
Hari ke 41....
Kini di dunia yang seharusnya menjadi penjara bagi Lucius itu, telah berubah menjadi istana es dengan danau dan sungai yang mengalir di berbagai arah.
Tepat di ruang bawah tanah dari istana es itu, Lucius menyimpan seluruh daging dari hasil buruannya.
Ia memakannya dalam porsi yang cukup. Tak banyak, tapi juga tak sedikit.
Berkat tindakannya sebelumnya, celah keretakan yang terdapat di Relic sihir ini telah diperbaiki. Dan tak mungkin lagi baginya untuk memanggil hewan-hewan liar lagi dari sana.
Tapi di hadapan ratusan daging hewan yang tergantung rapi di penyimpanan es yang sangat dingin itu?
Lucius tak pernah membayangkan dirinya akan butuh makanan yang lainnya lagi selama berbulan-bulan.
Sementara itu di sisi lain, Zephyrith terlihat sangat sibuk untuk menyelesaikan obat buatannya. Sebuah obat dalam bentuk bubuk hitam misterius, yang dapat digunakan untuk memberikan kekuatan iblis pada penggunanya.
Dan dalam hal ini....
Manusia.
Puluhan, bahkan ratusan tahanan telah diujicobakan dengan obatnya. Tapi tak banyak yang berhasil selamat.
Sekalipun bisa bertahan hidup terhadap efek samping dari obat itu, mereka semua kehilangan akal sehatnya.
............
Hari ke 63....
'Zraaatt! Sraaashh! Sraaangg!!'
Di dalam dunia yang seharusnya menjadi neraka baginya itu, Lucius justru terlihat sibuk untuk mengasah teknik berpedangnya dengan arahan dari Carmilla.
'Tidak! Tidak seperti itu! Coba pinjamkan tubuhmu sebentar, akan ku perlihatkan bagaimana caranya!' teriak Carmilla yang segera mengambil alih tubuh Lucius.
Ia dengan cepat mulai bergerak untuk melancarkan teknik berpedang yang dimaksudkannya.
Sebuah teknik dimana gerakannya seperti sebuah tarian yang indah. Namun pada tiap langkahnya, ayunan dari pedangnya mampu membunuh musuhnya dengan ketajaman yang tak terkira.
'Sraaaasshhh!! Sraaassshh!! Sraaassshh!!!'
Dengan gerakan itu, Carmilla dengan mudahnya menghancurkan batuan besar yang diciptakan oleh Lucius sebelumnya hingga berkeping-keping.
"Wuaaah, luarbiasa sekali...." puji Lucius setelah melihatnya.
'Luarbiasa apanya?! Kau harus bisa melakukannya sendiri!' balas Carmilla marah.
"Ya ya.... Aku mengerti." balas Lucius singkat.
Ia dengan cepat meletakkan kedua tangannya di atas tanah kering itu. Menggunakan sihir elemen tanah untuk menciptakan batu besar yang keras setinggi 4 meter di hadapannya itu.
"Baiklah, akan ku coba sekali lagi." ucap Lucius pada dirinya sendiri dengan senyuman.
Sementara itu....
Aurelia yang melihat sosok Lucius terus berlatih dengan santai di dunia itu mulai merinding ketakutan.
Ia membayangkan bagaimana jika dirinya yang terjebak dalam situasi itu? Menggantikan Lucius?
Apakah Ia bisa bertahan tetap waras di situasi ekstrim seperti itu? Atau kah dirinya akan menjadi gila dan membunuh dirinya sendiri?
Atau....
Dia akan menyerah pada seluruh permintaan dari Zephyrith selaku orang yang menjebaknya?
"Aku akan mencoba masuk saat dia tertidur lelap." ucap Zephyrith dari belakang Aurelia itu.
Ia nampak membawa beberapa botol kaca dengan bubuk hitam itu. Berniat untuk membunuh Lucius saat Ia dalam posisi tak berdaya.
Tepat pada saat Lucius tertidur lelap, Zephyrith berusaha untuk memasuki dimensi itu secara perlahan.
Tapi....
"Kau yakin? Aku bisa merasakanmu, kau tahu? Lanjutkan sedikit saja dan aku bisa keluar dari sini." balas Lucius dengan suara yang lantang secara tiba-tiba.
'A-apa?! Bu-bukankah barusan dia tertidur dengan lelap?' pikir Zephyrith yang baru saja menyentuh Relic itu.
Baik Zephyrith maupun Aurelia tidak mengetahui bahwa di tubuh Lucius terdapat sosok iblis yang sebenarnya, yang menjaga tubuh Lucius saat Ia tertidur.
Sedikit saja Carmilla merasakan ada perubahan susunan Mana di dunia ini, dengan cepat Ia akan membangunkan tubuh Lucius itu.
Dengan itu, tak mungkin bagi keduanya untuk menyusup masuk.
__ADS_1
Dimensi yang seharusnya menjadi penjara ini, justru berubah menjadi benteng yang tak tertembus bagi Lucius.
"Lagipula aku penasaran, kenapa kalian tak pergi saja jika sebegitu takutnya denganku? Mungkin masih butuh waktu 6 bulan atau lebih bagiku untuk menemukan kunci dari dunia ini. Aaah, apakah karena alat yang menyimpan dunia ini terlalu berharga jadi mau tak mau kalian harus membawaku?" tanya Lucius panjang lebar.
Zephyrith dan juga Aurelia semakin merinding setiap kali mendengar perkataan Lucius. Bocah itu seakan-akan bisa melihat ke masa depan yang begitu jauh, sekalipun terjebak di dunia kecil itu.
Pada akhirnya, keduanya memutuskan untuk kembali fokus pada penelitian mereka. Semakin cepat selesai, semakin cepat pula mereka pergi meninggalkan tempat terkutuk ini.
............
Hari ke 127....
Stok daging Lucius mulai menipis. Mungkin hanya tersisa untuk sekitar 2 minggu saja. Tapi Ia tak lagi begitu perduli dengan hal itu.
Pasalnya saat ini, Ia telah disibukkan dengan hal lainnya.
"Fuuuuh...."
Sosok Lucius terlihat melatih fisiknya dengan menggunakan pedangnya. Ia nampak melepas pakaian atasnya yang telah lusuh dan kotor itu, hanya mengenakan celana hitam pendek untuk latihannya.
Kemampuan berpedangnya telah meningkat sangat drastis selama di dunia ini.
Baginya, dunia ini justru menjadi sebuah tempat latihan tertutup yang sempurna. Tak ada apapun yang bisa mengganggu atau mengusiknya.
Bahkan sosok yang seharusnya menjadi musuhnya justru ketakutan padanya.
Saat beristirahat, Lucius merancang sihir baru untuk mengantisipasi ketika dirinya harus melawan sosok misterius itu.
Termasuk membenahi Arcana buatannya di dalam kastil kecilnya yang terbuat dari es itu.
"Katakan, apa lagi yang harus ku pelajari?" tanya Lucius pada dirinya sendiri, yang pada kenyataannya ditujukan pada Carmilla.
'Refleks dan kemampuan fisikmu benar-benar telah mencapai puncaknya, Lucius. Kemungkinan tubuhmu tak lagi bisa dilatih lebih lanjut. Tapi kau masih bisa mempelajari beberapa teknik lainnya. Bagaimana dengan teknik beladiri tangan kosong?' tanya Carmilla.
"Eeeh, sudah mencapai puncaknya? Hmm, tapi tangan kosong ya? Orang bodoh mana yang akan bertarung tanpa senjata?" balas Lucius sedikit kecewa.
Zephyrith dan juga Aurelia yang melihat Lucius seringkali berbicara pada dirinya sendiri, menganggap bahwa Lucius telah mulai kehilangan kewarasannya akibat isolasi yang terlalu lama.
Menyebabkan dirinya menciptakan 'teman' imajinasi untuk di ajak berbicara.
'Sudah ku bilang tubuhmu itu pada dasarnya tak berbakat. Setelah semua ini berakhir, aku akan mengajarkanmu cara untuk melampaui batasan tubuhmu itu.' balas Carmilla.
Tanpa di duga oleh siapapun, Lucius pun membalas.
"Eh? Apa yang dia katakan?" tanya Zephyrith terkejut bukan main.
"Gu-Guru, aku merasa sebaiknya kita kabur saja sekarang?" tanya Aurelia panik.
Penelitian keduanya untuk menciptakan obat yang cocok pada tubuh manusia hampir saja selesai. Tinggal sedikit lagi.
Jika Lucius berkata benar adanya, bahwa Ia sudah menemukan cara untuk keluar dari sana....
'Swuuuooosshh!!!'
Secara tiba-tiba, sebuah portal terbentuk tepat di samping tempat keduanya itu duduk.
Dari baliknya, sosok seorang pemuda dengan rambut hitam panjang yang acak-acakan, serta pakaian kotor yang compang-camping itu berjalan keluar secara perlahan.
"Aaah, dunia luar. Sudah lama aku ingin menghirup udara segar." ucap Lucius dengan senyuman di wajahnya.
Ia terlihat meregangkan otot kedua lengannya sembari berjalan. Pada sabuk di pinggang kirinya, terlihat pedang Mithril itu tergantung dengan cukup rapi pada sarung pedangnya.
'Deg! Deg!!'
Di saat yang benar-benar tak di duga, ketika Zephyrith dan juga Aurelia itu telah terbiasa melihat sosok Lucius yang sibuk berlatih dan tak lagi berusaha mencari kunci dari dunia itu....
Sosok yang mereka berdua takuti telah berdiri tepat di hadapan mereka.
'Swwuuusshh!!!'
Zephyrith dengan cepat menciptakan portal di belakang tubuhnya. Berniat untuk segera kabur bersama dengan Aurelia.
Tapi....
'Pyaaaarrr!!!'
Formasi sihir yang membentuk portal itu tiba-tiba hancur begitu saja.
Zephyrith yang tak memiliki waktu lagi untuk berpikir segera membuat portal kedua, ketiga, keempat....
Meski begitu, tak ada satu pun portal yang berhasil terbentuk.
__ADS_1
"Ka-kau?! Apa yang kau lakukan?!" teriak Zephyrith ketakutan.
Aurelia yang nampaknya telah menyadarinya segera terjatuh ke lantai dengan kedua lututnya sebagai tumpuan.
"Ja-jadi Arcana itu...." ucap Aurelia dengan tubuh yang gemetar.
Dengan senyuman yang lebar, Lucius menarik sebuah kartu yang terbuat dari lempengan logam tipis itu dengan tangan kirinya menggunakan dua jari.
Memperlihatkan sebuah kartu dengan rangkaian aliran formasi sihir yang begitu rumit berwarna biru muda cerah. Formasi sihir itu nampak bersinar dengan cukup terang di tangan Lucius.
"Kau tahu? Menjadi lemah terkadang membuka mata kita atas banyak hal baru." ucap Lucius sambil berjalan secara perlahan. Tangan kanannya terlihat mulai menarik pedang Mithril itu secara perlahan.
"Menjadi lemah?" tanya Zephyrith ketakutan. Ia berusaha untuk menggunakan berbagai macam sihir yang berbeda. Tapi tak ada satu pun sihir yang bisa aktif.
"Bagaimana jika aku bertemu dengan penyihir yang jauh lebih berbakat daripada diriku? Dengan pengetahuan sihir yang jauh lebih luar dariku? Juga dengan Mana yang lebih melimpah dariku? Bagaimana cara ku untuk bisa menang?" tanya Lucius yang terus berjalan mendekat.
Aurelia terlihat telah menangis tak berdaya, menyadari apa yang akan terjadi pada mereka.
"Haha! Pertanyaan bodoh! Itu artinya kau tidak cukup kuat!" balas Zephyrith yang semakin panik di setiap langkah kaki Lucius.
Ia hanya bisa menggertak untuk membuat Lucius ketakutan.
"Tidak, ada cara lain. Yaitu dengan menyeret mereka ke tingkat yang sama denganku. Lagipula, kau serius tak menyadarinya sejak aku datang kemari?" tanya Lucius kembali.
"Hah? Apa maksudmu?" tanya Zephyrith kebingungan.
"Bahkan murid mu sudah menyadarinya. Coba lihat tempat dimana kau berdiri." balas Lucius singkat.
Saat itu juga, Zephyrith baru menyadari atas apa yang sebenarnya terjadi. Sebuah pemandangan yang hanya bisa dilihat oleh Clairvoyance Eye.
Pemandangan dimana Mana yang seharusnya tersebar dan membentuk aliran yang lembut di dunia ini, nampak terdorong dengan sangat kuat ke segala arah dengan Lucius sebagai pusatnya.
Atau lebih tepatnya, dengan kartu Arcana itu sebagai pusatnya.
"Aetherlock. Sihir Original ku. Dengan ini, aku bisa menyeret penyihir berbakat manapun ke level yang sama dengan diriku. Yaitu menjadi manusia biasa tanpa sihir." balas Lucius sambil mengarahkan pedangnya tepat di depan wajah Zephyrith.
Sebuah Arcana yang mampu menetralkan segala macam sihir? Lalu bagaimana dirinya akan bertarung? Semua kemampuan penyerangan dan pertahanannya membutuhkan sihir.
Pertarungan tangan kosong? Dengan senjata? Ia telah melihat bagaimana Lucius bertarung tanpa sihir ratusan kali. Tak sekalipun dalam pikirannya terlintas angan-angan untuk bisa mengalahkan Lucius dalam pertarungan seperti itu.
Tapi ketika sihir semua orang di sekitar Lucius tersegel....
Rasa takut dan khawatir Zephyrith akhirnya terjawab. Memang sebaiknya dia pergi meninggalkan Lucius sejak kala itu.
Untuk apa terus melanjutkan percobaan di tempat ini? Tempat dimana terdapat sebuah bom waktu yang bahkan tak diketahui kapan akan meledaknya.
Karena itu lah, dirinya harus membayar kesombongannya dengan kematian....
'Jleeeebb!!! Srruuuuggg!'
Tiba-tiba, Zephyrith menusukkan sebuah jarum suntik tepat ke leher kanannya. Memasukkan seluruh cairan beserta bubuk hitam misterius itu ke dalam tubuhnya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Lucius panik.
"Guru! Apa yang ka...."
"Pergi dan bawa barang itu! Cepat!" teriak Zephyrith sambil melempar tubuh Aurelia sekuat tenaga ke belakang.
Menghargai keputusan Gurunya, Aurelia segera bangkit dan berlari ke sudut ruangan ini. Ia terlihat mengambil sebuah peti keemasan yang seukuran setengah lengannya.
Aurelia segera membawa peti itu pergi, meninggalkan tempat ini mungkin untuk selamanya.
"Cih, kau pikir aku akan membiarkannya?" balas Lucius yang segera berlari, berniat untuk mengejar Aurelia.
Tapi....
'Swuuushh! Braaaaakkkk!!!'
Tiba-tiba, pukulan yang sangat kuat menghantam tubuh Lucius. Melemparkannya sejauh puluhan meter. Menembus beberapa tembok yang dilaluinya.
"Kuuughh!!!" teriak Lucius kesakitan sambil memuntahkan darah.
Di hadapannya, terlihat sosok seorang pria.... Atau lebih tepatnya, seseorang yang dulunya adalah manusia.
Tubuhnya mulai bermutasi akibat senyawa misterius itu. Mulai dari ukuran tubuh yang membesar, otot yang semakin mengeras, juga Mana yang meningkat tajam.
Sepasang tanduk terlihat mulai tumbuh di kepalanya sementara warna kulitnya berubah menjadi abu-abu gelap.
Sorot mata kemerahannya yang begitu tajam itu memberikan aura intimidasi yang begitu kuat.
Melihat hal itu, hanya satu kata yang terlintas di kepala Lucius.
__ADS_1
"I-Iblis?!"
"Gggggrrrrrr!!!" teriak monster setinggi hampir 3 meter itu. Monster yang dulunya tak lain adalah Zephyrith. Mantan peneliti dari Menara Sihir.