Murid Ratu Iblis

Murid Ratu Iblis
Chapter 74 - Pahlawan


__ADS_3

Setelah melewati portal yang diciptakan oleh Alora, Lucius dapat melihat pemandangan yang begitu luarbiasa.


Bukan dalam artian itu adalah pemandangan yang indah atau menakjubkan. Melainkan karena Ia bisa melihat pemandangan dimana Pahlawan Pedang Cadera membelah sebagian tubuh dari Naga sang pembawa bencana, Ashenflare.


Di hadapannya, terdapat sebuah lembah yang hampir lurus sempurna. Dengan tebing yang sangat curam, bahkan hampir tegak lurus.


Panjang dari lembah ini mencapai 1.000 meter lebih, dengan kedalaman yang dikatakan mencapai 180 meter. Sedangkan lebarnya sendiri mencapai hampir 50 meter.


Selain Lembah Cadera, tempat ini hanya dikelilingi oleh padang rumput yang begitu luas dengan sedikit sekali pepohonan.


'Swuuusshh!!!'


Angin berhembus dengan cukup kencang bersama dengan tarian rerumputan di sekitarnya. Sedangkan Lucius masih terus menatap dengan kagum atas betapa besarnya lembah yang ada di hadapannya itu.


'Lucius, tempat apa ini?' tanya Carmilla penasaran.


Menyadari Lucius tak bisa menjawabnya secara langsung, karena sosok Alora masih berdiri di sampingnya merapalkan mantra sihir ruang tingkat tinggi, Carmilla segera mengambil alih tubuh Lucius.


Membiarkannya menjawab dalam pikirannya.


'Lembah Cadera. Tercipta dari bekas tebasan pahlawan pedang kala itu, yaitu Cadera. Katanya tebasannya mampu memotong sebagian dari tubuh Ashenflare. Termasuk lengan kirinya.' balas Lucius panjang lebar.


Setidaknya itu lah yang dipelajarinya selama mengikuti pelajaran sejarah di akademi.


Setelah memperoleh jawabannya, Carmilla segera mengembalikan kendali tubuh Lucius. Memikirkan atas betapa mengerikannya kekuatan pahlawan kala melawan Ashenflare.


'Jujur saja, jika aku tak melihatnya secara langsung.... Mungkin aku takkan mempercayainya. Lagipula, tebasan macam apa yang bisa membuat lembah seperti ini?' pikir Lucius dalam hatinya sendiri.


Saat menengok ke dalam jurang yang gelap dan dalam itu, Lucius dapat merasakannya. Tidak.... Dia dapat melihatnya dengan sangat jelas.


Kumpulan Mana Iblis yang begitu gelap dan juga jahat itu terlihat di dasar jurang. Menatap kembali sosok Lucius dengan penuh kebencian.


Bahkan di dasar jurang sekalipun, iblis Zephyrith masih terus mengumpulkan Mana di sekitarnya. Berusaha untuk berevolusi lebih lanjut lagi.


Jika dibiarkan maka....


Kemungkinan bencana baru di wilayah manusia akan terlahir.


Tapi di saat Lucius masih sibuk memikirkan berbagai hal itu, sebuah lingkaran sihir raksasa dengan warna keunguan muncul di belakangnya.


Ukurannya mencapai 20 meter lebih. Dengan cahaya keunguan yang begitu terang, menyembunyikan sosok manusia yang terdapat di dalamnya.


Atau lebih tepatnya, ratusan manusia.


Barisan Ksatria Suci terlihat muncul dari lingkaran sihir tersebut. Sebuah sihir ruang tingkat tinggi, yang mampu memindahkan bahkan ratusan prajurit sekaligus.


'Sruuugg!!!'


Seluruh Ksatria Suci itu segera berlutut ke arah Alora. Termasuk seorang ksatria suci di barisan terdepan yang langsung melepas helm mithrilnya.


Memperlihatkan sosok seorang pria dengan rambut pendek berwarna kemerahan. Pada wajahnya, beberapa bekas luka dapat terlihat dengan jelas.


"Inquisitor Gereja Lunaria, Roland, melapor untuk bertugas." ucapnya sambil berlutut dan menundukkan kepalanya.


Di belakangnya, barisan 200 Ksatria suci juga berlutut dengan rapi. Tak ada sedikit pun yang berani mengangkat kepalanya sebelum diperintahkan.


"Angkat kepala kalian." ucap Alora singkat.


Pada saat itu lah, semuanya mulai mengangkat kepala mereka. Tatapan mereka semua terpaku pada sosok Alora.


"Di dasar lembah ini, terdapat seekor monster yang sangat kuat. Memiliki kekuatan dari kegelapan yang kelam. Lebih dari itu, monster itu terus berevolusi menjadi lebih kuat lagi." jelas Alora dengan wajah dan suara yang begitu serius.

__ADS_1


Tak paham harus bagaimana, Lucius hanya bisa ikut-ikutan berlutut membelakangi Alora.


'Tapi Lucius, meskipun pahlawan di masa ketika kadal kuning itu mengamuk sangat kuat, bukankah pahlawan sekarang terlihat begitu lemah? Lihat lah wanita itu. Dia bahkan tak bisa mengatasi iblis yang tak sempurna itu. Sampai harus memanggil bala bantuan? Memalukan.'


Kenyataannya, Lucius juga memikirkan hal yang serupa.


Memang benar Mana yang ada di dalam tubuh Alora sangat lah melimpah. Setidaknya 50, mungkin 100 kali lipat lebih besar daripada milik Lucius.


Tapi itu saja.


Tentu saja dibandingkan dengan manusia biasa, Alora sangat lah kuat. Namun jika dibandingkan dengan pahlawan di masa lalu?


Kekuatan Alora bahkan tak sampai seujung kuku Cadera yang menciptakan lembah sebesar ini. Itu lah yang ada di dalam pikiran Lucius.


Setelah penjelasan selama kurang dari satu menit, Alora masuk ke inti terpenting pembahasannya.


"Karena itu lah, aku akan menggunakan seperlima dari kekuatan Divine Judgement pada monster itu. Berikan aku waktu dengan menahan monster itu di tempat yang sama selama 2 menit.


Kemudian Lucius, aku membutuhkan bantuanmu untuk membawa mereka kabur setelah persiapan ku matang. Kau tak perlu ikut karena mungkin kau hanya akan menghambat mereka. Kau hanya perlu membukakan portal di kedua sisi dasar lembah itu setelah 2 menit berlalu. Mengerti?" jelas Alora panjang lebar.


"Mengerti!" balas seluruh Ksatria Suci itu. Begitu pula dengan Lucius.


Dengan cepat, Alora membuat enam buah portal sekaligus. Keenam portal itu segera menghubungkan antara tempat ini dengan dasar Lembah Cadera.


Para Ksatria Suci segera bergegas untuk memasukinya. Dalam sekejap, mereka telah berada tepat di dasar jurang. Menghambat langkah dari Iblis Zephyrith itu sekuat tenaga.


Sebelum Inquisitor bernama Roland itu memasuki portal....


"Roland, jangan mati. Itu perintah. Gereja masih membutuhkan mu di tempat lain." ucap Alora tanpa memandang ke arah pria berambut kemerahan itu.


"Dimengerti, Nona Alora." balasnya singkat sambil sedikit menundukkan kepalanya dan meletakkan tangan kanannya pada dadanya.


Hanya menyisakan Lucius dan juga Alora di bagian atas lembah ini.


"Kau bisa melihatnya kan? Koordinat tepat dasar lembah itu dari portal milikku?" tanya Alora.


Lucius terdiam. Ia sebenarnya cukup bingung atas Alora yang mengetahui bahwa dirinya bisa melihat koordinat lokasi tepat yang dituju oleh portal Alora.


"Apapun alasanmu untuk berdiam di kelas F, aku takkan banyak bertanya. Tapi tolong, nyawa ksatria ku menjadi taruhannya di sini. Jadi, pastikan kau membuka portal tepat waktu untuk membawa mereka kembali kemari." lanjut Alora.


"Aku mengerti."


"Sekarang, menjauh lah sedikit dari ku."


Lucius segera melangkahkan kakinya. Menjauhi sosok pahlawan yang kini memiliki ekspresi wajah yang benar-benar berbeda dengan sebelumnya.


Seakan-akan, Ia adalah orang yang berbeda.


'Taaaakk!!!'


Alora terlihat memukulkan tongkat sihirnya ke tanah, dimana tongkat itu melayang dengan sendirinya di hadapannya.


Sedangkan kedua tangannya nampak direntangkan selebar mungkin. Bibir manisnya nampak merapalkan sesuatu untuk sihir yang tak pernah di dengarnya itu.


..."Dengan kehormatan dan kekuatan yang kumiliki,...


...Aku, Alora Skyweaver, memanggil sinar Ilahi ini....


...Dari jauh di alam langit yang megah,...


...Elemen suci ini bersatu dalam keanggunan."...

__ADS_1


Setelah merapalkan bait pertama itu, hawa yang begitu kuat dapat terasa di sekitar tubuh Alora. Lucius yang memastikannya menggunakan mata sihirnya merasa ingin muntah setelah melihatnya.


Dari langit, Mana dalam jumlah yang luarbiasa besar seakan-akan turun begitu saja. Mengalir pada tubuh Alora itu. Jumlahnya bahkan mencapai ribuan kali lipat Mana yang dimiliki oleh Lucius saat ini.


..."Api menyala dalam kobaran yang membara,...


...Angin melambai dengan kemasyhuran yang terasa,...


...Cahaya memancar dalam kejayaan yang tak tergoyahkan."...


Setelah bait kedua, tiga buah lingkaran sihir raksasa mulai muncul dari tanah tempat Alora berdiri. Secara perlahan mulai terangkat ke atas kepalanya.


Ketiga lingkaran sihir itu memiliki warna yang berbeda. Yang berada di paling atas yaitu warna kemerahan, kemudian diikuti oleh warna hijau muda yang cerah, dan diakhiri oleh warna keemasan yang indah.


..."Oh, Dewi Cahaya, Lunaria yang mulia,...


...Izinkan aku menjadi saluran kekuatan-Mu....


...Dalam nama-Mu, aku menghempaskan kegelapan,...


...Membakar jalan menuju kesucian tanpa cela."...


Tak lama setelah bait ketiga dari rapalan sihirnya, lima buah lingkaran sihir berwarna biru cerah muncul mengelilingi tubuh Alora. Berputar di sekitarnya secara terus menerus.


Dengan mata sihir yang sempurna itu, Lucius dapat melihatnya. Bahwa kelima lingkaran sihir yang baru itu berperan sebagai 'wadah' sementara atas Mana yang begitu melimpah.


Mana dengan warna keemasan yang begitu indah itu terus menerus tersimpan ke dalam lima buah lingkaran sihir itu. Lucius yakin, Mana itu tak salah lagi berasal dari Dewi Lunaria secara langsung.


Secara perlahan, Alora nampak menciptakan puluhan lingkaran sihir yang baru di atas ketiga lingkaran sihir raksasa sebelumnya. Semuanya tertuju ke arah langit.


Saat Lucius terpana pada betapa indah dan besarnya Mana dari Alora saat ini, Ia hampir lupa bahwa hampir 2 menit telah berlalu.


Dengan cepat, Lucius segera membuat dua buah portal yang terhubung ke dasar jurang itu.


Satu per satu, Ksatria Suci nampak berlari keluar dari portal buatannya.


..."Dengan seruan ini, bawakan pada dunia ini cahaya keagungan-Mu,...


...Bersinar terang, menggulung segala kejahatan,...


...Lindungi, hancurkan, dan sucikan dengan keadilan. ...


...Divine Judgement."...


Setelah menyelesaikan bait keempat sekaligus bait terakhir dari rapalannya, Lucius dapat melihat puluhan lingkaran sihir raksasa di langit. Tepat di atas tubuh Iblis Zephyrith berada.


Semua lingkaran sihir itu tersusun secara bertingkat dengan ukuran yang beragam. Sedangkan lingkaran sihir dengan ukuran terbesar berada tepat di bagian paling bawah.


Saat itu lah....


Lucius segera menarik kembali keraguannya sebelumnya. Keraguan dimana Ia membandingkan Alora dengan pahlawan yang sebelumnya.


Keraguan dimana Lucius dalam sekejap menganggap bahwa Alora terlalu lemah sebagai seorang pahlawan.


Karena tepat setelah rapalan sihir itu selesai....


Sebuah sinar keemasan dari langit, menembus puluhan lingkaran sihir keemasan itu. Semakin membesar setiap kali melewatinya, dan juga menjadi semakin kuat.


Hingga akhirnya, Lucius hanya bisa terdiam menganga. Melihat sinar keemasan dengan ukuran raksasa itu menelan seluruh lebar Lembah Cadera.


Membinasakan apapun yang dilaluinya.

__ADS_1


__ADS_2