Murid Ratu Iblis

Murid Ratu Iblis
Chapter 95 - Ujian Praktik


__ADS_3

Setelah menyelesaikan ujian teorinya, Lucius segera bersiap-siap untuk mengikuti ujian praktik yang diadakan di lantai bawah.


Di tengah-tengah aula yang besar itu, beberapa pengajar dan profesor yang ada, termasuk Dewan Pelajar tengah menyiapkan berbagai sarana ujian praktiknya.


Ujian praktik yang pertama yaitu sebuah bola logam yang melayang di atas udara dengan 10 cincin yang mengitarinya secara acak.


Kemudian sebuah kristal sihir raksasa yang akan digunakan untuk mengukur Mana.


Dan terakhir, ujian dilakukan diluar ruangan dimana pelajar akan diminta menembakkan sihir terbaik dan terkuat yang mereka miliki ke langit.


Ujian terakhir itu juga digunakan sebagai perayaan terakhir ujian penentuan kelas ini. Dimana banyak penduduk kota hadir untuk menyaksikannya secara langsung dari luar akademi.


Sedangkan anggota keluarga memperoleh undangan untuk ujian terakhir itu dan mampu melihat secara langsung dari dalam akademi.


"Yoo, Lucius. Bagaimana ujian teori barusan?" tanya Max sambil menepuk pundak Lucius dengan keras.


"Eh? Aah, yah, lumayan."


"Lumayan apanya, bahkan bagiku pun itu terlalu mudah." sahut Sophia yang baru saja tiba.


"Kau benar, ujian barusan cukup mudah selama kau belajar. Aku yakin Lucius akan memperoleh nilai sempurna dari itu." sahur Alex yang juga baru saja datang.


Emily dan juga Oliver terlihat datang menyusul tanpa mengutarakan sepatah kata pun. Meskipun Emily merupakan putri dari bangsawan yang menjaga perpustakaan, Ia lebih senang mempelajari sihir lain dibandingkan dengan pelajaran akademi.


Sedangkan Oliver sendiri....


"Sialan. Pelajaran tak berguna, memangnya bagaimana cara pelajaran barusan membantu ku membunuh target?" keluh Oliver.


Lucius segera menyadari bahwa wajah kesal sekaligus sikap murung mereka diakibatkan oleh kesulitan mereka dalam mengerjakan ujian teori.


Saat mereka berenam baru saja berkumpul, Profesor Levaria sekaligus Kepala dari Akademi ini segera naik mimbar dan berbicara.


"Selamat untuk kalian semua karena telah menyelesaikan ujian teori. Para pegawai akademi akan mengoreksi pekerjaan kalian saat ini juga. Sekarang, kalian akan memulai ujian praktik untuk mengukur seberapa baik kalian bisa menerapkan pengetahuan barusan dalam dunia nyata."


Profesor Levaria terus melanjutkan pidato singkatnya sekaligus penjelasan dari tiap ujian itu sendiri.


Ujian yang pertama yaitu piringan keseimbangan dimana sebuah bola logam dengan 10 cincin yang mengitarinya. Tergantung dari seberapa banyak cincin yang bisa diseimbangkan oleh pelajar, itu akan menentukan keahlian mereka dalam penguasaan Mana.


Kemudian ujian kristal sihir raksasa itu sangat lah sederhana. Yaitu untuk mengukur seberapa besar kapasitas Mana seseorang secara langsung.


Tapi bukan hanya itu.


Untuk mengukurnya, seorang pelajar harus menyalurkan Mana mereka ke dalam kristal sihir itu. Perubahan warna kristal yang agak bening menjadi kebiruan itu akan menjadi tolok ukur dari seberapa besar Mana seseorang.


Tentunya, karena ujian ini akan menguras Mana, akan bijak jika seorang pelajar menyisakan cukup Mana untuk pengujian sihir terbaik mereka nanti.


"Dan terakhir pada ujian praktik kali ini, Pahlawan Penyihir, Nona Alora Skyweaver akan menemani kita semua. Beliau akan menilai secara langsung kemampuan masing-masing dari kalian." jelas Profesor Levaria dengan keras.


Semua pelajar pun mulai merinding ketakutan. Karena kemampuan sang pahlawan penyihir terlalu tinggi, tentu saja akan membuat penilaian menjadi sangat sulit.


"Sialan! Kenapa dia ada di sini?" keluh Max. Bagaimana pun, praktik sihir adalah bidang terlemahnya karena Ia justru lebih fokus pada kemampuan fisik.


Sedangkan Emily dan juga Oliver terlihat lebih percaya diri pada ujian praktik ini.


Sementara itu....


"Anda yakin tak apa-apa menghabiskan waktu untuk ujian seperti ini, Nona Alora?" tanya Profesor Levaria dengan wajah yang sedikit khawatir itu.


"Tak masalah. Aku ingin melihat perkembangan seseorang." balasnya dengan senyuman.


"Aah, anak itu?"

__ADS_1


"Ya. Bagaimana pun, dia adalah pemuda yang ku akui bakatnya. Dan orang yang paling mungkin untuk terpilih sebagai pahlawan penyihir berikutnya." balas Alora.


Levaria sedikit khawatir mendengar perkataan Alora yang terkesan bisa saja kehilangan nyawanya kapan saja itu.


"Tolong jangan berbicara seperti itu, Nona Alora. Anda masih memiliki masa depan yang...."


"Khan Besar telah dikalahkan." ucap Alora singkat memotong perkataan Levaria.


'Deg! Deg!!'


"Eh? Khan Besar.... Jangan katakan, pemimpin dari seluruh Barbarian di Utara itu?" tanya Levaria terkejut.


Alora menganggukkan kepalanya secara perlahan. Membenarkan pertanyaan dari Kepala Akademi ini.


"Tapi bukankah dia setidaknya diperkirakan memiliki tingkat kekuatan SS ke atas? Satu tingkat dibawah Anda?" lanjut Levaria.


"Tak hanya itu. Khan Besar juga memiliki 8 bawahan dengan tingkat setidaknya S. Meskipun sedikit lemah dalam sihir, pasukan Barbarian dibawah pimpinan Khan besar itu sangat lah kuat dalam pertarungan fisik. Bisa dikatakan salah satu yang terkuat di Benua ini." jelas Alora sambil memejamkan matanya karena kesal.


"Siapa yang mengalahkannya? Apakah para Elf karena mereka cukup berdekatan dengan Hutan Elf?" tanya Levaria.


Alora terdiam untuk sesaat sambil mengamati para pelajar yang ikut serta dalam ujian ini.


Dalam ujian keseimbangan, hampir tak ada yang mampu menyeimbangkan hingga 4 buah cincin. Sedangkan pada ujian kristal sihir, sebagian besar hanya mampu mencapai angka 40. Dan hanya sebagian kecil yang mampu mencapai angka 60 keatas.


Saat Alora melirik keluar aula ini, Ia dapat melihat sebagian besar hanya mampu membuat sihir ledakan kecil atau pilar batu setinggi 4 meter saja.


"Muridmu kali ini benar-benar menyedihkan, Levaria." keluh Alora setelah memperhatikan semua pelajar barusan.


"Aku pun berpikir demikian. Generasi kali ini tak terlalu bagus, meskipun ada beberapa pengecualian." balas Levaria sambil menatap ke salah seorang pelajar dengan rambut kemerahan itu.


Ia tak lain adalah Damon Emberheart dari kelas C yang berhasil menyeimbangkan 6 buah cincin sihir, memperoleh angka pengukuran Mana mencapai 150, dan juga mampu menciptakan ledakan yang besar di udara menggunakan sihir elemen api andalannya.


"Aah, setidaknya dia akan naik tingkat ke kelas B bukan? Atau A?" tanya Alora penasaran.


Setelah beberapa saat kembali mengamati ujian para pelajar yang lain, Levaria kembali mengungkit pertanyaan barusan.


"Jadi, siapa yang mengalahkan Khan Besar itu?"


"Kami belum bisa memastikannya." balas Alora singkat.


"Apa? Pembunuh Khan Besar seharusnya juga merupakan sosok yang kuat bukan? Bagaimana mungkin...."


"Gereja Cahaya mengirim 2 orang Inquisitor serta 250 Ksatria Suci. Termasuk di dalamnya adalah 10 Paladin. Tapi tak ada yang kembali satu orang pun dari sana." balas Alora dengan wajah yang penuh amarah.


Kekuatan dari seorang Inquisitor hampir mendekati tingkat SS. Membuat kekalahan mereka bahkan hingga tak mampu untuk melapor kembali sangat lah mengerikan.


Begitu pula dengan 10 Paladin yang memiliki kekuatan mendekati tingkat S itu.


Jika mereka semua bisa dikalahkan tanpa meninggalkan jejak. Itu artinya lawan mereka sangat lah mengerikan baik dalam segi kekuatan maupun kecerdikan.


"Ma-maaf jika mempertanyakan hal itu...." ucap Levaria menyesal. Ia segera berdiam diri dan berniat berjalan menjauhi Alora, memberikannya sedikit ruang untuk menyendiri. Tapi....


"Itu lah kenapa aku kemari. Aku berharap banyak pada bocah itu." ucap Alora sambil memperhatikan sosok Lucius di kejauhan.


Lucius nampak mampu dengan mudah menyeimbangkan keseluruhan 10 cincin yang mengitari bola logam melayang itu.


"Tunggu dulu. Jangan katakan...."


"Aku akan membawanya dalam ekspedisi ke wilayah Utara bersama diriku, 2 Inquisitor, 15 Paladin, dan juga 300 Ksatria Suci. Tentu saja, semua itu tergantung dari hasil ujiannya." balas Alora yang seakan-akan telah mengetahui pertanyaan yang akan diajukan oleh Kepala Akademi itu.


Saat ini, keduanya memperhatikan sosok Lucius yang mulai dikerubungi banyak pelajar lain. Semua orang nampak mulai mendukung karena dipenuhi oleh rasa kagum terhadap dirinya.

__ADS_1


Di hadapan kristal sihir yang agak bening itu, Lucius meletakkan tangannya pada perangkat yang disiapkan. Lalu mengalirkan sebagian besar Mana yang ada di tubuhnya ke dalam kristal sihir itu.


Hasilnya....


"Yah. Seperti dugaanku. Bocah itu benar-benar berbakat." ujar Alora setelah melihat keseluruhan kristal sihir yang bening itu berubah warna menjadi biru tua.


Sedangkan angka yang tercatat untuk potensi kemampuan sihir Lucius....


"Ka-kau bercanda?! 638?!" teriak Levaria terkejut.


Meski terlihat kecil, angka itu sebenarnya adalah nilai yang sangat besar. Rata-rata penyihir tingkat S akan memiliki kapasitas Mana sebesar 200.


Sedangkan yang dimiliki oleh Lucius saat ini, setidaknya tiga kali lipat lebih besar dibandingkan puncak kekuatannya yang dulu.


"Hmm.... Apakah seharusnya aku mengalirkan lebih banyak lagi?" tanya Lucius pada dirinya sendiri sambil memandangi tangan kanannya.


"No-Nona Alora? Maaf aku penasaran tapi...." ucap Levaria dengan tubuh yang merinding setelah melihat kekuatan Lucius barusan.


"Hmm, dia masih tak menggunakan semua Mana yang ada di tubuhnya. Jika aku menyimpan Mana dalam presentase yang sama seperti dirinya.... Mungkin aku akan memperoleh nilai sekitar 2.000." jelas Alora yang seakan-akan telah mengerti pertanyaan Levaria.


Terakhir saat Lucius melakukan ujian untuk mengeluarkan sihir terbaiknya....


"Panas juga diluar. Kabarnya ada banyak yang menonton dari luar akademi?" tanya Lucius pada dirinya sendiri sambil melihat langit cerah tak berawan itu.


Menyadari hal itu, Lucius segera tahu sihir apa yang akan digunakannya.


'Swuuuusshhh!!!'


Di tanah tempat Lucius berdiri, muncul rangkaian sihir raksasa dengan tiga buah warna yang berbeda.


Lingkaran sihir yang paling besar memiliki warna biru cerah yang indah, kemudian mengelilingi lingkaran sihir kehijauan di tengahnya.


Empat buah lingkaran sihir kecil berada diluar formasi utama namun terhubung secara tak langsung. Semuanya memiliki warna merah menyala yang indah.


Formasi yang sama juga terbentuk di langit dengan ukuran yang jauh lebih besar lagi.


Melihat rangkaian formasi sihir itu, Alora tersenyum lebar sambil tertawa ringan.


"Nona Alora, jangan katakan ini seperti yang ku bayangkan...." ujar Levaria setelah menyadari rangkaian formasi sihir yang sangat kompleks dari Lucius itu.


"Nampaknya pemikiran kita sama. Yah, apapun itu, aku akan meminjam Lucius setelah ini. Aku akan mengajukan permintaan ekspedisi ini sebagai misi pengabdian bagi Lucius nanti dari Gereja Cahaya. Tolong jelaskan sisanya padanya." jelas Alora sambil berjalan pergi meninggalkan aula itu.


Ia nampak memandangi ke arah langit dengan senyuman yang lebar di wajahnya. Alora merasa begitu bangga melihat ada sebuah bibit yang sangat unggul di kerajaan ini.


Setelah itu, langit yang cerah dan panas itu tiba-tiba berubah dengan sangat drastis. Awan mulai terbentuk lalu mulai terkumpul di sekitar akademi ini. Membentuk sebuah segi enam dan menaungi para penduduk yang turut menonton ujian praktik ini.


Memberikan kesejukan dan kenyamanan bagi semua yang menontonnya.


"Ayah! Lihat sihir kakak! Benar-benar luarbiasa!" teriak Michelle yang telah menyelesaikan ujiannya dari tadi, lalu menonton ujian Lucius.


"Lucius, kau benar-benar membuat ayah bangga."


"Sayang, dia benar-benar putra kita kan? Iya kan?" ucap Ibu Lucius sambil menangis karena terharu atas pencapaian putranya.


"Tentu saja dia adalah putra kita. Nampaknya.... Menyekolahkannya ke akademi ini adalah pilihan yang tepat. Sekalipun harus mengorbankan banyak hal." ujar Ayah Lucius sambil terus memandangi awan yang begitu teduh dengan bentuk segi enam sempurna itu.


Semuanya terpana atas kemampuan Lucius bukan hanya untuk mengendalikan cuaca itu. Tapi menciptakan cuaca sendiri seperti kemauannya.


Murni berkat pemahamannya terhadap dunia dan juga sihir yang begitu luarbiasa.


Sementara itu di kejauhan....

__ADS_1


"Aku mengharapkan mu setelah ini, Lucius." ucap Alora setelah puas melihat pemandangan awan yang berbentuk segi enam itu, sebelum akhirnya membuka portal dan kembali ke Gereja.


__ADS_2