Murid Ratu Iblis

Murid Ratu Iblis
Chapter 60 - Arcana


__ADS_3

Pada malam harinya, Lucius berjalan pulang seperti biasa. Teman-temannya terus mengkhawatirkannya atas duel ini.


Tapi Lucius terus meyakinkan mereka bahwa takkan terjadi apa-apa pada pertarungan itu. Sedangkan Alex sendiri....


Sekalipun semua teman kelas yang lainnya telah pulang, Ia masih terus berjalan menemani Lucius hingga tiba di rumahnya.


"Aku akan menyelesaikan satu pedang sebelum hari h. Dan juga, bisa kah aku menggunakan duel itu sebagai demonstrasi kemampuanmu?" tanya Alex.


"Demonstrasi?" tanya Lucius kebingungan.


"Yah, aku telah menyatakan pada banyak keluarga bangsawan yang lain bahwa keluarga ku menjalin hubungan kerjasama dengan keluarga mu. Jadi nantinya akan ada banyak bangsawan yang hadir dalam pertarungan mu. Bagaimana?" tanya Alex.


Lucius terlihat terdiam untuk beberapa saat. Memikirkan atas semua yang dikatakan oleh Alex barusan.


"Tenang saja. Jika pertarungan mu sukses, keluarga mu juga akan sangat diuntungkan." lanjut Alex sambil terus menemani langkah kaki Lucius itu.


"Bagaimana bisa?"


"Lucius. Dalam kehidupan bangsawan, ada tiga hal yang paling penting. Kekuatan, uang, dan kekuasaan. Jika memiliki salah satu dari ketiga hal itu, nama keluarga mu akan langsung terbang ke langit.


Itu akan membuat banyak keluarga bangsawan menghormati keluarga mu. Bahkan berusaha untuk mendekati mu. Aku yakin, kau juga ingin martabat keluarga mu naik kan?" tanya Alex setelah penjelasan panjang lebarnya.


"Alex, kau tahu? Selama ini, aku hanyalah orang biasa. Jadi aku tak begitu paham soal hal-hal seperti itu. Bisakah aku mempercayakan semuanya padamu?" tanya Lucius dengan senyuman yang ramah.


Selama tiba di kota ini, Lucius hanya menghabiskan waktunya untuk belajar.


Sedangkan setelah bertemu dengan Carmilla, Lucius hanya menghabiskan waktunya untuk berlatih.


Etika bangsawan? Kebiasaan bangsawan? Hal-hal seperti itu sama sekali tak menjadi minat dari Lucius selama hidupnya.


Karena itu lah....


"Tenang saja, Lucius. Aku akan membuktikannya padamu, bahwa aku bisa menjadi tangan kanan yang sempurna untukmu." balas Alex dengan senyuman yang lebar. Ia juga memukulkan tangan kanannya pada dadanya.


"Tangan kanan? Sejak kapan...."


"Daripada membahas itu, bagaimana kau bisa menjadi sekuat itu? Apakah benar karena bakat terpendam?"


"Aah, soal itu? Yah, mungkin bakat? Atau karena kerja kerasku ya?" tanya Lucius pada Alex.


"Hah? Kenapa malah kau yang bertanya?"

__ADS_1


Sambil terus bercanda dan membahas berbagai hal, keduanya menjadi semakin dekat. Meningkatkan kepercayaan mereka satu sama lainnya sedikit demi sedikit.


............


"Hah, Alex benar-benar.... Katakan, Carmilla. Bagaimana menurutmu jika aku membagikan rahasia dari Mana Flow kepadanya?" tanya Lucius yang berdiri di depan cermin itu sembari menanggalkan pakaiannya satu persatu.


Dengan cepat, Carmilla merebut kendali tubuh Lucius dan menyilangkan kedua tangannya.


"Tidak boleh! Jika jatuh ke tangan yang salah, dunia ini akan hancur sekali lagi!" teriak Carmilla dengan menggunakan tubuh Lucius, sebelum mengembalikannya beberapa saat kemudian.


"Begitu ya? Kalau begitu, bagaimana jika versi yang lebih rendah?" tanya Lucius singkat. Kedua tangannya nampak sibuk mengganti pakaiannya. Kini mengenakan celana pendek dan kaos hitam polos.


'Kalau itu tak masalah. Aku akan merancang formasi sihirnya dan....'


Sebelum Carmilla menyelesaikan perkataannya, Lucius telah duduk di depan meja kerjanya. Menggambar formasi sihir untuk Mana Flow versi yang lebih lemah itu dengan pena miliknya.


'Hmm? Lucius, kau....'


"Apakah seperti ini bisa?" tanya Lucius sambil meletakkan penanya kembali di tempatnya.


Di atas kertas itu, terdapat rangkaian formasi sihir yang cukup berbeda dengan Mana Flow. Tapi efeknya jauh lebih kuat dibandingkan dengan formasi sihir serupa milik bangsawan manapun.


"Ba-bagaimana kau bisa membuat ini?" tanya Carmilla yang segera merebut tubuh Lucius. Ia membolak-balikkan kertas itu untuk memastikan rangkaian formasi sihir itu.


Meskipun jauh lebih rendah dibandingkan buatan Carmilla yaitu sebesar 80%, tapi itu sudah jauh di atas standar manusia di masa ini.


"Bisa kan?" tanya Lucius.


'Yah, kalau ini tentu saja bisa.' balas Carmilla singkat.


Lucius segera melipat kertas itu dan menyimpannya di pojokan mejanya. Sebelum melanjutkan pekerjaannya yang telah dimulai sejak beberapa waktu yang lalu.


Ia mengambil sebuah lempengan besi berbentuk persegi panjang itu, dengan ukuran sebesar telapak tangannya.


Pada lempengan besi itu terukir banyak rangkaian formasi sihir berukuran kecil, ukiran yang seakan-akan tertanam di dalamnya.


'Lucius, sejak dulu aku ingin bertanya tapi apa yang sebenarnya sedang kau buat?' tanya Carmilla penasaran.


Lucius segera mengangkat lempengan besi itu dan mendekatkannya pada mata kirinya. Menggunakan Clairvoyance Eye.


'I-ini?!'

__ADS_1


Di hadapan mata Lucius, dapat terlihat aliran Mana yang tersusun begitu rapi. Semuanya berjalan melewati alur formasi sihir yang terukir pada lempengan besi itu.


Sedangkan sumber dari semua Mana itu sendiri terletak pada bagian pojok kanan bawah lempengan itu. Sebuah formasi sihir berbentuk lingkaran yang memiliki ukuran sebesar ibu jari Lucius.


"Sihir Original buatanku, aku menyebutnya sebagai sebuah Arcana. Dengan kata lain, ini adalah sebuah kartu sihir." jelas Lucius.


Carmilla hanya bisa terdiam dalam takjub.


Tak pernah sepanjang hidupnya melihat rangkaian formasi sihir yang sebegitu rumitnya, namun juga sebegitu kecilnya.


Rangkaian sihir yang terdapat pada kartu Arcana Lucius itu seukuran dengan sihir tingkat atas bahkan lebih. Meski begitu, Ia berhasil menyusunnya dalam ukuran sekecil ini.


"Berkat mata ini, aku bisa mengerjakannya dengan jauh lebih baik." balas Lucius sebelum meletakkan kembali kartu itu di atas papan kayu, lalu menjepitnya dengan bantuan penjepit besi di sampingnya.


Dengan menggunakan sebuah jarum besi yang kecil, Lucius kembali mengukir rangkaian formasi sihir pada kartu itu dengan bantuan sihir apinya.


Ia memfokuskan dan memadatkan sihir apinya begitu kecil hingga menyerupai sebuah laser tipis berwarna kebiruan.


Meskipun tak begitu berguna di pertarungan yang sesungguhnya karena daya serangnya yang kecil, tapi sihir ini berguna untuk berbagai proses kerajinan tangan.


'Menarik sekali.... Ini benar-benar sangat menarik, Lucius. Sebagai seseorang sangat mencintai sihir, ini sangat lah menarik!' balas Carmilla dengan penuh kebahagian.


'Tapi, apa yang akan dilakukan kartu sihir ini?' lanjut Carmilla. Ia sama sekali tak pernah melihat sihir yang dipasang pada sebuah lempengan besi seperti ini sebelumnya.


Lucius yang masih terus bekerja memberikan balasan yang cukup mendetail pada gurunya itu.


"Singkatnya, Arcana ini akan menyimpan sihir kompleks di dalamnya. Sihir yang seharusnya membutuhkan konsentrasi tinggi untuk membuat formasi sihirnya, serta waktu yang lama untuk mengaktifkannya, menjadi instan."


'Secara instan? Sihir tingkat tinggi seperti itu? Bukankah itu terlalu kuat?' tanya Carmilla penasaran.


"Kau benar. Sihir ini terlalu kuat. Tapi kau tahu kenapa hanya ada sangat sedikit orang yang menggunakannya?" tanya Lucius.


'Kenapa?'


"Karena pembuatan Arcana sendiri sangat lah sulit, jika tidak memiliki mata ini mungkin akan memakan waktu berbulan-bulan. Dan setelah semua itu, Arcana akan hancur"


Kelemahan terbesar Arcana, tak lain adalah karena itu merupakan barang sekali pakai. Tak peduli sekuat apapun suatu Arcana, takkan mampu menutupi kelemahan itu.


Tentu saja.


Itu jika mereka adalah orang yang berbakat sejak lahir. Tak seperti Lucius yang sama sekali tak memiliki bakat itu.

__ADS_1


'Jadi, sihir seperti apa yang tertanam di dalamnya?' tanya Carmilla.


"Aaah, soal itu...."


__ADS_2