Murid Ratu Iblis

Murid Ratu Iblis
Chapter 41 - Kejanggalan


__ADS_3

'Zraaasshh! Sraaaaatt!!!'


Di tengah hutan yang lebat itu, Lucius memburu puluhan monster sendirian.


Tumpukan mayat monster nampak tersebar di segala sisi, dengan darah mereka membasahi semak dan pepohonan di sekitarnya.


'Sraaaatt!'


Dengan cepat, Lucius mengayunkan pedang barunya di udara untuk membersihkannya dari darah monster yang menempel.


"Pedang ini, luarbiasa sekali...."


'Sudah ku bilang.' balas Carmilla dalam pikiran Lucius.


Berbeda jauh dengan pedangnya yang dulu, yang hanya terbuat dari besi biasa. Pedang dengan bahan infernal steel ini tak hanya kuat tapi juga sangat tajam.


Saat Lucius sibuk memperhatikan pedang dengan bilah kemerahan itu....


"Groooooaaaaaarrrr!!!"


Seekor monster menyerangnya dari belakang. Sosok monster itu memiliki wujud menyerupai babi hutan namun dengan duri-duri tajam layaknya seekor landak.


Tanpa ragu, monster itu melompat tepat ke arah Lucius berdiri. Bersiap untuk menerkamnya.


Hanya saja....


Lucius yang menyadari serangan itu langsung mengaktifkan Rune "Vel" di pedang itu untuk meningkatkan kecepatan gerakannya.


'Zraaaaaassshhh!!!'


Dengan tebasan vertikal, Lucius memotong tubuh monster Brambleback itu dengan mudah. Darah bercucuran ke segala arah, termasuk membasahi sekujur tubuh Lucius.


"Uuugh, menjijikkan sekali." keluh Lucius sebelum menggunakan sihir air menggunakan tangan kirinya. Membasahi dirinya sendiri lalu mengeringkannya kembali dengan sihir angin.


'Lucius, kau tahu? Kau sudah berkembang cukup baik.' ujar Carmilla tiba-tiba.


"Begitu kah?" balas Lucius yang saat ini masih sibuk mengambil berbagai bagian tubuh monster yang bisa dijualnya.


Mulai dari organ dalam beberapa ekor serigala hingga satu ransel duri Brambleback. Semuanya akan diberikan oleh Lucius pada kelompok Ironclad agar bisa dijual.


Bagaimana pun, hanya mereka yang memiliki kartu petualang yang bisa menjualnya.


'Aku berpikir, mungkin sebentar lagi kau sudah siap untuk cincin sihir yang kedua?'


"Bagus lah. Satu langkah lebih dekat dengan tujuanmu untuk bangkit kembali bukan?" balas Lucius.


Melihat sikap Lucius yang semakin lama semakin dingin, Carmilla pada awalnya mengacuhkannya begitu saja. Tapi lama kelamaan....


'Tunggu. Kau ini kenapa? Bukankah kau sedikit berubah?'


"Kau berharap orang yang hanya tidur tiga jam sehari, latihan fisik tingkat tinggi selama berjam-jam tiap harinya, menguras Mana tiap pagi dan malam hari serta menghabiskan waktu istirahat dengan belajar untuk tidak berubah?" tanya Lucius kesal.


'Dengar! Aku tak pernah menuntutmu untuk terburu-buru membangkitkan ku! Kau bisa gunakan waktu seperlu mu dan....'


"William akan segera kembali!" teriak Lucius kesal.


Tak lama lagi, William Goldencrest akan kembali ke akademi ini.

__ADS_1


Mengingat William adalah penyihir tingkat B, dan lebih dari itu berada di tahun kelima. Tentu saja perbedaan kekuatan antara Lucius dengannya sangat lah besar.


Ibarat kata seorang tahanan yang mengetahui kapan mereka akan dihukum mati.


Setiap detik yang berlalu, Lucius menyadari dirinya semakin dekat dengan kematian.


Bahkan aturan akademi Damacia menjelaskan bahwa kematian yang terjadi dalam tantangan duel sama sekali takkan dipermasalahkan.


Menolak duel?


Seberapa lama Lucius bisa kabur?


"Aku.... Aku harus menjadi lebih kuat lagi. Untuk itu, tak peduli apapun akan ku lakukan...." ujar Lucius sambil menarik jantung dari tubuh serigala hutan itu dengan tangan kanannya.


'Aku hanya bilang, beristirahat lah. Jika situasi mendesak, aku tetap akan membantu mu jadi....'


"Sampai kapan?"


'Eh? Apa maksudmu?'


"Sampai kapan aku harus terus bergantung padamu? Setelah kau bangkit, bukan berarti kau tetap akan ada di sisiku bukan?"


Carmilla terkejut. Mengetahui bahwa Lucius telah menyadari apa yang akan terjadi setelah dirinya dibangkitkan.


'Lucius aku....'


Tiba-tiba, ratusan burung yang ada di hutan ini terbang secara bersamaan. Menjauhi hutan di siang hari ini.


Lucius yang menyadarinya segera berdiri. Melihat ke arah sekeliling untuk mencari tahu penyebab dari terbangnya ratusan burung itu secara bersamaan.


"Hening sekali. Ada apa ini?" tanya Lucius pada dirinya sendiri.


Di kejauhan, Ia bahkan melihat gerombolan Goblin dan kawanan serigala lari secara terbirit-birit. Berusaha sekuat tenaga untuk meninggalkan hutan ini.


'Deg! Deg!!'


Saat itu lah, untuk pertama kalinya.


Lucius dapat merasakan jantungnya berdegup dengan sangat kencang karena emosi dari Carmilla itu sendiri.


"Oi, Carmilla. Kau tahu sesuatu kan? Ada apa ini?" tanya Lucius panik. Ia dengan segera menarik pedangnya dan bersiap untuk menghadapi apapun yang mungkin mendekat ke arahnya.


'Lucius.... Lari.'


"Hah? Uh, baiklah."


Tanpa mempertanyakan lebih lanjut, Lucius segera lari meninggalkan hutan ini. Tentu saja, sambil membawa hasil jarahannya.


Sekalipun tak mengetahui apapun, Lucius dapat merasakan sekujur tubuhnya gemetar ketakutan. Rasa takut yang berasal bukan dari dirinya sendiri, melainkan dari jiwa Carmilla.


"Tak biasanya kau seperti ini. Ada apa?" tanya Lucius sambil terus berlari.


'Kenapa aku baru menyadarinya sekarang? Tidak.... Aku sangat yakin itu tak pernah ada di sana selama ini....' ucap Carmilla pada dirinya sendiri.


"Oi, jangan acuhkan aku."


Setelah keheningan selama beberapa saat, Carmilla akhirnya mengatakan yang sebenarnya.

__ADS_1


Hanya satu kata.


Tapi itu sudah cukup untuk membuat Lucius juga merasakan terror yang dirasakan oleh Carmilla.


'Iblis.'


"Eh?"


Dunia dimana Lucius hidup saat ini, adalah sebuah dunia yang berada dalam masa yang paling damai.


Meskipun terjadi peperangan antara berbagai ras yang berbeda, tapi tak pernah ada ancaman besar yang membahayakan dunia ini.


Tidak selama 7 pahlawan bersumpah untuk melindungi dunia ini atas nama Dewi cahaya Lunaria tanpa memandang Ras.


Termasuk juga masa dimana ras iblis telah lama dilupakan keberadaannya karena telah punah.


Tapi apa yang baru saja didengar oleh Lucius....


"Bukankah mereka sudah tak ada di zaman ini?!" teriak Lucius panik.


'Aku juga berpikir seperti itu. Tapi barusan, aku merasakannya dengan sangat jelas. Mana hitam pekat yang membuat sesak nafas.... Tak salah lagi, itu adalah Mana dari iblis.'


Mengingat seberapa kuat Carmilla, dan juga kisahnya mengenai ras iblis yang dengan mudahnya membunuh pahlawan, tentu saja Lucius takut bukan main setelah mendengar iblis yang tak dikenal itu berada di hutan ini.


Bisa jadi kematian yang ditakutkannya pada tangan William, justru takkan pernah terjadi.


Karena dirinya akan mati terlebih dahulu di tangan iblis yang tak diketahui ini.


"Iblis itu.... Kuat?" tanya Lucius yang mulai mengaktifkan Rune "Vel" untuk mempercepat langkah kakinya.


'Sangat kuat. Mustahil bagi dirimu yang sekarang. Bahkan ketika aku yang mengendalikan tubuhmu.'


Lucius berlari semakin cepat pada tiap langkahnya. Dan pemandangan dinding kota Arcanum mulai nampak di hadapannya.


Satu menit lagi.


Jika Lucius bisa berlari satu menit lagi, dia pasti bisa selamat. Setidaknya terdapat banyak prajurit dan orang kuat lainnya di kota ini.


Saat itu, bagi Lucius satu menit terasa seperti satu jam lebih. Setiap detiknya benar-benar terasa begitu lama mengingat 'iblis' yang tak diketahui itu mungkin mengejarnya.


Tapi setelah sampai di depan gerbang kota Arcanum itu, Lucius akhirnya bisa bernafas lega.


"Oh, kau dari kelompok Ironclad itu kan? Terimakasih atas kerja kerasnya memburu monster akhir-akhir ini." sapa salah satu penjaga gerbang itu.


Lucius tak menjawab. Ia hanya menganggukkan kepalanya dan segera masuk melewati gerbang menuju ke tempat yang jauh lebih aman.


'Braaakk!!!'


"Hah.... Hah.... Hah...."


Sesaat setelah melewati gerbang kota, Lucius langsung terkapar di tanah. Berusaha untuk mengatur nafasnya yang tak karuan itu.


'Syukurlah, dia tak menyadari keberadaan kita berdua.' ujar Carmilla.


Sedangkan Lucius sendiri....


"Kenapa.... Bukankah seharusnya tak ada yang lain selain dirimu, Carmilla?"

__ADS_1


__ADS_2