
"A-apa yang kau bilang barusan?!" teriak Alex dengan wajah yang panik. Tubuhnya bahkan secara refleks melompat mundur menjauhi lawan bicaranya.
"Yah, sudah ku bilang. Aku telah membereskan bandit itu untukmu. Meskipun aku tak tahu apakah mereka kelompok yang benar." balas Lucius sambil menggaruk-garuk kepalanya.
Alex yang melihat beberapa kotoran tanah di pakaian dan kulit Lucius tahu, bahwa teman sekelasnya itu sama sekali tak bercanda.
Dengan mata yang terbelalak, Alex pun bertanya.
"Di-dimana kau memburu mereka?"
"Hmm...."
Lucius terlihat menggumam sebelum merobek selembar kertas dari bukunya. Dengan menggunakan penanya, Lucius segera menggambar peta sederhana dengan Kota Arcanum sebagai pusatnya.
"Jadi di Utara sini ada semacam bukit, ditutupi hutan yang lebat. Nah, di daerah sini persembunyiannya. Apakah kau mengerti? Uugh...." jelas Lucius dengan gambar peta yang hampir mustahil untuk dibaca itu.
Tapi Alex tahu dengan betul, tempat mana yang dimaksudkan oleh Lucius.
Bagaimana tidak?
Alex sendiri sebenarnya telah tahu posisi dari kelompok bandit itu sejak beberapa hari yang lalu. Dirinya sudah berniat untuk membasmi mereka dengan pasukan dari Keluarga Brown.
Tapi sebelum itu, Alexander Brown berniat untuk menguji satu hal.
Yaitu kekuatan dan kemampuan dari teman sekelasnya, Lucius.
"Hmm, apakah disini? Atau di sini ya? Entahlah, tapi aku yakin di sekitar bukit ini." ucap Lucius yang masih terus berusaha melanjutkan penjelasannya dan meningkatkan detail gambar petanya.
'Orang ini.... Jangan katakan dia....'
Dengan kecerdasan Alex yang juga di atas rata-rata, Ia langsung menyadarinya dengan cepat. Menggunakan semua pecahan puzzle informasi yang sebelumnya diperolehnya.
Pedang infernal steel yang leleh hingga tak terbentuk. Api biru yang bahkan hingga hari ini masih terus membakar tanah di kedalaman hutan. Lalu kemampuan untuk mencari dan memburu satu kelompok bandit sendirian.
'Tak salah lagi. Pahlawan yang sebenarnya menyelamatkan kota ini dari ancaman monster misterius itu, bukanlah Selena Stormblade sang Guild Master. Melainkan Lucius Nightshade....' pikir Alex dalam hatinya.
Kemungkinan di dunia ini, hanya dirinya lah yang bisa menyimpulkan hal tersebut. Itu karena hanya dirinya juga yang mengetahui bahwa pedang Lucius leleh tepat satu hari setelah insiden monster misterius itu.
Dengan tatapan yang dipenuhi terror serta ketakutan, Alex memandangi sosok pemuda berambut hitam itu di hadapannya.
Sosok pemuda, yang bahkan hingga detik ini masih berusaha untuk menjelaskan lokasi bandit itu.
Di kelas F yang masih sepi ini, Alex merasa ketakutan atas apa yang mungkin saja dilakukan oleh Lucius padanya.
__ADS_1
Tapi....
"Oi, kau dengar? Aargh, sulit sekali menjelaskannya. Pokoknya di sekitar sini." ujar Lucius sambil menunjukkan jarinya pada selembar kertas itu.
Selembar kertas yang kini dipenuhi coretan yang hanya memperburuk kualitas peta buatan Lucius, yang sejak awal juga sudah buruk.
Sambil menahan rasa takutnya, Alex segera mengulurkan tangan kanannya untuk meraih lembaran kertas itu. Sebelum akhirnya berjalan pergi meninggalkan kelas ini dengan rasa takut.
"Alex? Kemana kau?" tanya Lucius penasaran.
Mendengar suaranya saja, tubuh Alex langsung gemetar ketakutan. Tapi jika tak menjawab, Alex takut Lucius akan melakukan sesuatu dengan kekuatannya yang sebesar itu.
Kekuatan yang setara dengan penyihir atau ksatria tingkat S di kerajaan manusia ini.
"Aku perlu melaporkan informasi ini pada bawahanku. Mereka akan memastikan lokasi itu." balas Alex dengan suara yang sedikit gemetar.
Lucius pun segera menyadari sikap aneh Alex dan segera menanyainya.
"Alex, tenang saja. Jika kau memikirkan soal harta curian mereka, semuanya masih di goa itu. Ah! Benar! Aku sama sekali tak mengambil satu pun! Jadi jangan tuduh aku macam-macam ya!"
Mendengar jawaban itu, Alex hanya bisa terheran-heran atas sikap Lucius.
'Kau?! Dengan kekuatan sebesar itu, apa yang kau kataka....'
Saat memalingkan wajahnya, Alex segera tersadar. Bahwa apa yang ditakutkannya sedari tadi, sama sekali tak berguna.
"Lihat kan? Aku tak mencuri apapun jadi...."
"Pfftt! Hahaha...."
Tiba-tiba Alex tak lagi sanggup untuk menahan tawanya setelah melihat sikap Lucius.
"Hah? Kenapa kau tertawa? Kau pikir aku mencuri? Dengar ya! Ayahku mendidikku untuk selalu jujur. Mengambil uang curian itu sama saja...."
"Tidak. Aku hanya menertawai diriku sendiri." ujar Alex memotong penjelasan Lucius.
Sosok Lucius terlihat memasang ekspresi wajah yang begitu kebingungan dengan semua situasi ini. Ia nampak mengerutkan keningnya dan mengangkat salah satu alisnya.
"Apapun itu, kau akan membayarkan hadiahnya kan?" tanya Lucius dengan wajah yang sedikit khawatir. Ia takut jika Alex berniat untuk menipunya sekali lagi.
Setelah mengatur nafasnya, Alex pun membalas.
"Aah, soal itu? Tenang saja. Sepulang dari akademi nanti, ikut lah ke pandai besi. Aku akan memberikan bayaranmu di sana." balas Alex, kini dengan senyuman ramah di wajahnya seperti biasa.
__ADS_1
"Hah? Kenapa di sana?"
"Yah, seperti yang kau lihat. Aku tak membawa uang saat ini. Dan di sana terdapat cukup banyak uang dari pelanggan."
"Aah, benar juga."
Dari luar pintu kelas ini, keduanya dapat mendengar suara langkah kaki dan pembicaraan ringan.
"Boleh. Ayahku mengizinkan kalian ke perpustakaan." ucap Emily dengan ramah pada perempuan yang berjalan di sebelahnya.
"Terimakasih banyak, Emily! Aku benar-benar ingin mempelajari hal itu, tapi sebagian besar buku di akademi ini telah dipinjam oleh para senior...." ucap Sophia dengan begitu bahagia.
"Tenang saja. Kau bisa membaca sepuasnya di sana. Tapi tidak boleh dibawa keluar ruangan." balas Emily.
"Eh, Lucius? Alex? Kalian sudah datang sepagi ini?' tanya Sophia setelah melihat keduanya di dalam kelas.
"Begitu lah. Sebentar, aku perlu keluar." balas Alex yang segera meninggalkan kelas itu untuk mengirimkan informasi barusan melalui surat pada bawahannya.
Tak lama setelah itu, Max dan juga Oliver menyusul. Diikuti dengan pak tua Anderson yang mengajar di kelas ini.
Sedangkan Alex datang sedikit terlambat karena harus administrasi pengiriman surat melalui jasa di akademi ini. Tapi selain itu....
Pembelajaran di akademi pun kembali berlangsung.
............
"Bos, surat dari Tuan Muda." ucap salah seorang pegawai pandai besi itu sambil menyerahkan sebuah surat.
Di hadapannya, sosok pria bertubuh besar dan kekar nampak merobek amplop surat itu dan membaca isinya untuk beberapa saat.
Tapi setelah itu....
'Sruuugg!'
Pria itu nampak meremas selembar surat itu dan merobeknya hingga tak bersisa.
"Bo-Bos?! Apa yang terjadi?!" tanya bawahannya.
Dengan tatapan yang begitu mengerikan, pria besar itu pun membalas.
"Panggil semuanya untuk berkumpul di sini. Cepat! Ini perintah langsung dari Tuan Muda Alex!" teriak pria itu.
"Ba-baik!"
__ADS_1
Sambil menatap kertas yang telah dirobeknya itu, Ia bertanya pada dirinya sendiri.
'Tuan Muda, apapun yang kau rencanakan.... Ku harap kau berhasil. Sama seperti yang selalu kau lakukan.'