Murid Ratu Iblis

Murid Ratu Iblis
Chapter 21 - Guild


__ADS_3

Di malam hari, segera setelah Lucius selesai mandi....


'Jadi ini Guild Petualang manusia saat ini?' tanya Carmilla setelah melihat bangunan yang cukup besar di depannya.


Bangunan Guild itu memiliki setidaknya 5 lantai dan memiliki lebar bangunan mencapai 25 meter lebih jika dilihat dari depan.


Sedangkan untuk panjangnya, Lucius tak dapat melihatnya secara langsung. Tapi Ia yakin tak kalah dengan lebarnya.


"Kenapa? Berbeda dengan bayanganmu?" tanya Lucius dengan berbisik lirih pada dirinya sendiri sembari berjalan memasuki bangunan Guild Petualang ini.


'Yah, mungkin? Jika dilihat-lihat, bangunan ini jauh lebih megah dibandingkan dengan yang ada di zamanku dulu.' balas Carmilla.


"Aku yakin kerajaan manusia saat itu takkan mau membuang-buang banyak sumberdaya, hanya untuk sebuah bangunan yang bisa dihancurkan iblis dalam sekejap." balas Lucius sambil tertawa ringan.


'Aah, kau benar juga.'


Lucius berjalan sambil memandangi keramaian di dalam Guild ini.


Puluhan meja dan kursi tertata rapi di berbagai sisi ruangan yang besar ini. Sebagian besar telah digunakan oleh para petualang yang ada.


Beberapa diantara mereka nampak menikmati makanan dan minuman yang disajikan Guild. Beberapa yang lain nampak sedang berdiskusi dalam sebuah rapat sederhana.


Sisanya terlihat sedang berdiri di depan beberapa papan pengumuman di dinding sisi Timur. Melihat misi apa saja yang tersedia untuk mereka kerjakan.


"Hmm, katanya kawanan Thornback sedang bergerak ke arah kota ini." ujar salah seorang pahlawan yang sedang sibuk melihat papan misi atau Quest itu bersama dengan kelompoknya.


"Hah?! Kau serius?!"


"Bu-bukankah ini sedikit gawat?"


Saat kelompok kecil itu mulai goyah, terlihat beberapa petualang yang lebih veteran menertawakan mereka.


"Hahaha! Bodoh! Kalian harusnya bersyukur karena itu artinya banyak uang untuk kita! Bukankah benar begitu?!" teriak salah seorang petualang dengan badan yang cukup besar.


Di punggungnya terlihat sebuah pedang besar yang terikat pada sarung pedangnya dengan rapi.


"Meskipun benar, tapi cara mu mengatakannya kurang tepat, Ironclad." balas seorang wanita tinggi dengan mata berwarna biru cerah dan rambut hitam panjang yang di kuncir ekor kuda.


Bekas luka terlihat jelas di wajah sebelah kirinya. Sebuah sayatan pisau yang masih membekas, melukai dari kening hingga pipinya.


"Sera benar. Dan tolong, jangan selalu pamer di depan semua pemula di Guild ini. Tak semuanya punya tekad sekuat kita." sahur wanita berjubah hitam yang menutupi hampir seluruh tubuhnya. Beberapa hiasan perak nampak menghiasi jubah itu.


Sekilas saat Ia menggerakkan tangannya, jubah itu sedikit terbuka dan memperlihatkan sebuah tongkat sihir dengan kristal biru yang cerah.


"Lyra, sejak kapan kau berani mengaturku, hah?!" balas Ironclad sambil berteriak keras.


Di belakang kedua wanita itu, terlihat sosok seorang pria yang cukup pendek namun memiliki tubuh yang sangat kekar. Bahkan terlihat jauh lebih terlatih daripada Ironclad.


Pria itu nampak mengenakan zirah merah gelap yang tebal sedangkan senjatanya adalah sarung tangan besi berwarna hitam pekat dengan beberapa bilah besi di jari dan bagian atasnya.

__ADS_1


"Sudah lah. Kita akan mengambil misi itu kan?" tanya pria berzirah tebal itu.


"Aah, akhirnya ada yang memahami ku. Terimakasih, Drakon!" balas Ironclad yang segera mengambil sebuah kertas misi di papan quest itu.


Saat Lucius meliriknya, Ia melihat gambar target buruannya.


'Py-Pyroclaw?! Me-mereka berniat memburu monster tingkat B itu hanya berempat?!' teriak Lucius terkejut.


Pyroclaw adalah monster tipe Salamander dengan ukuran tubuh yang cukup besar. Biasanya muncul di daerah pegunungan dan kawah gunung berapi.


Dengan sisik yang sangat keras seperti perisai baja, serta kemampuan serangan yang mematikan membuat monster ini selalu dihindari oleh para petualang.


Berharap agar prajurit dan ksatria kerajaan yang membereskan mereka.


Tapi kelompok petualang ini?


Mereka dengan santainya berjalan ke arah meja pegawai Guild, menyerahkan misi yang ingin mereka ambil, dan segera berjalan pergi. Berniat untuk meninggalkan ruangan ini.


"Kalau begitu, kami nantikan kabar dari invasi Thornback di kota ini. Karena itu akan menjadi ladang uang untuk kami." ucap Ironclad kepada pegawai Guild itu sambil berjalan pergi.


Sebelum akhirnya, Ia berdiri tepat di hadapan Lucius yang sedari tadi masih terdiam di depan pintu Guild petualang ini.


"Hmm? Apakah Guild sekarang memperkerjakan anak-anak? Hahaha! Minggir bocah, ini bukan tempat untukmu." ucap Ironclad sambil tertawa keras, kemudian menggunakan tangan kanannya untuk menggeser tubuh Lucius dengan mudahnya.


Saat tangan kanan Ironclad menyentuhnya, Lucius dapat mengetahuinya secara langsung.


Bahwa orang itu bukan hanya banyak bicara. Tapi benar-benar memiliki kekuatan untuk mendukung kesombongannya.


"Sebelum berangkat, mau makan dulu?"


"Tentu saja. Aku ingin sapi! Daging sapi sebanyak-banyaknya!"


Dan beberapa kalimat itu adalah hal terakhir yang didengar oleh Lucius dari mereka di Guild ini. Meninggalkan Lucius terdiam sekaligus terpukau atas kekuatan dan kepercayaan diri mereka.


'Mereka benar-benar kuat, Lucius. Tak diragukan lagi, mereka berempat adalah yang terkuat diantara semua orang yang saat ini ada di ruangan ini.' jelas Carmilla setelah memperhatikan semuanya dari dalam tubuh Lucius.


"Kau juga berpikir seperti itu? Kalau begitu tak salah lagi kan, untukku menimba pengalaman disini?" balas Lucius dengan senyuman yang semakin lama semakin lebar itu.


Tak ingin membuang lebih banyak lagi waktu, Lucius segera berjalan ke arah salah satu pegawai Guild.


Para pegawai Guild terlihat duduk di balik barisan meja yang setinggi perut orang dewasa. Hampir 12 pegawai dapat terlihat bekerja keras saat ini, mengurusi berbagai tumpukan berkas di hadapan mereka.


"Umm.... Maaf. Bisakah aku mendaftar sebagai petualang di sini?" tanya Lucius pada salah seorang pegawai Guild itu.


"Tentu saja." balas gadis itu ramah dengan senyuman yang cukup lebar.


"Bisa tolong identitasnya? Nama dan kemampuan saja sudah cukup." lanjutnya singkat setelah mengesampingkan pekerjaannya yang sebelumnya.


"Apakah kartu ini bisa?" tanya Lucius sambil menyerahkan sebuah kartu pelajarnya di akademi Damacia.

__ADS_1


Tiba-tiba, gadis pegawai Guild itu terlihat tersenyum lebar. Menganggap bahwa akan ada pelajar berbakat yang bergabung dalam Guild di kota Arcanum ini.


"Wuah! Pelajar di Akademi Damacia?! Tentu saja! Mereka semua memiliki murid yang berba.... Kat?"


Tapi senyuman dan kebahagiannya seketika memudar setelah melihat kartu identitas pelajar milik Lucius.


"Ada yang salah?" tanya Lucius kebingungan.


"A-apakah benar kau bernama Lucius Nightshade?" tanya gadis itu.


"Itu benar. Kenapa?"


"Da-dari kelas F?" tanya gadis itu sekali lagi.


"Iya?"


Mendengar jawaban Lucius, gadis itu nampak menghela nafasnya seakan-akan telah kecewa atas situasi ini.


"Maaf tapi kami tak bisa menerima pelajar dari kelas F." jawab gadis itu sambil menyerahkan kembali kartu identitas milik Lucius.


"Eh? Tapi kenapa? Bukankah sebelumnya kau bilang nama dan kemampuan saja sudah cukup? Aku memiliki kemampuan untuk bertarung." balas Lucius kesal.


Tapi gadis itu nampak terus menggeleng-gelengkan kepalanya. Seakan tak mau mendengar penjelasan dari Lucius.


"Memang benar, tapi itu untuk orang dewasa yang jelas sudah paham atas resiko dari tiap misi yang mereka ambil. Lagipula, memangnya apa yang bisa dilakukan pelajar kelas F sepertimu?


Bukankah kelas F adalah pelajar gagal yang akan segera dikeluarkan dari akademi? Hahaha...." balas gadis itu sambil tertawa ringan seakan meremehkan.


"Apakah tak ada suatu cara agar aku bisa bergabung?" tanya Lucius sekali lagi.


"Tentu. Kembali lah setelah berumur 18 tahun. Saat itu Guild akan menerima mu, selemah apapun dirimu. Meskipun, aku sendiri tak merekomendasikan untuk bunuh diri dalam misi Guild." balas gadis itu, kini dengan keramahan dan senyuman yang telah kembali pada dirinya.


Pada akhirnya, Lucius pulang ke penginapannya dengan tangan kosong.


Gagal untuk bisa bergabung dalam Guild Petualang. Hanya saja....


'Apakah berburu monster harus bergabung dulu dalam Guild itu? Ku rasa tak perlu kan? Kau hanya perlu keluar dari kota dan pilih sendiri monster yang akan kau buru. Kenapa harus repot-repot?' ucap Carmilla tiba-tiba.


"Eh?"


Pada saat itulah, Lucius teringat. Bahwa dirinya sama sekali belum membutuhkan uang tambahan untuk hidupnya saat ini.


Uang yang dibagikan oleh Alex sebelumnya sudah cukup untuk seluruh kebutuhan dan kehidupannya di Akademi.


Jadi untuk apa memaksa bergabung di Guild?


Yang dibutuhkannya adalah pengalaman. Bukan uang. Dengan senyuman yang lebar, Lucius pun membalas.


"Kau benar. Bagaimana menurutmu jika mulai malam ini aku berlatih diluar kota?"

__ADS_1


'Ide yang menarik.'


__ADS_2