
Sementara itu di wilayah Barbarian bagian Utara....
"Maaf, nampaknya kami gagal." ucap Eldrath singkat. Ekornya nampak bergerak kesana kemari saat mengutarakan hal tersebut.
Sedangkan Rynar yang berdiri di sebelahnya hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Tak ku sangka ada orang lain yang bisa menggunakan sihir ruang, jadi aku tak cukup cepat untuk mencegah mereka kabur." ujarnya.
"Orang lain?" tanya Aurellia singkat. "Apakah seorang laki-laki berambut hitam?" lanjutnya.
"Nona Aurellia benar! Orang itu pada awalnya ku pikir lemah dan tak berguna karena terus bersembunyi di garis belakang. Tapi ternyata dia bertugas untuk menjaga jalur kabur!" ujar Rynar dengan penuh antusias.
Aurellia yang mendengar informasi itu nampak marah. Dengan sekuat tenaga, Ia melempar gelas kaca berisi cairan kemerahan itu ke samping hingga pecah.
'Pyaaaaarrr!!!'
"Tak bisa dimaafkan!" teriak Aurellia. "Benar-benar tak bisa dimaafkan!"
"No-Nona Aurellia?" tanya Rynar penasaran.
"Wilayah manusia, bagian Selatan, Akademi Damacia." balas Aurellia singkat. Membuat baik Rynar maupun Eldrath kebingungan.
"Ada apa di sana, Nona Aurellia?" tanya Eldrath penasaran. Ekornya mulai terdiam sejak tadi melihat kemarahan Aurellia. Meskipun tipis, tapi terlihat di wajahnya sebuah senyuman yang samar-samar.
"Orang sialan itu.... Orang yang membunuh guruku.... Bisakah aku meminta kalian membunuhnya?" tanya Aurellia dengan kemarahan dan kebencian yang dapat terlihat jelas di wajahnya.
Mana miliknya yang begitu besar nampak tersebar memenuhi ruangan ini. Membuat beberapa prajurit Barbarian yang berjaga di sekitarnya jatuh pingsan karena tak mampu menahan kepekatan Mana setinggi ini di udara.
"Tentu sa...."
"Dengan segala hormat, Nona Aurellia." ucap Eldrath memotong perkataan Rynar. Ia mengarahkan lengan kirinya di hadapan Rynar, memintanya untuk tutup mulut.
"Tapi menyerang Akademi Damacia yang berada jauh di selatan terlalu berat untuk kita saat ini. Sekalipun kita menyusup menggunakan sihir ruang milik Nona Aurellia, tapi tetap saja. Di Akademi itu terdapat banyak monster yang mengerikan." jelas Eldrath rinci.
"Monster, kau bilang?! Kau pikir aku tak bisa...."
"Aku tahu perasaan Anda. Tapi tolong mengerti, bahwa pahlawan penyihir kemungkinan besar saat ini ada di sana. Jika kita memaksa masuk, peluang besarnya kita akan masuk dalam jebakan mereka dan dikalahkan dengan mudah." balas Eldrath memotong perkataan Aurellia.
Dalam hatinya, Eldrath berpikir. "Jadi Aurellia memiliki dendam pada bocah itu? Hmm, aku mengerti. Kalau begitu, aku harus memanfaatkan momen saat keduanya bertemu bukan? Tentunya, jangan di wilayah manusia. Aku harus melakukan segalanya untuk mencegahnya kesana."
"Kenapa kau menghalangiku, Eldrath?!" tanya Aurellia penuh amarah.
"Menghalangi? Sama sekali tidak seperti itu. Seperti yang Anda tahu, persiapan untuk menjadi iblis yang seutuhnya sudah hampir selesai bukan? Bukankah akan lebih bijak jika melawannya saat Anda telah berevolusi menjadi iblis dengan jantung itu?" tanya Eldrath memandangi ke arah kotak emas yang ada di dekat tahta Aurellia itu.
Kotak emas itu disegel dengan Rune tingkat tinggi, juga dengan berbagai sihir tipe Barrier dan juga sihir jebakan. Membuat hanya Aurellia yang bisa membukanya.
Meski begitu, semua bawahannya telah mengetahui apa yang ada di dalamnya. Yaitu jantung iblis asli yang tersegel dalam es abadi, yang dikatakan telah punah ribuan tahun yang lalu.
__ADS_1
"Aku mengerti. Terimakasih telah berpikir rasional untukku, Eldrath." balas Aurellia setelah menyadari kesalahannya.
"Aah, terimakasih atas pujiannya, Nona Aurellia . Meskipun.... Bukankah itu fungsi dari keberadaanku menurut Anda?"
Aurellia bertemu dengan Eldrath beberapa bulan yang lalu. Sekitar dua Minggu setelah dirinya mengamuk di wilayah Barbarian ini.
Atau lebih tepatnya.... Eldrath lah yang menemukan Aurellia. Pada pertemuan itu, Aurellia terkejut setelah menyadari bahwa Eldrath memiliki karakteristik yang paling langka di dunia yang dipenuhi sihir ini.
Yaitu sebuah kenyataan bahwa Eldrath tak memiliki sedikit pun Mana di dalam tubuhnya.
Saat Aurellia menawarkan sosok Dragonnewt itu untuk bekerja dibawahnya, Eldrath dengan senang hati menerimanya. Menawarkan kecerdasan dan kebijaksanaan yang selama seratus tahun lebih ini Ia kumpulkan.
Salah satunya, adalah untuk mengerem tindakan Aurellia jika terlalu berbahaya.
"Sekali lagi, terimakasih." ucap Aurellia.
...............
Sementara itu di Katredal Suci, Titania.
"Hah.... Serius. Kau menarikku dalam situasi yang sangat berbahaya ini? Lagipula, dimana pahlawan pedang? Kenapa dia tak ikut membantu?" keluh Lucius sambil duduk di salah satu kursi panjang untuk pengunjung Katredal itu.
Mendengar pertanyaan Lucius, Alora segera berniat untuk memperjelas nya.
"Eh, aku bisa menemuinya?" balas Lucius.
Alora mengangguk secara perlahan, sebelum membuka sebuah portal di kejauhan. "Portal itu akan membawamu menemui pahlawan pedang. Tapi maaf, aku takkan ikut. Kau bisa kembali sendiri kan?" tanya Alora.
"Ya, aku bisa kembali sendiri." balas Lucius. Ia segera melangkahkan kakinya menuju portal yang entah akan membawanya kemana itu.
Secara perlahan, tubuhnya mulai melewati portal itu dan terbawa ke tempat yang lain. Sebuah rumah kecil dengan dinding kayu yang sederhana, juga dengan sebuah perapian yang hangat.
Baru satu langkah di rumah itu, Lucius langsung mendengar sambutan dari seseorang.
"Oooh.... Pengunjung ya? Sudah sejak kapan orang tua ini mendapat pengunjung?" ucap seorang pria tua dengan postur tubuh yang bungkuk itu. Ia nampak berjalan dengan menggunakan pedang yang disarungkan sebagai tumpuannya berdiri.
Kulitnya yang penuh akan keriput, begitu pula dengan kakinya yang terus menerus gemetar pada setiap langkahnya. Membuat Lucius paham atas sikap Alora pada pahlawan pedang. Sikap yang selalu meneriakinya sebagai tua bangka yang tak berguna.
Sekalipun dengan penampilan dan tubuh yang sangat lemah itu, Ia tetap lah seorang pahlawan.
"Maaf mengganggu waktu Anda. Nona Alora mengirim saya kemari untuk melihat kondisi Anda." ucap Lucius sambil membungkukkan badannya untuk memberi hormat.
"Alora.... Alora.... Siapa?" tanya pria tua itu.
"Ugh, nampaknya benar-benar pikun seperti perkataan Alora." pikir Lucius dalam hatinya.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong, namaku Lucius. Seorang pelajar di akademi sihir." ucap Lucius sambil mengulurkan tangan kanannya untuk berkenalan.
"Lucius ya. Masih muda sekali.... Namaku.... Namaku.... Siapa ya?" balas sang pahlawan pedang.
Pada setiap perkataannya, Lucius semakin tersadar bahwa pahlawan pedang tak mungkin bisa diharapkan untuk pertarungan melawan organisasi misterius itu.
Memangnya apa yang bisa dilakukan pria tua ini, yang bahkan tak mampu mengingat namanya? Tapi saat pria tua itu melihat pedang di sabuk kiri Lucius, matanya yang sebelumnya seakan tak bernyawa mulai menampakkan cahaya.
"Oooh, kau juga bisa menggunakan pedang, Nak? Eeh, siapa namamu tadi? Kalius? Malius?" ucap pria tua itu.
"Lucius! Yah, sedikit saja."
"Pinjamkan pedangmu itu."
Lucius segera menarik bilah pedang Mithrilnya itu. Dengan perjuangan yang keras, Pria tua itu berusaha untuk mengangkat pedang Lucius.
"Uughh! Berat sekali! Dasar, anak muda zaman sekarang bukannya menggunakan logam tapi menggunakan batu untuk membuat pedang?" keluhnya saat berusaha mengangkat pedang Lucius.
Mithril sendiri adalah salah satu logam terkuat, namun juga yang paling ringan. Meski begitu, tenaga dan juga pikiran pahlawan pedang yang telah habis dimakan oleh waktu tak lagi mampu untuk mengangkat maupun menyadarinya.
"Hah! Berat sekali! Eeh, aku mau apa tadi?"
Lucius hanya bisa terdiam memandangi sosok pria tua itu. Dalam hatinya, Ia merasa hormat padanya setelah menyadari betapa banyaknya bekas luka di tubuhnya.
Sementara itu, Lucius juga merasa kasihan. Melihat hari-hari akhir sang pahlawan pedang di hadapannya harus menjadi sosok yang seperti ini. Hidup di rumah kayu kecil di tengah hutan sendirian.
"Maaf tapi aku penasaran. Bisakah aku melihat teknik pedang Anda?" tanya Lucius.
"Hohoho, tentu saja." balasnya singkat sambil membuang pedang Lucius di lantai.
Akan tetapi.... Semua rasa kasihan dalam hati Lucius itu menghilang setelah pria tua itu mengambil sebuah ranting kecil di mejanya.
Ia berjalan keluar rumah dan mengayunkan ranting kecil itu secara vertikal.
Saat itu lah, Lucius melihat aliran Mana yang luarbiasa kuat mengalir dari jantung pria tua itu menuju tepat ke tangan kanannya. Sebelum akhirnya menyelimuti ranting itu dan terhempas bersamaan dengan ayunannya.
'Blaaaaaaaaaaaaarrrr!!!'
Sebuah gelombang kejut yang kuat muncul dari arah tebasan ranting kayu itu. Menjatuhkan beberapa pohon di kejauhan, juga membelah tanah hingga sedalam beberapa meter.
"A-apa yang?!" teriak Lucius terkejut setelah menyadari semua itu hanya berasal dari ayunan ranting kecil dengan tubuh rapuh pria tua itu.
'Braak!'
"Adududuh!! Punggungku! Lenganku juga sakit! Marius! Tolong aku!" teriaknya sesaat setelah mengayunkan ranting kayu itu.
__ADS_1