
Pada siang hari, sebelum jam istirahat siang, semua itu dimulai.
'Dok! Dok!'
Suara ketukan pintu yang cukup keras dapat terdengar dari luar ruangan kelas F ini.
Pak Anderson yang telah mengetahui jadwal hari ini, segera menyadari bahwa mereka kemungkinan adalah Dewan Pelajar.
"Aah, semuanya. Nampaknya pelajaran hari ini sampai disini saja. Karena kalian tahu, Dewan Pelajar akan segera mengadakan Evaluasi untuk kalian." ucap Pak tua itu sebelum undur diri.
Dari balik pintu ruang kelas itu, terlihat dua sosok Dewan Pelajar.
Satu dari mereka memiliki tubuh yang besar dan tinggi dengan rambut kecoklatan nya yang pendek. Lambang huruf B terlihat jelas di dadanya. Ia tak lain adalah Ethan.
Di kedua tangannya terlihat dua buah kotak kayu yang cukup besar. Menyimpan beberapa peralatan yang diperlukan dalam evaluasi ini.
Tapi masalah terbesar adalah orang yang berjalan didepannya.
Dengan rambut perak yang panjang dan terurai, serta aura yang sedingin es, gadis itu berjalan sembari memandangi seisi kelas F ini.
Luna Frostbourne.
"Kenapa dia yang mengevaluasi jelas F ini?!" bisik Max kesal.
"Entahlah.... Bukankah seharusnya mereka mengirim penguji rendahan juga untuk kelas ini?" tanya Oliver kembali juga dengan berbisik.
Lucius yang baru pertama kali melihat sosok Luna Frostbourne dapat merasakan auranya yang begitu mengintimidasi.
'Ini kah pelajar jenius yang telah mencapai kelas A di tahun ketiganya?' pikir Lucius dalam hatinya.
Tapi tanpa di duga olehnya....
'Lucius. Berhati-hatilah. Dia.... Sangat berbahaya untuk dirimu yang saat ini.' ujar Carmilla dengan nada yang begitu serius.
Tak setiap hari Ia mendengar Carmilla mengatakan sesuatu dengan begitu serius. Bahkan, Lucius dapat merasakan ketakutan Carmilla yang mengalir hingga ke dalam dirinya.
"Eh? Kenapa?" tanya Lucius dengan berbisik kepada Carmilla.
Sementara Ethan dan Luna menata meja di depan kelas untuk evaluasi ini, Carmilla pun membalas.
'Aku hanya pernah menjumpai bakat sebesar ini sebanyak dua kali sepanjang ratusan tahun hidupku.'
'Deg! Deg!!'
Mendengar kata 'berbakat' dari mulut Carmilla sendiri sudah merupakan suatu keajaiban. Karena baginya, kata bakat bukanlah sesuatu yang bisa dilemparkan kesana kemari.
"Ba-bagaimana kau tahu dia punya bakat sebesar itu?" tanya Lucius sambil berbisik karena penasaran.
'Mudah saja. Inti Mana di jantungnya, aura, sikap, dan terlebih lagi, lihat lah jari manisnya.' balas Carmilla.
Dengan segera, Lucius memperhatikan jari manis di tangan kanan Luna.
"I-itu kan?!"
'Cincin sihir, versi manusia.' ujar Carmilla.
Di jari manis tangan kanan Luna, dapat terlihat sebuah cincin kebiruan yang kecil mengitari jarinya. Berbagai formasi sihir dan tulisan yang rumit terukir di cincin yang terus berputar itu.
Tak salah lagi, bahwa itu adalah cincin sihir yang serupa dengan apa yang ditanamkan oleh Carmilla di jantung Lucius.
Sama seperti perkataan Carmilla selama berlatih di goa, manusia lebih sering memasangkan cincin sihir di bagian luar tubuh mereka.
Meskipun tidak seefektif dan sekuat cincin sihir Carmilla, tapi efeknya tetap saja sangat kuat.
__ADS_1
Jika diibaratkan, hanya dengan cincin sihir itu saja seseorang seakan-akan memiliki lengan tambahan untuk membantunya dalam berbagai hal. Terutama dalam pertarungan.
Alasan Carmilla menganggap Luna sangat berbakat, adalah karena Luna mampu memasang cincin sihir di usia yang masih 17 tahun saja.
Itu karena cincin sihir hanya bisa dipasangkan oleh penggunanya. Tak bisa dipasangkan oleh orang lain.
Meskipun Lucius dibantu oleh Carmilla, tetap saja tubuhnya sendiri yang memasangnya.
Kerumitan dari formasi cincin sihir itu bahkan membuat Carmilla menghabiskan puluhan tahun untuk mempelajari dan menyempurnakannya.
Dan terlebih lagi....
'Selama ratusan tahun, hanya ada dua bakat yang setara dengannya?!' pikir Lucius terkejut sambil terus memperhatikan sosok Luna Frostbourne di depan kelas itu, yang masih sibuk mengeluarkan beberapa peralatan dari kotak yang dibawa Ethan.
Tak berselang lama, Carmilla melanjutkan perkataannya.
'Yang pertama, adalah seorang High Elf yang bertekad melawan iblis, Eryndoriel, dan yang kedua.... Adalah Raja Iblis itu sendiri.'
Mata Lucius terbuka sangat lebar. Bahkan tanpa Ia sadari, mulutnya juga telah terbuka lebar karena dipenuhi oleh rasa tak percaya.
'Di-dia disandingkan dengan ras High Elf, bahkan dengan Raja Iblis?!'
Lucius benar-benar tak bisa percaya bahwa ada orang yang begitu diberkahi oleh langit seperti Luna. Terlebih lagi, saat ini Ia sedang berdiri di hadapannya.
'Yah, meskipun bisa dibilang sangat sial baginya. Karena terlahir sebagai manusia tentunya. Jika dia terlahir sebagai Elf, mungkin dia bisa menguasai setengah benua ini saat dewasa.' ujar Carmilla sebelum kembali terdiam.
Lucius hanya bisa terdiam. Entah apakah berita itu merupakan suatu keberuntungan? Atau kesialan?
Mengesampingkan hal itu, Lucius mulai memperhatikan teman-temannya yang mulai dipanggil untuk maju kedepan.
Terlihat sosok Max diminta untuk mengangkat dan mengayunkan batang logam hitam beberapa kali. Setelah selesai, Luna terlihat mengangguk sambil mengarahkan tangannya untuk peralatan pengujian yang berikutnya.
Hingga di pengujian terakhir....
"Keluarkan seluruh Mana mu ke dalam kristal itu. Jika api muncul, sekecil apapun, kau lulus." ucap Luna dengan nada yang cukup datar.
Max terlihat mengarahkan kedua tangannya pada bola kristal itu.
Secara perlahan, Max mengerahkan seluruh Mana di dalam tubuhnya untuk menyalakan api di dalam kristal kecil itu.
"Hhnnggggghh!!!"
'Swush!'
Sebuah api kecil muncul di dalam kristal itu selama beberapa detik.
"Hah.... Hah.... Hah.... Sialan, sihir bukanlah andalanku...." keluh Max dengan tubuh yang telah kelelahan setelah menghabiskan Mana nya.
"Lalu kenapa ke akademi sihir?" balas Luna sedikit kesal.
"Ayah sialanku memaksaku kemari...." ucap Max sambil mengelap keringat di keningnya.
"Aaah, begitu? Entah kabar baik atau buruk, kau lulus dengan standar kelas F. Berikutnya."
Bagi Max, itu memang berita yang entah baik atau buruk. Tapi setidaknya, Ia masih bisa bertahan di akademi ini.
Berikutnya, Sophia mampu menyelesaikan semua evaluasi dengan mudah. Bahkan mampu menciptakan api yang memenuhi seluruh bola kristal itu untuk satu menit penuh, sebelum Luna memintanya berhenti.
Oliver sendiri sama seperti Max. Lulus dengan tipis di pengujian kapasitas Mana. Tapi juga hampir tidak lulus dalam uji fisik untuk mengayunkan batang logam karena fisiknya tak begitu kuat.
Emily nampak kesulitan di pengujian fisik, dan berhasil lulus dengan sangat tipis. Tapi Ia berhasil dengan mudah di pengujian sihir dengan menciptakan api yang sebesar genggaman tangan, atau setengah dari bola kristal itu.
"Huwah, aku tak tahu Emily memiliki Mana sekuat itu?" ujar Lucius terkejut melihatnya.
__ADS_1
"Selanjutnya."
Kali ini adalah giliran Lucius. Ia dapat dengan mudah menyelesaikan evaluasi fisik. Sedangkan untuk evaluasi kapasitas sihir sendiri....
"Henggghhh!!!" teriak Lucius berusaha keras untuk mengeluarkan sebanyak mungkin Mana yang tersisa di tubuhnya.
'Swuusshh!'
Akhirnya, api sebesar jempolnya muncul selama setengah menit sebelum akhirnya padam karena kehabisan Mana.
"Hah.... Hah.... Hah...."
Lucius cukup kesal dalam hatinya. Karena semua ini terjadi akibat Ia menguras habis Mana nya di pagi hari.
'Sialan, takkan lagi aku menguras Mana ku di pagi hari. Jika ada hal seperti ini lagi, atau lebih buruk.... Aku bisa dikeluarkan.' pikir Lucius dalam hatinya.
"Lulus. Meskipun, aku sedikit kecewa karena hanya ini kemampuanmu. Apakah kau orang yang sama yang mengalahkan Damon dari kelas C?" tanya Luna dengan tatapan sedingin es.
"Ma-maaf...."
"Yah, terserah kau. Selanjutnya."
Terakhir adalah giliran Alexander Brown. Sosok yang dikenal sebagai orang yang serba bisa, namun tak menguasai satu pun kemampuan khusus.
Setelah melihat kemampuan Sophia dan Emily. Lucius berpikir bahwa takkan ada lagi yang bisa mengejutkannya.
Alex dapat menyelesaikan pengujian fisik dengan nilai rata-rata. Tak hebat, tapi juga tak buruk. Akan tetapi....
"Eh?!" teriak Lucius terkejut.
"Maaf, tapi bisa kah menggunakan yang itu?" tanya Alex kepada Luna sembari menunjuk bola kristal yang lebih besar di dalam kotak itu.
Luna terlihat memberikan tatapan sinis yang dingin pada Alex.
"Kau ingin pamer?"
"Tidak. Aku hanya tak ingin memecahkannya saja." balas Alex dengan senyuman yang begitu ramah di wajahnya.
Luna nampak terdiam selama beberapa saat, sebelum akhirnya menuruti permintaan Alex dan mengambilkan bola kristal yang lebih besar.
Kali ini, ukurannya sebesar dua kali yang digunakan untuk kelas F ini. Lebih dari itu, terlihat jauh lebih berat dengan banyak alur sihir yang kompleks di sekitarnya.
"Asal kau tahu, ini adalah kristal sihir untuk kelas C. Di sana, sudah ada 2 murid yang dikeluarkan karena tak mampu menyalakan api di dalamnya. Jika kau memilih bola kristal ini dan tak mampu menyalakannya, kau juga akan dikeluarkan." jelas Luna dengan tegas.
Semua orang di kelas F ini sontak berdiri karena merasa itu adalah peraturan yang tak adil.
Tentu saja level sihir kelas F dan C terpaut sangat jauh. Jika Alex diuji dengan standar kelas C maka....
Peluangnya untuk gagal sangat lah besar.
Tapi Lucius sama sekali tak siap untuk melihat evaluasi dari Alex.
...'SWUOOOOOSSSHHH!!!'...
Lingkaran sihir yang tak hanya dua kali lebih besar, namun juga memiliki daya tahan sihir yang jauh lebih tinggi itu....
Kini di dalamnya telah dipenuhi oleh kobaran api yang begitu besar.
Alex bukan hanya mampu menyalakan api kecil di bola kristal kelas C. Namun memenuhinya dengan banyak Mana yang tersisa.
"Sudah ku katakan bukan? Aku hanya tak ingin menghancurkan bola kristal untuk kelas F." ujar Alex dengan senyuman.
Luna nampak menundukkan kepalanya, menatap Alex dengan sangat tajam penuh dengan kecurigaan sembari bertanya.
__ADS_1
"Kau.... Siapa kau? Kenapa orang sekuat dirimu jatuh ke kelas F?"