Murid Ratu Iblis

Murid Ratu Iblis
Chapter 76 - Reruntuhan


__ADS_3

'Krrettakk! Kraaakk!!!'


Lucius berjalan secara perlahan di dalam sebuah reruntuhan kuno. Sebuah reruntuhan yang terpendam jauh di dalam tanah.


Hampir semua bangunan yang ada telah hancur sepenuhnya. Tapi struktur dari bangunan yang dilihatnya mengingatkan Lucius atas struktur bangunan di goa goblin itu.


Tempat pertama kali dirinya bertemu dengan Carmilla.


Saat menanyakannya, Carmilla hanya bisa membalas dengan suara yang gemetar.


'Tempat ini dibangun oleh bangsa iblis. Sama seperti kota bawah tanah tempat kau menemukan pecahan jiwaku.'


Lucius dapat merasakannya dengan jelas. Bahwa Carmilla saat ini tengah panik. Mengetahui bahwa kekuatan iblis yang digunakan oleh Zephyrith adalah kekuatan Iblisnya, hanya ada satu hal yang bisa menjelaskan semua itu.


Yaitu entah bagaimana, Zephyrith menemukan reruntuhan yang berada di bawah tanah antah berantah ini, lalu mengalahkan penjaga yang disebutkan oleh Carmilla, dan memperoleh jantungnya.


Tapi dalam hatinya Lucius mulai bertanya-tanya.


Jika memang benar itu adalah jantung Carmilla, bagaimana mungkin bisa ada iblis yang mau menjaga tempat ini selama ribuan tahun lebih?


Dan juga, kenapa bisa kekuatan yang dihasilkan oleh obat buatan Zephyrith sekuat itu?


Apakah Carmilla benar-benar iblis biasa seperti yang disebutkannya?


Saat masih mempertanyakan hal itu, Carmilla berbicara dalam pikiran Lucius. Seakan-akan bisa membaca pikirannya sebelumnya.


'Kau tahu, aku adalah seorang peneliti sihir. Aku mencintai sihir melebihi apapun, Lucius. Mungkin.... Sama seperti mu. Melihat mu bekerja keras, membaca ratusan buku tanpa henti, bereksperimen terhadap sihir, bahkan menciptakan sihir original. Semakin lama melihat dirimu, kau semakin mengingatkan ku pada diriku yang dulu.' ucap Carmilla.


"Peneliti.... Sihir? Bukankah kau bilang bangsa iblis sudah sangat kuat bahkan tak perlu berlatih atau apapun?" tanya Lucius penasaran sambil terus berjalan di reruntuhan ini.


Di tangan kirinya, bola api berwarna kekuningan nampak memberikan penerangan yang cukup untuk perjalanan Lucius.


Tapi mendengar pertanyaan dari Lucius, Carmilla hanya bisa terdiam.


Sebelum akhirnya....


'Kau benar. Iblis itu kuat. Karena terlalu kuat, kami sama sekali tak menghargai kekuatan itu sendiri. Itulah kenapa bangsa iblis hancur.' jelas Carmilla dengan suara yang terdengar penuh kesedihan.


"Tu-tunggu. Jangan katakan rencana mu setelah bangkit itu adalah untuk...."


Lucius berpikir, jika Carmilla bangkit seutuhnya apakah iblis itu berniat membangkitkan semua iblis yang lain? Lalu memulai semuanya kembali dari awal dengan pengetahuan yang lebih baik?


Bukankah jika itu terjadi, dunia akan hancur lebur?


Masih dalam kepanikannya, Lucius mendengar jawaban dari Carmilla.


'Tentu saja! Untuk menghirup udara segar ini dengan tubuhku sendiri!' balas Carmilla dengan penuh semangat.


"Eeh? Tapi udara di sini sama sekali tak segar. Bahkan pengap." balas Lucius.


'Bodoh! Itu hanyalah sebuah ungkapan belaka!'


Lucius menyadarinya. Bahwa Carmilla sama sekali tak mau menyebutkan tujuan sebenarnya setelah dibangkitkan di dunia ini sekali lagi.

__ADS_1


Tapi memang apa yang bisa dilakukannya?


Sekalipun tak mau karena takut dunia hancur, Carmilla dengan kekuatan mentalnya yang jauh lebih besar bisa menekan jiwa Lucius dengan mudah.


Sama seperti tiap kali Carmilla mengambil alih paksa tubuhnya.


Tapi bukan untuk beberapa menit. Melainkan untuk selamanya. Itu mungkin saja terjadi.


'Apakah aku.... Telah membawa malapetaka pada dunia ini? Aaah.... Maafkan aku, dunia.' pikir Lucius dengan wajah yang terlihat begitu lesu.


Secara tiba-tiba, langkah kakinya terhenti setelah menjelajahi reruntuhan ini selama beberapa jam.


Tidak.


Lebih tepatnya dihentikan secara paksa.


Sama seperti yang dipikirkannya. Carmilla dapat dengan mudah mengambil alih tubuh Lucius kapan saja. Seperti saat ini....


'Srrug! Sruugg!!'


Dengan cepat, Carmilla berlari ke salah satu tumpukan puing-puing bangunan kuno itu. Melemparkan semuanya dengan menggunakan sihir tanah sederhana.


Di balik reruntuhan itu....


Terlihat kerangka seekor monster yang hanya pernah dilihat oleh Lucius dari buku pelajarannya.


Ukuran dari kerangka itu cukup besar. Dengan tinggi yang mungkin mencapai 4 meter lebih, dengan lebar tubuh mencapai hampir 2 meter.


Melihat dari tulang tengkoraknya, Lucius sangat yakin atas monster apa yang ada di hadapannya.


"Thorax...." ucap Carmilla tiba-tiba yang segera berlutut di hadapan tulang belulang itu. Ia nampak membelai kepalanya sembari menangisinya.


'Carmilla?' tanya Lucius keheranan melihat sisi lain dari Carmilla ini.


Sosok yang selalu terkesan begitu kuat dan terkadang begitu sombong, kini terlihat begitu rapuh dan terkesan....


Begitu lemah.


Carmilla terlihat terus menangisinya selama beberapa menit. Tanpa sepatah kata pun yang keluar dari bibirnya.


"Hiks.... Kau telah berjuang dengan baik, Thorax. Beristirahat lah. Maaf karena aku terlambat 3 tahun lebih...." ucap Carmilla sambil segera bangkit dari tanah.


Ia mengarahkan tangan kanannya ke depan, merapalkan mantra yang sama sekali belum pernah di dengarnya.


Dengan formasi lingkaran sihir berwarna hitam kemerahan itu, cahaya merah gelap yang muncul secara perlahan menelan lalu membakarnya hingga tak bersisa sama sekali.


"Dengan ini, aku membebaskan mu dari tugas ini, Thorax." lanjut Carmilla.


Entah karena kebetulan atau bukan, Lucius dapat merasakan belaian angin yang begitu lembut menyelimuti tubuhnya. Sebelum akhirnya mulai memudar dan menghilang sepenuhnya.


'Carmilla, barusan itu?' tanya Lucius penasaran.


"Thorax, penjaga dari jantung ku. Seharusnya kekuatannya setara dengan seorang pahlawan dari Lunaria. Tapi...."

__ADS_1


Carmilla mengalihkan pandangannya pada lingkungan sekitarnya yang dipenuhi dengan reruntuhan itu.


Melalui mata sihir itu, Lucius dapat melihatnya. Sisa Mana yang terperangkap di tempat ini. Semuanya memiliki warna yang berbeda-beda, seakan-akan berasal dari ras yang benar-benar berbeda.


Tapi yang paling menyita perhatian Lucius adalah sisa tebasan cakar di berbagai dinding di sekitar reruntuhan ini.


Tebasan cakar itu tak hanya besar, tapi juga meninggalkan sisa Mana yang begitu melimpah hanya untuk sebuah bekas cakaran.


Ukuran sisa Mana itu sendiri bahkan setara dengan Mana manusia dewasa pada umumnya. Sedangkan jumlah tebasan cakar di sekitar Lucius saja?


Ada ratusan lebih.


'Yang benar saja?! Apa-apaan kekuatan itu?!' teriak Lucius panik.


"Beastmen.... Dewi gila itu, apa yang dipikirkannya memberikan berkah cahaya pada seekor hewan buas." keluh Carmilla.


Tak lama setelah itu, Carmilla yang terus menyelidiki lingkungan di sekitarnya menemukan setidaknya 50 tengkorak serta kerangka manusia dan hewan buas.


'Carmilla, jangan katakan bekas cakar itu....' tanya Lucius sekali lagi untuk memastikannya.


"Pahlawan yang diberkahi Dewi gila Lunaria. Beastmen. Manusia setengah hewan buas yang bisa berubah bentuk kapan saja mereka mau. Seperti yang kau lihat, kekuatannya sama sekali tak main-main. Dan ini bahkan hanya sisa cakarnya selama setidaknya 3 tahun." jelas Carmilla.


Lucius menelan ludahnya setelah mendengar ada pahlawan yang sekuat itu dari ras lain selain manusia. Sebelum sempat berkomentar, Carmilla melanjutkan penjelasannya.


"Bukankah menurut peta benua di jaman ini, mereka tergabung dalam wilayah pasukan barbar?"


'Eh? Barbar? Kalau begitu, bukankah dia akan menggunakan kekuatannya untuk merusak dunia?'' tanya Lucius khawatir.


"Entah lah. Kau tanyakan saja pada penganut Gereja Dewi gila itu. Cih, bahkan pada jamanku dia lebih sering memberikannya pada Manusia, Elf atau Dwarf. Tapi sekarang?"


Tiba-tiba langkah kaki Carmilla terhenti. Ia memandangi sebuah kristal es berwarna merah menyala di hadapannya.


Kristal itu memiliki tinggi setara dengan tubuh manusia dewasa. Melihatnya dari kejauhan saja, Lucius dapat merasakan hawa yang begitu dingin dari kristal es itu.


Hanya saja....


"Sudah ku duga. Dengan kekuatan Beastmen itu, tentu saja mudah bagi mereka untuk menghancurkan segelnya murni hanya dengan menggunakan kekuatan fisik. Sialan, apa yang harus ku lakukan sekarang?" tanya Carmilla pada dirinya sendiri setelah melihat bagian tengah dari kristal es kemerahan itu telah hancur.


'Jangan katakan....'


"Tak salah lagi. Jantung ku telah dicuri. Hah...."


Meski begitu, Carmilla terlihat biasa saja. Ia bahkan tak sesedih ketika mengetahui penjaganya terbunuh oleh rombongan penjarah ini.


Justru.... Carmilla terlihat tersenyum puas sembari berkata.


"Lucius. Nampaknya aku akan ikut serta dalam perjalananmu menjadi lebih kuat, sekali lagi, dari tubuh yang lemah." ucap Carmilla dengan senyuman yang lebar.


'Ikut serta dalam perjalanan ku? Apa itu artinya, kau ingin segera dibangkitkan?' tanya Lucius penasaran.


Dengan senyuman yang semakin melebar, Carmilla pun membalas.


"Tentu saja! Carikan aku tubuh yang bisa ku kuasai seutuhnya! Tidak menerima apapun dibawah Half-Elf!"

__ADS_1


'Kau sadar, bahwa itu cukup sulit kan?'


__ADS_2