Murid Ratu Iblis

Murid Ratu Iblis
Chapter 38 - Perpustakaan


__ADS_3

Keseharian baru Lucius benar-benar sangat sibuk. Bagaimana pun, Ia mempertaruhkan nyawanya sendiri di masa depan.


William Goldencrest mungkin saja berniat untuk membunuhnya dalam duel di akademi demi membalaskan dendam adiknya. Dan jika Lucius tak mempersiapkan diri untuk itu, mungkin Ia akan benar-benar mati.


Karena itu lah, saat ini Lucius mempertaruhkan hidupnya setiap harinya.


Pada pagi hari sebelum matahari terbit, Lucius melatih Mana miliknya menggunakan teknik Mana Flow yang diajarkan oleh Carmilla. Meningkatkan kapasitas Mana miliknya dengan pesat.


Atau lebih tepatnya, sekitar 4x lipat lebih cepat dibandingkan dengan orang biasa yang berlatih sekeras dirinya.


Kemudian setelah matahari terbit, Lucius mempersiapkan dirinya untuk menghadiri pelajaran di akademi.


Selain memanfaatkan akademi sebagai tempat beristirahat, Lucius juga sama sekali tak berhenti untuk mempelajari ilmu baru.


Pada istirahat siang hari, Ia segera pergi ke perpustakaan akademi bersama dengan Emily. Membaca berbagai buku dalam keheningan lalu kembali 5 menit sebelum istirahat berakhir untuk makan siang.


Sesaat sebelum pulang dari akademi, Lucius selalu menanyakan rekomendasi buku terhadap topik yang diminati olehnya. Sama seperti saat ini.


"Anu... Pak Anderson? Apakah Anda memiliki saran buku yang membahas mengenai sihir ruang?" tanya Lucius sesaat setelah kelas berakhir.


"Oooh, kau tertarik? Aku bisa merekomendasikan buku dari Nona Alora Skyweaver. Pahlawan sihir itu sendiri, karena dia memiliki pengetahuan yang paling maju terhadap sihir ruang." jelas pak tua Anderson itu dengan senyuman yang ramah.


Lucius dengan cepat mencatatnya pada buku kecilnya sebelum kembali bertanya.


"Lalu judul bukunya?"


"Kaleidoscope Realms: Exploring the Mysteries of Spatial Magic. Aaah, aku ingat membacanya beberapa tahun lalu saat Nona Alora menerbitkannya. Benar-benar bacaan yang menarik dan memudahkan pembaca memahami konsep dari sihir ruang itu sendiri." jelas Pak Anderson dengan senyuman yang semakin lebar.


Lucius mencatat semuanya dengan mendetail. Merasa bahwa buku itu sangat lah penting baginya.


Hanya saja....


"Buku itu ada di perpustakaan akademi kan?" tanya Lucius.


"Ah, sayangnya karena hanya sedikit salinan dari buku itu, dan harganya yang sangat mahal jadi.... Akademi kami hanya memiliki satu dan murid tak diberi akses pada buku itu." balas Pak Anderson dengan wajah kecewa.


"Hah.... Lalu kenapa merekomendasikannya padaku." keluh Lucius kesal.


"Lucius? Ada apa?" tanya Emily sambil memeluk boneka beruangnya yang kali ini semakin membesar.


Sambil membalikkan badannya, Lucius pun membalas.


"Tidak. Aku hanya mencari buku ini dan...."


Emily meraih buku kecil milik Lucius secara perlahan. Membaca apa yang tertulis di dalamnya.

__ADS_1


"Ah, buku dari Pahlawan Sihir? Kami memilikinya." ucap Emily.


"Eh?" tanya Lucius terkejut.


"Datang saja ke perpustakaan kami. Aku akan meminta izin pada Ayahku untuk memberimu akses. Asal jangan rusak bukunya." lanjut Emily dengan suaranya yang lirih.


Entah sial atau beruntung karena jatuh ke kelas F ini, Lucius merasa bersyukur karena memiliki teman yang luarbiasa. Termasuk Emily.


Dengan kedekatannya yang semakin meningkat, membuat Lucius memperoleh akses terhadap lantai khusus di perpustakaan kota.


Membuat Lucius mampu membaca buku-buku yang bahkan sangat sulit untuk disentuh bangsawan tingkat atas sekalipun.


Dan akhirnya, setelah makan bersama dengan teman-temannya, Lucius mengikuti langkah kaki Emily.


Menuju ke perpustakaan Kota yang sangat megah dan besar itu.


Semua buku yang dimiliki akademi juga terdapat di perpustakaan ini. Meski begitu, perpustakaan ini memiliki 4 tingkat akses yang berbeda.


Tingkat pertama adalah untuk umum yang berada di lantai pertama hingga ketiga di perpustakaan ini. Siapapun yang mendaftar dan membayar biaya bulanan dapat masuk dan membaca apapun di ketiga lantai itu.


Di tingkat pertama ini berisi buku-buku dengan pengetahuan umum untuk berbagai bidang. Mulai dari sihir sederhana, teknik berpedang, ilmu kedokteran, hingga cara menyiapkan berbagai hidangan rumah tangga.


Tingkat kedua yaitu untuk para bangsawan. Hanya para bangsawan yang mendaftar dan membayar biaya bulanan yang bisa membaca buku dari lantai 4 hingga 5.


Lantai 4 dan 5 berisi buku-buku tingkat lanjut seperti ilmu politik, tata kelola kota, pemerintahan, dan sihir-sihir tingkat lanjut. Pada umumnya, merupakan buku untuk mendukung pekerjaan yang akan dilakukan para bangsawan.


Di dalamnya terdapat buku yang sangat berharga, atau sangat terbatas dalam jumlah oleh sebab apapun. Sekaligus merupakan lantai untuk menyimpan salinan dari buku-buku bersejarah yang penting.


Termasuk di dalamnya, adalah buku buatan para pahlawan dari berbagai generasi. Karena sangat berharga dan memiliki pengetahuan yang luarbiasa, aksesnya dibatasi agar ilmu yang ada di lantai ini terjaga dengan baik hingga generasi berikutnya.


Karena batasan itu lah, pustakawan dan sastrawan yang bisa menyalin buku di dalamnya sangat sedikit. Sehingga jumlah buku itu sendiri terbatas.


Dan terakhir, tingkat keempat.


Tingkat tertinggi di berbagai perpustakaan di kerajaan manusia ini. Dimana di dalamnya tersimpan buku keluarga Kerajaan yang sangat dirahasiakan, dan juga harus dijaga dengan sangat ketat.


Tak ada yang bisa memasuki ruangan ini selain keluarga Kerajaan secara langsung. Karena hanya mereka lah yang memiliki kuncinya.


Bahkan kepala pustakawan, maupun bangsawan tingkat tertinggi pun tak bisa memasukinya.


Mereka hanya diperbolehkan menjaga ruangan rahasia ini dengan nyawa mereka. Dan siapapun yang diberkahi dengan tugas itu, termasuk sebagai salah satu orang yang paling dihormati di kerajaan ini.


Termasuk Ayah dan Ibu Emily, yang mengemban tugas sebagai kepala pustakawan di kota Arcanum ini.


"Kira-kira seperti itu lah." ujar Emily setelah memberikan penjelasan yang panjang lebar.

__ADS_1


"Perpustakaan ternyata jauh lebih rumit dari yang ku pikirkan...." keluh Lucius sambil menggaruk-garuk kepalanya.


Keduanya terus berjalan. Memasuki perpustakaan yang sangat besar ini.


Emily menuntun Lucius ke dalam ruang kepala pustakawan di lantai pertama ini. Dimana Ayahnya nampak sibuk bekerja di balik meja itu.


"Oooh, Emily. Kau membawa teman?" tanya Ayahnya ramah. Ia memiliki penampilan yang begitu rupawan meskipun telah berumur 45 tahun.


Dengan rambutnya yang mulai memutih di beberapa bagian, serta kacamata tebal yang tergantung di lehernya membuat kebijaksanaannya terlihat begitu besar.


"Ayah, ini Lucius Nightshade. Lucius, itu Ayahku, Lawrence Campbell. Kepala Pustakawan di Kota ini."


Lawrence segera bangkit dari kursinya. Berjalan untuk menyapa teman putri satu-satunya itu.


Pakaiannya yang berupa kemeja hitam panjang dengan beberapa corak warna keunguan di beberapa bagian nampak begitu mempesona.


"Salam kenal, Lucius. Senang melihat putriku memiliki teman baik sepertimu." sapa Lawrence ramah sambil mengarahkan tangan kanannya ke depan.


Lucius segera menjabat tangan kanan Lawrence sambil memberikan sapaannya.


"Sebuah kehormatan untuk bisa bertemu dengan Anda, Tuan Lawrence."


"Jadi, ada persoalan apa sampai perlu menemui ku di jam kerja?" tanya Lawrence kepada Emily.


"Ayah, sebenarnya...." ucap Emily lirih sambil menyodorkan buku kecil milik Lucius itu.


Setelah meraih buku itu, Lawrence membacanya dengan teliti dalam hatinya.


"Hmm.... Jadi kau ingin membaca buku ini?" tanya Lawrence, kini pada Lucius.


"Ji-jika diperkenankan." balas Lucius sedikit kaku.


Lawrence nampak mengenakan kacamatanya yang tergantung di lehernya itu. Untuk memastikan bahwa apa yang dibacanya itu tak salah. Dan setelah memastikannya....


"Boleh saja. Lagipula, kau adalah teman baik putri ku bukan?" tanya Lawrence dengan senyuman yang ramah.


'Eh? Semudah ini?!' pikir Lucius dalam hatinya.


"Sebagai ganti nya, tolong. Terus lah menjadi teman baik putriku. Dan bantu aku menjaganya di luar sana." lanjut Lawrence sambil terus tersenyum.


Saat melirik ke arah Emily, Lucius dapat melihat sosok gadis pemalu itu juga ikut tersenyum. Turut bahagia atas izin yang diperoleh untuk Lucius.


Dan dengan itu lah, Lucius memperoleh akses terhadap perpustakaan kota ini hingga tingkat ketiga.


Sebuah hak yang bahkan diimpikan oleh seluruh bangsawan tingkat tinggi, namun tak semuanya mampu untuk mendapatkannya.

__ADS_1


Memberikan Lucius akses terhadap pengetahuan yang jauh lebih luas lagi.


__ADS_2