Murid Ratu Iblis

Murid Ratu Iblis
Chapter 33 - Dunia Luar


__ADS_3

'Krettaakk!'


Suara dari ranting-ranting yang patah di tengah kobaran api unggun itu terdengar memecahkan kesunyian pada perkemahan sederhana ini.


Dua tenda sederhana nampak berdiri tegak di samping api unggun itu. Pada salah satu tenda itu, terlihat beberapa orang sedang berkumpul.


"Kau yakin dia tak apa?" tanya pria berbadan kekar yang tak lain adalah Ironclad itu.


Sambil terus mengarahkan tongkat sihir dan tangan kirinya pada sosok bocah laki-laki yang tergeletak tak berdaya itu, Lyra pun membalas.


"Pemulihannya cukup cepat. Tidak, bahkan terlalu cepat. Seakan-akan dia terus menerus menggunakan sihir penyembuhan pada dirinya sendiri." balas Lyra dengan raut wajah yang nampak kebingungan.


Ini adalah kali pertamanya untuk merawat orang terluka yang bisa pulih secepat ini.


Hanya dalam beberapa jam saja.


Terlebih lagi mengingat luka yang dialami oleh bocah yang tak lain adalah Lucius itu, membuat situasi ini semakin sulit dipahami.


Saat ini, Lucius sedang tak sadarkan diri akibat betapa parahnya luka yang dialaminya. Selain itu juga karena Ia benar-benar menguras habis Mana yang dimilikinya saat itu.


Tubuhnya yang hanya terbalut celana pendek yang compang-camping membuat kelompok petualang ini mampu melihat semua bekas luka di tubuh Lucius.


Setelah memperhatikan tubuh Lucius untuk beberapa saat, Drakon mulai memalingkan wajahnya ke arah Ironclad sembari berkata.


"Tapi Ironclad, ku rasa kau harus mulai belajar menahan diri? Bagaimana jika bocah ini mati barusan?" tanya Drakon dengan tatapan mata yang tajam.


Ironclad dengan cepat menggelengkan kepalanya. Mengetahui apa yang mungkin terjadi pada kelompoknya jika Lucius benar-benar mati.


"Ka-kau benar. Hahaha.... Aku tak ingin sekelompok ksatria sihir dari akademi memburuku." balas Ironclad.


"Kita." timpal Lyra kesal.


"Meski begitu.... Bagaimana bisa bocah seperti itu berada dalam kelas F? Bukankah kelas F di akademi hanya berisi orang-orang tak berguna yang bahkan gagal di akademi?" tanya Drakon sekali lagi.


"Entah lah...."


............


Di luar tenda, tepatnya di depan bara api unggun, terlihat sosok seorang gadis tengah duduk memandangi sesuatu yang dipegang dengan kedua tangannya.


Rambut hitam panjangnya saat ini tengah terurai, mempercantik penampilannya. Meski begitu, tak mampu untuk menutupi bekas sayatan di wajah bagian kirinya.


Semakin Ia memperhatikan kartu tanda pengenal yang ada di tangannya, cengkeramannya semakin kuat dan matanya semakin menyipit.


"Lucius Nightshade.... Kelas F tahun kedua. Hahaha.... Yang benar saja?" ujar Sera kesal sambil tertawa ringan.


Dirinya masih tak mampu untuk mempercayai bahwa seluruh pergerakan Lucius barusan termasuk dalam tingkat F.


Mulai dari kecepatan yang hampir setara dengan dirinya, ketahanan yang setara dengan Drakon, kemampuan sihir yang bahkan melampaui Lyra, serta kekuatan fisik yang mampu menandingi Ironclad.


"Bukankah setidaknya dia berada di tingkat A?" tanya Sera pada dirinya sendiri, masih sambil tertawa karena tak mampu percaya.


'Sruugg! Sruugg!'


Tak berselang lama, seseorang datang dan duduk di sebelahnya.


"Sudah selesai?" tanya Sera.


"Aku bahkan tak perlu menggunakan sihir penyembuhan tingkat tinggi." balas Lyra yang terlihat seperti sedikit mengeluh itu.


"Hah? Kenapa?"


"Tubuhnya seakan-akan mulai memulihkan diri dengan sendirinya."


"Hahaha.... Yang benar saja."

__ADS_1


Keheningan mulai menyelimuti keduanya. Ditemani oleh tarian api unggun di hadapan mereka.


'Krettaakk!!'


"Jadi, apa yang sebenarnya barusan terjadi padanya?" tanya Sera penasaran.


"Menurut Ironclad, apa yang barusan terjadi serupa dengan sihir penguatan fisik milik ras Dragonewt. Dan pada saat mereka saling pukul, tubuh Lucius telah hancur terlebih dahulu. Tapi masalahnya...."


Sera terus terdiam, menunggu kelanjutan dari jawaban dari Lyra.


"Sihir yang baru saja digunakan oleh Lucius, memiliki efek samping yang jauh lebih ringan dibandingkan dengan sihir milik Dragonewt." lanjut Lyra.


Setelah melirik sesaat ke arah kartu tanda pengenal milik Lucius itu, Sera segera menyadarinya.


"Nightshade, ya? Hah.... Bangsawan selalu saja memiliki sesuatu untuk mereka sembunyikan." keluh Sera.


"Hahaha, kau benar. Mungkin apa yang digunakannya barusan adalah sihir rahasia milik keluarganya?" balas Lyra sambil tertawa ringan.


"Mungkin saja. Apapun itu, akan bijak bagi orang biasa seperti kita untuk menghindari masalah dengan para bangsawan. Terutama keluarga yang memiliki sihir rahasia sekuat itu." ujar Sera sambil mengantungi kartu tanda pengenal milik Lucius itu.


Keduanya menghabiskan sisa malam hari ini dalam keheningan. Menatap tarian api di depan mereka sambil terus berharap agar Lucius segera sadarkan diri.


...........


Sesaat setelah matahari mulai terbit....


"Ughh.... Sialan, tubuhku sakit semua." keluh Lucius yang baru saja sadarkan diri.


Di sebelahnya, terlihat sosok Drakon yang tertidur dalam posisi duduk di pojokan tenda sederhana ini.


Sementara itu Ironclad nampak duduk di luar tenda. Menjaga teman-temannya yang telah lebih dulu tertidur.


"Hmm? Kau sudah bangun?" tanya Ironclad setelah menyadari adanya pergerakan di dalam tenda.


"Begitu lah." balas Lucius singkat.


Saat berusaha untuk bangun, sekujur tubuhnya terasa begitu sakit. Mulai dari otot kaki hingga lengannya.


Bahkan untuk gerakan yang sederhana sekalipun, Lucius merasakan rasa sakit yang luar biasa. Apalagi untuk berjalan ke arah Ironclad di luar tenda.


"Sialan...."


^^^'Kau baik-baik saja, Lucius?''^^^


"Darimana nya? Hah.... Tapi barusan...."


^^^'Kau kalah.''^^^


"Sudah ku duga. Bahkan setelah mengalirkan semuanya hanya untuk sesaat saja, aku belum mampu untuk menandingi nya...." keluh Lucius sambil melihat ke arah Ironclad di kejauhan.


Meski begitu, senyuman yang tipis nampak terlukis di wajahnya.


^^^'Kau tersenyum?'^^^


"Tidak.... Hanya saja, aku telah berusaha sebaik mungkin. Jika masih gagal, itu artinya tubuhku memang masih belum cukup kuat."


^^^'Akhirnya kau sadar seberapa tak berguna nya tubuhmu?' balas Carmilla dengan tawa ringan.^^^


Tanpa membalas, Lucius terus bergerak maju. Melangkahkan kakinya ke arah Ironclad, sekalipun pada tiap langkahnya itu begitu menyakitkan.


Ia terus menahannya.


'Itu benar. Aku bukan lagi anak kecil. Rasa sakit seperti ini masih bisa ditahan. Terlebih lagi....'


Lucius kembali teringat atas keluarganya yang masih dalam pengungsian.

__ADS_1


Dirinya harus terus berjuang bukan hanya untuk bertahan hidup. Tapi juga berjuang untuk mempersiapkan diri menyambut keluarganya.


Memberikan mereka sebuah tempat yang aman.


^^^'Kau sudah semakin dewasa, Lucius.'^^^


"Benarkah? Bagi ku, aku masih terlihat seperti bocah yang tak bisa melakukan apapun." balas Lucius dengan suara yang lirih sambil tertawa ringan.


^^^'Itu lah buktinya.''^^^


Melihat kembali pada beberapa waktu yang lalu, Lucius yang dulu pasti sudah menangis akibat semua rasa sakit ini.


Pasti sudah menyerah ketika menghadapi lawan sekuat itu.


Pasti juga akan menyalahkan lawan yang terlalu kuat baginya.


Dan pastinya....


Akan menyalahkan dunia yang tak berlaku adil baginya.


Tapi kini?


Lucius telah berhasil melihat dunia dalam sudut pandang yang benar-benar baru. Sebuah sudut pandang yang hanya bisa diperolehnya setelah mau menerima dunia ini apa adanya.


Memangnya kenapa dengan ketidakadilan? Masih banyak orang yang bernasib lebih buruk darinya.


Memangnya kenapa dengan tidak memiliki bakat? Bukankah semua orang biasa, sama seperti dirinya, juga tak memiliki bakat dalam sihir?


Tapi buktinya, Ironclad yang bahkan tak memiliki nama keluarga juga bisa sekuat itu.


Karena itu....


Tak ada lagi alasan untuk menyalahkan dunia ini.


Bagi Lucius yang sekarang, apa yang terpenting bukanlah bagaimana dunia memperlakukan dirinya.


Melainkan bagaimana dirinya beradaptasi pada dunia yang seperti ini.


Dan melalui langkah yang seperti melewati ladang duri itu pula, Lucius mulai semakin dekat dengan impiannya.


Di hadapannya, kini terlihat sosok Ironclad yang menyapa dengan ramah.


"Maaf untuk kemarin. Aku hanya memiliki kebiasaan untuk melawan orang kuat."


Lucius yang dulu pasti akan segera berteriak 'apa-apaan itu? kenapa tiba-tiba hampir membunuhku' atau semacamnya.


Tapi Lucius yang saat ini....


"Bisa kah aku meminta pertandingan ulang suatu saat nanti?"


Dengan senyuman yang lebar, Ironclad pun membalas.


"Tentu saja. Kapanpun kau mau, kelompokku akan selalu ada di Guild setidaknya di akhir pekan. Temui lah aku kapanpun, dan tantang aku lagi, bocah."


Lucius sudah puas dengan hasil ini. Jika memiliki lawan latih tanding sekuat Ironclad....


Menghadapi ancaman William Goldencrest juga mulai terlihat tak begitu mengerikan.


Hanya saja....


"Ah, soal barusan. Jangan lapor keluargamu ya? Aku tak ingin diburu oleh keluarga bangsawan. Dan juga karena aku menang, hasil buruan serigala nya milikku?" ujar Ironclad sambil menggaruk-garuk kepalanya.


Mendengar hal itu, Lucius hanya bisa tertawa.


"Hahaha, tak ada masalah bagiku. Lakukan sesukamu." balasnya sebelum segera pergi meninggalkan kelompok ini.

__ADS_1


Karena bagaimana pun....


Ia masih harus berangkat ke akademi.


__ADS_2