Murid Ratu Iblis

Murid Ratu Iblis
Chapter 88 - Kesempatan


__ADS_3

"Ayah?! Ma-maksudku Bos?! Kenapa Anda disini?!" teriak Max terkejut setelah menyadari keberadaan pria tua itu.


Pria tua itu tak lain adalah Ayah Max, Adrian Thompson, yang sedari tadi memperhatikan pertarungan antara Lucius dan putranya.


Adrian tak dapat menyembunyikan kekagumannya atas pertarungan barusan itu. Wajahnya tampak terkejut dan terpesona oleh kemampuan pedang Lucius yang mengagumkan. Ia melangkah maju dari sisi lapangan latihan dan memanggil Lucius.


Dengan sedikit ketakutan, Lucius pun berjalan mendekati sosok pria tua dengan tubuh besar dan kekar itu.


Sebuah pedang besar nampak tergantung di punggungnya. Siap untuk ditarik kapan saja.


"Bocah.... Katakan. Dimana kau mempelajari teknik seperti itu? Bahkan dengan mata ku yang sudah tua ini, aku dapat melihat kau benar-benar menebas tubuh Max tiga kali secara bersamaan." tanya Adrian dengan tatapan yang begitu mengintimidasi.


Saat melihat Adrian dengan penglihatan barunya, Lucius dapat menyadarinya.


Bahwa pria tua ini tak salah lagi, sangat kuat. Mengingat perkataan Carmilla dulu bahwa setidaknya ada 5 orang yang bisa mengalahkan Lucius pada puncak kekuatannya di kota ini.


Lucius yakin bahwa salah satunya adalah pria tua ini.


Jumlah Mana di tubuh Adrian benar-benar gila. Setidaknya setara dengan penyihir kelas A seperti Luna. Sedangkan kemampuan fisiknya sendiri tak perlu lagi diragukan.


Satu kalimat saja yang salah darinya....


Mungkin tubuh Lucius benar-benar akan terbelah menjadi dua.


'Glek!'


Setelah menelan ludahnya, Lucius bersiap untuk menjawab.


"Aku tak tahu apakah Anda sudah mendengarnya, tapi saya terjebak di goa goblin sekitar 6 bulan lalu. Di sana saya terjatuh ke sungai bawah tanah dan menemukan sebuah kota di kedalaman goa. Di kota itu, saya memperoleh sumber dari pengetahuan teknik pedang ini." balas Lucius dengan sedikit ketakutan.


Tatapan mata Adrian terlihat seperti tatapan mata hewan buas yang siap untuk menerkam mangsanya.


Tapi....


"Hahaha! Begitu ya?! Hahaha! Bagus! Bagus!" teriak Adrian sambil terus memukul pundak Lucius dengan kuat.


'Kuughh! Kakek-kakek ini, kuat sekali?!' pikir Lucius dalam hatinya.


"Bos! Dia adalah teman kelas ku! Tolong pengertiannya." ucap Max sambil membungkukkan badannya pada Ayahnya sendiri itu.


"Aku mengerti. Kenalkan, Lucius. Aku adalah Adrian, orang-orang di kerajaan ini memanggilku sebagai pedang kehancuran." ucap Adrian sambil mengulurkan tangan kanannya yang dipenuhi oleh luka itu.


"Lucius, Nightshade." balas Lucius menjabat tangannya.


Setelah berjabat tangan, Lucius sadar. Bahwa Adrian ini benar-benar definisi dari kerja keras itu sendiri. Tangannya begitu kasar dan penuh luka, namun juga begitu keras dan kokoh layaknya baja.


"Ku dengar dari para prajurit, kau ingin berlatih pedang?" tanya Adrian setelah itu.


"Eeh? Aah, ya. Itu benar, Tuan."


"Tak perlu seperti itu padaku! Panggil saja aku bos! Dan juga, aku akan dengan senang hati mengasah bakat mu itu, Lucius!" balas Adrian dengan senyuman yang lebar di wajahnya.


Lucius tak menyangka bahwa hasilnya akan sebaik ini. Tapi apapun itu....


Setidaknya Lucius bisa menemukan salah satu solusi untuk masalah yang dihadapinya saat ini.


"Untuk memastikannya, bisakah kau berlatih tanding dengan ku sekali saja?" tanya Adrian dimana Ia meminta salah seorang prajurit untuk mengambilkan pedang kayu.


"Eh? Sekarang?"


Lucius terkejut dengan tantangan yang diajukan oleh ayah Max.


Baginya, kesempatan emas untuk merasakan kemampuan berpedang sosok yang terkemuka ini takkan datang lagi di lain waktu.

__ADS_1


Karena itu lah....


"Dengan senang hati." balas Lucius dengan senyuman lebar di wajahnya.


Mereka berdua berdiri saling berhadapan di tengah lapangan latihan yang sunyi. Tertutup dalam aura ketegangan.


Adrian dan Lucius bersiap untuk bertarung dengan pedang kayu mereka.


"Lucius. Lakukan serangan mu barusan pada Max. Persiapkan sebaik mungkin untuk menjatuhkan ku." ucap Mercenary tua itu dengan penuh percaya diri.


"Kalau begitu, ku harap Anda tidak menyesal!"


'Sreeettt!!!'


Lucius dengan cepat melompat kedepan. Berdiri tepat di hadapan Adrian dengan kuda-kuda yang mantap. Mengangkat pedang kayunya dengan kedua tangannya sebelum mulai menggunakan teknik Formless Sword itu.


Di mata Adrian yang sangat berpengalaman, Ia dapat melihat gerakan pedang Lucius dengan sempurna.


Meski terlihat seperti tiga tebasan secara bersamaan dari tiga arah yang berbeda, pada kenyataannya Lucius hanya mengayunkan pedangnya dengan sangat cepat.


Dimana Lucius memberikan tiga buah tebasan secara berurutan dengan jeda waktu yang sangat singkat.


Tebasan pertama mengarah tepat ke kepala Adrian, dimana Ia menangkisnya dengan pedang kayunya.


'Klaaakk!!!'


Serangan Lucius yang tertangkis itu membuatnya kehilangan tempo. Hal itu menyebabkan tebasannya yang kedua dari arah kanan tubuh lawannya melambat.


'Kleettaakkk!!'


Hanya dengan memiringkan pedangnya, Adrian mampu menahan tebasan kedua Lucius dengan mudah. Membuat bocah itu semakin kehilangan temponya.


Hingga akhirnya, tebasan ketiganya menjadi terlambat. Bahkan bisa dibilang sangat terlambat hingga Adrian mampu menangkapnya dengan tiga jarinya.


'Sraaattt!!!'


Menghentikan serangan pedangnya seakan-akan dengan tangan kosong saja.


'Kakek-kakek ini.... Bagaimana bisa?!' teriak Lucius terkejut. Ia menyadari dengan sangat jelas bahwa ketiga tebasannya mampu dihentikan dengan mudah.


"Trik mu itu luarbiasa, Lucius. Jika saja kau sedikit lebih kuat dan lebih cepat lagi, serta menggunakan pedang sungguhan, tubuhku mungkin sudah terbelah menjadi enam." ujar Adrian yang segera menghentikan duel ini. Ia melempar pedang kayunya jauh-jauh karena seakan-akan sudah menang.


"Tunggu dulu! Duel ini...."


"Sudah selesai. Lihat baju mu."


'Deg! Deg!!'


Bahkan Lucius sama sekali tak menyadarinya. Sebuah kenyataan dimana pria tua itu tak hanya berhasil menangkis tiga tebasan teknik pedang dari iblis.


Tapi juga memberikan serangan balasan saat tebasan ketiga Lucius dilancarkan.


Meskipun hanya merobek pakaiannya saja, Lucius sadar. Bahwa pedang kayu sekalipun akan menjadi sangat berbahaya di tangan pria itu.


"Max, kau membawa teman yang menarik. Sering-sering aja dia kemari. Akan sangat sia-sia jika aku tak memoles bakat sebesar itu." ucap Adrian sambil menepuk pundak Max beberapa kali.


"Dimengerti!" balas Max dengan senyuman yang lebar.


Setelah itu....


Lucius memperoleh akses tak terbatas pada kediaman keluarga Thompson. Terutama akses pada barak dan lapangan beserta seluruh peralatan yang ada di dalamnya.


"Aku menantikan perkembangan mu, Lucius." ucap pria tua itu sebelum kembali pergi. Mungkin bersiap untuk menyelesaikan misi karena terlihat sekitar 10 prajurit berjalan mengikutinya.

__ADS_1


.............


Sementara itu di Gereja Cahaya, Lunaria.


Alora terlihat berjalan ke arah suatu ruang yang tertutup rapat. Di balik pintu itu, terdapat tirai dengan kain putih keemasan yang menutupi bagian dalam ruangan ini.


Cahaya dari lilin yang remang-remang nampak menerangi berbagai benda yang ada. Mulai dari buku-buku yang tebal, lambang suci Gereja Cahaya, hingga patung kecil Dewi Lunaria itu sendiri.


"Ada apa, Alora?" tanya seorang gadis di balik tirai itu dengan suara yang lembut. Tubuhnya sama sekali tak terlihat karena terhalang oleh kain tirai itu, tapi bayangannya nampak jelas.


'Srruugg!!'


Alora dengan cepat segera berlutut dan menundukkan kepalanya menatap lantai.


"Seperti dugaan saya, pergerakan Lucius cukup mencurigakan. Bukankah sebaiknya Gereja mengambil keputusan sebelum Ia menambah kekuatannya?" tanya Alora.


Mary hanya tersenyum mendengar pernyataan itu. Kedua matanya terlihat tertutupi oleh selembar kain hitam dengan alur emas di sampingnya. Huruf Rune juga terlihat terukir pada kain itu.


"Alora." ucapnya singkat.


"Ya?"


"Bisa kah kau membawanya kemari? Aku akan melihatnya sendiri dengan mata ini." balas Mary dengan senyuman yang tak pernah luntur dari wajahnya itu.


"Sekarang? Tentu saja bisa, tapi...." ucap Alora dengan khawatir. Ia mengalihkan pandangannya pada lantai di sekitar ruangan ini. Begitu juga terhadap tembok yang ada di sekitar.


Semuanya terlihat bersih dalam pandangan sekilas. Tapi bekas darah yang telah mengering baru bisa terlihat setelah diamati dengan jeli.


"Tubuh Anda...." lanjut Alora dengan suara yang terdengar lirih.


Gadis Suci, Mary. Sebutannya bukanlah sandangan belaka. Karena sosok yang ada di hadapan Alora saat ini, adalah 'wadah' yang terpilih oleh Dewi Lunaria itu sendiri.


Sebagai perantara bagi-Nya mempengaruhi dunia ini ke arah yang lebih baik.


Setiap kali Mary memperoleh Divine Revelation dari Dewi Lunaria, tubuhnya akan mengalami luka yang sangat parah. Bahkan setelah dikatakan Mary memperoleh tubuh yang telah disempurnakan oleh Dewi itu sendiri....


Tetap saja....


"Kalau begitu, beberapa hari. Bisakah kau melakukannya, Alora? Aku tak ingin Gereja menuduh orang yang tak bersalah." balas Mary dengan senyuman yang begitu hangat.


Angin yang sekilas berhembus dari balik pintu ruangan yang tertutup rapat ini menerbangkan kain di hadapan Alora untuk sesaat.


Memperlihatkan sosok Mary di baliknya.


Ia memiliki paras yang begitu cantik dengan rambut keemasan yang panjang dan terurai. Hanya saja, kedua matanya tertutupi oleh kain hitam yang cukup tebal.


Sedangkan tubuhnya sendiri dipenuhi dengan luka. Darah nampak terus mengalir membasahi perban tebal yang menyelimuti hampir sekujur tubuhnya itu.


Melihat sosok Mary yang seperti itu, Alora hanya bisa menggigit bibirnya sendiri hingga berdarah sebelum segera bangkit dan berniat meninggalkan ruangan ini.


"Dimengerti." ucap Alora singkat.


Senyuman Mary terlihat tak pernah luntur di situasi apapun. Tirai yang barusan terangkat oleh hembusan angin yang lembut itu kini kembali menutupi sosoknya.


"Saya akan terus berjuang mencari cara untuk menyembuhkan luka itu. Permisi." lanjut Alora sebelum segera melangkah pergi. Menutup pintu itu secara perlahan.


Luka yang diderita oleh Mary bukanlah luka fisik biasa. Melainkan luka karena tubuhnya bersentuhan langsung dengan tubuh asli Dewi Cahaya itu.


Tubuh manusia biasa tentu sama sekali tak pantas untuk ditinggali oleh para Dewa. Dan sekalipun tubuh Mary telah diberkahi dengan kesempurnaan, tetap saja....


Tak peduli sihir penyembuhan sebaik apapun yang digunakan padanya, luka itu akan terus kembali muncul. Hanya waktu yang bisa menyembuhkan luka itu secara perlahan.


Sebagai seorang perantara, inilah resiko yang dideritanya. Dan dirinya juga sudah siap untuk menerima semua ini.

__ADS_1


Sama halnya dengan puluhan....


Mungkin ratusan perantara lain sebelum dirinya.


__ADS_2