahwa lawannya sangat lah berbahaya, dan harus melakukan apapun untuk bertahan hidup.
__ADS_1
Karena itu lah, evolusi yang seharusnya telah terhenti di bentuk yang sebelumnya, kini kembali berlanjut.
Tubuh Zephyrith saat ini telah cukup menyusut hingga hanya berukuran seperti pria dewasa pada umumnya. Meski begitu, kekuatannya terus meningkat dengan drastis.
Lucius dapat melihatnya dengan sangat jelas menggunakan mata sihirnya.
Bahwa hingga detik ini, Zephyrith terus menerus menyerap Mana yang ada di lingkungan sekitarnya dengan kecepatan yang mengerikan.
Jika bukan karena perlindungan efek Arcana miliknya, Mana milik Lucius juga mungkin akan terserap begitu saja.
"Lebih.... Kekuatan...." ucap Zephyrith dengan kesadaran yang mulai kembali terbentuk.
Dengan menggunakan tangan kanannya, Alora menciptakan sebuah tombak es dengan warna ungu gelap yang begitu besar.
Sedangkan dengan menggunakan tangan kirinya, Ia memanggil puluhan rantai cahaya untuk mengekang iblis yang ada di depan matanya.
'Sraaaaaangg!!! Kraaaaaangg!!! Klaaaangg!!'
Puluhan rantai cahaya melesat dengan cepat dari berbagai arah. Semuanya menargetkan titik vital pada tubuh iblis itu.
Tapi bagaikan sedang menari, iblis itu mampu menghindari semuanya dengan begitu mudahnya.
Sekalipun telah kehilangan akal untuk menggunakan sihir yang rumit seperti sebelumnya, kekuatan luarbiasa Zephyrith saat ini membuatnya sama sekali tak membutuhkan sihir.
Hanya dengan kemampuan fisiknya.
'Blaaaarr!!!'
Ia menghentakkan kaki kanannya dengan sangat keras di tanah. Membuat getaran yang luarbiasa dan juga meretakkan tanah hingga puluhan meter di sekitarnya.
Sedangkan pukulan dengan tangan kanannya membuat gelombang kejut yang sangat kuat di arah pukulannya. Merobohkan puluhan pepohonan sekaligus, termasuk mematahkan sebagian besar rantai cahaya milik Alora.
"Yang benar saja?! Monster ini?! Sialan! Di saat seperti ini, kenapa pahlawan pedang hanyalah seorang kakek tua yang tak berdaya?!" keluh Alora yang segera melontarkan puluhan peluru sihir dari berbagai elemen ke arah Zephyrith.c
Dari balik debu yang menutupi tanah tempat Zephyrith berdiri, terlihat sosoknya yang masih tak terluka sedikit pun. Sekalipun menerima puluhan peluru sihir dari Alora.
Kemampuan fisiknya benar-benar melampaui manusia terkuat sekalipun.
Tidak....
Lebih tepatnya....
Mana yang membentuk puluhan peluru sihir itu secara perlahan mulai terserap ke dalam tubuh Zephyrith. Membuatnya menjadi semakin kuat lagi.
Dengan tatapan mata yang tajam, sosok Zephyrith saat ini seakan-akan mulai memperoleh kembali akal sehatnya. Juga kecerdasannya.
Hal itu dibuktikan dengan apa yang dilakukan berikutnya.
"Meteor...." ucapnya lirih, menyebutkan salah satu sihir elemen api terkuat di kerajaan manusia ini.
Ia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Menciptakan formasi lingkaran sihir raksasa di tanah tempatnya berdiri itu.
Sebuah formasi lingkaran sihir berwarna kemerahan itu menyala dengan begitu terangnya di malam itu.
'Ini buruk! Aku harus....' pikir Lucius dalam hatinya. Ia dengan cepat berlari mendekat ke arah Zephyrit dengan Arcana miliknya yang telah aktif. Berniat untuk menghapuskan formasi sihir itu dengan Arcana miliknya.
Tapi....
"Aku.... Mengerti.... Kemampuanmu.... Manusia...." ucap Zephyrith sambil menjentikkan jari di tangan kanannya. Menciptakan sihir angin sederhana, yaitu wind blast.
Sihir itu tak memberikan luka yang besar, juga tak bisa menyakiti Lucius secara langsung. Tapi gelombang kejut dan tekanan angin yang dibuatnya mampu mendorong Lucius mundur puluhan meter ke belakang.
'Sialan! Dia menyadari jarak dan fungsi Arcana ku?!'
Saat itu lah Lucius menyadari kembali kelemahan Arcana nya. Yaitu Ia harus menyentuhnya secara langsung agar Arcana itu aktif.
__ADS_1
Karena formasi sihir yang begitu kompleks di dalamnya, membuat Arcana itu membutuhkan suplai Mana yang besar di dalamnya.
Karena itu lah, Ia harus terus memegangnya.
Atau.... Itu lah yang dipikirkannya.
"Berikan padaku! Lucius!" teriak Alora dengan keras. Sebuah portal kecil seketika muncul di samping kiri Lucius, seakan-akan memintanya untuk melemparkan Arcana itu melalui portalnya.
Tanpa ragu, Lucius melakukan apa yang diminta oleh Alora.
'Swuushh!'
Dengan lemparan yang cepat, kartu Arcana itu segera berpindah tangan. Kini Alora memegangnya dengan tangan kanannya. Berusaha untuk memahami formasi sihir di dalamnya secepat mungkin sambil terus mengisinya dengan Mana.
"Jadi begitu, kalau begitu...." ucap Alora yang mengisi Arcana itu dengan sebanyak mungkin Mana yang Ia bisa, tanpa menghancurkannya.
Sosok Zephyrith yang masih merapalkan mantra sihir untuk Meteor itu terdiam di tempat. Tapi masih tetap sulit untuk mendekatinya berkat kekuatannya.
Tak berselang lama, kartu Arcana milik Lucius itu menimbulkan cahaya kebiruan yang begitu terang. Menyala layaknya terbuat dari Mana itu sendiri.
Setelah mengisinya dengan sebanyak mungkin Mana, Alora segera melemparkannya tepat ke arah Zephyrit berdiri.
'Swuuuusshhh!!! Jleeebb!!!'
Dengan cepat, kartu itu menancap di tanah tepat di depan Zephyrith.
'Zraaaaaaaaaattt!!! Kreeetttaaakkk!!!'
Tak perlu waktu lama bagi Arcana itu untuk bekerja. Hanya dalam sekejap mata, Arcana itu segera mendorong keluar seluruh Mana yang ada di dalam area 10 meter dengan kartu itu sebagai pusatnya.
Menghancurkan formasi sihir Meteor itu berkeping-keping, membatalkan sihir Zephyrith, dan juga....
Melemahkan iblis itu untuk sesaat karena mana miliknya juga terdorong keluar dari area di sekitar kartu Arcana itu.
Karena Alora terlalu memaksakan fungsi Arcana itu hingga melampaui batasnya, kartu itu segera pecah dan hancur setelah sepersekian detik. Tapi itu sudah cukup.
"Sekarang! Lucius!" teriak Alora dengan keras.
Lucius yang telah menanti kesempatan ini, segera menyalurkan sebanyak mungkin Mana ke sekujur tubuhnya. Memfokuskan sebagian besar kekuatannya pada tangan kanannya sambil berlari ke arah Zephyrit.
Dengan kuda-kuda yang sempurna, Lucius berhenti tepat di depan iblis itu. Memberikan semuanya pada pukulannya.
'BLAAAAAAAAAAAARRRRR!!!'
Hentakan dari pukulannya terdengar begitu kuat. Bahkan mampu sedikit meretakkan kulit pada bagian dada iblis itu.
Tapi tujuan Lucius bukanlah untuk melukainya. Melainkan untuk mendorong tubuh Zephyrith secepat dan sekuat mungkin.
Tepat di arah lintasan Zephyrith, telah terdapat sebuah portal yang menantinya. Melemparkannya pada tempat yang jauh dari wilayah ini.
"Kau baik-baik saja? Masih mampu untuk lanjut?" tanya Alora yang segera terbang ke bawah, melayang tepat di samping Lucius.
Lucius sendiri terlihat memegangi tangan kanannya yang hancur lebur itu dengan tangan kirinya.
Jari jemarinya tak lagi berbentuk, tulangnya juga terlihat remuk dan keluar dari posisinya. Sedangkan darah masih terus mengalir dengan deras dari apa yang dulunya merupakan tangan kanan itu.
Dengan menggunakan sihir penyembuhan yang diajarkan oleh Carmilla, Lucius mampu memulihkannya dalam kurang dari 10 detik.
Dari balik balutan cahaya kehijauan yang indah itu, tangan Lucius terlihat beregenerasi dengan begitu cepat. Kembali pada bentuknya yang semula.
"Tak masalah. Jadi, kemana kau mengirimnya?" tanya Lucius penasaran.
Dengan tatapan yang begitu serius, Alora pun membalas.
"Tempat yang telah lama dijauhi makhluk hidup di benua ini. Lembah Cadera."
__ADS_1