Murid Ratu Iblis

Murid Ratu Iblis
Chapter 30 - Pekerjaan


__ADS_3

Setelah seluruh kegiatan di akademi selesai, para murid di kelas F pulang seperti biasanya. Menikmati ayam bakar di restoran favorit mereka.


Di sana, semuanya saling membicarakan berbagai hal. Mulai dari candaan yang tak begitu berarti, hingga bisnis antar bangsawan.


"Eh? Kau serius?!" tanya Max terkejut. Tangan kanannya nampak masih memegang garpu yang menusuk daging ayam itu.


"Begitu lah. Aku ingin membangun bisnis baru di beberapa desa sekitar. Dan ku rasa, keluarga mu adalah tentara bayaran yang paling bisa ku percaya." balas Alex.


Max nampak memikirkannya dengan serius atas apa yang dikatakan oleh Alex.


Yaitu mengenai keluarga Brown yang akan menyewa sekitar 40 tentara bayaran dari keluarga Thompson untuk mengawal para pegawainya.


Sedangkan untuk durasi pengawalannya sendiri mencapai 2 bulan.


"Kau yakin? 2 bulan adalah waktu yang lama. Apalagi 40 tentara bayaran.... Itu bisa mencapai harga setidaknya 200 koin emas atau lebih." balas Max.


"Tak masalah. Membeli tanah saat murah, lalu mengembangkan desa itu menjadi kota. Keuntungan ku di masa depan sangat melimpah." balas Alex dengan senyuman yang ramah.


"Yah, kalau tak masalah bagimu, aku akan mengatakannya pada ayahku nanti. Kau bisa ke rumah kami besok setelah aku mempersiapkan semuanya."


"Terimakasih."


Sementara itu, Oliver yang tertinggal dalam pembicaraan tingkat tinggi itu merasa iri.


"Enak ya, kalian membicarakan bisnis yang mudah? Sementara itu aku...." ujar Oliver kesal.


"Oliver, bukannya keluarga mu memperoleh bayaran tinggi setiap kali ada tawaran pekerjaan?" tanya Sophia penasaran.


"Masalahnya, tawaran pekerjaan seperti itu hanya datang beberapa bulan sekali. Selama tak ada tawaran, keluarga ku hanyalah pengangguran yang sibuk berlatih." balas Oliver sembari menghela nafasnya.


Lucius yang mendengar pembicaraan itu mulai merasa penasaran.


"Memangnya pekerjaan seperti apa? Sampai harus menunggu berbulan-bulan?"


"Membunuh.... Orang jahat...." sahut Emily dengan suara lirihnya.


"Eh?"


Tak bisa disalahkan jika Lucius terkejut mendengar jawaban itu. Lagipula, Ia tak begitu mengenal teman-temannya hingga baru-baru ini.


Selama hidupnya di kelas E dulu, Ia hanyalah penyendiri yang selalu berusaha mati-matian untuk bertahan hidup. Tak ada waktu untuk mengetahui latar belakang tiap keluarga bangsawan di sekitarnya.


Lagipula, dirinya sendiri juga hanyalah seseorang yang baru saja memperoleh gelar kebangsawanan nya.


"Me-membunuh? A-apa maksudnya itu?" tanya Lucius agak ketakutan.

__ADS_1


"Hmm? Kau tak tahu, Lucius? Keluarga Hayes adalah keluarga pembunuh bayaran. Sebutkan target, alasan pembunuhan lalu harga yang kau tawarkan. Maka target itu akan mati kurang dari 1 Minggu." balas Sophia dengan wajah yang datar.


Bahkan Sophia nampak keheranan karena Lucius tak mengetahui hal itu. Sebelum akhirnya teringat bahwa Lucius berasal dari keluarga biasa.


"Keluarga mu pembunuh?! Dan tidak dihukum?!" teriak Lucius terkejut bukan main.


"Hmm? Lucius, sikapmu barusan benar-benar menunjukkan kau berasal dari rakyat jelata." ujar Alex.


"Buahahaha! Lihat bocah ini! Dengarkan aku, Lucius. Kadang kala, kau harus bersyukur karena dilahirkan di keluarga biasa. Kenapa? Itu karena kau tak mengetahui kegelapan yang sebenarnya dari dunia ini!" balas Max sambil tertawa keras.


Sementara itu, Oliver sendiri terlihat menepuk keningnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Seakan-akan tak percaya atas respon Lucius barusan.


"Hah.... Lucius. Kau tahu? Sesekali harus ada orang yang membersihkan kotoran. Para bangsawan tak semuanya baik. Kadang ada yang korup, kadang ada yang menyalahgunakan kekuatan mereka. Karena itu lah, kelompok pembunuh seperti keluarga ku diperlukan."


Mendengar penjelasan dari Oliver, pemahaman Lucius terhadap dunia ini semakin melebar. Dirinya yang dulu telah puas jika bisa makan dan bermain, kini baru saja menyadari.


Atas kegelapan yang sebenarnya di dunia ini.


Itu benar. Sama seperti harus ada orang yang bertani untuk memberi makan orang lain. Harus ada juga orang yang membunuh untuk menjaga orang lain.


"Ba-bagaimana denganmu, Sophia?"


"Keluarga ku? Mereka mengatur pengadilan di kota ini." balas Sophia seakan-akan itu adalah hal yang wajar.


Tentu saja bagi Lucius itu adalah hal yang sangat besar karena keluarganya mempengaruhi hukum di kota ini. Secara tak langsung, mengatur kehidupan seluruh penduduk di kota ini.


Seakan tahu apa yang akan dikatakan oleh Lucius, Emily segera membuka mulutnya.


"Pustakawan."


"Aah, syukurlah." ucap Lucius lega setelah akhirnya mendengar pekerjaan yang normal dari para keluarga bangsawan ini.


Tanpa menyadari, bahwa dari semua keluarga bangsawan barusan....


Pekerjaan keluarga Emily adalah yang paling dihormati dan paling dijunjung tinggi oleh keluarga kerajaan secara langsung.


Itu karena mereka bertugas tak hanya mengurus seluruh pengetahuan yang dimiliki kerajaan manusia, tapi juga menjaga berbagai dokumen dan buku rahasia milik keluarga kerajaan.


............


Pada malam harinya....


'Sruugg! Sruuugg!!'


Lucius kembali menjelajahi hutan gelap di sekitar kota Arcanum ini.

__ADS_1


Setelah dua jam lebih, Ia telah berhasil memburu 14 ekor Goblin dan 6 ekor serigala liar. Meningkatkan pengalaman bertarungnya sedikit demi sedikit.


Hanya saja....


'Sruuugg!'


Dengan cepat, Lucius segera bersembunyi di balik pepohonan dengan semak yang setinggi perut orang dewasa itu.


Di kejauhan, terlihat kelompok prajurit kota yang berkeliling dengan menggunakan obor sebagai penerangannya.


Jumlah mereka yaitu 8 orang yang terdiri dari 6 prajurit serta 2 penyihir. Melihat perlengkapan mereka, para prajurit itu seharusnya hanyalah prajurit tingkat rendah.


"Sialan, jadi karena sihirku itu ada banyak prajurit yang berpatroli?" bisik Lucius pada dirinya sendiri dengan kesal.


'Tentu saja. Kau pikir itu sihir biasa yang bisa dikeluarkan manusia?' tanya Carmilla juga kesal.


Ini bukan kali pertamanya Lucius berpapasan dengan prajurit yang berpatroli. Bahkan hanya dalam 2 jam perburuannya saja, Lucius telah berpapasan dengan 4 kelompok yang berbeda.


Suatu hal yang tak pernah dialaminya dulu.


"Tapi itu terlihat seperti sihir api biasa bagiku...." balas Lucius dengan suara yang lirih.


Flamma Aeternus. Sebuah sihir iblis elemen api yang diajarkan oleh Carmilla secara langsung.


Secara sekilas, memang terlihat seperti sihir api biasa. Bahkan menyerupai sihir api tingkat rendah. Yang membedakannya hanyalah ukurannya yang jauh lebih besar, serta suhunya yang lebih panas.


Itu saja. Atau setidaknya, itulah yang diketahui oleh Lucius.


'Yah, karena kau lemah maka kau tak bisa melihat potensi sihir itu sepenuhnya.'


"Hah? Apa maksudmu dengan itu?" tanya Lucius penasaran.


'Flamma Aeternus memiliki efisiensi Mana yang jauh lebih tinggi dari sihir api biasa. Tapi lebih penting dari itu, sihir itu tak berskala dengan sangat baik terhadap jumlah dan kualitas Mana penggunanya.' balas Carmilla.


Bahkan Lucius pun paham. Bahwa dengan sihir iblis itu, jika dengan jumlah Mana yang sama akan menciptakan api yang setidaknya 3x lebih besar dan lebih kuat.


Tapi perkataan Carmilla setelahnya....


'Jika kau jauh lebih kuat lagi, bahkan pahlawan manusia sekalipun bisa kau bunuh dengan sihir itu. Sama seperti yang ku lakukan dulu.'


"Eh?"


Pikiran Lucius seakan membeku setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Carmilla barusan.


Tapi seperti biasa, Carmilla dengan mudah menghindari berbagai pertanyaan Lucius hanya dengan tak pernah menjawabnya. Ia pura-pura menghilang seperti biasanya.

__ADS_1


Meninggalkan Lucius sendirian di tengah hutan yang gelap ini.


__ADS_2