
"Anu.... Aku ingin pedang satu tangan yang cukup kuat." ujar Lucius setelah mendapat pertanyaan dari Albert.
"Hoo.... Pedang satu tangan yang cukup kuat. Bahan yang Anda inginkan?" tanya pegawai itu sekali lagi.
"Eh? A-aku tak begitu paham tapi aku punya sekitar 100 koin emas. I-intinya pedang kuat yang bisa ku pakai sampai dewasa, mungkin?" balas Lucius kebingungan.
Ini adalah pertama kalinya memesan sebuah senjata yang dibuat khusus untuk dirinya sendiri.
Biasanya, Lucius cukup pergi ke toko besi dan memilih satu dari berbagai tumpukan pedang yang ada lalu membayarnya.
Tapi ini....
"Begitu ya? Sebelum itu, bisa kah saya melihat Mana milik Anda, Tuan Lucius? Cukup letakkan tangan Anda pada kristal ini." balas Albert sambil meletakkan sebuah kotak dimana bola kristal sebesar dua kepalan tangan itu ada di dalamnya.
"Ini.... Sama seperti waktu di akademi?" bisik Lucius pada dirinya sendiri.
"Benar sekali, Tuan Lucius. Tapi milik kami, sedikit lebih bagus dalam menilai Mana seseorang." balas Albert yang terus tersenyum ramah.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Lucius segera meletakkan tangannya di atas bola kristal itu. Secara perlahan, Ia mengalirkan Mana miliknya.
Tiba-tiba....
'Zwuuusshh!'
Cahaya kehijauan dan kemerahan muncul memenuhi bola kristal itu.
Cahaya dengan warna kehijauan itu menunjukkan gerakan yang cepat dan tajam. Sedangkan cahaya kemerahan nampak menyerupai kobaran api yang panas.
Di samping kristal itu, sebuah jarum penunjuk nampak bergerak pada suatu ukuran tertentu. Dan dalam kasus Lucius, jarum penunjuk itu bergerak dan berhenti di kisaran angka 87.
Terakhir di bagian belakang, nampak jarum penunjuk lain yang berhenti pada angka 46.
"Eeh?! Apa ini?!" teriak Lucius terkejut.
"Hoo.... Nampaknya Tuan Lucius memiliki bakat yang cukup tinggi terhadap elemen api dan angin. Sedangkan untuk kemurnian Mana Anda sendiri, berada di tingkat 46%. Angka yang cukup menakjubkan untuk Tuan Lucius yang masih muda." jelas Albert dengan senyuman ramahnya.
"46%? Kemurnian? Jangan katakan alat ini...."
Kemurnian Mana, seperti namanya. Menunjukkan seberapa banyak kandungan Mana dibandingkan dengan zat pengotor lain dalam tubuh seseorang.
Semakin tinggi tingkat kemurniannya, maka semakin baik pula kualitas Mana seseorang.
__ADS_1
"Sementara itu jumlah Mana milik Tuan Lucius diperkirakan setara dengan 87 Magical Flux atau Magaflux. Jumlah yang setara dengan penyihir tingkat B pemula." lanjut pegawai itu.
Itu benar.
Tak perduli seberapa tinggi jumlah Mana seseorang, jika tingkat kemurniannya rendah maka akan percuma.
Seorang penyihir dengan kapasitas Mana 100 Magaflux yang memiliki kemurnian Mana rata-rata yaitu 25%, setara dengan penyihir berkapasitas mana sebesar 50 Magaflux dengan kemurnian Mana 50%.
Meski terdengar mudah, meningkatkan kemurnian Mana dalam tubuh seorang penyihir jauh lebih sulit dibandingkan dengan meningkatkan kapasitas Mana.
Karena pada umumnya, kemurnian Mana itu terbawa sejak mereka lahir di dunia ini. Tentu saja, ras juga sangat menentukan hal itu.
"A-apakah itu hasil yang cukup bagus? Lalu, apa hubungannya dengan pedang pesananku?" tanya Lucius penasaran.
"Tentu saja itu hasil yang luar biasa, Tuan Lucius. Jika digambarkan secara kasar, kemampuan sihir Anda saja sudah setara dengan kapten divisi penyihir dalam pasukan kerajaan. Sedangkan untuk hubungannya dengan pesanan Anda...."
Albert terlihat mengeluarkan sebuah buku besar namun tipis itu. Membalikkan beberapa halaman sebelum menunjukkannya pada Lucius.
"Infernal.... Steel?" tanya Lucius setelah melihat apa yang ditunjukkan oleh Albert.
Apa yang ditunjukkannya adalah sebuah gambar bongkahan logam dengan warna hitam serta semburat merah tua di berbagai bagian.
Dalam penjelasan yang ada di sebelahnya, Infernal Steel merupakan salah satu logam tingkat lanjut dengan karakteristik utama yaitu sangat menyukai api.
Tingkat kekerasannya sendiri sekitar 2.6 kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan baja tempa. Sementara ketajamannya sedikit di bawah berlian.
Meskipun agak berat, tapi logam ini memiliki daya tahan yang tinggi dan tidak mudah dipatahkan.
"Tapi kenapa material ini? Bukankah aku juga memiliki kecocokan tinggi dengan elemen angin?" tanya Lucius penasaran.
"Itu karena tingkat kecocokan Tuan Lucius dengan elemen api jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kecocokan Anda pada elemen angin."
Albert melanjutkan penjelasannya sembari menanyakan bagaimana gaya bertarung yang disukai oleh Lucius.
Setelah menghabiskan sekitar 30 menit lebih untuk berdiskusi, akhirnya Albert berhasil menyelesaikan desain pedang yang cocok untuk Lucius.
Di atas meja, terlihat secarik kertas dengan gambar untuk desain pedang Lucius.
Yaitu sebuah pedang satu tangan, dengan panjang bilah 92cm dan panjang keseluruhan pedang yaitu 114cm. Lebar bilah pedangnya sendiri yaitu 5.4cm dengan ketebalan yang hanya sekitar 8mm.
Desainnya sendiri memiliki bentuk pedang sederhana dengan satu mata pedang saja di sisi bawah. Di bagian tengah bilah pedang itu akan dipasangi 3 buah huruf Rune yang akan memperkuat sihir api dan angin Lucius.
__ADS_1
Sementara gagangnya sendiri tak begitu tebal maupun besar. Cukup ramping namun tetap mengutamakan keseimbangan pusat berat pedang itu sendiri, dengan sebuah permata Blazerock untuk memperkuat sihir api yang diterima logam Infernal Steel itu sendiri.
"Fuuuh, akhirnya selesai." ucap Lucius lega setelah semua proses panjang barusan berakhir.
Dan kini, tiba di akhir pembahasan.
Yaitu mengenai harga yang akan dipatok oleh Brown Smithworks untuk mengerjakan pedang itu sendiri.
"Desain yang luar biasa, Tuan Lucius. Aku yakin pedang ini bisa menjadi teman perjuangan Anda hingga beberapa tahun kedepan." balas Albert bahagia.
"Begitu kah? Syukurlah. Ku harap begitu...."
"Sedangkan untuk biayanya.... Mengingat bahan-bahan yang digunakan, Rune, dan juga Blazerock.... Hmm...."
Jantung Lucius berdegup dengan kencang saat melihat sosok Albert itu mencorat-coret secarik kertas kecil untuk menghitung berapa biaya pembuatan pedang ini.
Lebih dari itu, Albert nampak seperti orang yang cerdas. Akan aneh baginya untuk membutuhkan waktu lama dalam menghitung semua ini.
Hingga akhirnya, setelah sekitar 3 menit mencorat-coret kertas itu....
"1.627 koin emas, Tuan Lucius."
"Eeeehh?!" teriak Lucius terkejut bukan main, bahkan sampai menyemburkan minuman di mulutnya.
"Uhuk, uhuk.... A-Anda bercanda? Tuan Albert? A-aku yakin telah mengatakan bahwa keuanganku hanya 100 koin emas bukan?" lanjut Lucius.
"Benar sekali." balas Albert sambil tersenyum puas.
"Lalu bagaimana bisa harganya mencapai 16 kali lipat keuanganku?" tanya Lucius yang semakin panik.
"Tenang saja. Kami menerima cicilan hingga 48 bulan." balas Albert, kini sambil menyodorkan dokumen untuk pembayaran berupa cicilan.
"Bukan itu masalahnya!"
Pada akhirnya, Lucius menandatangani kontrak pembayaran cicilan 48 bulan, dengan cicilan sebesar 45 koin emas tiap bulannya. Termasuk bunga 25%.
Lagipula, pedang itu terdengar sangat hebat. Tak mungkin untuk melewatkannya begitu saja. Dan tentunya, kawannya sendiri tak mungkin untuk menipunya. Itulah yang ada di pikiran Lucius saat itu.
Meskipun kini pikirannya bertambah satu. Yaitu bagaimana caranya membayar sebanyak 45 koin emas tiap bulannya.
Jumlah yang cukup untuk biaya hidup sederhana sebuah keluarga selama satu tahun.
__ADS_1
Hanya untuk sebuah pedang.