Murid Ratu Iblis

Murid Ratu Iblis
Chapter 56 - Batas


__ADS_3

"Uughh, maaf...." ucap Lucius yang berjalan sambil merangkul tubuh pria tua itu. Menggunakannya sebagai penopang untuk bisa terus berdiri.


"Tak masalah, Tuan Lucius." balas Albert dengan senyuman yang begitu ramah.


Keriput dapat terlihat dengan jelas di kulit Albert. Begitu pula dengan rambutnya yang mulai memutih.


Meski sudah setua itu, Ia masih bekerja keras melayani keluarga Brown dengan baik. Lucius yang merasa penasaran ingin menanyakan alasannya. Tapi....


"Kau tahu, Tuan Lucius? Kau mengingatkanku pada Tuan Muda dulu." ucap Albert tiba-tiba.


"Eh?"


"Tuan Muda dulunya adalah sosok yang sangat gemar berlatih. Tak hanya diberkati oleh bakat kuat, Tuan Muda juga bersifat pekerja keras. Bahkan sampai membuat Ayahnya terus memarahinya karena tak peduli dengan bisnis keluarganya. Hanya saja...."


Rasa penasaran Lucius kini berpindah. Ia ingin tahu, bagaimana bisa sosok sekuat Alex bisa terjatuh ke kelas F dan hanya fokus pada bisnis keluarganya.


Pada kenyataannya....


"Ayah Tuan Muda kala itu adalah pebisnis yang berbakat. Beliau berhasil menguasai kota ini dengan bisnisnya, bahkan hampir menguasai kota sebelah. Tapi apa yang tak dilihatnya, adalah lawan bisnis yang tak menyukainya."


Albert terlihat berhenti sejenak. Senyuman ramah di wajahnya pun menghilang saat membicarakan hal tersebut.


"Beliau diserang bandit yang disewa oleh kelompok dagang lain. Membuatnya lumpuh seumur hidup."


'Deg! Deg!!'


Jantung Lucius berdegup dengan kencang setelah mendengar hal itu. Apa yang didengarnya selama ini, hanyalah sosok Alex yang lebih berbakat dibandingkan dengan Ayahnya.


Bahkan kabar bahwa semua prestasi yang diperoleh keluarga Brown akhir-akhir ini adalah kerja keras Ayahnya.


Tapi pada kenyataannya, semua itu hanyalah sebuah konspirasi.


"Tuan Muda Alex yang mengetahui hal itu, berhenti berlatih sihir dan juga bela diri. Memfokuskan seluruh pikiran dan tenaganya untuk bisnis keluarga Brown. Meski pada awalnya bisnis mulai melemah, akhirnya Tuan Muda berhasil mengatasinya.


Dan untuk menjaga image kuat keluarga Brown, Tuan Muda selalu menyerahkan sebagian besar perolehan atas kerja kerasnya pada nama Ayahnya. Membuat banyak orang berpikir bahwa otak dari semua prestasi itu adalah dari Ayahnya." jelas Albert dengan air mata yang mulai menetes secara perlahan.


Mendengar penjelasan dari Albert, Lucius juga tak kuasa untuk merasa kasihan pada sosok Alex.


Dibalik senyum ramahnya di akademi, di hadapan teman-temannya....


Ia selalu menahan beban besar itu di punggungnya. Meski begitu, manusia takkan bisa berdiri di atas dua perahu sekaligus.


Itulah kenapa Alex memilih untuk meninggalkan sebuah perahu yang bernama akademi Damacia. Ia tak peduli dirinya jatuh ke kelas F, selama bisnis keluarganya bisa terselamatkan.


Akan tetapi....


Semua yang didengar oleh Lucius barusan, adalah hal yang ditakutkannya hingga detik ini. Jika saja kekuatannya diketahui oleh dunia, dan dunia menganggapnya berbahaya....


Takkan sulit bagi seluruh dunia untuk memusuhi dan menyingkirkannya.


Karena itu, Lucius terus berusaha untuk menjadi jauh lebih kuat lagi. Cukup kuat untuk melawan seluruh dunia itu jikalau mereka berniat untuk melawannya.


Hanya saja....

__ADS_1


"Karena itulah, Tuan Lucius. Jangan terlalu memaksakan diri pada satu hal saja, karena tanpa sadar Tuan Lucius akan melupakan hal lain yang mungkin terlihat sepele. Tapi pada kenyataannya memiliki peran penting dalam kehidupan." jelas Albert panjang lebar.


Pelayan tua itu nampak memperlambat langkahnya ketika menaiki tangga di bangunan tua ini. Bangunan tempat dimana Lucius tinggal di salah satu kamarnya.


"Bagi Tuan Muda, itu adalah kedekatannya dengan orangtuanya yang diabaikan. Tapi bagi Tuan Lucius.... Itu adalah kesehatan Anda." lanjut Albert setelah berdiri tepat di depan pintu kamar yang disewanya.


Kata-kata yang begitu lembut dan ramah itu, justru terasa jauh lebih sakit daripada bilah pedang mana pun bagi Lucius.


Menusuk tepat pada hatinya. Mengirisnya dengan kelembutan dan keramahan, juga kehangatan.


"Tuan Lucius. Anda adalah orang yang sangat berbakat. Bahkan Tuan Alex yang berbakat sekalipun mengakui takkan bisa bermimpi untuk berdiri disamping Anda. Karena itu lah, jaga kesehatan Anda." ucap Albert sambil membungkukkan badannya di hadapan Lucius.


Dari Lucius yang masih merasa sakit kepala dan lemas itu, hanya bisa keluar satu kata dari mulutnya.


"Terimakasih...." balas Lucius sebelum menutup pintu dan melemparkan tubuhnya pada ranjang kecil itu.


Albert yang masih membungkukkan badannya di depan pintu kamar Lucius itu melanjutkan perkataannya. Tapi dengan suara yang begitu lirih.


"Bakat yang Anda miliki itu, benar-benar luarbiasa, Tuan Lucius. Sepanjang hidup pria tua ini, tak pernah ku dengar satu orang pun yang bisa meningkatkan kapasitas Mana mereka 3 kali lipat dalam waktu kurang dari sebulan.


Mungkin saja.... Pria tua ini baru saja melihat lahirnya calon pahlawan manusia yang baru?" gumam Albert pada dirinya sendiri, sebelum berjalan pergi meninggalkan bangunan ini.


.............


"Hah.... Sakit sekali...." keluh Lucius pada dirinya sendiri di atas ranjang itu.


'Sudah ku bilang kan? Tubuh mu takkan kuat. Ini adalah batas dari kegilaanmu berlatih.' balas Carmilla dalam pikiran Lucius.


"Kau benar. Aku benar-benar kelelahan...."


'Tidak. Yang ku maksud bukan itu saja. Lucius, saat kau meletakkan tanganmu pada kristal pengukur itu, aku menyadari sesuatu.' balas Carmilla dengan nada yang terdengar begitu serius.


"Menyadari sesuatu? Apa itu?" tanya Lucius penasaran. Ia meletakkan lengan kanannya untuk menutupi matanya, membiarkan tubuhnya sedikit beristirahat di tengah rasa lelah itu.


Tak seperti biasanya, Carmilla terdiam selama beberapa saat sebelum membalas. Seakan-akan sedang mempertimbangkan sesuatu dalam perkataannya.


'Lucius, pertumbuhan mu sangat lah cepat. Tidak, justru terlalu cepat. Saat menyentuh kristal itu, aku dapat merasakannya dengan samar-samar. Bahwa tak lama lagi, tubuhmu akan mencapai batasnya.' jelas Carmilla.


"Batas? Aku akan mati?" tanya Lucius sedikit ketakutan.


'Tidak. Bukan soal itu. Tapi batas dalam artian yang sebenarnya. Lucius. Kau itu tak memiliki bakat apapun. Jadi wajar saja, jika kau akan mencapai batasmu sekitar beberapa bulan lagi dengan porsi latihan yang biasa.' lanjut Carmilla.


Mendengarnya sekali lagi, Lucius langsung memahaminya.


Batas yang dimaksudkan oleh Carmilla, adalah batas dari kemampuan tubuhnya. Tubuh yang tak memiliki bakat sama sekali itu.


'Melihat tubuh tak berbakat ini bisa mencapai tingkat S dalam standar modern ini sudah luarbiasa, Lucius. Kau patut bangga atas hal itu.'


Tak peduli apa yang dikatakan oleh Carmilla berikutnya, Lucius hanya bisa terdiam. Memandangi sosok Carmilla pada pantulan cermin itu yang terlihat terus berusaha menghiburnya.


"Begitu ya? Jadi.... Ini adalah batasku, sebagai manusia yang tak memiliki bakat?" tanya Lucius dengan suara yang semakin lirih pada tiap katanya.


'Karena itu lah, Lucius. Beristirahat lah. Kurangi porsi latihanmu dan tingkatkan pengetahuan serta teknikmu. Saat kau mencapai batas potensi tubuhmu itu, tak ada hal lain lagi yang bisa kau lakukan selain mengasah teknik dan pengetahuanmu.' jelas Carmilla panjang lebar.

__ADS_1


Meski benar begitu....


Sekalipun memang benar, bahwa Lucius berhasil mengungguli tingkat S bahkan dengan tubuh tak berbakatnya....


Sekali lagi, Lucius merasa dunia benar-benar tak adil.


"Cincin sihir Stellastra, apakah itu tak bisa melakukan sesuatu pada batas kekuatanku?" tanya Lucius yang terlihat sudah mulai putus asa.


'Yah, kau bisa memasang satu lagi cincin sihir itu. Tapi melihat kondisi tubuhmu, cincin sihir yang ketiga itu hampir mustahil untuk dipasang. Tidak dengan batas kemampuanmu itu.'


"Kau.... Tidak berbohong kan?"


'Untuk apa? Aku sendiri juga baru menyadarinya tadi. Cepat atau lambat, tiap manusia akan mencapai batasnya.'


'Braaakk!!!'


Lucius terjatuh lemas di lantai setelah mendengar kenyataan itu. Kenyataan bahwa dirinya terbatas oleh ketidakberdayaannya sendiri terhadap apa yang disebut sebagai bakat.


Menyadari hal itu, Lucius mulai berpikir bahwa tak ada salahnya untuk mengurangi porsi latihannya secara drastis.


Lagipula, Ia akan mencapai batas maksimal kemampuannya juga kan? Cepat atau lambat.


Di saat keputusasaan memenuhi hati dan pikiran Lucius....


'Yah meskipun, kau bisa melakukan pembentukan ulang tubuh. Memaksa bakat itu sendiri muncul dalam tubuhmu.'


"Eh?! Kenapa tak bilang dari tadi?! Tapi, apa maksudnya dengan pembentukan ulang tubuh?" tanya Lucius penasaran. Semangatnya telah kembali setelah mendengar ada peluang seperti itu.


'Pembentukan ulang tubuh, Body Refinement, Awakening, Kebangkitan, Rebirth, Terlahir kembali. Banyak nama yang mengikutinya, tapi pada dasarnya semuanya sama. Dimana ini merupakan salah satu teknik rahasia manusia zaman dulu untuk melawan iblis.'


Semangat Lucius yang telah kembali, juga dengan kondisi tubuh yang mulai membaik membuatnya mampu untuk bangkit dan berdiri. Kini berdiri tepat di depan cermin untuk melihat ekspresi Carmilla secara langsung.


'Dengan kata lain, kau mengorbankan seluruh Mana yang telah kau latih dan menukarnya untuk membentuk tubuh yang lebih kuat. Membuat manusia yang lemah itu memiliki batas potensi yang lebih tinggi setelah menggunakan teknik ini.'


"Bu-bukankah itu teknik yang sangat hebat?! Kenapa aku tak pernah mendengarnya di buku manapun?"


Dengan ekspresi wajah yang agak rumit serta terkesan sedikit malu, Carmilla pun membalas.


'Yah, itu karena sama seperti namanya. Setelah menggunakan teknik ini, kau dapat meningkatkan batas potensi tubuh tak berbakat mu itu. Tapi di sisi lain, kau akan merasakan rasa sakit yang luar biasa sepanjang prosesnya, ditambah kemampuanmu akan kembali menjadi Lucius yang lemah di goa goblin itu. Tidak.... Mungkin lebih lemah dari itu.'


"Eh?"


Lucius menganga lebar setelah mendengar kelemahan dari teknik rahasia itu. Tapi menyebutnya sebagai kelemahan terkesan terlalu baik hati.


Tak peduli seberapa hebatnya suatu teknik, jika hasilnya membuat pengguna menjadi selemah orang biasa....


Maka tak akan ada gunanya.


Dan benar saja.


'Pada hasilnya. Banyak pengguna teknik itu terbunuh oleh iblis rendahan karena kekuatan mereka kembali seperti masa anak-anak. Dan karena itu, ku dengar Raja umat manusia kala itu melarang penggunaan dan penyebaran teknik ini pada bentuk apapun. Mungkin karena itu lah teknik ini punah?'


"Aah, ya. Tentu saja. Itu bukan lagi kelemahan, tapi bunuh diri."

__ADS_1


__ADS_2