Murid Ratu Iblis

Murid Ratu Iblis
Chapter 66 - Perbedaan Kekuatan


__ADS_3

Mendengar pertanyaan dari Zephyrith, sekaligus pernyataan dari bawahannya, Alora sadar dengan betul.


Bahwa nyawa seorang pelajar yang tak bersalah menjadi taruhannya dalam tindakannya mulai detik ini. Tak boleh ada keraguan, ataupun kesalahan.


Semua yang dilakukannya harus benar-benar sempurna agar bisa menyelamatkan nyawa pemuda itu.


"Kau...." ucap Alora dengan penuh kemarahan.


"Hahaha! Kalau begitu, sampai jumpa!" balas Zephyrith sambil tertawa keras. Di belakangnya, terlihat sebuah portal yang telah tercipta dengan rapi. Siap untuk dilaluinya kapan saja.


Dengan cepat, Zephyrith melompat ke belakang. Berniat untuk kabur dari tempat ini.


Tapi....


'Klaaaaaangg!!! Sraaaaatt!!!'


Empat buah rantai cahaya dengan ujung berupa tombak nampak melesat tepat ke arah Zephyrith. Memaksanya untuk menghindar secepat mungkin.


Bersamaan dengan itu, bola cahaya yang begitu terang nampak muncul tepat di tengah-tengah portal itu. Mendistorsi kan ruang di sekitarnya sekaligus merusak portal dimensi milik Zephyrith.


'Swuuuuurrrsshh!!!'


"Cih, sialan! Sihir cahaya ya?!" keluh Zephyrith kesal setelah berhasil menghindari 4 buah tombak cahaya berantai itu.


Sihir cahaya adalah elemen yang paling langka di dunia ini. Hanya bisa diperoleh ketika seseorang memperoleh berkah dari Dewi Cahaya, Lunaria.


Di dunia ini, hanya akan ada 7 orang yang bisa menggunakan elemen cahaya ini dalam waktu yang sama. Mereka tak lain adalah para pahlawan yang terpilih.


Tak hanya memiliki kekuatan dan kegunaan yang sangat luarbiasa, elemen cahaya juga memiliki satu keunggulan telak. Yaitu hampir tak membutuhkan Mana untuk menggunakannya.


Membuat siapapun yang terpilih oleh Dewi Cahaya, secara tak langsung menjadi jauh lebih kuat daripada yang sebelumnya hanya karena elemen cahaya ini. Belum dari berkah lainnya.


"Aku akan membunuh mu disini, Zephyrith." ucap Alora dengan tatapan yang begitu tajam. Tangan kanannya nampak terus menerus mengayunkan tongkat sihirnya kesana kemari. Menembakkan puluhan tombak cahaya yang lainnya dari berbagai arah.


Digabungkan dengan sihir ruangnya?


'Swuuusshh! Swuuusshh!! Swuuusshh!!!'


Dari puluhan portal milik Alora yang telah tercipta di sekeliling Arena ini, Ia hanya perlu melemparkan sihir tombak cahayanya pada portal disampingnya.


Lalu puluhan tombak cahaya itu akan muncul dari tempat dan waktu yang sama sekali tak bisa diduga.


'Blaaarr!! Blaaarrr!! Blaaaarrr!!!'


Zephyrith yang telah disibukkan untuk menghindari tombak cahaya itu saja sudah kesulitan membuat portal untuk kabur. Apalagi setiap kali Ia membuatnya, Alora segera menghancurkannya dengan sihir bola cahaya itu.


'Tak ada pilihan selain untuk melawannya ya? Sialan, bisakah aku.... Tidak. Mungkin dengan menggunakan itu....' pikir Zephyrith dalam hatinya.


Dalam perbedaan kekuatan yang begitu besar ini, tak ada kesempatan bagi Zephyrith untuk berhasil selamat dengan cara yang adil. Lagipula, tak pernah terpikirkan dalam hatinya untuk bertarung secara adil.


Tak lama....


Bangunan Arena yang begitu megah dan indah ini dengan cepatnya menjadi reruntuhan akibat serangan dari Alora.

__ADS_1


Ia tak memperdulikannya. Selama bisa menghentikan peneliti gila di hadapannya itu.


'Zraaaaattt!!!'


"Kuugghh!!!"


Salah satu tombak cahaya itu mengenai tepat di paha kanan Zephyrith. Dengan cepat, rantai yang berada di belakang tombak itu segera tergulung dan menariknya ke atas.


"Berakhir sudah, Zephyrith. Dengan ini kau...."


'Zraaaassshhh!!!'


Tanpa sedikit pun keraguan, Zephyrith menggunakan sihir angin untuk melapisi tangan kanannya. Lalu memotong paha kanannya itu agar bisa terbebas.


'Braaakk! Sraaakkk!!!'


Tubuhnya yang telah kehilangan kakinya itu terjatuh ke tanah Arena ini. Darah nampak bercucuran dengan begitu deras dari kaki kanannya.


"Aku tak tahu apa yang kau pikirkan tapi, ini sudah bera...."


'Pyaaaarrr!!!'


Alora sama sekali tak menduganya. Bahwa Zephyrith akan melemparkan 5 buah botol kaca kecil berisi bubuk hitam pekat itu ke berbagai arah.


Dengan sihir api sederhana, botol itu segera memanas dan pecah setelah beberapa saat dilemparkan.


Dan dari bubuk hitam pekat itu....


'Swwuuuurrrsshhh!!!'


"Apa yang kau lakukan?!" teriak Alora panik. Ia dengan cepat mengalihkan perhatiannya pada kelima bubuk hitam misterius itu. Berniat untuk menghancurkan semuanya sebelum sesuatu yang buruk terbentuk.


'Blaaaarrr!!! Blaaaaarrr!!!'


Dengan menggunakan sihir sinar cahaya penghancur, Alora dengan mudah melenyapkan empat dari lima bubuk hitam itu.


Tapi sebelum mengarahkan tongkat sihirnya pada gumpalan bubuk yang kelima....


'Braaaaakkkk!!!'


Seekor monster dengan bentuk menyerupai Hobgoblin telah menerjang tepat ke arah Alora. Mendorongnya cukup jauh ke belakang.


Bagi Alora, monster seperti itu bukanlah tandingannya. Ia dapat dengan mudah melenyapkannya dengan sihir cahayanya. Tapi yang menjadi masalah....


Di kejauhan, sosok Zephyrith terlihat telah berdiri dengan satu kaki sambil tertawa keras. Di tangan kirinya, Ia terlihat membawa kaki kanannya yang telah terpotong itu.


Sedangkan di samping kirinya, terlihat sebuah portal yang telah terbentuk secara sempurna.


"Selamat tinggal, wahai pahlawan!" teriaknya dengan senyuman yang lebar sebelum menghilang dalam portal buatannya sendiri itu.


"Sialan! Takkan ku biarkan!" teriak Alora yang berusaha untuk mencari tahu kemana arah portal itu dari jejak Mana yang ditinggalkan.


Tapi di hadapannya....

__ADS_1


'Braaaaaakkk!!!'


Hobgoblin dengan kekuatan mengerikan itu memberikan pukulannya. Melemparkan tubuh Alora sejauh puluhan meter ke belakang.


Hanya sepersekian detik.


Alora dapat melihat jejak Mana yang ditinggalkannya. Jika Ia memiliki sepersekian detik tambahan, mungkin dirinya bisa mengetahui kemana tujuan dari portal itu.


Tapi....


Dari balik reruntuhan bebatuan yang menimbun dirinya, Alora bangkit sambil mengarahkan tongkat sihirnya ke depan.


Sebuah lingkaran sihir keemasan berukuran setengah badannya itu muncul di depan tongkat sihirnya.


Dalam sekejap, menembakkan sebuah sinar cahaya keemasan yang begitu terang dan juga panas.


'Swuuuoooossshhh!!!'


Hanya dalam beberapa detik saja sinar cahaya itu berlangsung. Tapi kerusakan yang diakibatkan olehnya sama sekali bukan main-main.


Di hadapannya, terdapat sebuah garis lurus berbentuk setengah lingkaran dimana tanah dan bebatuan dari bangunan ini meleleh sepenuhnya hingga tak bersisa. Termasuk Hobgoblin yang berniat untuk menyerangnya barusan itu.


Meskipun sangat kuat, kelemahan sihir ini cukup besar. Serangannya yang berupa garis lurus membuatnya sangat mudah untuk dihindari bagi lawan yang cukup cerdas dan berpengetahuan.


Tapi bagi monster berupa Hobgoblin itu? Tak ada kesempatan baginya.


Sekarang....


"Sialan! Sialan!! Lagi-lagi aku gagal.... Lucius Nightshade ya? Maafkan aku.... Tapi aku akan tetap berjuang untuk mencarimu." ucap Alora pada dirinya sendiri dengan penuh penyesalan.


............


Sementara itu di sisi lain....


Lucius masih menyibukkan dirinya sendiri untuk memecahkan formasi sihir dari dimensi ruang buatan pria misterius itu.


Ia menggunakan segala kemampuannya untuk menganalisis dan memformulasikan rangkaian sihir replikasinya.


Semuanya untuk meninggalkan dunia terkutuk ini.


Karena satu-satunya kunci untuk keluar dari tempat ini hanyalah dengan menciptakan formasi sihir yang sama persis, dengan yang dibuat oleh pria misterius itu.


"Sialan, jika saja pria sialan itu datang kemari, aku akan menghabisinya dan memaksanya membawaku keluar dari sini!" keluh Lucius setelah menghabiskan hampir ratusan meter persegi tanah untuk menuliskan berbagai rumus yang rumit itu.


'Lucius.... Ki-kita akan baik-baik saja kan? Serius, tak lucu jika kita mati di tempat bodoh seperti ini!' teriak Carmilla yang mulai panik.


Di dunia yang selalu disinari cahaya matahari kemerahan yang begitu panas ini, Lucius hanya bisa terus menciptakan atap es untuk melindungi tubuhnya. Sekalipun itu merupakan tindakan membuang-buang Mana yang tak lagi bisa dipulihkan di dunia ini.


Lantas mau apa lagi?


Sudah lebih dari tiga hari sejak Lucius terjebak di dunia terkutuk ini. Tak ada apapun yang masuk ataupun keluar dari dunia ini.


Jika ini adalah dunia yang sama seperti tempat penyimpanan Lucius, kenapa tak ada satu pun barang yang disimpan di dalamnya oleh pria misterius itu?

__ADS_1


Di saat waktu terus berjalan tanpa akhir, kekhawatiran dan ketakutan Lucius hanya bisa menjadi semakin jelas.


Ketakutan jikalau dirinya benar-benar akan terjebak di dunia ini untuk selamanya.


__ADS_2