
"Hah.... Hah.... Hah...."
Di bawah sinar rembulan yang baru, Lucius tergeletak di tengah hutan yang gelap ini. Beralaskan dedaunan yang kering, Ia terlihat berusaha untuk mengatur nafasnya.
Pakaiannya robek di segala bagian, memperlihatkan tubuhnya yang penuh luka baru itu.
Darah nampak masih terus mengalir meskipun Lucius telah menggunakan sihir penyembuhannya.
"Sialan, nampaknya melawan kawanan serigala hutan masih terlalu sulit bagiku...." keluh Lucius.
Berbeda dengan berbagai monster yang telah dihadapinya selama ini, serigala adalah monster yang mampu bekerjasama dengan sangat baik antar satu dengan yang lainnya.
Terlebih lagi, mereka selalu bergerak dalam kelompok yang terdiri dari setidaknya 8 serigala.
Kecepatan, ketajaman cakar dan taring, serta kerjasama yang sangat baik. Hal itu lah yang membuat Lucius cukup terluka parah karena melawan kawanan serigala sendirian.
Meski begitu, Ia berhasil menang.
Jasad 14 ekor serigala terlihat tergeletak tak berdaya di sekitarnya.
Di satu sisi, terlihat hutan terbakar hingga hangus. Di sisi lain, terlihat hutan membeku oleh es yang tajam. Dan di sisi yang lain lagi, terlihat bebatuan muncul dari tanah. Menusuk tubuh para serigala itu.
'Hmm, lumayan. Perkembanganmu sudah semakin baik, Lucius.' puji Carmilla setelah melihat Lucius mengalahkan 14 ekor serigala itu sendirian.
"Terimakasih...."
Sudah satu Minggu semenjak Lucius tak sengaja mendengar perkataan Carmilla. Bahwa dirinya dapat dengan mudah membunuh pahlawan menggunakan sihir api iblis itu.
Tapi berapa kali pun Lucius menanyakannya, tak ada jawaban yang keluar dari mulut Carmilla.
Ia tahu bahwa Carmilla adalah sosok iblis yang kuat. Tapi Lucius sama sekali tak menyangka bahwa Carmilla cukup kuat untuk membunuh pahlawan manusia semudah perkataannya itu.
Dan semenjak itu lah, porsi latihan Lucius semakin meningkat.
Bukan karena perintah dari Carmilla, melainkan permintaan Lucius itu sendiri.
"Oh ya, kira-kira kapan aku bisa memasang cincin sihir kedua itu?" tanya Lucius sambil bangkit dari tanah.
'Aah, itu? Melihat perkembanganmu, mungkin satu bulan lagi?'
'Sreeett!'
Lucius mengepalkan tangan kanannya, merasa puas atas pencapaiannya kali ini.
Sekalipun tak berbakat, Ia berhasil untuk mempercepat perkembangannya. Dan satu bulan adalah waktu yang tepat.
Karena kabarnya, kelompok William Goldencrest akan kembali ke akademi sekitar 2 bulan kurang. Jadi jika orang itu berniat untuk melawannya....
Lucius sudah siap.
'Yah, meskipun jangan senang dulu. Semakin banyak cincin sihir yang terpasang di jantungmu, semakin sulit juga pemasangannya. Kali ini, mungkin kau akan mati 6 kali.'
Seluruh bulu kuduk Lucius berdiri setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Carmilla.
__ADS_1
Mati sebanyak 6 kali?
Mengingat bagaimana rasanya mengalami kematian, Lucius sudah merinding ketakutan. Mulai dari rasa sakitnya hingga terror jikalau dirinya tak bisa bangun lagi.
Tapi semua itu adalah langkah yang penting untuk menambal ketidakberdayaannya. Dirinya yang tak berbakat, hanya bisa menukarnya dengan nyawanya.
"Baiklah, untuk sekarang pulang dulu dan beristirahat. Kemudian...."
'Srruuuggg! Sruuuggg!'
Suara pergerakan dari balik semak-semak yang lebat itu terdengar cukup keras. Lucius yang mendengarnya segera menarik pedangnya dan bersiap dalam mode bertarung.
Di tangan kanannya adalah pedang besok tua yang telah rusak di beberapa bagian. Sedangkan di telapak tangan kirinya adalah bola api yang siap untuk dilemparkan kapanpun.
"Siapa disana?!" teriak Lucius.
Monster di sekitar kota ini tak begitu cerdas. Itulah yang dipikirkan oleh Lucius. Jadi mengetahui ada yang mengendap-endap di sekitarnya....
Kemungkinan itu adalah manusia.
Dan benar saja.
Dari balik salah satu pohon, terlihat sosok seorang manusia bertubuh cukup besar dengan pedang besar di punggungnya. Ia terlihat mengangkat kedua tangannya, mengisyaratkan bahwa tak ada niat buruk darinya.
"Kau.... Kalau tak salah orang di Guild waktu itu...." ucap Lucius setelah menyadari sosoknya di balik kegelapan hutan ini.
"Ironclad." ucapnya dengan senyuman yang lebar.
Dari sampingnya, muncul tiga orang lagi. Yaitu dua orang perempuan, dan satu orang pria dengan badan yang agak pendek namun lebih kekar dibandingkan dengan Ironclad.
Sementara itu gadis yang dipanggil Lyra itu nampak membawa tongkat sihir di balik jubah hitamnya yang tebal.
Drakon sendiri terlihat mengenakan zirah besok yang tebal. Sedangkan senjatanya sendiri adalah sarung tangan besi berwarna hitam.
"Bocah, kita pernah bertemu kan? Di Guild waktu itu?" tanya Ironclad masih dengan senyumannya yang lebar.
Lucius nampak ragu untuk sesaat sebelum menjawab pertanyaannya.
"Uuh, ya. Di pintu masuk Guild."
"Buahahaha! Tapi tak ku sangka, Guild sekarang sampai memperkerjakan anak di bawah umur?! Mereka sudah gila ya?!"
"Ironclad. Suaramu. Nanti kau memanggil monster lain kemari." ujar Sera kesal.
Setelah berhenti tertawa, Ironclad nampak menatap Lucius dengan tajam. Bahkan senyumannya yang ramah sebelumnya pun menghilang dari wajahnya.
"Bocah, sebenarnya aku tak peduli atas Guild atau apa. Tapi.... Kau yang telah mencuri buruanku itu lain cerita." ucap Ironclad.
"Hah? Buruanmu? Apa maksudnya dengan itu?"
'Srreeeggg!'
Ironclad menarik pedang besarnya hanya dengan satu tangan. Mengarahkannya pada kawanan serigala yang tergeletak di tanah.
__ADS_1
"Serigala itu, harusnya adalah buruanku." lanjut Ironclad dengan tatapan yang tajam.
Suasana yang tegang dapat dirasakan oleh Lucius saat ini. Melihat dari sikap dan aura yang dipancarkan oleh Ironclad, Lucius tahu dengan betul.
Bahwa pria yang ada di hadapannya saat ini, itu sangat kuat.
"Aaah, mulai lagi." keluh Sera.
"Bu-bukankah sebaiknya kita lerai?" tanya Lyra ketakutan.
"Jika bocah itu dalam bahaya, aku akan melerainya." balas Drakon yang malah mulai duduk di tanah.
Seakan-akan bersiap untuk menonton suatu pertunjukan.
Tiba-tiba....
'Swuuuuusshhhh!!!'
Ironclad melesat dengan sangat cepat ke arah Lucius. Mengayunkan pedang besarnya itu tepat ke arah lehernya.
'KLAAAAAANGG!! KRREETTAAAKKK!!!'
Bahkan dengan menggunakan sihir perisai sekalipun, ayunan pedang Ironclad mampu menembusnya dan mematahkan pedang Lucius yang telah rusak cukup parah itu.
'Braaaakkk! Braaaakkk!!!'
Membuat Lucius terlempar puluhan meter hanya dengan ayunan pedang sederhana Ironclad.
Tapi....
"Hooo, kau bahkan bisa menahan itu? Menarik!" teriak Ironclad sambil tertawa puas.
"Eh? Bagaimana aku bisa selamat?!" tanya Lucius panik pada dirinya sendiri.
Tak diragukan lagi, ayunan pedang Ironclad sebelumnya seharusnya telah memenggal kepala Lucius. Tapi nyatanya, Ia masih hidup sampai detik ini.
'Berterimakasihlah padaku nanti dengan membiarkanku makan daging sapi panggang.' ucap Carmilla tiba-tiba.
"Be-begitu ya...."
Lucius merasa kesal karena dirinya masih harus bergantung pada Carmilla lagi dan lagi.
"Wuaaah, menggunakan dua sihir perisai sekaligus, bukankah anak itu sangat hebat?" tanya Sera kagum.
Lyra terlihat mengangguk sebelum membalasnya.
"Bahkan aku sekalipun, mengaktifkan sihir perisai dalam sepersekian detik masih mustahil...." ucap Lyra dengan wajah yang terlihat begitu suram.
"Haaah.... Oi, Ironclad! Sudah cukup bukan? Dia masih bocah! Kita cari saja buruan lainnya dan...."
"Persetan dengan buruan!" balas Ironclad dengan berteriak.
"Hah?!"
__ADS_1
"Saat ini, aku benar-benar ingin bertarung melawan bocah itu! Jadi jangan ganggu!"