Murid Ratu Iblis

Murid Ratu Iblis
Chapter 24 - Kabar yang Tertinggal


__ADS_3

'Kreeekk!'


Pintu ruang kelas F itu terbuka secara perlahan. Memperlihatkan sosok Lucius yang nampak kelelahan itu.


"Pagi...." ucap Lucius dengan suara yang lemas.


Semua teman-temannya menoleh, melihat penampilan Lucius yang berbeda jauh dari biasanya itu.


"Pagi, Lucius. Apa yang terjadi padamu?" tanya Sophia penasaran, sekaligus khawatir.


Dengan tatapan mata yang begitu kelelahan dan penuh rasa kantuk, Lucius pun menjawab.


"Hanya sedikit kesulitan tidur...."


Tentu saja, Lucius tak bermaksud untuk berbohong. Tapi juga tak memiliki niatan untuk mengatakan yang sebenarnya.


Bahwa dirinya kemarin berburu hingga tengah malam. Dan pada pagi harinya saat matahari belum bersinar, Lucius bersikukuh untuk kembali berlatih menggunakan Mana Flow.


Lucius yang hanya tidur sekitar 3 jam setelah banyak aktivitas fisik, tentu akan sangat kelelahan.


"Oi, kau serius? Kau tak dengar hari ini ada apa?" tanya Max sedikit panik.


"Eh? Ada apa?"


Emily terlihat mengendalikan dua boneka beruangnya. Dua boneka beruang itu membawakan selembar kertas kecoklatan pada Lucius.


"Apa ini?" tanya Lucius sambil membungkukkan badannya untuk meraih kertas itu.


Saat melihatnya, kedua mata Lucius langsung terbuka lebar.


"A-apa apaan ini?! Kenapa aku baru tahu?! Kapan dibagikan?!" tanya Lucius panik.


Teman-teman sekelasnya nampak saling memandangi wajah satu sama lain sebelum menghela nafas mereka.


"Hah.... Kelas E sialan itu. Jangan katakan mereka sengaja tidak memberikannya padamu?" tanya Alex dengan nada kesal.


"Kelas E?"


"Ketua Dewan Pelajar, Luna Frostbourne membagikannya kemarin sore. Dan yang ditugaskan untuk tahun kedua adalah kelas E. Mereka pasti sengaja tak mengirimkannya padamu." jelas Oliver.


Max di ujung kelas nampak menggaruk-garuk kepalanya karena keheranan.


"Sebenarnya, apa yang telah kau lakukan hingga dibenci semua orang, Lucius?" tanya Max.


"Kau tanya padaku? Bukankah kau juga sekelas denganku di kelas E sebelumnya?"


Max tak mampu menjawab dan hanya bisa memalingkan wajahnya. Menghindari kontak mata dengan Lucius.


Itu karena Max, termasuk Alex, Oliver dan Emily sama sekali tak ingin terlibat dalam masalah antara Lucius dengan Edward.

__ADS_1


Dan karena itu lah, mereka sengaja menyingkir tanpa memihak siapapun. Hanya menjadi penonton dalam diam.


"Maaf...." lanjut Max.


Tapi Lucius sama sekali tak peduli dengan masa lalu itu. Karena apa yang ada di hadapannya saat ini....


...[Evaluasi Dadakan]...


...[Kami, Dewan Pelajar, memperhatikan bahwa kinerja dan kemampuan pelajar mulai menurun setiap tahunnya. Oleh karena itu, kami akan mengadakan evaluasi dadakan untuk melihat kemampuan kalian secara langsung]...


...[Kemampuan yang akan kami uji yaitu : Kemampuan fisik dan kapasitas Mana. Jika kalian tak lulus dari standar yang telah kami tetapkan, dengan kuasa Dewan Pelajar, kami akan mengeluarkan kalian saat itu juga]...


...[Tertanda, Luna Frostbourne]...


Keringat dingin mulai mengucur di wajah Lucius setelah membaca semuanya dengan rinci.


Bagaimana tidak?


'Buahahaha! Bukan kah kau sangat sial, Lucius? Kau menguras habis Mana mu pagi ini, dan sekarang ada pengujian kapasitas Mana? Sudah dipastikan kau akan keluar bukan?!' teriak Carmilla sambil tertawa keras.


'Glek!'


Lucius menelan ludahnya sambil berpikir bahwa ini adalah situasi terburuk yang bisa diharapkannya.


Karena Mana miliknya telah terkuras habis pagi ini, sudah dapat dipastikan bahwa Ia takkan lulus di pengujian kapasitas Mana. Sekalipun sebenarnya Ia memiliki kapasitas yang cukup besar sekalipun.


"Ba-bagaimana bisa dia membuat keputusan seperti mengeluarkan pelajar yang lain? Memangnya siapa dia sebenarnya?" tanya Lucius kesal.


Sementara itu, teman-temannya yang lain nampak memberikan jalan dan juga ketenangan pada Alex.


'Tap!'


Alex meletakkan tangannya di pundak kiri Lucius sembari memberikan tatapan yang begitu serius.


"Kau benar-benar anak kampung ya?" tanya Alex kesal.


"Maaf jika memang begitu kenyataannya." balas Lucius sambil memalingkan wajahnya.


"Hah...."


Terlihat Alex menghela nafasnya. Seakan bersiap untuk memberikan penjelasan yang cukup panjang pada Lucius.


"Luna Frostbourne, ketua Dewan Pelajar di Akademi Damacia ini, merupakan murid paling berbakat yang pernah dilihat oleh akademi. Sebagian besar Profesor di akademi ini memperlakukannya dengan istimewa. Dikatakan, dia akan segera meraih peringkat S di tahun keempat atau kelimanya."


"Eh?! Tunggu! Dia sudah mencapai kelas A di tahun ketiga?!" tanya Lucius panik.


Alex terlihat menganggukkan kepalanya sembari terus menepuk pundak Lucius.


"Dan kau tahu? Bahkan Pahlawan Sihir yang saat ini, Alora Skyweaver, telah mengakui bakatnya dan berminat untuk mendidiknya setelah kelulusan di akademi ini."

__ADS_1


'Deg! Deg!!'


Jantung Lucius seketika berdegup begitu kencang setelah mendengar kenyataan itu.


Hatinya kini dipenuhi oleh satu buah emosi saja. Yaitu rasa iri.


Bagaimana bisa, pelajar yang hanya satu tahun lebih tua darinya, telah diakui oleh Pahlawan Sihir yang saat ini, yaitu Alora Skyweaver. Sosok penyihir jenius yang bisa mengendalikan ruang dan dimensi itu sendiri.


Tapi....


'Bukankah kau juga telah diakui oleh seseorang yang cukup hebat?' tanya Carmilla dengan nada yang begitu gembira.


Lucius pun tersadar. Bahwa memandangi keberuntungan orang lain dengan perasaan iri, sementara dirinya sendiri juga telah memperoleh keberuntungan yang tak pernah bisa dibayangkan oleh orang lain....


Adalah sebuah pertanda keserakahan.


"Maaf." ucap Lucius sambil tersenyum tipis.


"Maaf? Kenapa minta maaf padaku? Aku hanya menjelaskannya sekilas pada...."


Lucius segera berjalan melewati sosok Alexander Brown itu. Dan. segera duduk di kursinya.


Dalam pikirannya saat ini hanya satu. Yaitu entah bagaimana caranya, memulihkan Mana di dalam tubuhnya dengan cepat sebelum Dewan Pelajar itu datang dan melakukan evaluasi di kelas F ini.


"Mereka, mungkin akan datang di kelas F ini paling akhir kan?" tanya Lucius penasaran.


"Kau benar. Kelas F bisa dipastikan akan diuji paling akhir. Jadi Lucius, kau mungkin bisa beristirahat sejenak?" tanya Alex kembali.


Tanpa mendengarkan akhir dari perkataan Alex, Lucius telah tertidur dengan meja sebagai sandarannya.


Hanya itulah yang bisa dilakukannya untuk setidaknya memulihkan sebagian Mana nya.


"Dia sudah tertidur?" tanya Sophia dengan senyuman di wajahnya saat melihat ke arah Lucius.


"Biarkan dia beristirahat. Melihat Lucius kelelahan seperti itu...." balas Max.


"Aku mengerti. Aku akan memikirkan alasan untuk diberikan pada Pak Anderson nanti." ujar Oliver.


Sementara itu, Emily terlihat mengendalikan dua boneka beruang kecilnya itu untuk memijat pundak Lucius yang kelelahan.


"Emily.... Membantu...." ucapnya dengan suara yang lirih.


Tapi tentu saja.


"E-Emily, ku rasa itu takkan membantu?" tanya Sophia dengan tawa yang canggung.


Pada akhirnya, Pak Anderson datang untuk mengajar. Beberapa alasan tak masuk akal yang diberikan oleh Oliver, sekaligus sifat pikun pak Anderson, berhasil membuat Lucius diperkenankan untuk beristirahat di dalam kelas selama tak mengganggu pelajaran.


Dan semuanya....

__ADS_1


Mengikuti pelajaran dengan perasaan mengganjal di hati mereka. Karena tak pernah tahu kapan Dewan Pelajar itu akan datang dan melakukan evaluasi di kelas F ini.


Serta apakah mereka bisa lulus dari evaluasi dadakan ini atau tidak.


__ADS_2