
Keesokan harinya....
Lucius berdiri di depan beberapa papan pengumuman. Mencari namanya di antara lautan manusia itu.
"Minggir! Aku lebih dulu!"
"Kelas C! Aku naik ke kelas C!"
"Sialan! Kenapa aku diturunkan ke kelas D?!"
"Permisi! Yang sudah selesai tolong menyingkir! Masih banyak yang belum memeriksa hasil ujian mereka!"
Berbagai teriakan dapat terdengar dari segala arah. Lucius yang datang sedikit terlambat jadi harus mengantri di belakang semua pelajar itu.
"Sialan.... Kenapa jadi seperti ini?" keluh Lucius.
Tapi saat Ia masih berusaha untuk mencari namanya, tiba-tiba seseorang memanggilnya.
Ia tak lain adalah Profesor Levaria, Kepala Akademi itu sendiri.
"Lucius. Kemari lah." ucapnya sambil melambaikan tangannya.
"Eh? Kenapa?"
Tanpa membalas, Profesor Levaria hanya menuntun Lucius pada ruangannya. Sebuah ruangan besar dengan puluhan rak buku yang tersusun rapi di sekelilingnya.
Tapi yang mencuri perhatian Lucius sepenuhnya tak lain adalah keberadaan Alora yang sedang duduk santai di sofa untuk tamu itu.
Ia nampak membaca beberapa lembar laporan dari kertas kecoklatan itu. Sebelum akhirnya memalingkan wajahnya dan menyapa Lucius singkat.
"Jadi.... Kenapa aku dipanggil kemari?" tanya Lucius pada Levaria.
Levaria duduk terlebih dahulu di balik meja kerjanya sebelum membalas pertanyaan dari Lucius itu.
"Lucius. Kau memperoleh nilai sempurna di ujian teori. Tak hanya itu, nilai yang kau peroleh dari ujian praktik jauh melampaui perkiraan kami. Oleh karena itu...." ucap Levaria sambil menyodorkan sebuah kartu tanda pelajar yang terbuat dengan logam berlapiskan emas itu.
"Eh? Apa ini?" tanya Lucius kebingungan.
Levaria merapatkan kedua tangannya, menggunakannya sebagai tumpuan dagunya.
"Selamat, Lucius Nightshade. Kau adalah pelajar kedua dalam sejarah umat manusia yang memperoleh tingkat S di tahun ketiganya." ucap Levaria dengan tatapan yang tajam.
Tapi dari perkataan itu, hanya muncul lebih banyak pertanyaan lagi bagi Lucius.
'Kedua? Lalu siapa yang pertama?' tanya Lucius dalam hatinya.
Seakan menyadari yang dipertanyakan oleh Lucius, Profesor Levaria melirik ke arah tamu yang juga duduk di ruangan ini.
"Jangan katakan...." ucap Lucius.
"Kau benar. Alora Skyweaver, jenius dari para jenius. Satu-satunya pelajar yang mampu meraih tingkat S pada tahun ketiganya dalam sejarah kerajaan Manusia."
Lucius menjadi semakin kagum terhadap Alora. Pasalnya, Alora tak memiliki bantuan luarbiasa seperti dirinya. Dimana Carmilla sang iblis terus menerus menggelontorkan pengetahuan kuno yang telah hilang pada dirinya.
Membuat Lucius mampu memperoleh kekuatan yang luarbiasa dalam waktu yang singkat.
Tapi Alora....
"Kau nampaknya tak puas dengan hasilnya, Lucius?" tanya Alora yang segera meletakkan berkas laporannya di meja. Ia kemudian berdiri dan berjalan ke arah Lucius.
__ADS_1
Menatap sosok bocah berumur 17 tahun itu yang sedang duduk di hadapannya.
"Kalau begitu bagaimana dengan ini?" tanya Alora sambil menarik sebuah gulungan kertas dengan segel Gereja Cahaya.
Lucius mengambil lalu membuka gulungan kertas itu. Di dalamnya....
...[Permintaan Resmi dari Gereja Cahaya]...
...[Kepada penyihir yang terhormat, Lucius Nightshade. Kami mengharapkan bantuan Anda dalam ekspedisi di wilayah Utara. Membantu Gereja untuk memecahkan misteri yang sebenarnya terjadi di tanah Barbarian itu.]...
...[Sebagai hadiahnya, jika berhasil, Yang Mulia Raja Orion telah berjanji akan memberikan gelar Count kepada Lucius Nightshade serta tanah di seluruh wilayah Riverdalle.]...
...[Kami harap ketersediaan Anda membantu ekspedisi ini. Tertanda, Uskup Agung Gereja Cahaya Lunaria.]...
Setelah membaca semua itu, Lucius akhirnya paham atas apa yang diinginkan oleh Alora hingga menyempatkan dirinya di tempat ini.
Tapi melihat hadiahnya....
"Ini serius? Bagaimana mungkin kau bisa menjamin perkataan Raja?" tanya Lucius yang sedikit ragu sambil menyerahkan kembali gulungan itu pada Alora.
"Tenang saja. Raja adalah sahabatku. Aku kenal dekat dengannya, dan dia sendiri yang menjanjikan hal ini setelah mendengar kemampuanmu." jelas Alora.
"Tak hanya itu, Akademi juga akan menganggap permintaan resmi itu sebagai Quest Pengabdian tingkat SS. Jika kau menyelesaikannya, kau sudah memperoleh cukup poin untuk direkomendasikan terhadap salah satu kursi Royal Court Magician secara langsung." timpal Levaria.
Royal Court Magician.
Seperti namanya, merupakan deretan 6 orang penyihir terkuat di kerajaan umat manusia. Meskipun setara, keenam Royal Court Magician itu memiliki peringkat yang berbeda. Dengan peringkat pertama yang paling kuat dan peringkat keenam yang paling lemah.
Tak hanya memiliki pendapatan yang luarbiasa melimpah, status sosial yang sangat tinggi, tapi Royal Court Magician juga berfungsi untuk menentukan siapa penerus Pahlawan Penyihir di kerajaan manusia ini.
Saat Pahlawan Penyihir yang saat ini, Alora Skyweaver tutup usia atau dikalahkan dalam pertarungan, Gadis Suci Mary bisa memohon pada Dewi Lunaria untuk memberikan rekomendasi calon pahlawan penyihir berikutnya.
Tapi tentu saja, semua pilihan didasarkan atas kemauan dan keinginan Dewi Lunaria itu sendiri.
Hanya dengan hadiah itu saja Lucius telah tergiur bukan main. Karena salah satu keinginan terbesarnya di dunia ini adalah menjadi yang terkuat.
Cukup kuat untuk melindungi segala sesuatu yang dicintainya.
"Anda yakin dengan hadiah seperti ini?" tanya Lucius dengan tubuh yang gemetar. Ia tak yakin tawaran yang seindah ini tak memiliki resiko yang sepadan.
Dan benar saja.
"Sebelumnya, 2 Inquisitor, 10 Paladin, dan lebih dari 200 Ksatria Suci terbunuh pada ekspedisi ini. Tak ada satu pun yang kembali atau pun memberikan kabar. Aku yakin kau paham apa artinya itu kan?" tanya Alora dengan wajah yang begitu serius.
Tatapan matanya yang tajam seakan-akan ingin mengusir Lucius dari Quest berbahaya ini.
Tapi kalimat dan nada yang keluar dari bibirnya seakan-akan menginginkan Lucius untuk bergabung.
"Aku tak tahu bahwa Barbarian sekuat itu." balas Lucius dengan keringat deras yang mengalir di wajahnya.
"Kau salah." balas Alora singkat.
"Eh?"
"Great Khan, atau sang Khan Besar telah dikalahkan beserta dengan delapan bawahan terkuatnya dan puluhan ribu pasukannya. Setidaknya itulah yang dikabarkan oleh Elf." jelas Alora.
Mendengar berita mengerikan seperti itu, Lucius mau tak mau merasakan sedikit ketakutan dalam dirinya.
Ia tak mengetahui apa yang akan dihadapinya nanti di wilayah Barbarian itu.
__ADS_1
Tapi....
'Tap!'
Alora menepuk kepala Lucius dengan lembut dan membelai rambut hitamnya itu.
"Tenang saja. Aku akan ikut serta dalam ekspedisi itu. Jadi seharusnya semuanya akan baik-baik saja." ucap Alora dengan senyuman.
Bagi Lucius, Alora adalah sosok yang terkuat yang pernah dijumpainya di dunia ini. Sekalipun Carmilla memiliki berbagai pengetahuan kuno yang telah lama hilang, Ia tak memiliki kekuatan fisik maupun sihir yang bisa mendukung seluruh pengetahuannya itu seutuhnya.
Sedangkan Alora?
Ia memiliki dukungan bahkan dari Dewi Cahaya itu sendiri. Membuatnya menjadi salah satu tokoh terkuat di dunia ini.
Membayangkan Alora yang seperti itu kalah? Nampaknya tak mungkin bisa dilakukan oleh Lucius.
"Baiklah. Aku akan menerimanya. Jadi kapan kita akan berangkat?" tanya Lucius.
"Sekarang."
"Eh? Saat Liburan seperti ini?"
"Tentu saja. Tak ada lagi waktu yang bisa dibuang." balas Alora yang segera membuka portal menuju ke Katredal di Titania itu. Dimana pasukannya telah menanti.
"Kalau begitu, ijinkan aku berpamitan dengan Guru ku terlebih dahulu." balas Lucius yang juga membuka portal menuju ke rumahnya.
"Aah, benar juga. Bagaimana jika kau mengajak Guru mu itu?" tanya Alora penasaran.
............
Beberapa saat kemudian di kediaman Lucius....
"Terlalu berbahaya. Aku menolaknya." balas Carmilla dengan sinis.
"Setidaknya kami telah mencobanya." balas Alora dengan wajah yang terlihat sedikit kecewa.
Lucius di sisi lain hanya terus memandangi lantai di rumahnya ini. Mengharapkan respon yang sedikit berbeda dari Carmilla.
Tapi....
"Dengar, Lucius. Salah satu taktik pertarungan terbaik adalah menghindari pertarungan yang sama sekali tak kau ketahui. Melawan musuh yang jelas kau ketahui jauh lebih kuat darimu itu lebih mudah dibandingkan melawan sesuatu yang tak diketahui." jelas Carmilla seraya memberikan nasihat pada muridnya itu.
"Terimakasih telah membiarkan kami berbicara. Kalau begitu, ayo. Lucius." ucap Alora yang telah memasuki portal yang baru dibuatnya itu.
Sedangkan Lucius yang baru saja hendak melangkah pergi....
"Ambil ini." ucap Carmilla sambil melemparkan sesuatu.
"Apa ini?" tanya Lucius penasaran. Apa yang ada ditangannya adalah sebuah koin perak kecil dengan formasi sihir yang sederhana.
"Arcana buatanku. Jika kau menghancurkannya, aku akan tahu kau tidak baik-baik saja. Saat itu aku akan menemui mu menggunakan ini." ucap Carmilla sambil menunjukkan sebuah Arcana berbentuk kartu itu.
Arcana baru buatan Lucius. Bukan sesuatu yang sangat hebat. Hanya sebuah bentuk sederhana dari sihir ruang untuk menciptakan portal, dimana tujuan dari portal itu selalu diatur untuk berada di samping tubuh Lucius.
Cukup mengalirkan Mana, maka portal itu akan tercipta. Tapi Arcana itu hanya bisa digunakan satu kali saja sebelum rusak.
"Terimakasih...." balas Lucius mendudukkan kepalanya kepada Carmilla.
Carmilla membalas dengan senyuman dan lambaian tangannya. Memperhatikan sosok Lucius itu yang berjalan melalui portal buatan Alora.
__ADS_1
Meninggalkannya sekali lagi.
"Ku harap kau tak pernah membutuhkan itu, Lucius."