Murid Ratu Iblis

Murid Ratu Iblis
Chapter 63 - Duel


__ADS_3

'Sruugg! Sruugg!!'


Lucius berjalan secara perlahan di Arena itu. Tanah berpasirnya yang cukup dalam membuat setiap langkah kakinya terdengar begitu keras.


Dari segala arah, suara para penonton mulai terdengar. Penonton yang berupa pelajar dan juga para pengajar di akademi ini.


Tak menutup kemungkinan juga penonton dari luar akademi. Sama seperti kelompok bangsawan Goldencrest yang duduk di kursi VVIP itu. Menonton pertandingan ini dari tempat yang terbaik.


Selain mereka....


Lucius mengenali wajah seseorang dari barisan penonton itu. Seorang wanita dengan rambut coklat panjang yang diikat ekor kuda itu. Ia menonton sambil berdiri di depan salah satu pilar bangunan Arena ini.


Di punggungnya terlihat sebuah pedang besar yang terikat dengan rapi. Siap untuk digunakan kapan saja.


"Guild Master? Kenapa dia di sini?" tanya Lucius dengan suara lirih pada dirinya sendiri.


Tak ada satu pun penonton yang bersorak saat dirinya melangkahkan kaki di tengah Arena ini. Tapi begitu nama William dipanggil oleh pengurus pertarungan ini....


"Wuuuuooooohhh!!!"


"Kalahkan dia, William!"


"Berikan bocah itu pelajaran!!!"


Berbagai teriakan dukungan dapat didengar begitu keras dari segala arah. Bahkan termasuk para pengajar dan profesor dari kelas E ke atas, semuanya mendukung William.


Hanya satu orang yang tidak demikian.


"Profesor Levaria! Tolong mengerti! Lucius hanyalah pelajar di kelas F! Bahkan masih di tahun kedua! Tak mungkin dia bisa menang melawan William yang berasal dari kelas B tahun kelima!" teriak Pak Anderson tua itu sambil terus memohon pada seorang wanita di hadapannya.


Wanita itu nampak memiliki rambut panjang yang selalu diikat rapi, dengan warna biru yang cukup gelap dan terkesan begitu dalam. Di atas semua itu, Ia mengenakan sebuah kacamata yang terikat sebuah rantai tipis pada lehernya.


Dengan pakaian berupa gaun putih yang menawan di balik jubah hitam akademi Damacia itu, Ia mendorong sosok Anderson dengan menggunakan tangan kirinya.


"Menjauh lah dariku, pria tua pikun. Lucius sendiri yang menerima Duel ini. Lagipula, Goldencrest adalah keluarga donatur terbesar di akademi ini. Tak mungkin kami membatalkan Duel ini hanya untuk seorang pelajar kelas F bukan?" ucap profesor Levaria itu.


Sebagai seorang profesor akademi termuka dan paling berbakat, Levaria Silverhide diberikan tanggungjawab untuk mengelola akademi ini sebagai kepala akademi.


Jika Ia mau, dirinya bisa saja membatalkan Duel ini dan menyelamatkan satu nyawa.


Itu lah yang dipikirkan oleh Pak Anderson. Ia memikirkan bagaimana nasib Lucius jika harus melawan pelajar yang bahkan telah melewati peperangan di perbatasan.


Meski begitu....


"Sudahlah Pak Anderson. Biarkan saja, lagipula ini pilihan Lucius sendiri." ucap Profesor Magnus di sebelahnya.


"Profesor Magnus! Tolong bantu aku meyakinkan kepala akademi soal ini!" teriak Pak Anderson yang terus memohon.


Setelah membantu Anderson bangkit, Profesor Magnus hanya memberikan senyuman yang sinis sembari berbicara.


"Lagipula, Lucius itu bukanlah murid yang berbakat dan selalu membuat masalah. Aku telah memperingatkannya berkali-kali, jadi biarkan ini menjadi pelajarannya." ucap Profesor Magnus.


Merasa tak ada harapan, Pak Anderson hanya bisa mengangkat kakinya. Meninggalkan barisan para Profesor yang telah dipengaruhi oleh keluarga bangsawan itu.


Mereka yang seharusnya menjadi pendidik, justru dibutakan oleh 'donasi' yang diberikan oleh orangtua para bangsawan yang menempuh pendidikan di akademi ini.


"Lucius.... Maafkan aku...." keluh Pak Anderson pada dirinya sendiri. Hingga Ia melihat apa yang ada di tengah Arena itu.

__ADS_1


............


Sementara itu di tengah Arena....


Sosok William Goldencrest terlihat begitu memukau. Tak salah lagi dari rasa percaya dirinya dan juga kuda-kudanya, William adalah orang yang sangat kuat.


Bagaimana pun, Ia berhasil mengabdi di garis depan. Melewati peperangan yang mengerikan dengan kerajaan lain.



Dengan menggunakan sebuah pedang di tangan kirinya serta sebuah tongkat sihir di tangan kanannya, William nampak siap untuk menghabisi Lucius kapan saja.


"Lucius, ada kata-kata terakhir sebelum aku mengirim mu ke neraka?" tanya William dengan angkuhnya.


Ia memandang rendah sosok Lucius yang berdiri di hadapannya. Tak hanya berasal dari kelas F yang paling rendah, bahkan tak ada satu pun yang mendukungnya di akademi ini.


Tapi setelah beberapa saat mendengar perkataan William itu, Lucius hanya terdiam. Berdiri dengan tatapan mata yang terkesan begitu lelah.


"Hoaaaahm.... Sudah mau mulai?" tanya Lucius sambil menguap.


Sejak Lucius mulai mengistirahatkan badannya dari latihan ekstrim itu, entah kenapa Ia justru merasa lelah. Mungkin kelelahannya yang sejak lama terpendam mulai bermunculan.


"Kau.... Aku mengerti. Rasa percaya dirimu itu berasal dari Damon ya?" tanya William dengan tatapan yang tajam.


"Hah? Damon? Maaf, aku begadang semalam jadi masih sedikit mengantuk." balas Lucius yang masih menguap beberapa kali lagi.


"Damon Emberheart. Setelah berhasil mengalahkan pelajar kelas C itu, kau pikir bisa menang melawanku? Jangan salah sangka. Kelas C di tahun kedua itu setara dengan kelas E di tahun kelima." balas William kesal.


"Tunggu, aku sama sekali tak paham apa yang kau katakan." balas Lucius yang membuat ekspresi penuh kebingungan itu. Ia nampak mengangkat salah satu alis matanya saat berbicara.


"Baiklah. Kalau begitu, akan ku perlihatkan bagaimana kesombonganmu itu akan menjadi awal kematianmu." balas William.


Dalam pikirannya, William terfokus pada sosok Lucius yang berdiri begitu santainya. Bahkan sama sekali tak memasang kuda-kuda untuk persiapan pertarungan ini.


Tak hanya itu....


'Apa-apaan bocah ingusan ini?! Dia bahkan tak memegang senjata apapun?! Apakah dia benar-benar bodoh?! Atau....' pikir William dalam hatinya dengan sungguh-sungguh.


Beberapa saat kemudian....


"Duel, dimulai!!!" teriak salah seorang pengurus di Arena ini.


Dalam kurang dari setengah detik setelah mendengar bahwa pertandingan itu dimulai, William dengan cepat memulai serangannya.


Ia memulai dengan menggunakan tongkat sihir di tangan kanannya. Menyemburkan lautan api yang begitu panas tanpa perlu menciptakan formasi sihir.


Sedangkan dari tangan kirinya, Ia mengayunkan pedangnya. Membuat tebasan elemen angin yang sangat kuat. Tak hanya untuk membelah dua tubuh Lucius, tapi juga untuk memperkuat sihir apinya.


Lucius yang masih terlihat berdiri dengan santai di hadapannya, membuat William yakin.


Bahwa bocah ingusan kelas F ini akan mati saat itu juga.


Tapi....


'Zraaattt!!!'


Dengan dua jari tangan kanannya, Lucius membuat formasi Trias Shield di depannya yang membentuk seperti belah ketupat. Melindungi seluruh tubuhnya dari bagian depan.

__ADS_1


Ia melakukannya hanya dalam sepersekian detik. Bahkan tak cukup cepat untuk mata penonton melihatnya secara langsung.


Kecuali....


'Braaakkk!!!'


"Ketua?" tanya seorang pria bertubuh besar itu, yang tak lain adalah Ethan setelah melihat gadis di sampingnya bangkit dari kursinya secara tiba-tiba.


Gadis dengan rambut perak yang indah serta mata keunguan itu, tak lain adalah Luna Frostbourne.


"Ti-tidak mungkin...." ucap Luna dengan tubuh gemetaran tak karuan. Seakan-akan baru saja melihat monster yang begitu mengerikan.


Tak lama setelah itu, tubuh Luna yang lemas langsung terjatuh ke tanah begitu saja. Dengan kedua lutut sebagai tumpuannya.


Salah satu matanya nampak sedikit bercahaya, menandakan bahwa Ia baru saja menggunakan Clairvoyance Eye untuk melihat pertarungan barusan.


Dan dari apa yang dilihatnya....


"Ketua? Kau baik-baik saja? Ada apa?" tanya Ethan yang berusaha membantu Luna untuk berdiri.


"Dia.... Apakah benar-benar Lucius Nightshade?" tanya Luna dengan suara yang begitu lirih.


Wajahnya nampak memucat dengan keringat dingin yang mengucur di seluruh tubuhnya. Bahkan saat Ethan berusaha membantunya duduk kembali, Ia dapat merasakan tubuh Luna masih begitu lemas.


"Tentu saja. Ada apa?" tanya Ethan sekali lagi.


"Dengan Mana yang bahkan telah melampaui diriku? Kau yakin?"


"Eh?"


Saat itu juga, Ethan melihat kembali ke arah Arena itu. Dari balik kobaran api yang mulai menghilang itu, terlihat sosok Lucius masih berdiri dengan tenang tanpa sedikit pun luka di tubuhnya.


Ethan akhirnya tersadar atas apa yang dikatakan oleh Luna barusan. Tak lama setelah itu, perasaan ngeri dan juga takut mulai menjalar di sekujur tubuhnya.


"Ada apa, William? Hanya segini saja?" tanya Lucius yang berusaha untuk memprovokasi William itu.


"Hah?! Ti-tidak mungkin?!"


Para penonton yang melihat pertandingan ini, semuanya sangat yakin bahwa Lucius seharusnya mati dengan serangan barusan. Lantas kenapa Ia masih berdiri?


Lebih dari itu....


"Kalau begitu sekarang giliran ku? Akan ku ajarkan padamu, bagaimana caranya menggunakan sihir api." ucap Lucius dengan nada yang begitu dingin.


Tangan kanannya nampak meraih ke samping leher kirinya, seakan-akan meraih sesuatu yang tak terlihat.


Dari samping lehernya, muncul sebuah portal sihir kecil dimana tangan kanannya meraih pedang Mithril buatan Brown Smithworks itu dan menariknya secara perlahan.


Sedangkan tangan kirinya nampak mengumpulkan sihir api tanpa rapalan dan juga tanpa formasi sihir sedikit pun.


Meski terlihat begitu kecil, William dapat menyadarinya bahwa api kecil yang terkumpul di tangan kiri Lucius jauh lebih kuat dari lautan api miliknya barusan.


'Sihir ruang?! Ba-bagaimana bisa dia mempelajari sihir serumit itu?! Bukankah hanya ada segelintir orang saja di kerajaan ini yang bisa menggunakan sihir ruang?! Terlebih lagi, bukankah dia tidak menciptakan formasi sihir untuk mengaktifkannya?! Lalu.... Apa-apaan dengan api itu?!' pikir William ketakutan.


Ia baru saja menyadari, bahwa kepercayaan diri Lucius tidak berasal dari kebodohannya. Melainkan rasa percaya diri yang berasal dari kekuatan mutlak itu sendiri.


"Jadi, William. Kau siap?"

__ADS_1


__ADS_2