Murid Ratu Iblis

Murid Ratu Iblis
Chapter 90 - Dinding


__ADS_3

"Kalau begitu...." ucap Ethan dengan kesal.


"Hmm? Kenapa? Akhirnya memiliki ide untuk mengalahkan ku?" tanya Lucius setelah mempermainkan Ethan selama kurang lebih 2 menit itu.


Tak ada satupun serangan Ethan yang bisa mengenainya. Dan sekalipun Ethan membuat jebakan dan berbagai tipuan, Lucius mampu melihatnya dengan mudah.


"Iron skin!!!" teriak Ethan dengan sangat keras sambil memukul tanah di hadapannya dengan kedua tangannya.


'Blaaaaarrr!!!'


Sebuah benturan yang sangat besar terjadi, menyebarkan banyak pasir di Arena ini ke segala arah.


Lucius secara refleks melompat mundur menjauhi sosok Ethan itu.


'Iron skin.... Ku rasa ini akan sedikit merepotkan.'


Dalam ilmu sihir, elemen yang paling rumit namun lemah adalah elemen tanah.


Tak seperti api yang mampu membakar musuh dengan mudah, ataupun air yang mampu menyembuhkan dan es yang mampu membekukan musuh.


Juga tak seperti elemen angin yang tak kasat mata tapi lebih tajam daripada pedang.


Sihir elemen tanah dianggap lemah oleh sebagian orang. Atau setidaknya.... Oleh mereka yang awam.


Bagaimana tidak? Hanya mampu menimbulkan bebatuan dari tanah? Memanipulasi tanah? Menciptakan gempa ringan? Apa gunanya semua itu?


Tentu saja, itu karena mereka yang meremehkan sihir elemen tanah....


Tak pernah mempelajari sihir elemen tanah lebih lanjut seperti Lucius.


Jika saja Lucius mampu memilih bakat elemen pada dirinya, tanpa ragu Ia akan memilih elemen tanah. Itu karena elemen tanah tak hanya mencakup bebatuan itu sendiri, melainkan segala sesuatu yang berada di dalam tanah.


Termasuk logam.


'Klaaaanggg!!!'


Kini tubuh Ethan diselimuti oleh kulit besi yang cukup tebal. Memukulkan kedua tangannya saja menimbulkan suara yang cukup keras.


"Hahaha.... Sungguh. Jika saja aku memiliki bakat di elemen tanah, semuanya akan jadi lebih mudah bagiku." ujar Lucius pada dirinya sendiri sambil tertawa ringan.


Ia menyadari bahwa saat ini posisinya sangat lah dirugikan. Sejak awal fisik Lucius telah kalah dibandingkan dengan Ethan. Tapi kini lawannya memiliki kulit besi? Bahkan mampu menggunakan sihir dengan leluasa?


Satu-satunya keunggulan yang dimiliki oleh Lucius hanyalah pada tekniknya.


'Zraaattt!!!'


Dengan cepat, Lucius melesat ke arah Ethan berdiri. Ia menggenggam pedang tumpul itu dengan kedua tangannya. Bersiap untuk menggunakan salah satu dari Formless Sword Technique.


'Tiga tebasan!' teriak Lucius dalam hatinya.


Kecepatan gerakan tangannya sama sekali tak mampu untuk diikuti oleh mata Ethan. Tapi itu tak lagi perlu baginya.


Karena....


'Klaaaanggg!!!'


Baru pada tebasan pertama, serangan Lucius terpantul dengan sangat keras. Getaran dari pantulan itu membuat ototnya yang sejak awal telah kelelahan akibat latihannya menjadi sangat kesakitan.


"Kuggghh!!"


Lucius segera memutar tubuhnya, menggunakan tubuh keras Ethan sebagai pijakan untuk melompat mundur.


'Srruuuugg!!!'


"Kenapa mundur? Kau takut?" tanya Ethan sambil mengepalkan kedua tangannya.


Lucius hanya terdiam, memperhatikan kedua tangannya yang gemetar akibat pantulan serangan barusan.


'Sialan, ini buruk sekali. Yah, sesuai harapan dari kelas B, dia sudah menguasai Iron Skin dengan sempurna.' pikir Lucius dengan senyuman pahit di wajahnya.


Jika saja Lucius memiliki kemampuan sihirnya yang dulu akan sangat mudah baginya membalikkan keadaan ini.


Menggunakan elemen angin untuk meningkatkan kecepatan tebasan pedangnya, sekaligus menyelimuti pedangnya dalam api untuk meningkatkan daya hancurnya.


Bahkan tubuh besi Ethan itu akan terbelah menjadi dua jika Ia memiliki sedikit saja kekuatannya yang dulu.


Tapi sekarang, setelah Ia berkata tak membutuhkan sihir untuk mengalahkan Ethan....


Jika Ia menggunakan sedikit pun Mana dalam tubuhnya, Luna, Kepala Akademi dan juga Alora akan segera menyadarinya. Bahwa kapasitas Mana miliknya benar-benar telah terkuras habis.


Sebuah fenomena yang seharusnya tak pernah bisa terjadi pada makhluk hidup di dunia ini.


'Blaaaaarrr!!!'


Secara tiba-tiba, Ethan melompat maju. Memukul tanah di tempat Lucius dengan kedua tangannya.


Meskipun kekuatan Ethan jauh lebih besar dibandingkan dengan kekuatan Lucius saat ini, tapi tubuh besarnya justru menjadi penghambat bagi dirinya sendiri.


Dengan besi setebal itu melapisi tubuhnya, kecepatan Ethan benar-benar jauh melambat.


'Meski begitu, bagaimana cara ku menembus pertahanannya?' pikir Lucius dalam hatinya sambil terus menghindari pukulan lambat dari Ethan.


"Berhenti berlari dan hadapi aku seperti seorang pria!" teriak Ethan kesal karena tak ada satu pun serangannya yang mengenai tubuh Lucius.

__ADS_1


"Hah! Begitu kah? Akan bijak bagi ku untuk menunggu mu kelelahan. Aku bisa terus melanjutkan ini hingga berjam-jam kau tahu?" balas Lucius dengan tawa ringan.


Meskipun, itu bukanlah kemenangan yang diinginkan oleh Lucius.


Karena itu lah....


'*Ku harap aku tidak berlebihan jika nantinya harus menggunakan i*tu.' pikir Lucius dalam hatinya. Ia mulai merubah kuda-kudanya secara drastis, dengan kedua tangan yang menggenggam pedangnya dengan erat.


Ia menarik mundur pedangnya di bagian kiri tubuhnya. Posisinya terlihat jelas akan menggunakan pedang itu bukan untuk tebasan, tapi untuk sebuah tusukan.


Meskipun Ethan bukanlah pendekar pedang sekalipun, Ia bisa menyadarinya dengan mudah.


"Trik tak berguna!" balas Ethan yang segera menembakkan ratusan peluru batu.


Lucius berlari secepat mungkin menghindari seluruh rentetan peluru batu itu. Jika terkena satu saja, mungkin Ia akan menderita luka yang cukup buruk mengingat kecepatannya.


'Jadi dia juga sudah mulai serius? Tak masalah.' pikir Lucius sambil terus berlari mengelilingi tubuh Ethan itu.


'Ctaaaakkk!!!'


Sesekali, Lucius menusukkan pedangnya tepat di dada Ethan. Tapi sama seperti sebelumnya, pedang besi tumpulnya itu sama sekali tak mampu melukai tubuh besi Ethan.


'Swuuusshhh!!!'


Dengan cepat, Ethan berusaha untuk menangkap Lucius yang saat ini berada cukup dekat dengannya. Tapi usahanya gagal karena Lucius jauh lebih lincah dibandingkan dengan dirinya.


Para penonton yang melihat situasi pertarungan ini sangat keheranan.


Terutama pada Lucius yang mampu menyaingi wakil Dewan Pelajar sekalipun tak menggunakan sihir.


"Bagaimana bisa bocah kelas F itu...."


"Tanpa menggunakan sihir katanya?"


"Apa mungkin karena dia memang tak bisa menggunakan sihir?"


"Bodoh, dia beberapa bulan lalu berhasil mengalahkan William dari kelas B dengan mudah! Kau pikir dia tak bisa menggunakan sihir?"


"Lalu bagaimana kau menjelaskan situasi ini?"


Perdebatan diantara para penonton dapat terdengar jelas hingga ke telinga teman-teman sekelas Lucius.


"Oi, Max. Kau tahu sesuatu kan? Katakan apakah Lucius bisa menang?" tanya Alex khawatir.


Max nampak hanya terdiam. Wajahnya terlihat sedikit kecewa atas pertarungan ini. Seakan-akan hasilnya sama sekali tak seperti harapannya.


"Tapi bukankah Lucius takkan rugi apa-apa sekalipun dia kalah kan? Maksudku, dia bahkan diundang untuk bergabung ke Dewan Pelajar jika kalah kan?" tanya Sophia yang juga ikut khawatir.


"Lucius.... Tak suka hal yang mengekangnya...." balas Emily dengan suara yang lirih.


Apapun yang mengekang dirinya untuk bisa melakukan hal yang disukai, atau diinginkannya....


Adalah hal yang paling dibenci oleh Lucius.


"Tapi Lucius itu, kenapa dia tak menggunakan sihirnya? Mengingat kemampuannya, Lucius harusnya mudah mengalahkan lawan seperti itu kan?" tanya Oliver dengan sikap yang santai.


Tak ada seorang pun yang bisa menjawab pertanyaan itu. Tak ada yang mengetahuinya secara pasti, termasuk Alex itu sendiri.


Tapi secara tiba-tiba....


"Oi Lucius bodoh!!! Kenapa kau menahan dirimu?! Tunjukkan apa yang telah kau latih di tempatku!!!" teriak Max dengan sangat keras.


Semua penonton di Arena itu terkejut bukan main. Bukan hanya karena mendengar teriakan yang keras.


Tapi juga kalimat yang dilontarkan oleh Max.


Dengan senyuman yang tipis, Lucius pun membalas.


"Apakah kau akan bertanggung jawab jika orang ini mati?"


Meskipun menyadari bahwa itu hanyalah sebuah gertakan, tetap saja Ethan merasa takut. Bagaimana tidak?


Posisi berdiri Lucius saat ini berubah total. Auranya saja terlihat berbeda jauh dengan apa yang ditunjukkan olehnya sebelumnya.


Lucius menarik pedang tumpulnya itu ke belakang jauh-jauh, sedangkan kaki kanannya telah siap untuk melompat sejauh dan secepat mungkin.


'Gertakan? Pasti gertakan! Serangannya selama ini tak ada yang bisa melukai ku! Tak perlu takut! Setelah dia mendekat....'


'Blaaaaarrr!!!'


Hentakan kaki Lucius menimbulkan gelombang kejut yang sangat kuat. Dalam sekejap, Ia telah berada tepat di hadapan Ethan.


'Trrakk! Ttraakkk!! Ttrraakkk!!!'


Tiga buah tusukan yang sangat cepat mengenai tepat di tengah dada Ethan, di tempat yang sama persis.


Meskipun tak memberikan luka yang serius, tiga tusukan pedang itu mampu sedikit meretakkan kulit besi Ethan.


'Swuuushh!'


Ethan berusaha menangkap Lucius sekali lagi, entah untuk yang ke berapa kalinya. Dan kali ini, Lucius tak hanya menghindar.


Ia melempar pedangnya ke samping, merendahkan posisi dirinya sendiri lalu memutar tubuhnya dengan cepat menggunakan kedua tangannya sebagai tumpuan.

__ADS_1


Sementara kedua kakinya menjegal kaki Ethan yang keras itu.


'Swuuushh!!!'


Sebelum Ethan sempat terjatuh ke tanah, Lucius kembali memutar tubuhnya sekali lagi dengan cepat sebelum memberikan tendangan dengan kedua kakinya.


'Blaaaaarr!!!'


Tendangan yang kuat dari Lucius membuat tubuh Ethan terlempar beberapa meter di atas udara.


Tanpa menunggu lebih lama lagi, Lucius segera bangkit dan meraih pedang tumpulnya itu kembali. Mempersiapkan kuda-kudanya untuk serangan tusukan barusan.


Tapi kali ini kuda-kudanya sedikit berbeda karena lawannya berada di udara.


Dalam posisi yang melayang dan secara perlahan jatuh kembali ke tanah itu, tak ada harapan bagi Ethan untuk menghindar.


'Dia akan mengincar dadaku seperti sebelumnya! Itulah kenapa dia meretakkannya terlebih dahulu!'


Dengan sigap, Ethan segera menyilangkan kedua lengannya untuk menahan serangan Lucius.


Tapi....


Lucius hanya tersenyum tipis melihat hal itu.


"Formless Sword Technique, tusukan." ucap Lucius dengan suara yang lirih.


Saat itu, seluruh penonton yang awam akan mengatai Lucius karena Ia pada akhirnya menggunakan sihir.


Itu semua karena tekanan angin yang sangat kuat terkumpul di sekitar pedang Lucius, begitu juga di sekitar tubuhnya.


Tapi bagi Alora dan juga Luna yang memiliki mata sihir, keduanya mengetahuinya secara pasti.


'Kau bilang semua ini tanpa menggunakan Mana sedikit pun?!'


Kalimat itu terlintas di pikiran Alora dan juga Luna.


Lucius yang telah menyempurnakan posisinya, segera menghunuskan pedangnya dengan sekuat tenaga. Kedua kakinya menjadi tumpuan yang sangat kuat ketika kedua lengannya berusaha menembus Iron Skin milik Ethan itu.


Dengan memanfaatkan posisi Ethan yang sedang terjatuh ke tanah, serta tusukan Lucius yang mengarah ke atas, kekuatannya menjadi berlipat ganda.


'ZRAAAAASSSHHHH!!!'


Layaknya menusuk daging hewan buruannya, pedang tumpul Lucius itu menembus tubuh besi Ethan melalui perutnya.


Darah mulai mengucur secara perlahan dari tubuh Ethan yang masih terangkat oleh pedang tumpul Lucius.


"Kuuugghhh!!!" teriak Ethan kesakitan.


Karena fokusnya yang pecah, membuat efek sihir Iron skin memudar secara perlahan setelah tertusuk serangan barusan.


"Naif sekali, mempertahankan dada karena aku terus menyerangnya sedari tadi? Tak ku sangka tipuan sesederhana itu bisa bekerja padamu, wakil ketua." ucap Lucius dengan senyuman yang lebar.


'Jadi semua serangan yang ditujukan pada dadaku itu, hanya tipuan? Untuk membuat ku mempertahankannya dan menyerang bagian lainnya?!'


Pandangan Ethan secara perlahan mulai menjadi gelap sebelum akhirnya kehilangan kesadarannya di tengah Arena ini.


Menjadikan Lucius sebagai pemenangnya.


"Bodoh, jika aku menyerang dada mu, kau akan benar-benar mati." balas Lucius pada Ethan yang telah tak sadarkan diri itu.


Tapi....


"Booooooo!!!"


"Wuuuuuuu!!!"


"Pengecut!!!"


"Bukankah kau bilang takkan menggunakan sihir?!"


"Apa-apaan itu?! Barusan kau menggunakan sihir untuk memperkuat serangan mu kan?!"


"Kau hanyalah pecundang yang tak bisa menepati perkataannya!"


Mendengar seluruh hinaan itu, Lucius hanya berjalan dengan santai meninggalkan Arena itu. Senyuman di wajahnya sama sekali tak pernah luntur, seakan-akan Ia memang tak peduli lagi dengan perkataan orang lain.


Apa yang dipedulikannya hanya dua.


Secara perlahan, Lucius menatap tepat ke arah Luna dan juga Alora di kejauhan.


Memberikan tawa ringan pada mereka berdua. Menganggap bahwa keduanya menyadari apa yang sebenarnya terjadi barusan.


Sebelum sosoknya menghilang di balik dinding Arena itu.


"Nona Alora.... Barusan...." ucap Luna dengan tubuh gemetar saat berjalan mendekati sosok pahlawan penyihir itu.


"Tak salah lagi, teknik pedang. Terlebih lagi teknik itu berada di tingkat yang sangat tinggi." balas Alora sambil mengepalkan kedua tangannya karena kesal.


"A-Anda yakin?"


"Tentu saja. Kau pikir sudah berapa tahun aku bekerja bersama dengan si tua bangka sialan itu?"


"Tu-Tua Bangka? Meski begitu dia adalah pahlawan pedang dan...."

__ADS_1


"Permisi. Aku ada urusan." balas Alora singkat sebelum segera pergi meninggalkan tempat ini.


Berniat untuk menemui Lucius secara langsung, sekaligus membawanya untuk menemui Mary sang Gadis Suci.


__ADS_2