
Di perpustakaan yang megah ini, Lucius tenggelam di tengah lautan buku yang seakan tiada ujung.
Pada berbagai sisi, apa yang bisa dilihatnya hanyalah rak yang menjulang tinggi. Dengan buku yang memenuhinya dari bawah hingga atas.
"Luarbiasa sekali.... Aku tak tahu ada perpustakaan sebesar ini...." ujar Lucius lirih pada dirinya sendiri.
"Lucius. Kemari." ucap Emily juga dengan suara yang lirih.
Dengan langkah cepat, Lucius segera menyusul sosok Emily itu. Sosok yang sedikit mengingatkannya pada adiknya.
Bukan karena wajah atau sikapnya yang mirip. Melainkan karena keberadaannya sendiri membuat Lucius merasa nyaman dan ingin melindunginya.
"Ini.... Yang kau cari." ucap Emily lirih setelah mengambil buku itu dari rak paling atas dengan menggunakan sihirnya.
Semakin sering Lucius melihat kemampuan sihir Emily, semakin terkagum pula dirinya. Sebuah sihir yang mampu mengendalikan benda sesuka hatinya.
Atau setidaknya, itulah yang dipikirkan oleh Lucius.
"Sihirmu itu, benar-benar berguna di segala situasi ya?" tanya Lucius dengan senyuman sambil meraih buku yang kini tengah terbang perlahan itu.
"Kau berpikir begitu?" tanya Emily.
"Tentu saja. Di dalam kepalaku, terdapat banyak situasi yang memungkinkan untuk memanfaatkan sihir itu."
"Menggerakkan pedang?"
'Deg! Deg!'
Jantung Lucius seketika terhenti setelah mendengar Emily bisa memberikan jawaban yang tepat.
Jika saja Lucius bisa mempelajari sihir itu, Ia dapat dengan mudah mengendalikan pedang tanpa harus berdiri sekalipun. Menghabisi lawan atau melindungi orang dari jarak yang aman.
Tapi....
"Kenapa semuanya suka pertikaian? Aku.... Tak paham." balas Emily sebelum segera pergi meninggalkan Lucius setelah menyerahkan buku itu.
Dari kejauhan, Lucius dapat melihat ekspresi kekecewaan di wajah gadis itu. Meskipun hanya sedikit, Ia merasa menyesal telah mengucapkan hal barusan pada Emily.
Tapi mau bagaimana lagi?
Jika memang ada dunia tanpa pertikaian, tentu saja Lucius akan memilih dunia itu kapanpun dan di manapun.
Sedangkan kenyataannya....
__ADS_1
'Sreeeettt!!!'
Tanpa sadar, Lucius mengepalkan tangan kirinya hingga kuku jarinya melukai tangannya sendiri.
"Bahkan keluarga ku sendiri hampir terbunuh oleh pertikaian yang tak bisa dihindari itu. Karena itu lah, lebih baik aku memiliki kekuatan untuk menghentikan pertikaian itu sendiri bukan? Bukankah benar begitu, Carmilla?" tanya Lucius dengan suara lirih.
'Yah, akan lebih baik menjadi penyihir hebat di kebun. Dibandingkan menjadi tukang kebun di medan perang.'
Itu benar.
Akan lebih baik selalu memiliki kekuatan yang besar untuk menghadapi situasi yang tak bisa dikendalikannya.
Sekalipun takkan pernah digunakan.
...........
Beberapa jam telah berlalu dalam kesunyian di perpustakaan ini. Lucius membaca buku karya pahlawan sihir Alora Skyweaver itu sendirian di pojok lantai ini.
Sesekali, Lucius dapat melihat sosok Emily yang berdiri di kejauhan. Mengambil buku dengan sihirnya lalu menatanya kembali dalam posisi yang lebih baik.
Tak jarang Emily terlihat membaca buku yang diambilnya untuk beberapa saat sebelum meletakkannya kembali.
Sama sekali tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir tipis gadis itu. Emily hanya terus bekerja merapikan perpustakaan ini, sebelum akhirnya mengendalikan beberapa sapu untuk membersihkan lantai dari debu.
Sekalipun terdapat pustakawan lain yang meminta Emily untuk berhenti bekerja, tapi Emily tetap saja melanjutkannya.
'Tapi Lucius, kenapa kau mempelajari sihir rumit seperti ini?' tanya Carmilla penasaran.
"Sihir rumit? Apakah di zamanmu tak ada sihir ruang?"
'Uugh, jika ada maka iblis telah lama menguasai dunia ini. Lagipula, apa maksudnya dengan dimensi? Teori relativitas? Energi ruang? Manipulasi Geometri? Apa-apaan semua itu?'
"Eeeh, ku pikir Nona Carmilla adalah sosok yang sempurna. Nampaknya juga ada sisi lemah Nona Carmilla yang hebat." balas Lucius lirih sambil tertawa ringan.
'Diam kau! Bahkan bagiku yang telah mempelajari sihir selama ratusan tahun, aku sangat kesulitan untuk memahami semua konsep yang ada di buku ini! Jadi kau pasti juga takkan bisa memahaminya! Menyerah lah dan kembali melatih Mana milikmu!'
Carmilla adalah sosok iblis, sekaligus penyihir yang sangat hebat di masa lalu. Tentu saja. Lucius pun menyadarinya.
Tapi Carmilla sendiri hidup beberapa milenia di masa lalu. Pada masa dimana sihir hanyalah sebuah alat untuk mengekspresikan kekuatan penggunanya.
Sebagai contoh, semakin kuat penggunanya, semakin besar pula api yang diciptakan. Tak ada yang memperdulikan teori-teori sihir rumit yang bahkan tak bisa diaktifkan sebelum terbakar habis oleh sihir api lawannya.
Itu lah kenapa pada zaman itu, belum ditemukan sihir ruang yang kompleks seperti di masa Lucius saat ini.
__ADS_1
Termasuk juga teori-teori yang mendukung cara kerja sihir ruang itu sendiri.
Sedangkan bagi Lucius yang telah hidup selama 16 tahun di zaman ini, Ia telah cukup familiar dengan semua konsep itu. Setidaknya konsep dasarnya.
Sekalipun tubuhnya tak berbakat, Lucius cukup percaya diri terhadap kemampuan akademisnya. Yah meskipun kemampuan itu tak begitu berguna di akademi sihir.
Karena pada akhirnya, akademi hanya akan memberikan peringkat dimana 75% nya ditentukan oleh kemampuan sihir murid.
"Carmilla. Bagaimana jika aku bilang penyihir tingkat atas di zamanku ini biasanya memiliki sihir ruang sederhana untuk menyimpan berbagai barang mereka?" tanya Lucius sambil tersenyum.
'Hah? Apa maksudnya dengan itu?'
"Sekalipun terlihat tak membawa senjata, seorang penyihir bisa saja memiliki 10 pedang dan tombak di dalam penyimpanan sihir ruang mereka. Dan untuk mengambilnya, mereka bisa menariknya kapanpun dan di manapun."
Carmilla terlihat membeku terdiam. Tak percaya bahwa sihir sekuat itu bisa benar-benar ada.
'Ka-kau bercanda kan?'
"Tidak. Aku serius. Yah meskipun, penyihir tingkat tinggi seperti itu hanya ada sedikit. Karena itu lah, penting bagiku untuk mempelajari konsep sihir seperti itu sejak awal."
Setelah perasaan kekesalannya karena tak memahami konsep sihir baru ini, Carmilla mulai merasa tenang dan sedikit bangga.
Bahwa mungkin saja, pilihannya memang tak salah. Tidak. Lagipula Carmilla tak memiliki pilihan lain selain masuk ke dalam tubuh Lucius saat itu.
Dan mungkin saja....
Lucius benar-benar mampu untuk membangkitkan nya suatu hari nanti.
Memberikannya tubuh untuk dapat berjalan sekali lagi di dunia ini. Dunia yang telah bergerak selama beberapa milenia sejak terakhir kali Carmilla masih menginjakkan kakinya.
'Aaah, baiklah. Terserah kau saja. Tapi aku benar-benar tak memahami semua konsep itu, jadi aku takkan ikut belajar. Mengalahkan lawan dengan kekuatan mutlak dan teknik yang sempurna adalah gaya bertarungku. Bukannya mempelajari teori rumit seperti itu.'
Dan saat Lucius membalikkan halamannya, Carmilla semakin yakin lagi.
'A-apa?! Apa-apaan dengan semua rumus dan angka-angka itu? Simbol apa itu? Kenapa ada garis seperti itu? Hah? Aku tak tahu huruf manusia serumit itu?!'
Apa yang dilihatnya, adalah sekumpulan rumus dibalik teori sihir ruang yang dipelajari Lucius. Yang tentunya dipenuhi dengan simbol matematika yang sangat rumit.
Meskipun....
"Eh? Ini hanya simbol matematika saja, kenapa seheboh itu?"
Lucius yang selalu giat belajar sebelum pertemuannya dengan Carmilla, tentu telah memahami sebagian besar dari rumus yang rumit itu. Walaupun perlu baginya untuk mempelajarinya lebih lanjut.
__ADS_1
Dan sejak itu lah, Carmilla mulai sedikit menganggap bahwa Lucius mungkin memiliki bakat.
Tapi bukan di tempat yang diharapkan oleh mantan Ratu Iblis itu.