Murid Ratu Iblis

Murid Ratu Iblis
Chapter 61 - Taruhan


__ADS_3

"Jadi, apakah kalian takut?" tanya Alex dengan tatapan yang begitu mengintimidasi. Ia duduk sambil menyilangkan kedua tangannya di hadapan beberapa bangsawan Goldencrest itu.


"Apa kau bilang?" tanya seorang pria yang terlihat cukup tua, dengan rambut keemasan yang sudah mulai memutih itu.


Di belakangnya, beberapa orang dengan rambut keemasan yang sama nampak berusaha menahan emosi mereka atas perkataan Alex.


Tak jarang beberapa dari mereka berusaha untuk menarik pedang. Tapi mengingat lokasi pertemuan ini berada di tempat umum, tepatnya pada sebuah restoran yang sangat mewah....


Mereka terus menahan dirinya agar tidak mempermalukan keluarga Goldencrest.


Sementara itu Alex hanya ditemani oleh satu orang yang tak lain adalah Albert. Pelayan terbaiknya.


"Sudah ku bilang, aku mempertaruhkan semua harta, surat tanah, bangunan, dan semua kepemilikan ku di kota ini." ucap Alex dengan tatapan yang penuh percaya diri.


"Sebagai gantinya jika Lucius menang melawan William, aku ingin secuil tanah dari kalian. Tepatnya Central Plaza yang ada di alun-alun kota ini." lanjut Alex.


'Braaaakkk!!!'


"Kau sudah gila?! Kau pikir berapa harga Central Plaza bagi kami hah?!" teriak pria tua itu.


"Oh? Apakah Tuan Lonhart takut? Anda yakin anak Anda William akan kalah? Dan juga, saya yakin bobot taruhan saya lebih besar dengan total nilai mencapai dua ratus ribu koin emas lebih. Sekalipun begitu Anda takut? Hanya untuk sebuah Central Plaza?" tanya Alex yang terus memprovokasinya.


Central Plaza.


Seperti namanya sendiri, merupakan sebuah distrik belanja di sekitar pertengahan Kota Arcanum ini. Distrik ini dikuasai oleh Keluarga Goldencrest.


Dengan banyak toko-toko megah dan bergengsi, Central Plaza merupakan wilayah andalan Keluarga Goldencrest itu untuk menghasilkan uang dari bangsawan lain.


Meski begitu....


Nilainya hanya sepersepuluh dari keseluruhan aset keluarga Brown. Menolaknya tentu seakan-akan berkata bahwa William akan kalah melawan Lucius.


"Kugghh! Bocah sialan ini...." keluh Lohart sambil memukul meja di depannya. Menjatuhkan beberapa gelas berisi wine di dalamnya.


"Tu-Tuan Lohart...."


"Baiklah kalau takut. Sama seperti anak, nampaknya orangtuanya juga pengecut." ujar Alex sambil berdiri dari kursinya.


Ia bahkan melempar puluhan koin emas ke atas meja itu sambil berkata.


"Ini, rasa kasihan ku pada kalian. Nampaknya keluarga Goldencrest telah jatuh miskin sampai tak berani mempertaruhkan Central Plaza mereka."

__ADS_1


'Braaaakk!!!'


Tiba-tiba, Lohart memukul meja dengan kedua tangannya. Pukulannya sangat keras hingga menghancurkan meja mewah itu.


"Jaga bicaramu, bocah ingusan! Kau pikir kami takut?! Hah?! Aku akan menantikan hari dimana kau menangisi seluruh asetmu ku rebut!" teriak Lohart.


Dengan senyuman yang puas, Alex membalasnya.


"Hmph! Aku juga menantikan hari itu. Jika memang akan benar terjadi. Albert." ucapnya sambil melambaikan tangan kanannya. Memanggil pelayannya itu.


"Ya, Tuanku." balas Albert. Ia melangkah maju sambil menyerahkan dokumen pernjanjian yang telah diberi segel dari keluarga Brown.


Dalam dokumen perjanjian itu terdapat pernyataan mengenai taruhan ini. Termasuk juga mengenai apa yang kedua belah pihak itu pertaruhkan.


Dengan kondisi penuh emosi, Lohart sebagai kepala Keluarga Goldencrest sama sekali tak menyadari detail bahwa pertaruhannya benar-benar sama persis atas apa yang baru saja didiskusikan barusan.


Menunjukkan bahwa Alex telah memprediksi semuanya dengan sempurna.


"Tolong segelnya." ucap Albert sambil menunjuk ke pojok kanan bawah, di tempat tandatangan keluarga Goldencrest itu.


'Ctaakk!'


Setelah menekan cairan lilin merah dengan stampel keluarga Goldencrest itu, akhirnya perjanjian resmi berhasil terbentuk.


Jika menolaknya, pengadilan di Kota ini akan turun tangan dan menjadi penengah nya. Sebuah hal yang tentunya harus dihindari sebaik mungkin.


"Cih! Lihat saja! Aku akan menghancurkan keluarga Brown hingga tak bersisa lagi!" ujar Lohart yang segera melangkah pergi meninggalkan restoran mewah ini. Bersama dengan bangsawan yang lain di belakangnya.


"Aku menantikannya." balas Alex ramah.


Setelah kondisi di sekitar cukup sepi, Alex kembali duduk di kursinya. Memandangi berbagai hidangan dan minuman mewah yang berceceran di depannya.


Dengan menggunakan tangan kanannya, Alex meraih sebuah gelas yang masih berdiri itu. Membuang wine yang ada di dalamnya sebelum meminta air putih pada pelayan.


'Glek! Glek!'


"Hah.... Keluarga Goldencrest nampaknya benar-benar telah jatuh hingga ke dasar ya?" tanya Alex setelah meminum segelas air putih dingin itu.


"Anda benar, Tuan Muda. Dahulu keluarga Goldencrest adalah keluarga yang sangat berjaya. Bahkan cukup diakui oleh keluarga Kerajaan yaitu keluarga Arathorn. Tapi sekarang...."


"Hanya diisi oleh orang-orang bodoh yang bahkan tak mengerti cara menghasilkan uang. Dasar, melihat Central Plaza yang tak terawat itu di tangan mereka saja membuatku kesal." balas Alex memotong perkataan Albert itu.

__ADS_1


Dalam keheningan sesaat, di saat Albert merapikan dan membersihkan pakaian Alex dari kotoran dan cairan yang mengenainya....


"Tuan Muda, jangan katakan bahwa alasan Anda melakukan taruhan ini...." ucap Albert dengan tatapan mata yang dipenuhi kekhawatiran itu.


"Kau ragu atas keputusanku?" tanya Alex singkat.


Albert nampak menggelengkan kepalanya secara perlahan sambil tersenyum.


"Tidak, Tuan Muda. Tentu saja aku tak pernah meragukan Anda. Tapi, mempertaruhkan seluruh aset keluarga Brown.... Bukankah itu terlalu beresiko?"


Wajar saja Albert mempertanyakan hal itu.


Aset keluarga Brown bisa dibilang salah satu yang terbesar di kota ini. Jika Alex kehilangan aset yang dibangun selama beberapa generasi itu oleh keluarganya, tak hanya dirinya yang akan dirugikan karena jatuh miskin.


Tapi keseimbangan kekuatan bangsawan di kota ini juga akan hancur.


Keluarga Goldencrest yang sebelumnya sudah memiliki kekuatan besar akibat kejayaan leluhurnya, ini akan menjadi jauh semakin kuat lagi berkat kekayaan keluarga Brown.


"Albert. Ini adalah pertaruhan yang sangat penting untuk menentukan masa depan keluarga Brown. Melihat kondisi bangsawan yang stagnan di Kota ini, ini adalah satu-satunya kesempatan kita untuk bangkit lebih tinggi lagi." jelas Alex panjang lebar.



Alex nampak memberikan tatapan yang begitu serius ketika mengatakan hal itu. Pikirannya seakan-akan terus menerus berputar, mencari cara terbaik untuk dapat meningkatkan posisi keluarganya di kota ini.


Melihat sikap Tuannya yang begitu serius itu, Albert kembali teringat.


Atas kapan terakhir kalinya sosok bernama Alexander Brown itu bersikap seperti itu.


"Tuan Muda.... Aku mengerti. Orang tua ini akan terus mengikuti Anda." balas Albert sambil membungkukkan badannya pada Alex.


"Hahaha, bicara apa kau ini. Saat tak ada orang lain, tak perlu kaku seperti itu padaku. Kau lupa? Sekarang aku perlu meninjau perkembangan senjata untuk Lucius. Temani aku." balas Alex.


"Dengan senang hati, Tuan Muda."


Ia nampak bangkit dari kursinya, mengumpulkan koin emas yang tercecer di meja dan menggunakannya untuk membayar semua biaya pertemuan barusan.


Baginya, itu adalah harga yang murah.


Jika bisa menjatuhkan keluarga Goldencrest sekaligus meningkatkan posisi keluarganya.


Layaknya membunuh dua ekor burung dengan satu batu saja.

__ADS_1


Tapi untuk itu....


'Lucius, aku mengandalkan mu. Akan ku perlihatkan seberapa bergunanya aku bagimu.'


__ADS_2