Murid Ratu Iblis

Murid Ratu Iblis
Chapter 92 - Permintaan


__ADS_3

"Kau boleh kembali sekarang, Lucius." ucap Mary dengan ramah.


Alora juga terlihat menciptakan sebuah portal di luar ruangan ini. Menunggu Lucius untuk berjalan memasukinya dan kembali ke akademi.


Tapi....


"Sebelum itu, bisakah aku bertanya satu hal lagi?" tanya Lucius singkat.


Alora terlihat sedikit kesal atas sikap Lucius pada Mary. Menganggap bahwa dirinya tak menghormati Mary sedikitpun.


Dari balik tirai itu, bayangan Mary terlihat mengangkat tangannya. Meminta Alora untuk menahan emosinya.


"Tak masalah. Apa yang ingin kau tanyakan?"


Meskipun Lucius sedikit ragu untuk menanyakannya tepat di depan Alora, tapi Ia harus mengetahui jawabannya saat ini juga.


"Bagaimana kau mengetahui tentangnya?" tanya Lucius singkat sambil menundukkan kepalanya dalam ketakutan.


"Tentangnya? Siapa maksudmu?" tanya Alora yang ikut penasaran. Tapi Lucius tetap saja terdiam, tak ada niat untuk menjawabnya.


Sedangkan Mary sendiri mengetahui persis atas siapa yang ditanyakan oleh bocah laki-laki itu.


"Dewi Lunaria yang memberitahukannya padaku. Tapi Dewi berkata, 'Tak ada yang perlu dikhawatirkan darinya. Juga darimu.' Itulah kenapa aku mohon padamu, Alora.


Biarkan Lucius menjalani kehidupannya secara normal. Karena aku hanya bisa melihat kepedihan di hidupnya selama satu tahun yang lalu. Dan juga, kemungkinan besar Lucius akan menjadi kunci atas keselamatan kerajaan ini di hari dimana kegelapan akan bangkit."


Penjelasan Mary yang panjang dan lebar itu membuat mata Lucius terbelalak. Ia benar-benar tak ingin mempercayai semua itu. Akan tetapi, semua perkataannya selalu tepat sasaran.


Seakan-akan Mary benar-benar bisa melihat apa yang pernah, sedang dan akan terjadi pada seseorang.


Meskipun bayaran dari kekuatan itu sangat lah mahal.


"Saya mengerti." balas Alora yang segera kembali berlutut dan menundukkan kepalanya di hadapan Mary.


"Terimakasih...."


Hanya satu kata itu yang dapat terpikirkan oleh Lucius saat ini. Melihat seluruh tuduhan terhadapnya dari Gereja benar-benar telah dibersihkan begitu saja.


Sekalipun Lucius tak lagi bisa melihat wajah Mary yang tertutupi oleh kain tirai itu, Ia merasa yakin. Bahwa saat ini pun Mary masih terus tersenyum dengan hangat sekalipun tubuhnya baru saja terluka parah.


'Sosok yang dipenuhi dengan kebaikan dan kehangatan.... Ini kah Gadis Suci, Mary? Sosok yang dipilih oleh Dewi Lunaria sebagai perantaranya secara langsung terhadap dunia ini?' pikir Lucius dalam hatinya.


Setelah melihat semua ini, Lucius secara langsung merasa paham kenapa Alora begitu hormat padanya.


Bukan karena posisinya yang lebih tinggi atau lebih dekat dengan Dewi Lunaria saja.


Tapi karena Mary adalah satu-satunya manusia yang bisa dianggap benar-benar suci. Perkataan ataupun tindakannya selalu dipenuhi dengan kebaikan dan kehangatan.


Tak peduli berapa banyak yang dia korbankan, Mary tetap terus menjaga senyumannya. Dan semua itu sama sekali bukan untuk dirinya.


Melainkan untuk umat manusia itu sendiri.


"Sungguh, terimakasih." ucap Lucius sekali lagi, kini sambil bersujud ke arah Mary yang berada di balik kain tirai itu.


.............


'Swuuushh!!!'


Setelah melewati portal itu, Lucius kembali ke tempat yang sebelumnya. Yaitu di ruang tunggu Arena Akademi.

__ADS_1


"Maaf, telah meragukanmu." ucap Alora yang tak berani menatap mata Lucius itu.


"Tak masalah. Jika aku di posisi mu, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama." balas Lucius.


Alora terlihat membuka sebuah portal kecil, meraih sesuatu dari dalamnya menggunakan tangan kanannya.


Setelah beberapa saat....


"Untuk mu. Jika Dewi Lunaria meramalkan kau akan menjadi kunci keselamatan kerajaan ini, kau butuh kekuatan yang lebih besar kan." ucap Alora sambil memberikan sebuah buku tebal dengan sampul putih dan emas yang indah.


"Apa ini?"


Alora terlihat terdiam untuk beberapa saat sebelum menjawabnya.


"Seluruh hasil penelitian ku mengenai sihir Cahaya. Yah, aku tahu kau takkan bisa menggunakannya tanpa berkah dari Dewi Lunaria. Tapi mungkin suatu hari nanti.... Kau akan terpilih menjadi pahlawan. Entah menggantikan diriku, atau pahlawan pedang." jelas Alora dengan senyuman yang ramah.


Mempelajari berbagai teknik dari sihir cahaya sebelum memperoleh berkah dari Dewi. Tentu saja informasi itu sangat lah berharga bagi Lucius.


Tapi....


'Apakah aku benar-benar bisa terpilih menjadi pahlawan?'


Itu adalah kalimat yang dipertanyakan Lucius saat meraih buku itu.


"Kenapa?" tanya Alora penasaran.


"Tidak. Aku hanya tak yakin bisa terpilih menjadi pahlawan." balas Lucius dengan wajah yang sedikit murung.


Jika menghabiskan banyak waktu untuk mempelajari sihir yang bahkan belum bisa digunakannya, lalu bukankah waktu yang digunakannya itu akan menjadi sia-sia?


'Srrruugg!!!'


Alora terlihat membelai lembut rambut hitam Lucius yang mulai agak panjang itu.


"Sekalipun kau tak terpilih, setidaknya kau bisa membantu pahlawan berikutnya untuk belajar bukan?"


"Aah.... Jadi begitu. Ya, benar juga."


Setelah menyerahkan buku itu, Alora berpamitan pada Lucius. Ia membuka sebuah portal baru di hadapannya.


"Pahlawan benar-benar sibuk ya?" tanya Lucius sebagai basa-basi.


Tapi dari pertanyaan basa-basi itu, wajah Alora seketika berubah drastis. Seakan Lucius menanyakan sesuatu yang tak sebaiknya ditanyakan.


"Kabarnya pergerakan Barbarian di Utara sangat aneh. Aku berniat untuk memeriksanya. Yah, ini seharusnya tugas pahlawan pedang tapi dia sudah tua dan menolak untuk cepat-cepat mati." keluh Alora sebelum pergi meninggalkan Lucius sendirian.


"Eh? Pergerakan Barbarian?"


............


Sementara itu di wilayah Utara


Tepatnya di dalam salah satu rumah suku Barbarian yang besar ini....


"Karkath! Kenapa kau tunduk pada manusia?!" teriak salah seorang barbarian dengan tato garis hitam di wajahnya.


Ia terlihat mengarahkan pedang besarnya yang sudah rusak di berbagai bagian itu kedepan. Tepatnya pada seorang gadis yang duduk di kursi kepala suku itu dengan santai.


"Rovreth! Lihat Karkath!" ucap seorang barbarian lain di sampingnya sambil menunjuk ke arah Barbarian yang bernama Karkath itu.

__ADS_1


Karkath memiliki tubuh yang besar dengan tinggi 2.1 meter. Badannya yang kekar itu dihiasi dengan tato garis-garis hitam di hampir sekujur tubuhnya.


Di tangan kanannya, Karkath nampak membawa sebuah gada besi yang besar.


Tapi....


Barbarian yang dulunya adalah kepala suku di tempat ini, sekarang terlihat sama sekali tak memancarkan aura kehidupan.


Tatapan matanya begitu kosong layaknya sebuah boneka yang menuruti segala kemauan pemiliknya.


"Percuma saja. Karkath adalah mainan terbaikku sekarang." ucap gadis itu dengan santainya sambil membaca buku.


"Kau! Manusia rendahan!!!"


'Blaaaaarrrr!!!'


Bahkan tanpa perlu mengangkat jarinya, Karkath segera memukul mundur Barbarian yang hendak menyerang gadis itu.


"Karkath! Kau sudah gila?! Kau pikir apa yang akan dilakukan Khan yang Agung setelah melihat kelakuan mu ini?!" teriak Barbarian yang lainnya.


Sekali lagi, Karkath hanya terdiam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Tatapannya juga masih terlihat seakan-akan tak memiliki nyawa di dalamnya.


Meski begitu Karkath mampu untuk berjalan mundur dan kembali melindungi gadis itu dari sisi kirinya.


"Sudah ku bilang kan? Jika kalian bersikap baik, aku mungkin akan mempertimbangkan untuk menyerap seluruh kehidupan kalian dalam benda ini. Jika tidak, terpaksa aku akan menggunakan kalian sebagai bahan ujicoba. Setidaknya itu lah yang diajarkan oleh Guru ku." ucap gadis itu.


Ia mengeluarkan Essence Bane menggunakan sihir ruang di tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya meletakkan buku yang dibacanya secara perlahan di atas meja.


Sebelum bersiap untuk menggunakan sihir angin andalannya.


"A-aku pernah mendengar kabar angin mengenai sosoknya!" ucap salah seorang Barbarian panik.


"Apa kau bilang?!"


"Gadis berambut hitam panjang yang membawa benda sihir aneh di tangan kirinya.... Tak salah lagi! Dia adalah pencabut nya...."


'Zraaaattt!!!'


Belum sempat menyelesaikan perkataannya, gadis itu segera membelah dua tubuh Barbarian barusan menggunakan sihir pedang anginnya.


'Deg! Deg!!'


Secara naluri, semua Barbarian yang masih tersisa di ruangan ini mulai merasakan rasa takut yang luarbiasa. Membuat mereka secara tak sadar berlutut atas ketidakberdayaannya menghadapi gadis misterius itu.


"Hmm? Sekarang menyesal? Maaf, tapi Guru ku bilang untuk tidak memberi kesempatan kedua bagi penjahat. Karena itu lah...."


'Ctakk!!!'


Gadis itu menjentikkan jarinya dengan cukup keras. Tak lama setelah itu, puluhan Barbarian yang sebelumnya bersembunyi di balik ruangan kini segera berbaris dengan rapi.


Mengelilingi aula utama rumah besar ini agar tak ada satu pun yang kabur.


Semuanya memiliki tatapan mata kosong yang sama seperti Karkath. Kecuali satu.


"Nona Aurellia, apa yang sebaiknya kita lakukan pada mereka?" tanya seorang manusia setengah naga atau Dragonnewt itu sambil membenahi kacamatanya.


Ia memiliki tubuh yang serupa dengan pria dewasa pada umumnya. Hanya saja pada bagian kepalanya terdapat sepasang tanduk berwarna kemerahan.


Kemudian sebagian dari tangan dan kakinya nampak memiliki sisik merah yang tebal. Ditambah dengan sepasang sayap dan ekor naga yang cukup di bagian belakang tubuhnya, juga dengan warna merah gelap.

__ADS_1


"Eldrath, gunakan mereka sebagai bahan ujicoba peningkatan sihir pengendalian pikiran. Jika hanya sebatas ini, takkan ada gunanya kedepan." balas Aurellia sambil menunjuk ke arah Karkath.


"Dengan senang hati, Nona Aurellia." balas Eldrath dengan senyuman yang lebar di wajahnya.


__ADS_2