
'Braaakk!!!'
Lucius terjatuh ke tanah setelah didorong orang misterius itu.
Saat Lucius membuka kedua matanya, sekujur tubuhnya segera merinding ketakutan atas apa yang dilihatnya.
Padang pasir dengan tanah berpasir yang mengeras, suhu yang begitu tinggi dan tak ada sedikit pun awan di langit. Hanya cahaya yang berasal dari sesuatu yang menyerupai matahari, namun dengan warna yang cenderung merah gelap.
Berbagai tumbuhan yang telah mengering dapat terlihat di beberapa tempat. Semuanya terlihat telah menyerah untuk bertahan hidup di tempat ekstrim ini.
"Ini buruk...." ujar Lucius dalam hatinya.
'Kau benar, Lucius. Ini sangat lah buruk.' balas Carmilla tak lama setelah itu.
Apa yang mengerikan dari tempat ini bukanlah suhu atau lingkungannya yang ekstrim. Bahkan air sekalipun Lucius dapat menciptakannya dengan sihir.
Tapi masalahnya....
Dengan penglihatan Lucius yang saat ini, Ia dapat menyadarinya.
Bahwa tempat ini, sama sekali tak memiliki Mana sedikit pun. Sebuah hal yang seharusnya tak mungkin terjadi, karena Dewi Mana telah memberkahi seluruh dunia dengan Mana.
Baik itu hewan, tumbuhan, bahkan bebatuan dan juga tanah sekalipun memiliki Mana. Meskipun dalam jumlah yang sangat sedikit.
Tapi tempat ini?
Setitik Mana sekalipun tak dapat ditemukan. Dengan kata lain....
"Jika seperti ini, aku takkan bisa meregenerasi kan Mana milikku." lanjut Lucius dengan tubuh yang gemetar.
Keringat mulai menetes, mengalir di pipi kanannya akibat suhu yang ekstrim ini.
Dengan cermat, Lucius terus berusaha untuk melihat ke segala arah. Tapi tak ada apapun yang bisa ditemukannya. Hanya padang pasir yang tak berujung di sekelilingnya.
'Tak bisa kah kau membuat portal seperti dirinya?' tanya Carmilla agak panik.
"Aku.... Bisa mencobanya." balas Lucius singkat. Ia dengan cepat mengangkat kedua tangannya ke depan, memfokuskan pikirannya untuk menciptakan formasi sihir untuk portal itu.
Tak peduli dimana, Lucius hanya berpikir untuk keluar dari tempat terkutuk yang bahkan tak diberkahi Dewi Mana ini.
'Swuuuusshh!!'
Secara perlahan, formasi sihir yang terbentuk di depan Lucius mulai aktif. Membentuk pintu portal dengan bentuk lingkaran itu secara perlahan.
Akan tetapi....
'Pyaaaarrr!!!'
__ADS_1
"A-apa?!" teriak Lucius terkejut setelah melihat portal yang hampir selesai terbentuk itu menyusut dan menghilang. Sedangkan formasi sihirnya nampak hancur berkeping-keping.
Carmilla yang jauh lebih mengerti sihir, sekalipun tak mengetahui formasi dari sihir ruang, menyadari arti dari pecahnya formasi sihir itu.
'Dispel?! Lucius.... Tempat ini jauh lebih buruk daripada yang ku pikirkan.' ucap Carmilla dengan suara yang gemetar.
"Apa maksudmu?"
'Tempat ini.... Tak salah lagi.... Adalah di dalam dunia buatan orang itu sendiri.'
Dengan cepat, Lucius segera memahami apa maksud dari perkataan Carmilla.
Sihir ruang. Sihir yang dianggap paling rumit dan paling sulit untuk dipelajari di era ini. Alasannya sebenarnya sangat sederhana.
Selain harus mampu melakukan kalkulasi yang sangat rumit di dalam kepala penggunanya dengan cepat, pengguna sihir ruang juga harus memiliki kapasitas Mana yang cukup untuk menciptakan framework atau dasar dari sihir ruang itu sendiri.
Yaitu menciptakan sebuah dunia baru, dari kehampaan, juga di kehampaan.
Dan satu-satunya yang bisa mengakses keluar atau masuk dunia itu, adalah pembuatnya sendiri.
Sama seperti sihir ruang Lucius yang bisa digunakannya untuk menyimpan barang....
Sihir ruang orang misterius itu, cukup besar untuk memuat dunia kecilnya sendiri. Sebuah dunia, yang hanya ada untuk dirinya.
"Tidak.... Tidak mungkin.... Untuk menciptakan dunia sebesar ini.... Bahkan ukuran dunia buatanku hanya sebesar satu kamar kecil.... Tapi ini?!" tanya Lucius pada dirinya sendiri dengan tubuh yang gemetar.
'Braaakk!!!'
Akhirnya, Lucius membaringkan tubuhnya untuk menganalisa situasi ini dengan lebih lanjut. Menggunakan sedikit Mana milikinya untuk menciptakan sebuah ruangan dengan sihir esnya. Melindunginya dari suhu panas yang mematikan di dunia ini.
'Lucius, aku tak ingin mati konyol seperti terjebak di dimensi ruang orang lain kau tahu?!' teriak Carmilla ketakutan.
"Tenang saja. Aku akan memikirkan caranya. Setiap dimensi ruang yang diciptakan dengan sihir ini, memiliki konsep dasar yang sama. Yang berbeda hanyalah formula yang menentukan lokasi, ukuran, hukum ruang dan waktu di dunia ini, lalu...."
Sambil terus mencoret-coret di tanah kering itu menggunakan ujung jarinya, Lucius terus memikirkan cara untuk bisa kabur dari dunia ini.
Sebelum sesuatu yang lebih buruk datang kemari.
.............
Sementara itu....
Di Arena pertarungan Akademi Damacia....
Sosok pria misterius itu masih berdiri dengan santai di tengah Arena ini. Menatap ke satu arah dimana seorang wanita dengan rambut perak panjang yang indah muncul dari balik sebuah portal.
"Alora, bukankah kau selalu terlambat?" ucap Pria misterius itu sambil membuka tudungnya. Memperlihatkan wajahnya secara keseluruhan.
__ADS_1
Dengan isyarat tangan yang singkat, Alora Skyweaver sang pahlawan penyihir dari ras Manusia memerintahkan puluhan Ksatria Suci untuk mengevakuasi wilayah ini.
Karena kali ini, Alora sama sekali tak berniat untuk melepaskan pria misterius itu.
"Sihir ruang tingkat tinggi, dengan efisiensi dan juga penyamaran jejak yang sempurna. Siapa sebenarnya dirimu? Aku tak pernah tahu umat manusia memiliki penyihir berbakat sepertimu." tanya Alora sembari berusaha untuk mengulur waktu.
Memberikan waktu bagi para pelajar dan profesor di akademi ini untuk melarikan diri.
Sosok William yang masih terdiam di tengah Arena itu pun nampak ditarik oleh salah seorang Ksatria Suci dari Gereja Cahaya, Lunaria.
"Kali ini kalian baru penasaran dengan identitasku? Oi oi.... Jangan bercanda. Bukankah dulunya kalian mengusirku atas ide gila ku?" balas pria misterius itu sambil tertawa ringan.
"Ide gila?" tanya Alora penasaran. Sesekali Alora terlihat melirik ke berbagai arah untuk memastikan seluruh warga sipil di tempat ini telah dievakuasi.
"Alora.... Sampai kapan kau akan tunduk pada Dewi tak berguna itu di saat Kerajaan Manusia selalu terancam untuk diserang ras lain? Dewi tak berguna yang bahkan memberikan kekuatan pahlawan pada ras lain itu." balas pria misterius itu, kini dengan tatapan yang dipenuhi kebencian.
Alora segera menyambungkan berbagai petunjuk yang selama ini diperolehnya. Dan tak perlu waktu lama bagi dirinya untuk menyadarinya.
"Kau.... Jangan katakan.... Asisten Peneliti Menara Sihir, Zephyrith?!" tanya Alora dengan wajah yang terlihat begitu terkejut itu.
Dengan senyuman yang tipis, pria itu pun membalas.
"Benar sekali." ucapnya singkat sebelum mengulurkan tangan kannya ke arah Alora Skyweaver.
"Alora, aku telah menemukannya. Sumber kekuatan luarbiasa yang mampu menyaingi kekuatan para dewa dan dewi itu. Kekuatan yang hanya akan ada di pihak manusia.
Dengan kekuatan ini, tak salah lagi umat manusia dapat menundukkan segalanya di benua ini. Menghapuskan semua ras menjijikkan itu dari tanah suci ini. Katakan, Alora. Apakah kau mau ikut serta denganku dalam perjalanan ini?" tanya pria bernama Zephyrith itu.
Tapi Alora yang mendengar tawaran yang begitu luarbiasa itu, segera menolak tanpa berpikir panjang.
"Kau sudah gila? Kekuatan selain dari pada Dewa dan Dewi adalah kekuatan dari kegelapan. Dengan kata lain, kesesatan! Heretics! Takkan dalam seumur hidup aku menerimanya!" balas Alora dengan lantang.
"Begitu kah? Kalau begitu, ingin melihat apa yang bisa dilakukan oleh kekuatan itu jika berada di tubuh manusia?" tanya Zephyrith dengan senyuman yang semakin lebar.
"Apa kau bilang?"
Mengingat betapa mengerikannya Hobgoblin yang baru saja mengamuk beberapa saat yang lalu, Alora segera tersadar.
Jika kekuatan itu berada di tangan manusia yang terlatih, bukannya di tangan monster yang tak berakal....
"Nona Alora. Berdasarkan pengakuan beberapa saksi, seorang penyihir bernama Lucius baru saja diculik olehnya. Dan Lucius itu, setidaknya setara dengan penyihir tingkat A." bisik salah seorang Ksatria Suci yang baru saja berlari ke arahnya b
'Deg! Deg!!'
Jika hal itu terjadi....
"Bagaimana? Tertarik untuk melihatnya?" tanya Zephyrith dengan senyuman yang begitu lebar, namun juga terkesan begitu jahat.
__ADS_1