Murid Ratu Iblis

Murid Ratu Iblis
Chapter 34 - Smithworks


__ADS_3

'Ding! Ding!!'


Suara lonceng yang keras menandakan bahwa kegiatan pendidikan di akademi ini telah berakhir.


Semua pelajar di kelas F nampak sibuk menata buku-buku mereka. Menyimpannya ke dalam loker besi di bagian belakang kelas.


"Alex, setelah ini kau sibuk?" tanya Lucius sambil memasukkan bukunya ke dalam loker itu.


"Hmm? Setelah makan, ku rasa aku hanya akan melakukan peninjauan pada beberapa toko. Kenapa?" tanya Alex kembali setelah menutup lokernya.


"Sebenarnya pedangku rusak dan aku ingin mencari yang baru. Jadi ku pikir kau memiliki toko senjata atau semacamnya...."


"Eh? Yah, keluargaku memiliki penempaan jadi ku rasa kau bisa mencari sesuatu di sana. Tapi apa yang kau lakukan sampai pedangmu rusak?" tanya Alex penasaran.


"Latihan?"


............


Seusai makan bersama dengan anak-anak kelas F, Lucius dan Alex berjalan pada arah yang sama.


Tujuannya yaitu sebuah toko pandai besi yang dimiliki oleh keluarga Brown.


Setelah berjalan kaki sekitar 15 menit lebih, mereka akhirnya sampai.


"Brown Smithworks. Aku cukup bangga untuk mengatakan ini adalah salah satu toko penempaan terbaik di kota Arcanum ini." jelas Alex dengan senyuman yang tipis.


Perkataannya sama sekali tak dilebih-lebihkan. Bagaimana tidak?


Bahkan dari jalanan saja, menyebut Brown Smithworks sebagai 'toko' adalah sebuah penghinaan. Jika dibandingkan, tempat ini lebih menyerupai sebuah pabrik raksasa.


Luasnya sendiri hampir mencapai satu blok di pusat kota Arcanum ini. Atau setidaknya setara dengan 30 rumah penduduk biasa dengan 4 lantai pada bangunan itu.


"Ya-yang benar saja, Alex. I-ini milikmu?" tanya Lucius terkejut setengah mati.


"Milik keluargaku." balas Alex singkat sebelum mengajak Lucius untuk memasuki bangunan itu.


'Klaaaang!!! Klaaaangg!!! Klaaaaannggg!!!'


Suara tempaan dapat terdengar dari segala arah di bangunan ini. Bersamaan dengan suara yang memekikkan telinga itu, bara api yang berkobar di segala sisi membuat ruangan di lantai satu ini begitu panas.


Ratusan pandai besi nampak bekerja dengan begitu keras tanpa mengeluh. Meski begitu, di tempat dimana mereka bekerja terdapat sebuah lingkaran sihir berwarna biru muda di lantai.


"Apa itu?" tanya Lucius sambil berteriak karena tak bisa mendengar apapun selain suara tempaan besi.

__ADS_1


"Sihir es. Melindungi pekerja dari suhu panas. Meskipun hanya berefek di area yang kecil." jelas Alex.


"Apa?!" teriak Lucius karena tak bisa begitu mendengar apa yang dikatakan oleh Alex barusan.


Tapi sebelum Alex mengulangi perkataannya, Lucius dapat memahami apa yang dikatakan oleh Alex setelah melirik ke bagian atas dari lantai utama ini.


Pada kenyataannya, lantai pertama dan lantai kedua menjadi satu. Membuat langit-langit di lantai utama ini begitu tinggi dengan sokongan pilar-pilar besar yang kuat.


Sementara itu pada bagian sampingnya terdapat jalanan utama dimana puluhan penyihir nampak terus mengaktifkan berbagai jenis sihir.


Beberapa diantara mereka nampak menggunakan sihir es untuk mendinginkan tempat di sekitar para pandai besi itu bekerja.


Sedangkan beberapa yang lain terlihat menggunakan sihir api untuk memanaskan tungku utama, dimana api akan disalurkan ke puluhan tungku lainnya di lantai dasar.


Dan yang menjadi sorotan di lantai utama ini tentu saja sebuah palu raksasa yang ada di tengah ruangan ini.


Palu itu nampak terhubung dengan langit-langit di lantai ini dan digerakkan dengan semacam alat sihir.


...'KLAAAAAAAAANGGG!!!'...


Setiap 10 detik sekali, palu raksasa itu menempa logam keras dengan 8 orang pekerja yang mengurusinya.


Dalam pikiran Lucius hanya ada satu kata.


'Gi-gila....'


'Dia.... Benar-benar sudah terbiasa dengan suasana ini ya?' pikir Lucius dalam hatinya, setelah melihat Alex sama sekali tak terpengaruh oleh panasnya suhu di lantai ini ataupun suara tempaan yang keras.


Keduanya menaiki tangga untuk sampai ke lantai kedua. Di sepanjang jalanan yang mengelilingi bangunan ini, nampak para penyihir yang sebelumnya dilihat oleh Lucius dari bawah.


"Kemari." ucap Alex sambil berbelok ke arah tangga lain di dekat dinding.


Lantai 3 benar-benar berbeda jauh dari apa yang ada di lantai utama.


Lantai ini dipisahkan dengan dinding dan pintu yang tebal. Tak hanya itu, lantai yang dipijaknya juga begitu tebal.


Mencegah suara keras dari lantai utama masuk kemari. Meskipun tak semuanya karena suara tempaan masih dapat terdengar samar-samar.


"Silakan duduk. Aku akan ambilkan daftarnya." ucap Alex sembari mempersilakan Lucius duduk di kursi sofa yang begitu mewah dengan berbagai hiasan bunga di sekitarnya.


Tak berselang lama, beberapa pelayan datang menghampiri Lucius. Memberikan suguhan teh hangat serta satu piring kue kering yang nampak begitu indah dan lezat di atas meja.


"Te-terimakasih...." balas Lucius gugup.

__ADS_1


Para pelayan yang mengenakan setelan hitam dan putih itu tersenyum sebelum pergi meninggalkan Lucius.


'Luarbiasa ya, temanmu itu.' ujar Carmilla setelah terdiam sekian lama.


"Ya. Aku semakin kagum padanya." bisik Lucius dengan suara lirih sambil menyeruput teh hangat dalam cangkir perak itu.


Saat melihat sekeliling, Lucius mendapati beberapa pelanggan yang lain yang sedang duduk di tempat yang berbeda.


Setidaknya terdapat sekitar 20 tempat jamuan yang sama indahnya dengan yang diduduki Lucius saat ini. Dimana masing-masing dapat menampung hingga 8 orang.


Di kejauhan, terlihat sekelompok bangsawan sedang mendiskusikan sesuatu dengan pegawai di lantai ini.


Sementara di sisi yang lain terlihat ksatria bersama dengan 3 bawahannya, nampak sedang membicarakan mengenai suplai persenjataan prajurit di kota ini.


"Tuan Muda. Bagaimana dengan tawaran kami untuk hak dagang bebas pajak di Kota sebelah?"


"Lebih baik menerima tawaran dariku, Tuan Muda. Aku yakin tambang besi di Selatan dapat meningkatkan pengaruh dan kekayaan Anda di Kota ini."


"Tuan Muda pasti tahu bahwa tambang emas yang ada di wilayahku jauh lebih menarik bukan?"


"Tawaran yang menarik bagiku. Tapi apakah kalian pikir itu sudah cukup untuk membuat seluruh keluarga Brown tertarik?" balas Alex sambil tersenyum ramah.


Di kejauhan terlihat 3 orang bangsawan sedang mengerubungi sosok Alex. Mereka masing-masing menawarkan sesuatu yang sungguh fantastis.


Sedangkan Alex sendiri menanganinya dengan begitu baik. Mengatasnamakan seluruh keluarga Brown sebagai koin penawaran, membuatnya hampir tak pernah memperoleh nilai buruk saat menolak suatu tawaran.


Jika ada yang dinilai buruk, tentu itu adalah salah satu dari keluarga Brown. Tapi siapa pastinya tak pernah tahu.


Meskipun pada kenyataannya, Alex sendiri lah yang mengatur semuanya.


Mengetahui bahwa semua itu diraih oleh seorang pemuda yang masih berumur 16 tahun.... Membuat Lucius semakin merasa terkagum dan sedikit iri.


Beberapa saat kemudian....


"Maaf karena agak lama. Nampaknya banyak klien yang menungguku. Jadi silakan diskusikan dengan tuan Albert ini. Dia adalah orang yang paling bisa ku percaya. Kalau begitu...." ucap Alex pada Lucius sebelum segera pergi.


Ia meninggalkan seorang pegawai yang terlihat cukup tua dengan badan yang kurus. Kacamata yang dikenakannya membuat tampangnya dengan rambut yang sudah memutih itu terlihat begitu bijaksana.


"Selamat datang di Brown Smithworks, Tuan Lucius. Ada kah yang bisa kami bantu?" tanya Albert sambil sedikit membungkukkan badannya.


Hanya saja....


'Sialan, aku hanya ingin mencari pedang besi apapun untuk menggantikan milikku yang sudah rusak. Tapi kenapa malah jadi seperti ini?' pikir Lucius dalam hatinya.

__ADS_1


Meskipun, Ia sama sekali tak mengeluh.


Hanya sedikit terkejut atas semua kejadian yang tak terduga ini.


__ADS_2