
'Srrriiingg!!!'
Mengetahui situasi saat ini dirinya tak lagi mampu untuk melarikan diri, Lucius memutuskan untuk menghadapi Troll itu secara langsung.
Ia menarik pedangnya dan bersiap untuk bertarung melawan monster yang setidaknya 2 kali lipat lebih tinggi dan lebih besar darinya.
Di tangan kanan monster itu, terdapat sebuah gada kayu yang besar, sedangkan di tangan kirinya, terdapat kepalan tangan yang kuat.
'Jika ini dijadikan sebagai ujian oleh Carmilla, maka ada satu hal yang bisa ku pastikan. Bahwa dalam situasi ini masih terdapat harapan untuk menang.' pikir Lucius dalam hatinya.
Sama seperti saat melawan Damon. Carmilla menunjukkan betapa mudahnya lawannya.
Dan kali ini....
"Graaaaaaarrrr!!!" teriak Troll itu dengan sangat keras. Memekikkan telinga Lucius hingga terasa cukup sakit.
"Kughh! Sialan!"
Saat perhatian Lucius sedikit teralihkan oleh teriakan keras itu, sebuah gada terlihat melayang tepat ke arahnya.
'BRAAAAKKK!!!'
Untung saja, Lucius dapat melompat mundur menghindari lemparan gada itu.
Melihat kerusakan pada tanah akibat gada itu, Lucius tahu bahwa terkena satu kali saja serangan itu....
Akan memberikan luka yang fatal baginya.
"Fleme." ucap Lucius singkat.
Kobaran api mulai muncul di telapak tangan kirinya. Sementara itu, kuda-kudanya telah dalam posisi siap untuk menyerang balik menggunakan pedangnya.
Kedua matanya terfokus pada langkah lambat Troll itu.
'Jangan tertipu. Jika Troll itu mau, dia bahkan bisa menyaingi kecepatan kuda. Itu lah yang kupelajari. Jadi....'
Dan benar saja. Langkah lambat Troll itu tiba-tiba berubah menjadi semakin cepat.
Tiap jangkahan kakinya begitu jauh, dan tempo gerakannya semakin cepat.
Meskipun telah mempelajarinya, Lucius masih kesulitan untuk mempercayai apa yang ada di depannya.
Monster dengan tubuh sebesar dan seberat itu....
Berlari menuju ke arahnya.
'Brakk! Braakk! Braakkk! Krettaakk!'
Tak memperdulikan apanyang ada diantara dirinya dengan Lucius, Troll itu menabrak semuanya. Menghancurkan dan merobohkan beberapa pohon hanya dengan tubrukan tubuhnya.
"Cih! Terima ini!" teriak Lucius sembari mengarahkan lengan kirinya ke depan. Menyemburkan kobaran api merah yang kuat.
'Swuuuoooosshhh!!!'
Di tengah hutan yang cukup kering ini, tentu sihir api Lucius sangat lah efektif. Membakar apapun yang terkena kobaran api itu.
Tapi....
'Tap! Blaaarrr!!!'
Troll itu segera mengambil kembali gada kayunya sebelum melompati kobaran api Lucius di tanah.
"Ya-yang benar saja?!"
Tanpa keraguan, Lucius segera menggunakan sihir angin di kedua kakinya. Mempercepat langkah dan gerakannya untuk menghindari serangan Troll itu.
...'BLAAAAARRRR!!!'...
Saat membalikkan badannya, Lucius dapat melihat tanah tempat dirinya sebelumnya berdiri kini telah hancur lebur.
Hanya dengan serangan lompatannya, Troll itu dapat membuat kerusakan yang sangat besar. Bahkan menciptakan cekungan sedalam 2 meter lebih di tanah tempat Ia mendarat.
__ADS_1
"Grrrrr...."
Dengan tatapan yang dipenuhi amarah, Troll itu melihat tepat ke arah Lucius berdiri. Terutama kaki Lucius yang saat ini dibalut sihir angin berwarna kehijauan yang tipis.
"Manusia.... Sihir.... Benci...." ucap Troll itu dengan suara yang begitu berat.
Tanpa jeda, Troll itu melompat secara tiba-tiba. Dan dalam sekejap, telah berdiri tepat di hadapan Lucius. Mengayunkan gada kayunya dengan kuat.
'Swwuuussshhh!!!'
'Ini buruk! Mirage Guard!!!' teriak Lucius dalam hatinya sambil mengaktifkan sebuah sihir perisai.
Di depan lengan kirinya, muncul sebuah perisai dengan bentuk lingkaran berwarna kehijauan yang tembus pandang.
Salah satu sihir yang diajarkan oleh Carmilla baru-baru ini.
'Klaaaanggg!! Krettakkkk!!!'
Benturan antara gada kayu dengan perisai sihir milik Lucius menimbulkan suara yang begitu keras.
Hanya saja....
'Swuuushh! Braaakk! Braaakkkk!!'
Meskipun bisa menahan serangan frontal, tubuh Lucius terlempar puluhan meter. Menabrak banyak pohon di sepanjang arahnya.
"Kughhh! Sialan.... Apa-apaan kekuatan itu?!" keluh Lucius dengan darah yang mulai mengalir dari mulutnya.
Ia segera mengelap darahnya dan menggunakan sihir penyembuh untuk memulihkan beberapa tulangnya yang retak.
Kini tatapan Lucius tertuju pada sosok monster bertubuh besar itu. Troll berjalan secara perlahan. Namun tiap langkahnya menjadi semakin berat dan semakin cepat.
'Menghadapinya secara langsung adalah tindakan bodoh. Lari? Kecepatannya jauh lebih tinggi dariku. Oleh karena itu....'
Sepintas, Lucius terpikirkan untuk menggunakan sihir Iblis. Tapi Ia mengesampingkan pemikiran pengecut itu karena harus menggantungkan dirinya pada kekuatan iblis.
Memperhatikan Troll yang semakin mendekat itu, Lucius masih terdiam di tempat. Pikirannya bekerja dengan sangat keras. Memikirkan apa yang bisa dilakukannya dalam menghadapi monster mengerikan ini.
'BLAAAAARRRR!!!'
Lucius dengan cepat menghindari ayunan gada kayu yang mampu merobohkan pohon itu dengan melompatinya.
Melihat posisi tubuh Troll itu masih terkunci, Lucius dengan cepat memberikan serangan balasan.
'Zraaaaattt! Zraaaatt! Zraaattt!!'
Ia memutar tubuhnya di udara sembari menggenggam erat pedangnya. Menebas lengan kiri Troll itu beberapa kali.
Hanya saja....
'Cih, kurang dalam!' teriak Lucius dalam pikirannya sendiri setelah melihat luka di lengan Troll itu.
Hanya goresan tipis. Kedalamannya bahkan tak mencapai 2 cm. Itu karena otot dan kulit Troll sangat tebal, membuat pedang besi Lucius tak mampu untuk mengirisnya lebih dalam.
"Graaaaarrrr!!!"
Dengan cepat Lucius memanfaatkan lengan Troll itu sebagai pijakan untuk melompat mundur. Kembali menjaga jarak dengannya.
'Swuuusshhh! Braaaaaakkk!!!'
Dengan penuh amarah karena tubuhnya terluka, Troll itu mengayunkan gadanya sekuat tenaga ke arah Lucius. Namun dapat dengan mudah dihindarinya.
"Berhenti.... Bergerak.... Manusia...." ujar Troll itu kesal.
'Melihat situasi saat ini, ku rasa aku bisa! Aku bisa melawannya!' pikir Lucius dengan senyuman di wajahnya.
Jika Lucius terus memberikan serangan sembari menghindari semua pukulan Troll itu, maka lambat laun dirinya akan menang.
Mengingat staminanya yang cukup tinggi setelah menjalani pelatihan neraka di goa bersama Carmilla itu, Lucius merasa bisa bertarung seperti ini hingga satu jam lebih.
Tapi....
__ADS_1
Lucius sama sekali tak menyangka bahwa pertarungan ini akan mulai mengalami perubahan keseimbangan.
'Krreeaaaaakkkk!!!'
Kedua mata Lucius terbuka lebar saat melihat apa yang sedang dilakukan Troll itu.
"Oi oi oi.... Yang benar saja?!"
Lucius seakan tak bisa percaya atas apa yang dilihatnya. Yaitu sosok Troll yang mengangkat salah satu batang pohon yang telah dirobohkannya.
Menggunakan batang pohon setebal manusia dan sepanjang 10 meter lebih itu, layaknya sebuah senjata.
'Swuuuuuuussshhhh!!!'
'Braaaaakkkkkkkk!!!'
Troll itu mengayunkan senjata barunya ke arah Lucius. Menghempaskan puluhan pohon lain di sekitarnya.
Meskipun serangannya menjadi jauh lebih lambat, tapi batang kayu sebesar itu memiliki jangkauan serangan yang jauh lebih luas.
Membuat Lucius hampir tak mungkin untuk mendekat.
Satu saja langkah yang salah....
Ia dapat dihempaskan oleh ayunan batang pohon itu dengan mudah. Seperti puluhan pepohonan di sekitarnya barusan.
"Manusia.... Berani.... Maju?" tanya Troll itu, berusaha untuk memprovokasi Lucius.
'Ini benar-benar gila! Ku dengar Troll memang memiliki fisik yang kuat tapi ini?! Ini melampaui semua bayanganku!'
'Glek!'
Lucius kembali memikirkan rencananya. Apa yang sebaiknya dilakukan, dan apa yang sebaiknya dihindari.
Tapi di saat Lucius masih berpikir....
'Swuuusshhh!'
'Blaaaaarrrr!!!'
"Kughhhhh!!!"
Tanpa di duga, Troll itu melemparkan batang kayu besar itu layaknya sebuah tombak. Mengenai sebagian tubuh Lucius yang tak menduga pola serangan ini.
Lengan kirinya terluka parah, bahkan darah terlihat mengucur deras karena tak sempat menghindar dengan sempurna.
Saat Lucius mencoba untuk menggerakkannya, lengan kirinya seakan mati rasa.
Hanya saja, keputusasaan baru saja dimulai.
Kini di hadapannya, Troll itu terlihat meraih batang pohon lain yang baru saja dirobohkannya. Bersiap untuk melemparnya layaknya sebuah tombak seperti barusan.
"Yang benar saja.... Ku rasa kali ini aku...."
Lucius menelan ludahnya sendiri melihat situasi yang begitu buruk ini. Menyesali pilihannya karena terlalu menjaga harga dirinya.
"Maaf, Carmilla. Tapi nampaknya, aku belum sanggup melawan Troll tanpa sihir iblis." ujar Lucius.
Tanpa di duga, Carmilla membalasnya.
'Kalau begitu kau gagal. Sedari tadi, aku melihat ada 6 kesempatan bagi dirimu untuk membunuhnya.'
"Aku mengerti.... Aku masih perlu belajar lagi kan?" ujar Lucius. Ia melemparkan pedangnya. Dan beberapa saat kemudian, muncul formasi sihir kecil di atas punggung tangan kanannya.
Formasi sihir itu memiliki warna merah tua dengan lambang yang tak pernah dilihat pada sihir manusia lainnya.
Sambil melihat ke arah Troll yang masih bersiap untuk melempar batang kayu itu, Lucius memulai rapalan sihirnya.
Rapalan sihir yang terdiri dari kata-kata bahasa iblis yang terdengar begitu asing bagi telinga manusia. Sebelum akhirnya....
"Flamma Aeternus."
__ADS_1