
Seluruh Ksatria Suci terlihat kembali dengan selamat. Meskipun sebagian besar menerima luka yang cukup parah, tapi tak ada korban jiwa satu pun dari pertarungan ini.
Dengan sisa Mana yang dimiliknya, Alora segera menggunakan elemen cahaya miliknya untuk menyembuhkan luka para ksatria suci itu.
"Mass Healing...." ucapnya singkat sembari menciptakan formasi sihir keemasan yang indah. Menyembuhkan seluruh luka yang diderita para ksatria itu dalam sekejap mata.
Dalam hati Lucius, Ia berpikir bahwa elemen cahaya sangat berguna di segala macam situasi.
Untuk penyerangan, pertahanan, bahkan penyembuhan. Semuanya unggul melampaui semua elemen yang lainnya.
Saat Lucius masih tersesat dalam pikirannya sendiri....
"Lucius, aku berniat untuk kembali ke Gereja dan melaporkan hal ini. Bagaimana denganmu? Mau ikut?" tanya Alora kembali dengan wajah dan ekspresi ramahnya.
Dalam pandangan Lucius, Ia dapat melihatnya. Bahwa Alora setidaknya menghabiskan 95% Mana miliknya, termasuk Mana dari Dewi Cahaya Lunaria itu dalam serangan barusan.
'Sihir semacam itu.... Memang benar seharusnya hanya berada di tangan para pahlawan terpilih.' pikir Lucius dalam hatinya sambil terus memandangi wajah Alora.
"Lucius?" tanya Alora kebingungan karena bocah itu hanya terus terdiam sedari tadi.
"Aah, tidak. Aku akan pulang sendiri. Terimakasih atas bantuan dan tawarannya. Aku takkan pernah selamat tanpa bantuanmu, Nona Alora." balas Lucius sambil membungkukkan badannya.
"Tidak. Rencana barusan hanya bisa berhasil karena kau ada di sampingku, Lucius. Kalau begitu, sampai jumpa lagi di lain waktu."
Dengan kalimat terakhir itu, Alora menggunakan sihir teleportasi raksasa yang sama seperti yang digunakannya sebelumnya untuk membawa para ksatria suci itu.
Di antara para Ksatria Suci, tatapan mata Lucius terpaku pada seorang Inquisitor bernama Roland itu.
'Apakah semua orang di Gereja memiliki kekuatan sebesar itu?' tanya Lucius setelah melihat betapa besar Mana milik pria berambut kemerahan itu.
Setelah semuanya pergi....
Lucius segera melanjutkan rencananya sebelumnya. Yaitu untuk memastikan apakah kekuatan iblis yang ada pada tubuh Zephyrith benar-benar merupakan kekuatan iblis dari Carmilla.
Ia menciptakan sebuah portal sederhana, melangkahkan kakinya tepat di pusat sisa Divine Judgement itu.
Sebuah lubang raksasa dengan bentuk melingkar. Lebarnya sendiri mencapai 50 meter lebih, dengan kedalaman mencapai 250 meter. Jauh lebih dalam dibandingkan dengan Lembah Cadera itu sendiri.
Menciptakan pemandangan yang aneh di lembah ini.
'Srrruugg! Srruugg!!'
Lucius melangkahkan kakinya di bebatuan hitam keras yang rata itu.
__ADS_1
Tak banyak yang tersisa dari sosok Zephyrith. Hanya abu sisa kulit dan tulang kerasnya yang terlihat berterbangan kesana kemari.
Melihatnya dengan mata sihir, Lucius dapat memastikan. Bahwa Zephyrith benar-benar telah dimusnahkan seutuhnya oleh sihir barusan.
"Yah, tentu saja. Siapapun yang bisa bertahan dari sihir itu bukan lagi makhluk biasa di dunia ini. Jadi bagaimana, Carmilla. Apakah itu kekuatanmu?" tanya Lucius setelah melihat Mana hitam pekat yang masih tersisa di dasar lembah ini.
Carmilla hanya bisa terdiam.
Meski begitu, Lucius dapat merasakan emosi Carmilla yang dipenuhi oleh amarah dan juga kebencian.
Lucius sadar. Bahwa sikap Carmilla saat ini menyatakan bahwa kekuatan iblis itu benar-benar merupakan kekuatannya sendiri.
Dan hanya ada satu hal yang terlintas di dalam kepala Lucius saat itu. Yaitu jantung dari Carmilla, yang dikatakan telah disimpannya di suatu tempat.
'Lucius, kau senggang?' tanya Carmilla singkat.
"Apa maksudmu? Aku telah bolos sekolah selama 4 bulan lebih. Tentu saja tak masalah bagi ku untuk bolos beberapa hari lagi." balas Lucius dengan wajah serius.
Tak lama setelah itu, Ia menggaruk-garuk kepalanya sambil berkata.
"Ingin memastikan keberadaan jantung mu kan? Tak masalah. Cepat katakan dimana kau menyimpannya, aku akan membawa mu kesana."
'Terimakasih, Lucius.'
............
Di Gereja Cahaya, Lunaria
Barisan Ksatria Suci yang baru saja dipimpin oleh Alora untuk membunuh iblis itu terlihat berjalan dengan rapi, sebelum akhirnya berlutut di hadapan seorang Uskup Agung di Gereja ini.
'Srrruuggg!!!'
Semuanya berlutut di hadapannya, dengan pandangan yang terpaku pada lantai.
Semua termasuk Uskup Agung itu sendiri, yang segera turun dari mimbar gereja itu.
"Nona Alora, selamat datang kembali. Seluruh pendeta di Gereja Cahaya mengkhawatirkan Anda." ucap Uskup Agung itu sambil berlutut menghadap ke arah Alora.
Alora sendiri terlihat berjalan menaiki mimbar gereja itu. Berniat untuk membahas segala yang baru saja terjadi malam hari ini.
"Uskup Agung Phillip, jelaskan padaku apa yang kalian lihat." perintah Alora.
"Gadis Suci, Mary, melihat kegelapan yang begitu luarbiasa di kerajaan ini. Ia mengatakan sesuatu mengenai kebangkitan Iblis yang membawa malapetaka." jelasnya.
__ADS_1
"Iblis?"
Konsep dan istilah iblis itu sendiri sudah sangat jarang digunakan oleh manusia di jaman ini. Setelah naga kuno Ashenflare memporak-porandakan benua ini, keberadaan bangsa Iblis seakan telah dilupakan dari dunia ini.
"Jelaskan, apa yang dia lihat?"
"Seseorang, berambut hitam gelap layaknya malam hari, setengah darinya adalah manusia sedangkan sisanya bukan. Muda, tapi dengan bakat alaminya dalam bidang sihir, akan membawa kehancuran di kerajaan, atau bahkan dunia ini sebagai seorang iblis abadi." jelas Uskup Agung bernama Phillip itu dengan jelas.
Alora mencatat semua informasi itu baik-baik dalam buku kecil yang ada di sakunya.
Tapi berdasarkan penjelasan itu....
Terdapat satu orang yang terlintas di dalam pikirannya.
'Lucius Nightshade? Ti-tidak mungkin kan? Lagipula, dia sepenuhnya manusia, kan? Tapi....'
Alora teringat atas bakat sihir Lucius yang begitu luarbiasa. Pada umur yang masih sangat muda, mungkin setengah dari umur Alora itu sendiri, sudah mampu menguasai sihir ruang dengan cukup baik.
Bahkan lebih baik dibandingkan dengan penyihir Kerajaan sekalipun. Mengingat betapa sulitnya sihir ruang itu sendiri.
Tak hanya itu, pada usianya yang masih 16 tahun, Lucius telah berhasil menciptakan sebuah Arcana. Sihir original miliknya sendiri.
Bukan hanya Arcana sembarangan. Tapi sebuah Arcana yang sangat rumit, yang bahkan bisa dikatakan sangat kuat untuk melawan penyihir yang lain.
Menyegel sihir itu sendiri, sama seperti bertarung melawan pendekar pedang tapi memaksanya tanpa menggunakan senjata apapun.
Sekuat itu lah Arcana buatan Lucius. Setidaknya, itu lah yang dilihat oleh Alora.
Dan tak menutup kemungkinan, Lucius bisa saja membuat versi yang lebih kuat dari Arcana itu di masa mendatang.
"Nona Alora? Ada masalah?" tanya Uskup Agung itu kebingungan.
"Ti-tidak ada. Hanya memikirkan kejadian barusan. Kemudian untuk masalah itu, bagaimana respon dari Gereja yang lain? Terutama Gereja Mana." tanya Alora.
"Gereja Mana bersumpah untuk mendukung perjuangan kita sepenuhnya demi membasmi apa yang disebut sebagai 'iblis' itu sendiri. Bagi mereka, Mana hitam adalah Mana pendosa. Mana dari Kegelapan, Heretics." jelas Phillip.
"Bagus, kalau begitu...."
Pada malam hari itu, Alora terus menyelesaikan berbagai masalah mengenai kemunculan sosok iblis dari tubuh Zephyrith itu.
Sambil terus memikirkan, apakah Lucius benar-benar bukanlah sosok yang dimaksud oleh sang Gadis Suci, Mary.
Sosok yang diramalkannya akan menjadi pembawa kehancuran di kerajaan, bahkan dunia ini.
__ADS_1