
Dalam sekejap, gerakan dari Hobgoblin itu berubah sepenuhnya.
Mulai dari kecepatan, kekuatan, dan sihir yang digunakan. Semuanya benar-benar berubah melampaui perkiraan semua orang.
Termasuk Carmilla itu sendiri.
'Zraaaatt! Zraaaasssshhh!!!'
Dengan kecepatan yang begitu luarbiasa, Hobgoblin itu melompat kedepan sambil mengayunkan tangan kanannya.
Memenggal kepala Drakon yang berdiri tepat di hadapannya.
Waktu terasa begitu lambat saat Carmilla melihat pemandangan itu.
Sama seperti ketika Lucius merasakan ketakutan dan amarah dari Carmilla, saat ini Carmilla juga merasakan kesedihan dan amarah yang teramat besar dari Lucius.
Satu detik terasa seperti berjam-jam.
Tatapan matanya seakan tak bisa dialihkan dari sosok Drakon yang kini telah tak bernyawa itu.
Secara perlahan, tubuhnya terjatuh ke tanah dengan darah yang mengucur deras dari lehernya.
"Cih! Goblin sia...."
Belum sempat Ironclad meluapkan seluruh amarahnya, lehernya telah terpotong oleh kuku tajam dari Hobgoblin itu.
Lagi....
Carmilla merasakannya sekali lagi.
Sebuah emosi yang sangat teramat kuat dari jiwa Lucius.
Yaitu amarah.
Sama seperti Drakon, tubuh Lucius membeku saat melihat sosok Ironclad yang baru saja bersamanya.... Kini telah tak bernyawa.
Kepalanya masih terus berputar-putar di udara. Sedikit demi sedikit mulai kembali terjatuh ke tanah.
'Braaakk! Srruuugg!'
Entah secara kebetulan atau tidak, kepala Ironclad yang telah terpenggal itu berhenti tepat saat mengarah ke sosok Lucius.
Memberikan tatapan yang seakan-akan penuh penyesalan.
"Lemah! Lemah!! Lemah sekali! Manusia!!" teriak Hobgoblin itu sambil terus melanjutkan pembantaiannya.
Tak ada satu petualang pun yang mampu mengimbangi kecepatannya.
Satu pun....
Beberapa dari mereka berusaha untuk melawan. Tapi senjata mereka hancur begitu saja di hadapan kekuatan mutlak monster itu.
Sedangkan yang lain?
Mereka bahkan belum sempat untuk bereaksi sama sekali. Namun tanpa disadari, kepala mereka telah melayang di udara.
Sebuah kematian yang begitu singkat....
Juga begitu menyedihkan.
Kehidupan mereka selama puluhan tahun, melatih teknik dan sihir mereka sejak kali pertama mereka mengangkat pedang.
Namun semua itu seakan tak ada gunanya di hadapan monster ini.
Hingga akhirnya, seluruh emosi dari jiwa Lucius seakan-akan meledak. Hingga tak ada lagi yang tersisa untuk dirasakan oleh Carmilla.
__ADS_1
Itu semua terjadi setelah Carmilla menolehkan wajahnya, melihat sosok Hobgoblin itu menghunuskan tangan kanannya pada seorang wanita.
Wanita yang tak lain lagi, adalah Sera itu sendiri. Ia nampak memuntahkan banyak darah dari mulutnya. Diiringi dengan sorot matanya yang mulai memudar.
Di sekelilingnya, puluhan jasad petualang dari regu pemanah tergeletak tak berdaya.
Sebagian besar dari mereka telah kehilangan kepala mereka. Sedangkan yang lain memiliki anggota gerak atau badan mereka hancur tak karuan.
Kenapa?
Bagaimana bisa sekuat itu?
Bagaimana mungkin monster rendahan seperti itu, bisa memiliki Mana bangsa iblis yang agung?
Berbagai pertanyaan itu terus menerus terlintas di kepala Carmilla saat ini, dengan tubuh yang masih terdiam di tempat sembari melihat semua kegilaan itu.
Takut?
Tentu saja.
Saat ini, dengan tubuh pinjamannya yang sama sekali tak berbakat, Carmilla sudah kalah telak dalam jumlah Mana.
Perbedaan yang sangat besar hingga teknik dan pengetahuannya saja belum cukup untuk menutup perbedaan itu.
Kekuatan fisik?
Sebagai ras monster, mereka selalu lebih unggul dari manusia dalam hal kemampuan fisik. Terlebih lagi, tubuh Lucius baru saja memulai latihan fisik secara intensif beberapa bulan ini.
Menyaingi mereka tentu saja mustahil.
Lalu apa yang bisa dilakukannya?
'Jika saja tubuh asliku ada di sini....'
Hanya kalimat itu lah yang terlintas di benak Carmilla.
Tapi kenyataannya?
Tubuhnya telah tiada. Dibuang oleh tangannya sendiri demi bertahan hidup.
'Aah.... Jika diingat kembali, bukankah saat itu aku juga kabur?' pikir Carmilla dalam hatinya sambil melihat sosok Hobgoblin itu membantai sisa petualang yang ada di sekitarnya.
Carmilla mengangkat pedang kemerahan milik Lucius itu. Mengarahkannya tepat di depan wajahnya, memperhatikan bilah pedang yang masih sangat tajam itu.
Hingga akhirnya....
"Maaf, Lucius. Ku rasa memang hanya ini cara satu-satunya." ucap Carmilla, kini memberikan tatapan yang tajam pada Hobgoblin itu.
"Hoo, kau masih di sana? Ketakutan hingga tak bisa bergerak?" tanya Hobgoblin itu dengan angkuh.
Carmilla hanya diam. Ia sama sekali tak menggunakan sihir baik pada pedangnya maupun untuk penyerangan.
Itu karena hampir seperempat Mana yang dimilikinya, semuanya dikerahkan untuk memperkuat fisiknya.
Overflow.
'Blaaaaarrr!!!'
Dengan hentakan kaki yang kuat, Carmilla melesat tepat ke arah Hobgoblin itu. Mengayunkan pedangnya sekuat tenaga.
'BRAAAAAAAAAKKK!!! ZRAAAASSSSHHH!!!'
Ayunan pedangnya berhasil ditangkis dengan mudah oleh Hobgoblin itu dengan sihir Trias Shield miliknya.
Akan tetapi....
__ADS_1
'Krettaakk!!'
Suara retakan dapat terdengar dari arah perisai sihir itu. Tak hanya itu, hempasan pedang Lucius membuat beberapa pohon tumbang.
Bahkan hentakan dari tubrukan pedang Carmilla dengan Trias Shield Hobgoblin itu mampu terdengar hingga barisan belakang regu petualang.
"Getaran ini.... Lucius? Oi, Lyra! Bisa lebih cepat?!" tanya Selena panik.
"Se-sebentar lagi!" balas Lyra panik yang masih terus menggambar formasi sihir aneh dengan sihirnya pada potongan bilah pedang itu.
'Apa-apaan ini? Lucius? Siapa kau sebenarnya? Bagaimana kau bisa mengetahui sihir kuno seperti ini?!' pikir Lyra dalam hatinya.
Di sisi lain, Carmilla masih terus berhadapan dengan Hobgoblin itu.
Jika dari penglihatan orang biasa, pertarungan antara keduanya nampak seimbang. Dengan Carmilla yang terus memberikan serangan dan Hobgoblin itu yang hanya bisa bertahan.
Sedikit demi sedikit, Trias Shield milik Hobgoblin itu mulai retak dan rusak. Memaksanya untuk membuat yang baru dan menguras banyak Mana.
Tapi pada kenyataannya, pertarungan antara keduanya sama sekali tak seimbang.
'Zraaaatt!'
Dengan ayunan tangan yang cepat, Hobgoblin itu mampu memotong tangan kiri Lucius dalam sekejap.
Carmilla yang menerima serangan itu segera melompat mundur sambil melempar pedangnya ke udara. Memungkinkan tangan kanannya untuk menangkap potongan tangan kirinya.
Tanpa ragu, Carmilla segera menempelkan kembali potongan tangan kirinya ke lengannya.
Cahaya kehijauan yang begitu terang dapat terlihat. Dan dalam sekejap, lengan Lucius berhasil disembuhkan dan kembali menyatu.
Pada saat yang sama, pedangnya yang dilempar ke udara sebelumnya telah kembali. Dimana Carmilla menangkapnya dengan cepat sebelum kembali menyerang.
'Klaaangg!! Klaaaangg!!!'
Tawa dan senyuman dari Hobgoblin itu terlihat mulai memudar. Sedikit demi sedikit.
Ia tak paham bagaimana manusia yang sebelumnya begitu lemah, kini menjadi sangat kuat seperti ini.
Sebagai ganti kekalahannya dalam hal kekuatan sihir, Carmilla meletakkan semua taruhannya pada kekuatan fisiknya yang telah ditingkatkan dengan Overflow.
Dan hasilnya, Carmilla bisa sedikit menyamai Hobgoblin itu. Dimana saat ini kekuatan fisik Lucius sudah setara dengan sepertiga dari kekuatan fisik Hobgoblin itu.
"Manusia sialan.... Kenapa kau tak mau mati?"
Carmilla hanya diam. Mempercepat rentetan tebasan pedangnya.
Dengan teknik dan ketrampilan yang telah hilang termakan oleh zaman, Carmilla memperlihatkan bahwa teknik yang tepat bahkan mampu untuk memperpendek jarak antara kekuatan mereka.
'Klaaaaangg!! Kretttaakk!!!'
Kurang dari satu menit kemudian, apa yang dinanti oleh Carmilla akhirnya tiba.
Dari kejauhan, teriakan seorang wanita yang dikenalinya dapat terdengar dengan begitu jelas.
"LUCIUS!!! TERIMA INI!!!"
Dengan senyuman yang tipis, Carmilla segera melompat mundur sambil menendang lawannya. Menjauhi Hobgoblin itu sambil membuat jarak yang cukup jauh antara keduanya.
'Swuuusshh!!!'
Dari tangan kanan Selena, terlihat sebuah potongan bilah pedang biasa. Tapi di atasnya, telah terukir formasi sihir kuno yang dibutuhkan oleh Carmilla.
'Tapp!!!'
Carmilla segera menangkapnya dengan menggunakan tangan kirinya, lalu memandangi sosok Hobgoblin itu dengan penuh percaya diri.
__ADS_1
"Dengarkan aku, iblis tak bernama! Dengan ini, aku akan membunuhmu!" ucap Carmilla sambil memperlihatkan potongan bilah pedang itu.