
Dari ujung tangan kanan Lucius, semburan api merah yang sangat besar melahap segalanya yang ada di depannya.
Ukuran dari semburan api itu mencapai ketinggian hingga puluhan meter. Melahap habis bahkan hingga ke ujung daun tertinggi pohon di hutan ini.
...'SWUOOOOOOOOSSSHHH!!!'...
Tanpa belas kasihan, kobaran api itu melelehkan semua yang ada di hadapannya. Dedaunan segera berubah menjadi abu. Bahkan batang pohon yang tebal itu hangus dalam sekejap.
Sementara itu, batang kayu yang baru saja dilempar Troll itu ke arah Lucius....
Hangus menjadi abu, tak tersisa sedikit pun dan tak mampu mendekat.
"Manusia.... Sihir...."
Itulah kata-kata terakhir dari Troll itu sebelum terpanggang hidup-hidup di tengah kobaran api ini.
Yang tersisa dari semua ini, hanyalah sebuah wilayah hutan yang hangus terbakar akibat sihir Lucius.
Dalam sebuah wilayah berbentuk kipas sepanjang 100 meter lebih, semuanya hangus terbakar oleh api iblis itu. Bahkan hingga saat ini, sebagian besar api masih berkobar dan membakar apapun yang tersisa dari semua kehancuran ini.
Tanah hutan yang sebelumnya dipenuhi rerumputan yang hijau, kini diselimuti oleh abu hingga setinggi mata kaki manusia.
Tak bisa dipungkiri, abu itu lah yang menjadi saksi bisu atas kekejaman sihir iblis ini.
"Hah.... Hah.... Hah...."
Lucius terlihat begitu kelelahan setelah menembakkan sihir api barusan. Tubuhnya seakan tak lagi punya kekuatan untuk berdiri.
Itu semua karena sihir barusan menguras habis seluruh Mana yang dimiliki oleh Lucius.
Tak berselang lama, suara Carmilla kembali terdengar.
'Jika menembakkan satu sihir itu saja membuatmu terkapar, kau tahu apa yang harus dilakukan bukan?' tanya Carmilla.
Lucius terdiam. Menelan ludahnya sendiri sembari menggertakkan giginya.
"Aku tahu.... Aku tahu itu...."
Bukannya perasaan senang karena telah memenangkan pertarungan yang sengit, hari Lucius justru dipenuhi oleh perasaan kesal dan amarah.
Tentu semua itu ditujukan pada dirinya sendiri atas betapa lemahnya dirinya.
"Katakan.... Bagaimana kau bisa membunuh Troll itu tanpa sihir iblis?" tanya Lucius penasaran.
'Kulit dan otot Troll memang tebal. Tapi terdapat beberapa bagian yang tak terlindungi oleh semua itu. Rahang dan mata.'
Kedua mata Lucius terbelalak mendengar jawaban dari Carmilla.
__ADS_1
Tentu saja semua orang tahu mulut dan mata adalah bagian lemah dari sebagian besar monster. Tak terlindungi oleh kulit dan otot tebal, serta tak memiliki tulang keras untuk menjaganya.
Tapi menyerang rahang dan mata dari Troll itu.... Sama seperti berusaha untuk mengambil kue di tengah bara api.
Tak mungkin untuk tidak melukai diri sendiri dalam prosesnya.
"Hah?! Aku juga tahu itu! Tapi bagaimana kau melakukannya?!"
Jawaban dari Carmilla benar-benar menunjukkan perbedaan pengalaman antara keduanya yang bagaikan langit dan bumi.
'Mudah saja. Troll itu kuat, tapi tidak cerdas. Kebenciannya terhadap manusia juga sangat kuat. Mudah untuk memprovokasinya agar berteriak. Saat Troll itu berteriak atau semacamnya, di situ lah kesempatanmu.'
"Kau tak lihat seberapa cepat refleksnya?"
'Apakah kau perlu tombak untuk membunuh seekor semut?'
"Hah?!"
'Bagian dalam mulutnya, atau matanya, tak memiliki pertahanan yang kuat. Jadi kau tak perlu sihir yang kuat untuk menembusnya. Gunakan sihir sederhana yang cepat dan tak bisa ditangkis. Mudah bukan?' tanya Carmilla sebelum kembali terdiam.
Lucius mulai gemetar, menyadari kebodohannya untuk tak melihat kesempatan seperti itu.
"Sihir.... Angin...."
Itu benar. Jika saja Lucius menyadarinya lebih awal dan menembakkan pisau angin, kecepatannya yang tinggi dan sifatnya yang hampir tak terlihat akan mampu melewati refleks Troll itu.
Dan jika targetnya adalah bagian lemah dari tubuh targetnya, tak perlu sihir kuat yang membutuhkan waktu lama untuk di aktifkan.
Memikirkan Carmilla berkata masih melihat beberapa cara dan kesempatan lain untuk membunuh Troll itu tanpa sihir iblis, membuat Lucius semakin marah pada dirinya sendiri.
"Sialan...."
Meninggalkan luka yang cukup besar di hutan itu, Lucius memutuskan untuk pulang. Bersiap untuk kegiatan di akademi para pagi harinya.
............
Keesokan harinya di akademi....
Lucius datang agak terlambat. Karena tubuhnya yang kelelahan, Ia bangun kesiangan.
Tapi segera setelah membuka pintu di ruang kelasnya itu, Ia dikejutkan oleh pemandangan teman-temannya yang terlihat berkumpul di satu meja.
Semuanya terlihat memasang wajah yang begitu serius. Seakan sedang membicarakan sesuatu yang amat penting.
"Oi, Lucius! Kemari lah! Ada kabar buruk yang harus kau ketahui!" teriak Max sambil melambaikan tangannya. Meminta agar Lucius segera bergabung dengan mereka.
"Hah? Ada apa?" tanya Lucius kebingungan.
__ADS_1
Baru beberapa saat setelah Lucius duduk....
"Nampaknya ada monster yang berbahaya berkeliaran di sekitar Kota Arcanum ini." ujar Oliver sambil menyilangkan kedua lengannya.
"Eh? Kau serius?" tanya Lucius panik. .
Monster berbahaya. Berkeliaran di sekitar kota ini? Bukankah itu sangat buruk? Tentunya Lucius berpikir bahwa keberadaan monster itu bisa mengganggu jadwal latihannya di malam hari.
"Kabarnya, hutan di bagian Utara mengalami kebakaran yang cukup hebat. Dari bekasnya, terlihat seperti semburan api yang kuat." jelas Sophia.
"Menurut kapten penjaga kota, setidaknya itu adalah monster tingkat B keatas." timpal Alex.
"Pyroclaw...." ucap Emily dengan suara yang lirih.
Seketika, Lucius teringat atas monster Pyroclaw yang disebutkan oleh Emily itu.
'Pyroclaw, bukankah itu monster yang katanya akan diburu oleh kelompok Ironclad dari Guild petualang itu?! Jangan katakan.... Mereka gagal?!' pikir Lucius panik.
Tapi semua pemikiran Lucius itu hancur berkeping-keping setelah mendengar informasi berikutnya.
"Bahkan katanya ditemukan jasad Troll di lokasi kejadian." ujar Max.
"Tak salah lagi. Ini adalah perbuatan Pyroclaw, dan yang pasti Pyroclaw dewasa yang sangat kuat." timpal Oliver.
Lucius yang mendengarnya hanya bisa terdiam sambil menganga.
Bagaimana tidak?
Karena berdasarkan semua informasi itu, tak dapat diragukan lagi. Bahwa yang mereka maksud sebenarnya bukanlah monster Pyroclaw. Melainkan dirinya sendiri.
'Buahahaha! Lucius! Orang-orang kota menganggap mu sebagai monster! Bukankah itu lucu?! Bahkan monster tingkat B! Booooo! Lemah sekali, Lucius! Booooo!!!' teriak Carmilla sembari terus mengejek Lucius.
Di sisi lain, Lucius yang mengetahui kebenaran bahwa tindakannya telah menyita perhatian banyak penjaga kota....
Mau tak mau harus diam dan ikut serta dalam seluruh kesalahpahaman ini.
"Uuh, yah.... Kalian benar. Bukankah ini sangat mengerikan mengingat ada monster berbahaya seperti itu di sekitar?" ucap Lucius sambil terus berusaha untuk menjaga wajahnya tetap datar.
"Max, keluargamu?" tanya Emily singkat.
"Hmm? Yah, Ayahku baru saja bilang bahwa dia akan mengurusi monster ini. Meskipun itu juga karena terdapat hadiah sebesar 500 koin emas dari Kota untuk kepala monster itu." balas Max.
"Hanya untuk 500 koin emas? Kau yakin keuangan keluarga mu aman?" tanya Alex dengan wajah yang sedikit khawatir.
"Tenang saja. Sebagian besar dari alasan Ayahku mau memburunya adalah untuk menguji kekuatannya. Hadiah itu hanyalah hidangan sampingan baginya."
Melihat teman-temannya yang begitu serius menanggapi sosok monster misterius ini, Lucius hanya bisa terus terdiam sembari menatap lantai.
__ADS_1
Dalam hatinya, hanya ada satu hal.
'Maafkan aku, semuanya.'