Murid Ratu Iblis

Murid Ratu Iblis
Chapter 44 - Secercah Harapan


__ADS_3

'Zraaaasssh!!! Jleeebbb!!!'


"Grooooaaaaarrrr!!!"


Beberapa petualang nampak menyerang beruang besar berwarna hitam itu. Seekor monster yang dikenal sebagai Ursaloth.


"Cih, tebal sekali! Drakon!" teriak salah seorang petualang setelah menarik kembali tombaknya yang menancap di tubuh Ursaloth itu. Meski begitu, tak banyak darah yang menetes dari monster itu.


"Minggir!" teriak Drakon yang berlari kencang sembari mempersiapkan tinju yang dilapisi sarung tangan besi itu.


Dengan kuda-kuda yang sempurna, Drakon menghentakkan kakinya dan memberikan pukulan sekuat tenaga menggunakan tangan kanannya.


'Blaaaaarrrr!!!'


Tak hanya hempasan angin yang kuat, tapi tanah di sekitar tempat Drakon itu berdiri juga terlihat remuk akibat pukulannya.


Meski begitu....


"Grooooaaaarrr!!!" teriak Ursaloth itu sambil mengayunkan tangan kanannya.


'Sraaasshhh!!!'


Drakon terlempar sejauh 10 meter lebih dengan luka cakar yang dalam di tangan kirinya.


"Kugghh! Bahkan dengan pukulan terkuatku, tak mempan ya?" tanya Drakon pada dirinya sendiri.


Tak lama, cahaya kehijauan mulai menyelimuti tubuh Drakon. Sumber cahaya itu tak lain adalah Lyra dan beberapa penyihir lainnya yang menggunakan sihir penyembuhan.


Memulihkan luka Drakon secara perlahan.


Lafael di sisi lain yang memimpin regu penyihir dengan kemampuan serangan yang tinggi, mulai membombardir Ursaloth itu.


'Blaaarr! Duaaarrr! Duaaarrr!!'


Ledakan dari berbagai sihir api mengenai tubuh Ursaloth itu. Sebuah serangan telak dari beberapa penyihir yang seharusnya mampu untuk memberikan luka fatal. Termasuk seekor Ursaloth sekalipun.


Tapi lawan mereka kali ini, bukanlah monster yang normal.


Ursaloth yang berada di hadapan mereka tak hanya jauh lebih besar daripada biasanya. Tapi juga lebih kuat, lebih cepat dan jauh lebih tangguh.


Ledakan rentetan sihir api yang mengenainya barusan sama sekali tak memberikan luka fatal pada Ursaloth itu.


Hanya mampu memberikan sedikit luka bakar yang menghanguskan rambut di kedua lengannya.


"Grrrrrr...."


Guild Master Selena yang melihat semua itu menjadi yakin.


"Wajar saja Donner bersaudara itu dikalahkan dengan mudah. Lawan mereka saja seperti ini." ujar Selena sambil mulai mengangkat pedang besar itu dengan kedua tangannya.


Beberapa petualang lain yang melihat sosok Selena nampak terkagum-kagum. Atau lebih tepatnya, setelah melihat pedang besar Guild Master itu.


Bilah pedangnya memiliki warna hijau muda yang cerah, dengan bilah yang tajam di kedua sisinya. Pada beberapa bagian terlihat alur yang terukir indah pada pedang itu.


Termasuk juga pada gagangnya yang panjang dan tebal. Membuat keseimbangan pedang besar itu begitu sempurna.


Tapi lebih dari itu, apa yang menjadi fokus utama mereka adalah 4 buah Rune yang terdapat pada pedang Selena itu.


Selain Rune "Vor" dan "Vel", pedang Selena memiliki dua buah Rune lain yaitu "Glyn" yang memiliki bentuk huruf beberapa garis dengan sudut yang tajam. Memberikan peningkatan ketajaman senjata saat diaktifkan.

__ADS_1


Kemudian Rune "Levyn" yang memiliki bentuk menyerupai hembusan angin yang lembut. Membuat benda yang memiliki Rune ini menjadi jauh lebih ringan ketika diaktifkan.


Dengan perpaduan Rune itu....


'ZRAAAAAAASSSSHHH!!!'


Selena dapat dengan mudah menebas lengan kanan Ursaloth itu. Meskipun tebasannya kurang dalam dan hanya mampu memberikan luka ringan, tapi itu cukup memberikan harapan bagi petualang yang lainnya.


"Wuoooooohh! Kita bisa menang!"


"Selama ada Guild Master, kita akan baik-baik saja!" teriak para petualang yang lainnya.


Regu kedua dan regu ketiga yang baru saja menyusul regu utama terlihat terkejut setelah mendapati pertarungan telah dimulai.


Dengan cepat, seluruh petualang yang tersisa mulai bergabung dalam pertarungan itu. Sedangkan kelompok Rover dan pengintai yang lainnya mengamankan lokasi untuk mencegah gangguan dari monster yang lainnya.


'Zraaassshh! Klaaaangg! Duaaarrr!! Blaaarrr!!'


Puluhan petualang itu menyerang Ursaloth secara bersamaan. Tanpa memberikannya jeda sama sekali untuk beristirahat.


Meski begitu, Ursaloth itu masih memiliki cukup kekuatan untuk bertahan.


'Blaaaarrr!! Zraaaasshh!!'


Dengan menggunakan pukulan kedua tangannya, Ursaloth itu mampu menghempaskan beberapa petualang sekaligus yang ada di sekitarnya.


Sedangkan ayunan lengan dengan cakar besarnya itu mampu membelah tubuh beberapa petualang yang lainnya.


'Bruuuukk! Braaakkk!!'


Tubuh petualang yang telah terbelah dua itu terlempar begitu saja di sekitar petualang yang lain.


Sebelum menusukkan tombaknya, petualang itu menerima pukulan telak di perutnya. Menghancurkan tubuhnya secara langsung karena hanya terlindungi oleh zirah kulit yang tipis saja.


'Sprraaaaattt!!!'


Semburan darah dan organ dalam yang berceceran kemana-mana itu mengenai tubuh beberapa petualang yang lain.


Tapi mereka sama sekali tak goyah. Yang ada mereka justru semakin marah pada Ursaloth itu dan berniat untuk membalaskan dendam atas kematian rekan mereka.


"Sialan kau!!!" teriak Ironclad yang segera mengayunkan pedang besarnya.


Namun karena hanya terbuat dari baja biasa dan tak memiliki Rune apapun, pedangnya tak mampu menembus terlalu dalam pada kulit Ursaloth itu.


Hanya menancap sedikit, sekitar 1cm saja.


"Cih! Bukankah kulitmu terlalu tebal hah?!"


Belum sempat menarik pedangnya, Ursaloth itu segera memukul tubuh Ironclad dengan kuat.


'Braaaaaakkk!!!'


Membuat pria itu terlempar sekitar 10 meter ke belakang. Namun berkat zirah besinya yang cukup tebal, Ia hanya menderita luka ringan.


"Kugghh, monster sialan...."


Lucius yang melihat kegilaan pertarungan di kejauhan mulai mempercepat langkah kakinya untuk turut bertarung.


"Carmilla, apakah benar dia?" tanya Lucius dengan suara yang lirih.

__ADS_1


'Ku rasa benar dia. Meskipun tipis, aku bisa merasakan Mana iblis dalam tubuhnya.' balas Carmilla singkat.


"Mungkin karena dia sudah melemah setelah bertarung dengan semua petualang itu?" tanya Lucius sekali lagi.


'Bisa jadi. Lagipula di depan sana ada Guild Master itu bukan? Wanita itu memiliki kekuatan bagaikan monster, tak heran jika mereka bisa melemahkan nya.'


Merasa bahwa ini adalah lawan yang tepat, Lucius segera menarik pedangnya sambil mengalirkan sebagian Mana miliknya untuk mengaktifkan ketiga Rune yang ada.


Huruf Rune itu mulai memancarkan cahaya yang tipis dengan warna agak kemerahan akibat logam infernal Steel itu.


Dan segera setelah itu, Lucius menggunakan sihir api untuk menyelimuti pedangnya dengan api merah yang membara.


Bukannya meleleh atau rusak, pedang itu justru nampak semakin kuat karena kontak langsung dengan elemen api.


'Taaap!!!'


Akhirnya, Lucius melompat dan memutar tubuhnya di udara sembari mengayunkan pedangnya. Mengarahkannya tepat di leher Ursaloth itu.


'Zraaaaaasssshhh!!!'


Tebasannya yang kuat itu menimbulkan hempasan api panas berbentuk setengah lingkaran di arah tebasannya. Memberikan luka tambahan pada leher beruang hitam itu.


"Grooooaaaarrr!!!"


Teriakan Ursaloth itu terdengar begitu jelas, bahwa ia merasa sangat kesakitan akibat serangan Lucius barusan.


"Lucius!"


"Bocah!"


Baik Selena maupun Ironclad terkejut melihat kedatangan Lucius. Terlebih lagi, melihat bocah yang seharusnya merupakan kelas F itu memiliki kekuatan yang cukup besar untuk mengendalikan elemen api pada senjatanya.


Elemental Infusion. Sebuah teknik sihir tingkat tinggi yang dikatakan hanya bisa dikuasai oleh penyihir tingkat B ke atas.


Teknik dimana pengguna dapat memasukkan elemen sihir mereka pada sebuah senjata untuk memperkuat serangannya.


"Lucius ini.... Benarkah dia kelas F?" tanya Selena lirih pada dirinya sendiri.


'Tapp!! Brukkk!!! Klaaaangg!!!'


Dengan serangkaian gerakan yang cepat, Lucius memegang gagang pedang Ironclad, menendang mundur Ursaloth itu untuk menarik pedang Ironclad yang menancap, lalu melemparkan pedang itu ke belakang.


Ironclad yang melihatnya sama sekali tak bisa percaya, bahwa bocah yang selama ini bertarung bersamanya, telah menjadi sekuat ini. Bahkan cukup kuat untuk mampu menendang mundur Ursaloth sekitar satu meter.


Sebuah pencapaian yang bahkan tak bisa dilakukan oleh pukulan penuh tenaga milik Drakon.


'Jleeebb!!!'


Dengan tepat, pedang besar Ironclad itu menancap di tanah di hadapan Ironclad itu sendiri.


Selena yang masih berada di garis depan mulai melihat sebuah harapan yang besar setelah kedatangan Lucius.


"Oi, Lucius! Aku tak tahu siapa kau sebenarnya tapi bantu aku membunuh beruang sialan ini!" teriaknya dengan senyuman yang lebar.


"Ya, itulah rencana ku sejak awal."


Dengan kelompok penyerangan sebesar ini, Lucius sama sekali tak bisa melihat peluang bagaimana mereka bisa kalah.


Pertarungan pun berlanjut, kini dengan seluruh regu petualang yang telah berkumpul.

__ADS_1


__ADS_2